Menikahi Janda Dokter

Menikahi Janda Dokter
Part 64. Pertemuan


__ADS_3

Ting ... Tong ....


Bel rumah Rey berbunyi.


Ceklek!


Pintu terbuka.


“Pagi, Bi?” sapa Adara ramah.


“Pagi, Non. Mau cari siapa?” ujar Bi Weni, pembantu rumah tangga di rumah Reynand.


“Kak Rey ada, Bi?”


“Den Reynand tidak pulang dari semalam, Non,” jawab Bi Weni.


“Memangnya ke mana, Bi?”


Tiba-tiba, suara Nadin terdengar dari dalam rumah. “Siapa, Bi?”


“Ada yang cari Den Reynand, Nya!” sahut Weni.


Tidak berselang lama, Nadin pun datang dengan pakaian yang sudah rapi.


“Eh ... Adara. Masuk, Sayang!” ujar Nadin ramah. “Bi, tolong ambilkan minuman ya?” sambungnya.


Nadin dan Adara masuk dalam ruang tamu. Sementara Rhiena sudah berangkat sekolah. Baik Rhiena dan Jovanka sama-sama sedang sibuk. Jo dengan skripsinya, sedangkan Rhiena akan menghadapi ujian nasional di sekolahnya.


“Duduk, Sayang. Tumben ke sini pagi-pagi? Kamu gak sekolah, Sayang?” tanya Nadin pada Adara.


Adara pun duduk, “Iya, Tante. Mumpung hari ini sekolah diliburkan satu hari. Dara ingin bertemu dengan Kak Rey,” jawab Adara.


“Tapi, Reynand ada di rumah sakit, Sayang.”


“Hah? Kak Rey sakit apa, Tan?” tanya Adara sambil membulatkan mata.


“Bukan, Rey yang sakit, tapi sahabatnya,” ujar Nadin.


Adara membuang napas lega, “Syukurlah, Dara kira Bang Rey sakit lagi,” ujar Adara sambil tersenyum.


“Oh, iya. Tante mau ke rumah sakit, Dara mau ikut?”


“Memangnya boleh, Tan? Gak ngerepotin?”


“Ya enggak lah. Ayo, kita berangkat?” ujar Nadin.


Nadin dan Adara berangkat dengan menaiki mobil Nadin. Adara memang belum dikasih izin oleh Papanya untuk membawa mobil sendiri. Jadi, ke mana pun ia pergi pasti menggunakan kendaraan umum.


Mobil melaju sedang menuju rumah sakit. Mereka mengobrol sepanjang jalan. Maklum, sama-sama cewek jadi terbiasa rame di mana pun. Hingga tak terasa, mobil sudah terparkir di lobi parkir.


Sebentar ya, Dara. Tante telpon Rey dulu, menanyakan temannya itu dirawat di ruang mana.”


Adara mengangguk.


Nadin mengambil ponsel yang ada dalam tasnya ia menghubungi Rey dan menanyakan ruangan sahabatnya dirawat.


“Oh ... Iya, Dara. Kamu masuk duluan, tanya ruang mawar di mana. Karena Rey ada di sana. Tante mau ke toilet dulu, tiba-tiba perut tante sakit,” ujar Nadin.


Adara mengangguk, “Baik, Tan!”


Ceklek!


Adara ke luar dari dalam mobil. Kakinya melangkah mencari ruangan mawar.


Setelah menanyakan, akhirnya ia menemukan ruangan yang dimaksud. Adara mendorong pintu sambil mengetuknya.


“Kak Rey?” sapa Adara yang masih ada di depan pintu.



“Dara? Masuk!”


Adara melenggangkan kaki, masuk ke dalam ruangan tersebut, matanya terbelalak ketika melihat sosok yang terbaring di atas ranjang.


“Kak Davin?”


Netra itu mulai berkaca-kaca. Si gadis ceria ini seketika berubah menjadi sosok melow di depan Davin.


__ADS_1


“Adara?”


Davin tak kalah kagetnya ketika melihat gadis cantik yang sekarang sudah banyak berubah.


Sedangkan Rey hanya terdiam menyaksikan ke duanya saling bertutur sapa.


Apa mereka sudah saling kenal? Umpat hati Rey lalu agak menjauh dari Davin. Ia memberikan kesempatan pada mereka berdua.


Adara mendekat dengan langkah kaki yang seperti ragu untuk mendekati Davin. Tapi rasa rindu yang lebih mendominasi hati yang membuat dirinya terus mendekat.


Sisi lain, Davin benar-benar tidak percaya kalau ia bertemu dengan kekasih hati yang telah lama tidak pernah berkomunikasi, apalagi bertemu. Adara kini menjadi sosok gadis yang semakin cantik ia terlihat lebih dewasa. Mungkin, karena kurang lebih sudah empat tahun mereka tidak bertemu.


Akhirnya, Adara menenggelamkan wajahnya di dada Davin. Ia menangis karena terlalu bahagia bisa bertemu kembali dengan pacarnya yang selama empat tahun mereka terpisah.


“Kamu ke mana aja sih, Kak?”


“Apa kamu tidak merindukan aku?”


“Kenapa kamu tega meninggalkan aku selama itu? Jawab, Kak!” sambil menatap tajam mata Davin.


“Aku ingin membuktikan pada Papamu, kalau aku layak untuk bersanding denganmu, Dara!” Davin mengusap lembut rambut Adara.


Rey hanya menatap dari arah yang cukup jauh.


“Kak, jangan tinggalin Adara lagi! Apa Kakak tau kesedihan Adara selama empat tahun?”


Davin menggeleng.


“Selama empat tahun aku merasa kesepian. Ragaku bersama orang tuaku tapi jiwaku seakan mencari kamu, Kak!” peluknya sambil menangis.


“Maafkan Kakak, Dar! Kakak sengaja tidak memberitahumu karena Kakak sedang fokus belajar agar kelak bisa menjadi lelaki yang pantas untukmu.”


Davin mengusap lembat pucuk kepala Adara.


Keadaan seakan menjadi haru dengan pertemuan dua insan yang saling mencinta, tapi terpisahkan karena orang tua dari sang wanita.


Rey memilih ke luar dari kamar itu, membiarkan mereka berdua meluapkan rasa rindu setelah sekian lama terpisah. Ini kali pertama mereka dipertemukan kembali oleh Tuhan.


Betapa indahnya pertemuan mereka, Tuhan. Akankah pertemuanku akan seindah mereka? Atau kah kami tidak akan pernah bisa bersama? Umpat Rey dalam hati.


Sementara di dalam kamar ada Adara dan Davin yang sedang membagi rindu kala cinta mereka kembali bertemu.


Separuh jiwa yang hilang, kini kembali bersatu. Dua insan yang terpisah, kini kembali menyatu. Tiada rencana manusia yang terindah dari rencana-Nya!


“Mama?”


Mata Rey membulat, kaget melihat Mamanya yang tiba-tiba ada di sampingnya.


“Adara ke mana?”


“Loh ... Mama tau Adara di sini dari siapa?”


“Kan Mama ke sini bareng Adara.”


“Oh ...."


“Ya udah, Mama mau jengukin Davin. Kamarnya di mana?” tanya Nadin.


“Jangan, Ma!”


“Kenapa?”


Dahi Nadin mengernyit.


“Em ... Itu, Ma.”


Rey menggaruk kepala.


Haduh, gue harus jawab apa? Gak mungkin juga kalau gue bilang Adara sedang melepas rindu dengan Davin. Tuhan, tolooonggg! Umpat hati Rey.


“Tante? Kak Rey? Kenapa gak masuk? Adara tungguin di dalam juga,” ujar Adara.


“Nah ... Ini Adara. Ya udah, ayo, Dar! Antar Tante ke kamar Davin, Tante mau jengukin Davin,” pinta Nadin.


Akhirnya Adara, Nadin dan Rey masuk dalam kamar Davin yang sedang memainkan ponselnya.


“Davin? Gimana keadaanmu, Nak?” ujar Nadin.


“Lumayan, Tan. Ini semua berkat putra Tante.” Davin tersenyum.

__ADS_1


“Syukurlah, Tante khawatir. Oh iya, orang tuamu mana, Dav? Kok Tante gak liat?”


“Orang tuaku sudah bercerai Tan. Aku tinggal sendiri,” ujar Davin sambil tertunduk lesu.


“Ya Tuhan, Maaf ya, Nak. Apabila pertanyaan Tante buat kamu jadi sedih,” ucapnya dengan raut penyesalan.


“Tak apa, Tan. Santai aja.”


Karena perceraian kedua orang tuanya. Davin menjadi sosok lelaki pekerja keras. Terkadang, memang sikapnya menjengkelkan bagi sebagian orang. Contohnya Jovanka yang selalu dijahili oleh Davin. Tetapi, dibalik kejahilannya, tersimpan jiwa care yang tinggi.


Mereka berempat mengobrol hingga siang hari.


“Dav, gue balik dulu, ya? Belum mandi gue. Bajunya aja masih yang ini,” ujar Reynand.


“Tante juga pamit ya, Dav. Mau ada perlu, cepat sembuh, ya?” ujar Nadin.


“Dar, lu mau balik, gak? Tanya Reynand.


“Enggak, Kak. Dara mau sama Kak Davin di sini,” ujar Adara sambil menatap wajah kekasihnya dan melengkungkan senyuman di depan wajah Davin.


“Hem ... Kalian, bikin gue ngiri aja deh!” ujar Reynand.


“Hihi ....”


Adara tertawa sabil menutup bibirnya.


***


Di sisi lain ada Jovanka yang selalu menanti kabar terbaru dari Michael, Papa mertuanya.


Ia menyibukan diri dengan berbagai tugas kampus yang memang sudah banyak menguras tenaga. Sedikit demi sedikit, tugas itu pun hampir rampung.


Dalam rumah megah itu, Jo merasa sendirian. Sering merasa sepi. Bahkan, akhir-akhir ini dirinya sering menangis apabila dirinya melihat kamar itu.


Terlalu banyak Alexy menggoreskan kenangan untuknya. Dimulai drama Alexy tidur terpisah dengannya, memberikan surprise ulang tahun dan terakhir ******* lembut di bibi Jovanka. Semuanya menjadi semu setelah kepergian Alexy dari hidupnya.


Hal yang dilakukan Jo hanya menangis di atas tempat tidur super besar itu. Hanya penyesalan yang tersisa dari dirinya.


“Jo?” sapa Angel ketika melewati kamar Jovanka.


Jo tidak menjawab, ia tertunduk lesu dengan memegang kedua kaki yang ia tekuk. Angel menghampirinya dan duduk di samping ranjang.


“Kamu kenapa, Sayang?” tanya Angel.


Jo hanya menggeleng, tidak menjawab pertanyaan Angel dengan wajah yang masih tertunduk. Angel mengangkat wajah yang sedari tadi tertunduk, tidak berani mengangkat.


“Jo?”


Bertapa kagetnya Angel ketika melihat wajah yang lusuh dengan air mata dan mata yang sendu menghiasi wajah cantik Jovanka. Angel pun memeluk Jovanka.


“Sabar ya, Jo! Tante paham perasaanmu,” ucapnya seraya memeluk tubuh yang sudah lemas tak berdaya.


Angel menjadi khawatir melihat keadaan Jovanka yang semakin hari sepertinya semakin terpuruk karena menunggu kabar yang tak pasti.


.


Akhirnya Angel memberitahukan pada Nadia, yang tidak lain Mama mertuanya Jovanka. Ia menceritakan keadaan Jovanka yang semakin memburuk, terutama ketika berada di dalam kamar super besar dan mewah itu.


Dengan berat hati, Mama mertuanya pun mengirim Jovanka pada orang tuanya. Mereka terlalu khawatir hal ini dapat menyerang sikisnya.


Angel membantu membereskan beberapa baju Jovanka ke dalam travel bag dan mengantarkan Jovanka ke rumahnya. Berharap ia mendapatkan ketenangan di rumahnya sendiri.


“Kami menitipkan menantu yang telah kuanggap seperti putri kami sendiri padamu, Jeng. Maaf, bukan kami tidak mau merawat. Kami hanya takut, Jovanka terpuruk berada dalam rumah kami. Mungkin baginya terlalu banyak kenangan dengan Alexy, sehingga Jo sering menangis ketika seorang diri,” ujar Nadia pada Meli yang tak lain Ibu kandung Jovanka.


“Iya, maaf ya, Jeng. Kalau anak saya malah jadi ngerepotin Jeng Nadia?” ujar Meli merasa tidak enak.


“Justru saya yang minta maaf, Jeng. Karena keluarga kami untuk saat ini belum bisa menghibur Jovanka. Kami sangat menyayangi Jo dan selalu ingin dekat dengannya. Tapi, dengan keadaan seperti ini, saya hanya bisa mengalah. Menitipkan kembali Jo pada sang Mama, karena saya tau. Mama kandung yang akan memberikan kenyamanan untuk Jovanka.”


Nadia tertunduk, lemas.


Keadaan dalam ruang tamu itu menjadi hening tanpa ada kata dari sekumpulan wanita dewasa yang biasanya mereka terlalu sibuk dengan berbagai macam ocehannya.


“Sayang, Mama tinggal dulu, ya? Kapan pun kamu mau kembali atau hanya sekedar kangen terhadap kami. Pintu rumah terbuka lebar untukmu, Nak.”


Nadia memeluk erat tubuh Jovanka.


“Maafkan Jo ya, Ma? Jo gak kuat untuk saat ini. Rasanya terlalu berat menerima semua kenyataan ini, walaupun masih akan selalu ada harapan untuk Mas Alex dapat kembali dan pulang ke rumah kita,” ujar Jovanka yang membuat air mata Nadia luruh seketika.


Nb :

__ADS_1


Mohon maaf untuk beberapa part ke depan mungkin Author menyajikan cerita sedih dolo😅 fase untuk mencapai kebahagiaan.


Ayey!😁✌🙏


__ADS_2