Menikahi Janda Dokter

Menikahi Janda Dokter
Part 87. Makan Malam


__ADS_3

Jo melangkah dengan hati yang berdebar kencang. Rasa malu lebih mendominasi, rasa percaya diri pun hilang tatkala ia akan bertemu dengan calon mertuanya.


Tap ... Tap ... Tap ....


Langkah kaki terayun ke ruang makan.


Di sana sudah ada wanita paruh baya dan seorang gadis perempuan yang hanya terlihat membelakangi mereka.


“Ma? Na?" sapa Rey.


Nadin dan Rhiena menoleh.


“Malam, Tante? Nana?” sapa Jovanka sambil tersenyum.


Nadin mengernyitkan dahi. Ia mengingat gadis ini. Tapi di mana? Itu yang sedang ia pikirkan beberapa detik ketika melihat wajah cantik itu.


“Nak Jovanka?”


Jo menyipitkan mata, “Bu Nadin?”


Nadin tersenyum. Ia bangkit dari tempat duduknya dan menghampiri Jovanka yang berdiri di samping putranya.


“Kalian udah saling kenal?” ujar Rey merasa heran.


Nadin tersenyum, “Ini loh, yang Mama bilang dulu sama kamu, Rey.”


Rey tersenyum.


“Bilang apa, Bu?” ujar Jovanka yang penasaran.


“Ah ... Sudahlah, saya senang lihat kamu, Nak. Mari, kita makan!” ajak Nadin.


Walau hati penasaran, Jovanka memutuskan untuk menyimpan sejenak rasa penasarannya itu.


Mereka menikmati makan malam dengan intens. Terutama, Nadin yang sudah lebih awal bertemu dengan Jovanka, menjadikan suasana tidak terlalu canggung. Rhiena juga menyambut hangat kedatangan calon Kakak iparnya.


Waktu menunjukkan pukul sembilan malam. Rey memutuskan untuk mengantar pulang Jovanka.


“Bu, Jo pulang dulu, ya?” pamit Jovanka.


“Iya, Nak. Hati-hati Sayang. Sering-sering kemari, ya?”


“Yah ... Mama, nanggung banget nyuruh sering-sering? Suruh tinggal di sini aja, Ma!” goda Rhiena.


“Ish!” ujar Rey.


Sedangkan Jovanka, tertunduk dan tersipu malu mendengar goda dari calon adik iparnya.


Nadin pun tersenyum, “Iya, nanti kalau sudah sah ya, Sayang?” godanya pada Jovanka.


Lagi, Jo hanya tersenyum dalam wajah yang tertunduk. Ia sudah sangat malu dengan goda dari keluarga Rey. Godaan yang membuat hatinya senang, ia bahagia mendapatkan perlakuan hangat dari keluarga Reynand.


“Udah-udah! Liat tuh, wajah Jo udah seperti tomat, kasian!” jawab Rey sambil menyenggol tangan Jovanka.


Jo mengangkat pandangannya, matanya membulat karena disebut wajahnya merah seperti tomat oleh Rey.


Sedangkan Nadin dan Rhiena terkekeh melihat kelakuan mereka berdua.


Jo mencium tangan Nadin dan bercipika-cipiki dengan Rhiena, ia pun akhirnya pulang diantar oleh Reynand.


*


Rey dan Jo menaiki mobil dan melesat di bawah langit gelap. Jalanan pun cukup lancar. Rey memacu kendaraannya dengan kecepatan sedang.


Sesekali Rey bersenandung lagu cinta, tangannya mulai sedikit memukul setir mobil seiring ia bersenandung.


“Rey?” ujar Jovanka.


“Hem?”


Sekilas, pandangan Rey tertuju pada Jovanka. Tapi, dengan cepat ia kembali fokus pada kendali setir mobil.


“Aku masih penasaran,” ujar Jovanka.


“Panasaran apa?”


“Itu, yang kata Mama kamu bilang.”


“Yang mana, Sayang?”


“Yang itu, loh!”


Jo malu untuk mengulang kembali pertanyaan dari Nadin.


Rey berpura-pura tidak mengingatnya, “Yang mana?”


Jo menirukan bicara Nadin tadi, "Ini loh yang Mama bilang dulu sama kamu, Rey. Emang dulu Mamamu bilang apa tentangku?”


Jo menatap tajam wajah lelaki yang sedang fokus menyetir.


“Ohh ....”


Jawab Rey yang membuat Jovanka kesal.


“REYNAND!”


Mata Jo mendelik kesal.


Rey tersenyum. Terlihat dari sudut matanya, kalau bibir Jo mengerucut, mungkin karena kesal. Ia menepikan mobilnya di pinggir jalan lalu memperhatikan wajah kesal Jovanka.


Rey menggenggam tangan Jovanka dengan satu tangan dan tangan yang satunya lagi mengangkat dagu Jovanka. Kini, pandangan mereka saling berpautan.

__ADS_1


“Sayang, dulu Mama bilang. Menantu idaman Mama itu seperti gadis yang memberikan syal maroon padanya. Kamu ‘kan, yang memberikan syal warna maroon yang berukirkan nama ReyAbadi?”


Rey menatap tenang mata wanita cantik yang duduk di sampingnya.


Jo mengangguk, “Masa, Bu Nadin bilang seperti itu?”


Rey mengangguk.


“Gak bo’ong?”


“Enggak!”


“Beneran?”


Jo masih belum percaya, walau tak dipungkiri hatinya bahagia mendengar kata itu.


“Ya Tuhan, JO! Asli, gak bo’ong, serius, suer, realy, kalau Mama memang bilang seperti itu.”


Pipi Jovanka kembali memerah.


“Tuh, kan mulai deh pipi tomat!” goda Reynand.


“REYNAND! JAHAT!”


Bibir Jo mengerucut.


“Tapi sayang ‘kan?” goda Rey dengan memainkan alisnya naik turun.


“Banget!”


Gubrak! Hatiku jatuh mendengar ucapan itu dari bibirmu, Sayang! Umpat hati Reynand.


Hening.


“Kita mau menginap di sini? Udah lima belas menit kamu memandang wajahku, Rey.”


“Hah?” Rey terperanjat, “Maaf!” Rey kembali tancap gas.


Mobil melesat cukup kencang ke kost Jovanka. Hingga akhirnya, mereka telah sampai di kost sederhana itu.


“Jo, aku langsung pulang, ya? Gak enak sama tetangga kostmu. Hari sudah larut malam,” ujar Rey yang masih ada dalam mobil.


“Gak papa. Oh, iya. Apakah Mamamu akan merestui hubungan kita, Rey?” tanya Jovanka.


“Kenapa kamu bertanya seperti itu?”


“Karena aku terlalu takut mendapatkan penolakan, Rey. Seperti Papaku yang belum memberikan restu untuk kita.”


“Itu tidak akan pernah terjadi, Sayang. Kalaupun terjadi, aku akan selalu berusaha meyakinkan pada Mama, hanya dirimulah yang terbaik untukku. Cukup sekali aku pernah merelakanmu bersama orang lain dan itu membuatku merasa sakit,” ujar Reynand.


Jo menatap dengan haru. Ternyata, ia mempunyai kekasih yang sangat menyayangi dirinya. Malam pun semakin larut dan Jo masuk dalam kost sederhana itu.


***


“Semangat, Pa!” ujar Meli memberikan dukungan dari dapur.


Rendy terus berlatih di apartemennya dan juga masih mengikuti terapi dari rumah sakit. Hari-harinya semangat untuk berlatih berjalan.


“Papa?”


Jovanka terkejut melihat Papanya yang sudah dapat berdiri sendiri, bahkan dapat berjalan walau hanya satu sampai dua langkah saja.


Rendy tersenyum.


“Papa sudah bisa berjalan?” tanya Jovanka.


Rendy tersenyum dan mengangguk.


Jo memeluk Papanya. Rasa syukur ia panjatkan dalam hati. Perasaannya bertambah bahagia karena keadaan Papanya kini semakin membaik.


“Jo, Papa akan kembali bekerja. Papa akan membantu perekonomian hidup kita,” ujar Rendy.


“Bekerja? Di mana, Pa?”


“Perusahaan baru. Papa sudah tidak sabar ingin bisa berjalan. Papa sudah rindu untuk bekerja lagi, Jo. Terlebih, ada orang yang sudah mempercayai Papa sebagai penanggung jawab di perusahaan baru itu,” ujar Rendy menjelaskan.


“Waaahhh ... Selamat ya, Pa? Dan terus semangat untuk belajar berjalannya. Jo yakin, Papa akan sembuh dan sehat seperti dulu.”


Rendy tersenyum.


“Mama ke mana, Pa? Dari tadi, Jo tidak lihat Mama.”


“Di dapur, membuatkan menu makan malam,” ujar Rendy.


“Kalau begitu, Jo ke dapur untuk bantu Mama ya, Pa?”


Rendy mengangguk.


Jo melangkah ke dapur untuk menemui Mamanya. Sudah beberapa hari, dirinya tidak bertemu dengan Meli. Rasa rindu seorang anak terhadap sang Mama yang menuntun kakinya datang ke apartemen ini.


Rindu untuk mengobrol. Layaknya sahabat. Rindu berkeluh kesah pada sang Mama, orang yang paling bisa mengerti perasaannya.


Terlihat sudah Meli yang sedang sibuk memasak di dapur. Sesekali, Meli pun terlihat mengusap kening yang telah banjir dengan keringat.


Ada rasa sakit, ketika melihat Mamanya harus kembali mengurusi rumah seorang diri. Belum lagi Papanya yang harus ia urus karena belum sembuh. Sedangkan dirinya tidak dapat membantu apa-apa. Pernah, Jovanka ingin memberikan asisten rumah tangga. Tapi, Meli menolaknya dengan alasan ingin berhemat.


“Mama?” panggil Jo dengan mata berkaca.


“Jo?” jawab Meli ketika melihat putri kesayangannya datang.


Jeglek!

__ADS_1


Meli mematikan kompor lalu menghampiri putri kesayangannya itu.


“Kamu kenapa, Sayang?” tanya Meli.


Tes!


Air mata itu terjatuh dan Jo langsung memeluk Meli.


“Hei ... Kamu kenapa, Sayang? Jangan bikin Ma khawatir, Nak!”


“Maafkan, Jo, Ma?”


“Untuk apa?”


“Jo gak bisa bantu Mama.”


“Loh ... Kata siapa? Jo udah banyak bantu Mama dan Papa. Malah, Mama bangga sama putri Mama yang dapat melewati masa pahitnya dan bangkit untuk mendapatkan kebahagiaannya tanpa bantuan kami. Mama minta maaf, ya? Mama hanya bisa berdoa agar putri Mama yang cantik ini mendapatkan kebahagiaan.”


Jo menangis dalam dekapan hangat sang Mama.


Mereka melanjutkan memasak di dapur bersama. Hingga akhirnya Jo menceritakan perihal lamaran Rey dan pertemuannya dengan Nadin yang mendapatkan sambutan hangat darinya.


“Nadin?”


Mata Meli terbelalak mendengar nama itu.


“Mama kenal sana Bu Nadin?” tanya Jovanka.


“Eng-enggak, Jo,” bohong Meli.


Apakah Nadin yang dimaksud itu rekan kerjanya Papa? Kalau iya, berarti Rey itu anak dari Nadin? Pengusaha kaya di kota ini, pikir Meli.


Tapi, sepertinya tidak mungkin. Rey itu sangat sederhana. Tapi, bisa jadi juga ia anak dari Ibu Nadin, secara mobil yang ditungganginya saja bukan mobil sederhana. Paling, hanya segelintir orang yang mampu membelikan mobil semahal itu, Meli masih bergelayut dalam angannya yang sedang perang batin antara mengiyakan dan menyangkal.


“Ma? Kok melamun?” ujar Jovanka.


“Tidak, Nak. Ya sudah, tolong masukan sayurnya dalam wadah ya, Sayang? Mama mau mandi dulu,” ujar Meli.


Jo pun menyiapkan makan malam, lalu membereskan dapur yang cukup berantakan bekas masak Mamanya.


Sementara Meli, masih sibuk dengan pemikirannya sendiri.


***


Sementara di sisi lain, ada Rey yang tengah menikmati makan malam bersama adiknya. Karena Nadin sedang ada keperluan di luar rumah.


“Bang?” tanya Rhiena sambil mengunyah makanannya.


“Hem ....”


Rey berdehem tanpa menoleh adiknya.


“Kak Jovanka itu anak orang yang dulu Papanya tidak merestui Abang ‘kan?”


“Iya.”


“Lalu? Sekarang gimana? Kalian udah dapat restu?”


Rey menggeleng.


“Masa sih?”


“Iya. Bahkan, Papanya seperti benci banget kalau melihat wajah Abang,” jawab Rey sambil membayangkan wajah tidak suka, Papa Jovanka ketika melihatnya.


“Gimana kalau Mama tau? kalau dulu Papanya Kak Jo tidak merestui hubungan kalian. Bahkan, dulu Abang sakit hati oleh perlakuan Papanya?”


“Ssttt ... Jan kenceng-kenceng, takut ada yang denger! Biarlah semua itu akan tetap menjadi rahasia.”


“Begitu besar sayang Abang buat Kak Jo, sehingga menutupi keburukan Papanya di depan Mama. Nana salut sama Abang. Semoga Abang mendapatkan yang terbaik.”


Rey tersenyum, “Makasih ya, Na?”


Rhiena tersenyum, “Oh, iya, Bang. Nana minta antar ambil pesanan kue di toko langganan kita, ya?”


“Iya. Kapan? Habis makan?”


“Iya.”


.


Rey dan Rhiena bergegas meluncur ke toko kue langganannya.


“Ayok, masuk!” pinta Rhiena.


“Malas. Kamu aja deh!”


“Ihhh ... Ayok! Nana malas nunggu kalau pesannya belum selesai.”


“Kamu tidak menghubungi dulu lewat hape tadi?”


“Enggak. Nomornya ilang, kayaknya kehapus.” Rhiena tersenyum.


Akhirnya Rey pun mengekor adiknya, masuk dalam toko kue yang memang cukup ramai.


“Na, Abang tunggu sini, ya?” ujar Reynand yang duduk di sofa tunggu.


“Oke!”


Rhiena berlalu pergi untuk menanyakan pesanannya.


Ting!

__ADS_1


Lonceng pintu toko kue berdenting. Menandakan pintu itu terbuka, ada customer yang membukakan pintu.


“Princess? Alexy?” ujar Rey ketika melirik ke arah pintu itu dengan mata yang terbelalak.


__ADS_2