
Wajah Princess semakin terlihat sedih karena ia merasa sendirian saat itu.
“Hey? Kamu kenapa, Princ?” tanya Alexy sambil mengangkat dagu sang gadis belia, yang ada di depannya.
“Enggak papa, Mas.”
Princess menahan air mata yang hampir terjatuh.
“Yakin?,” ujar Alexy.
Hening.
“Mas akan meninggalkanku?” tanya Princess membuka percakapan.
“Loh ... Kenapa bilang seperti itu?”
Alexy mengernyitkan dahinya.
“Kan Mas bilang kalau Mas mencintai istrinya. Mas Alex tidak mungkin untuk menduakannya, kan?”
Alexy tersenyum, “Aku tidak akan meninggalkanmu, karena aku sangat menyayangimu.”
“Mas tidak akan meninggalkanku, tapi Mas akan menduakanku dan menjadikan aku sebagai madu untuk istrimu?”
Alexy memandang tajam netra sendu Princess.
“Jawab, Mas? Aku tidak mau jadi madu orang lain, lebih baik aku mundur, Mas!”
Princess berdiri dari sofa yang sedang ia duduki, tapi dengan cepat lengan Alexy menariknya, sehingga Princess tidak dapat ke mana-mana.
“Lepasin!!!” ujar Princess yang mencoba menghempaskan tangan Alexy.
Alexy berdiri, ia lalu memeluk Princess dari belakang. Seketika air mata Princess jatuh membasahi lengan Alexy.
“Aku akan bercerai dengannya. Aku akan memilihmu, Princ!” bisiknya di telinga Princess.
Mata Princess membulat. Hatinya kini berkecamuk, antara bahagia dan kecewa. Bahagia karena Alexy memilihnya dan kecewa karena ia merasa telah merebut suami orang.
“Aku sangat menyayangimu, Princ. Esok kita ke Indonesia, ya? Aku sudah mulai mengingat akan masa laluku. Yang belum aku ingat hanya wajah istriku, hingga kini wajahnya belum jelas dalam pikiranku,” ujar Alexy.
Princess membalikkan tubuhnya, kini tubuh mereka saling berhadapan. Princess melihat dengan tajam mata Alexy.
“Apakah aku jahat, Mas?"
Alexy mengernyitkan dahi, “Kenapa bicara seperti itu?”
“Aku akan merebut suami orang,” ujarnya dengan suara serak.
Alexy tersenyum, “Enggak, Sayang. Mungkin ini yang terbaik untuk kita semua. Karena pernikahan kami waktu lalu, hanya memisahkan dua hati yang saling mencinta,” ujar Alexy.
“Tapi aku merasa tidak enak. Aku tidak ingin dibenci orang.”
“Ada aku yang akan selalu bersamamu. Esok kita terbang ke Indonesia, ya? Untuk mengurus berkas yang diperlukan untuk pernikahan kita.”
Princess masih memandang lekat netra Alexy.
“Kok liatnya gitu banget? Kenapa?”
“Aku masih gamang, Mas.”
Dengan cepat, Alexy menenggelamkan wajah Princess dalam dekapannya. Sehingga Princess dapat mendengar degup jantung dari Alexy. Kehangatan dan perhatian dari Alexy tidak bisa membuat Princess berpaling. Rasa nyaman yang selalu Alexy beri membuat Princess merasa tidak ingin kehilangan.
Princess mengangguk, “Iya, Mas!”
.
Menjelang malam tiba, Princess kembali ke rumah Sarah. Ia menceritakan keadaan Alexy pada Sarah yang ia anggap sebagai Mamanya.
“Ya sudah, kamu tidur. Esok hari kalian jadi terbang ke Indonesia, kan?” ujar Sarah.
“Iya, Tan. Doakan semuanya lancar ya, Tan?” ujar Princess.
Sarah mengangguk, “Pasti, Sayang!” Sarah memeluk Princes.
Sedangkan Alexy, sedang gusar dengan perasaannya. Ia merasa nyaman dengan Princess, tapi bagaimana ia harus menjelaskan pada kedua orang tua dan istrinya kelak?
Pikirannya menerawang. Hingga akhirnya ia ingat pada pengacaranya dulu. Alexy juga mengingat kantor si pengacara, walau ia tidak tahu nomor teleponnya, tapi paling tidak esok hari sudah ada tempat yang akan ia tuju ketika di Indonesia.
***
“Mas? Mas Alexy?” ujar Princess memanggil sambil mengetuk pintu.
“Sebentar!” jawabnya yang terdengar suara dari dalam.
Ternyata Alexy sedang mandi, ia segera membersihkan tubuhnya dari sabun yang menempel. Alexy memakai handuk putih yang menutup pusar hingga lututnya saja. Terlihat jelas sixpack kotak-kotak di perut itu.
Ceklek!
Alexy membuka pintu.
“Oh my God!”
__ADS_1
Princess menutup mata dengan kedua tangannya.
Alexy tersenyum, “Kamu malu?” ujar Alexy.
“Dih ... Pakek nanya lagi! Cepet pake baju, Mas!” pekik Princess masin menutup kedua matanya.
“Iya, iya! Masuklah. Aku ke kamar sebentar,” ujar Alexy yang bergegas memasuki kamarnya.
Ia mengambil kemeja dan celana jeans panjang untuk ia kenakan.
Kenapa aku bisa cuek di depan Princess? Padahal, sebelumnya aku tidak pernah melakukan hal itu di depan istriku, umpat hati Alexy. Ia bergegas ke luar dari pintu kamar.
“Ayok!”
Ajak Alexy yang sudah berpenampilan rapi, wangi dan semakin tampan.
“Kamu gak bawa baju, Sayang?” ujar Princess.
“Enggak usah. Malam hari kita langsung balik ke sini untuk mengurus pernikahan kita nanti.”
“Pernikahannya dilaksanakan di sini?”
Alexy mengangguk.
“Kenapa? Kan di Indonesia ada keluargamu, Mas?” tanya Princess.
“Tapi, aku masih menjadi suami orang, Sayang. Nanti setelah kita menikah. Aku baru ingin menemui orang tua dan istriku, aku akan mengurus perceraiannya nanti.”
Princess mematung.
Apakah aku berdosa telah mengambil suami orang? Umpat hati Princess.
“Ayok, berangkat!”
Alexy menggandeng lengan Princess menuju bandara.
***
Tak terasa, mereka sudah landas di Bandung setelah transit di beberapa bandara.
Mereka berdua turun dari pesawat dan tiba di kota Bandung sekitar jam sepuluhan. Alexy langsung menuju kantor pengacaranya.
Tok ... Tok ... Tok ....
Alexy mengetuk pintu ruang kerja pengacaranya.
“Masuk!” ujar seorang laki-laki menyahuti dari dalam ruang kerja.
Netra pengacara itu membulat ketika melihat wajah dari balik pintu itu. Wajahnya seketika pucat disertai dengan keringat yang mengalir dari wajah lelaki itu.
“Saya Alexy, Pak!”
“Ti – tidak mungkin! Kamu bohong! Tidak mungkin hantu datang ke mari!”
“Saya beneran Alexy, Pak! Saya bukan setan.”
“Lalu, yang telah dimakamkan itu jasad siapa?” tanya pengacara itu lagi.
Alexy pun menceritakan kejadian yang terjadi sebenarnya dan tujuan untuk menemuinya ke Jakarta bermaksud minta diuruskan berkas untuk pernikahan mereka dan mempersiapkan surat perceraian dengan istrinya.
“Oke, Pak Alex. Saya akan membuatkannya dengan cepat. Mungkin sekitar jam dua siang, Pak Alex ke mari lagi, ya? Saya jamin, semua berkas sudah selesai semua,” ujar pengacara itu menjanjikan.
“Oke!”
Alexy dan Princess berjalan-jalan di pusat kota Bandung. Mereka pun membeli jajanan khas Bandung. Ada kerinduan pada beberapa jajanan ini di lidah Alexy. Hingga tak terasa, waktu hampir menunjukkan pukul dua siang.
“Mas, kita kembali ke kantor pengacaramu, yuk? Udah hampir jam dua ini,” ujar Princess.
“Ya sudah. Sayang?” panggil Alexy.
“Iya?”
“Kamu sudah siapkan jadi istriku esok hari?”
Mata gadis itu lekat menatap calon suaminya.
“Sangat siap, Mas. Terlebih, Mas bisa buat aku nyaman dan mendapatkan kebahagiaan karena kasih sayang yang Mas beri buat aku.”
Alexy tersenyum.
Mereka pun kembali ke kantor untuk mengambil berkas yang sudah dijanjikan, lalu akan bersiap kembali ke Singapura.
***
“Pa, Papa jangan terlalu keras berpikir. Kesehatan Papalah yang terpenting!” ujar Jovanka.
Rendy hanya mengangguk samar karena bibirnya sudah sulit untuk berbicara, anggota tubuh lain pun tidak dapat digerakkan, hanya beberapa kari tangan yang masih bisa sedikit digerakkan.
“Bukan Jo tidak mau mengurus Papa. Tapi, esok Jo sudah harus ke klinik. Kalau Jo libur, pasti pulang buat jagain Papa. Cepat sehat ya, Pa?”
Jovanka mencium kening Papanya.
__ADS_1
Hanya air mata yang tertahan di mata senja pria yang sedang terbaring lemah tak berdaya. Seluruh anggota tubuhnya sudah sulit untuk digerakkan.
“Ma, Jo pamit, ya? Mama jaga diri baik-baik. Jo sayang Mama dan Papa!”
Jovanka memeluk erat sang Mama.
“Hati-hati ya, Nak!” ujar Mamanya yang menahan tangis.
Dengan berat hati, Jo kembali ke Jakarta menaiki kereta api. Tak disangka, Rey telah menunggunya di stasiun Jakarta. Karena sedari perjalanan, Jovanka berbalas pesan dengan Reynand.
Jo turun dari gerbong kereta api dan Rey sudah menunggu dan menyambutnya dengan senyuman hangat.
“Hai ... Jo?” sapa Reynand.
Jo tersenyum melihat pria tampan yang kini semakin perfek di matanya.
“Makan dulu, yuk? Pasti kamu belum makan!” ujar Reynand.
Lagi, Jovanka hanya tersenyum. Rey memang paling mengerti tentang dirinya sedari dulu. Tak ayal, belum ada lelaki yang mampu memasuki hatinya. Sekalipun suaminya pada waktu itu.
Rey mengajak Jovanka makan di dekat stasiun kereta api. Tidak mewah, mereka hanya makan bakso di pinggir jalan.
“Bang, bakso dua porsi,” ujar Rey.
“Baik, silakan ditunggu!”
“Gak pake toge!”
Jo dan Rey kompak mengucapkan bersama.
Penjual bakso tersenyum, “Baik Mas, Mbak!”
Sambil menunggu pesanan bakso datang. Rey menanyakan keadaan Papanya Jovanka.
Mata Jovanka berkaca ketika ia akan menjawab pertanyaan dari lelaki yang menyanginya.
“Papa terkena stroke, Rey!”
Air bening yang tertahan akhirnya luruh membasahi pipi.
Rey membulatkan mata. Ia tak kuasa mendengar kabar dari wanita yang ia cintai. Rey dapat merasakan keadaan Jovanka. Ia menggenggam tangan Jovanka untuk memberi semangat padanya.
“Sabar ya, Jo? Kamu dan keluargamu pasti kuat menjalani semuanya,” ujar Reynand masih menggenggam kedua tangan wanita itu.
Ada degup yang semakin kencang ketika kedua tangan mereka berpautan. Kehangatan yang kembali mengalir, kala terputus oleh perjodohan sialan!
“Permisi, Mas, Mbak. Selamat menikmati!” ujar si penjual bakso yang menghidangkan bakso di depan meja Rey dan Jovanka.
“Makasih ....” jawab Rey dan Jo.
Mereka menikmati semangkuk bakso pedas di waktu pagi menjelang siang ini.
.
Rey mengantarkan Jo ke kostnya dan ternyata Mama mertuanya sudah menunggu di kost Jovanka.
“Eh ... Mama, udah lama nunggunya?” ujar Jo pada Nadia, Mama mertuanya.
“Barusan, Sayang. Mama mau ada perlu di sini, makanya Mama sekalian mampir. Kangen sama kamu, Nak,” ujar Nadia.
Jo tersenyum.
“Oh iya, Ma. Kenalin, ini Rey!” ujar Jo memperkenalkan.
“Rey, Tan!”
Rey bersalaman dengan Mama mertua Jovanka.
Nadia menatap tajam pada lelaki yang bertubuh jangkung dan berparas tampan ini.
“Ma, Jo buatkan dulu minum, sebentar ya, Ma?” ujar Jo yang berlalu masuk kost membuat minuman untuk mertua dan Reynand.
“Kamu pacar baru Jovanka?” todong Nadia dengan wajah serius.
Bagaimana aku menjawabnya? Mulut ingin mengiyakan tapi hati terlalu takut menyakiti Ibu ini, umpat dalam hati Rey.
“Kalau memang pacarnya, Tante mohon, jaga baik-baik dan bahagiain dia, ya?” ujar Nadia.
Mata Rey membulat, ia tidak percaya dengan apa yang dirinya dengar barusan.
“Tante sudah iklasin Jo, kalau ia harus menikah lagi. Tante juga tidak ingin ia terlalu larut dengan kesendiriannya. Jo itu wanita yang baik, jangan sekalipun sakiti perasaannya!”
Rey hanya mengangguk. Sangat sulit baginya untuk menjawab pertanyaan Nadia. Rey terlalu takut menyakiti hati orang lain.
“Tapi, saya belum berpacaran lagi dengannya, Tan. Kami masih berteman kok,” ujar Rey yang akhirnya dapat bicara.
“Jangan terlalu lama berteman. Diresmikan saja!” goda Nadia.
Rey tersenyum.
“Tante udah ikhlas kok. Yang penting kamu bisa jaga dan bahagiain Jovanka. Karena Tante sudah menganggap ia anak Tante juga.”
__ADS_1
Rey mengangguk.
Restu sudah dikantongi dari Mama mertuanya. Akankah Papa Jovanka menerima Rey?