
Beruntung, Rey masih bertugas menghandle penerbangan lokal saja. Tak ayal, jam pulang kerja pun hampir berbarengan dengan Jovanka. Terkadang pulang lebih awal, atau telat beberapa menit saja.
Seperti kewajibannya, Reynand kini menjadi pilot pada pesawat berlogo burung. Dia sedang bertugas menerbangkan pesawat di atas langit. Pesawat-pesawat baru, jarak jauh mau pun jarak pendek sudah menggunakan auto mission, atau pengendali otomatis setelah lepas landas. Saat itulah pilot dapat memanfaatkan waktu untuk beristirahat.
Uniknya, ternyata pilot hanya memegang kendali kurang dari lima menit dalam satu lepas landas. Selebihnya langsung diserahkan pada komputer yang sudah terprogram pada rute tersebut.
Meski begitu, sang pilot tetap harus memonitor dari layar, apakah pesawat berjalan sesuai dengan program yang dirancangnya? Sehingga ketika terjadi ketidaksesuaian, peringatan pun muncul dan harus segera ditangani oleh pilot.
Namun, pilot tetap memonitoring ketika ada mission dari apa yang direncanakan akan ditangani langsung, jadi tugasnya hanya itu saja. Atau saat emergency, pilot tersebut harus handling dengan selamat. Kalau turbulence saja masih bisa diatasi komputer.
Istirahatnya pilot bisa dilakukan di bangku kendalinya dengan menurunkan sandaran, atau pergi ke bunker atas atau bawah. Mereka bisa makan, minum, tidur-tiduran sambil tetap memonitor.
Hal tersebut termasuk manajerial kondisi kekuatan dan kemampuan pilot saat terbang. Sehingga proporsi tenaga baik saat lepas landas, mendarat, atau jika ada permasalahan di udara, tetap dalam kondisi prima.
***
'Bruk!'
"Sorry," ucap Davin ketika bertabrakan dengan Jovanka.
Jo tersenyum ramah. Seperti dulu, Jo terlihat begitu manis di mata Davin. Dia makin terlihat cantik setelah menikah dengan Reynand. Aura bahagianya sungguh nyata terlihat, berbeda ketika hidup bersama Alexi. Walau sesungguhnya, Alexi pun merupakan lelaki yang baik dan menyayanginya.
Hati tidak dapat berbohong, makhluk hidup pasti memiliki rasa. Rasa sedih, senang, haru, kecewa dan rasa-rasa yang bisa saja muncul dengan sendirinya.
"Makan siang, yuk?" ajak Davin. Waktu itu memang telah menunjukkan hampir jam dua belas siang. Namun, sebelum Jo mengangguk, malah ada seseorang yang berteriak. Seorang perempuan yang masuk dalam kliniknya.
"Toloong!" pinta wanita itu dengan wajah penuh dengan keringat.
"Iya, Bu. Kenapa?" tanya Jovanka yang baru saja keluar dari ruang praktiknya.
"Suami saya tiba-tiba pingsan," terang si wanita yang sudah berdiri di depan pintu ruang kerja Jovanka.
Ternyata lelaki yang disebut suami dari wanita itu telah dibaringkan di bed yang terdapat di klinik dibantu oleh beberapa orang yang bertugas di bandara. Jo langsung mendekat lalu mengecek keadaan pria yang memang tidak sadarkan diri.
Ternyata lelaki itu memiliki riwayat asma, sialnya, obat yang biasa dia bawa tertinggal sehingga pria itu pingsan karena napas yang sesak saat bernapas.
__ADS_1
Alat oksigen pun di pasang menutupi area mulut dan hidung. Perlahan, napas dan detak jantungnya mulai normal dan seketika itu juga kondisinya membaik diiringi dengan sepasang mata yang terbuka.
Air bening tampak keluar dari sudut mata si wanita. Terlihat sekali dia panik ketika pria tersebut tidak sadarkan diri. Lagi-lagi hati yang berbicara, karena dia begitu menyayangi suaminya.
"Saya tinggal, ya, Bu. Kondisi pasien sudah mulai membaik," pamit Jovanka ketika telah memeriksa keadaan pasien setelah sadar.
"Baik, Bu. Makasih," jawab si wanita dengan rona bahagia.
"Ayo, Dav!" ajak Jovanka dan Davin pun mengekor.
Davin dan Jovanka berjalan ke kantin untuk mengisi perutnya yang lapar. Mereka lebih suka makan di kantin karena tidak terlalu jauh dengan klinik. Di klinik pun masih ada dua asistennya yang siap berjaga.
"Soto satu sama teh manisnya satu, ya, Mbak," pinta Jovanka pada pelayan kantin.
"Baik, Bu Dok," ujar si pelayan yang telah mengenal Jovanka. Wajar saja, Jovanka cukup lama bekerja di klinik tersebut dan bahkan menjadi salahsatu pelanggan tetap di kantin itu.
"Saya seporsi sate sama nasi aja, ya, Mbak. Minumnya air putih saja," pinta Davin dan pelayan itu pun mencatatnya.
"Jo?" Davin memanggil setelah pelayan itu pergi untuk menyiapkan menu makan siang mereka yang sudah dipesan.
"Saat ini, pasti kamu sudah bahagia banget, ya?" tanya Davin. Setelah dia jadi dokter, ucapan dia memang lebih halus, tidak seperti dulu. Mungkin menjaga wibawa atau jabatannya sebagai dokter.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu?"
"Tidak. Hanya ingin memastikan saja."
"Jelas aku bahagia, Dav. Saat ini aku telah sah menjadi seorang istri dari lelaki yang selama ini aku cintai," jawab Jovanka halus tetapi sangat terlihat tegas di wajahnya.
'Jleb!'
Seperti ada yang menusuk di dalam sana. Bukan pedang atau belati, bahkan tidak berdarah. Namun, terasa nyeri ketika mendengar ucapan Jovanka.
Apa aku masih mempunyai rasa terhadapnya? Batin Davin yang seolah belum siap melihat Jovanka yang sudah melepas masa singgel-nya dari janda menjadi seorang istri.
"Kenapa? Kok, malah diam?" tanya Jovanka yang malah menjadi heran.
__ADS_1
"Aku––aku––" kata Davin terhenti saat seorang pelayang datang menghampiri mereka dengan membawa menu makan siang yang menggugah selera. Aroma makanan yang dipesan, menguar pada indera penciuman mereka.
"Selamat menikmati, Bu Dok, Pak Dok," ujar si pelayan dengan senyum ramah.
"Makasih, Mbak," ujar Jo dan Davin serempak.
Jovanka dan Davin menikmati makan siang mereka. Namun, tanpa Jo sadari, diam-diam Davin mencuri pandang saat Jovanka sedang khusuk menikmati makan siangnya.
Namun, dering ponsel telah mengagetkan Davin. Pria itu meraih ponsel yang tersimpan si meja, tepat di samping tangan kirinya.
Adara? Batin Davin. Dia seolah tersadar akan tindakan yang mungkin saja bisa membuatnya salah langkah. Bagaiman mungkin Davin terlena dengan wanita lain? Sedangkan dirinya telah memiliki kekasih.
Namun, jangan salah. Setan itu selalu menggoda manusia. Seberapa besar ketulusan atau kebaikan yang dimiliki manusia? Setan akan selalu menggodanya untuk terjerumus pada dosa dengan janji-janji manis, padahal semuanya dusta. Hanya akan ada tangis dan berujung penyesalan selama hidupnya.
"Permisi, Jo. Aku angkat dulu telpon," pamit Davin yang dibarengi oleh anggukkan dari Jovanka.
Davin bangkit dari tempat duduknya lalu menjauh dari Jovanka. Dia menggeser screen ponsel lalu menjawab panggilan tersebut.
"Iya, Adara."
"Lama banget angkat telponnya, Yank?" jawab Adara yang sepertinya kesal.
"Maaf, tadi ada pasien. Kenapa, Sayang?" bohong Davin. Dia berusaha menutupi sesuatu dari Adara karena tidak ingin membuatnya kecewa. Namun, seberapa besar dia menyembunyikan kebohongan, kelak akan menjadi malapetaka dalam hidupnya. Bisa hancur, bahkan lebur tak tersisa.
"Oh seperti itu? Enggak papa, sih. Aku hanya ingin denger suaramu saja. Entah kenapa, hatiku merasa aneh saat ini. Kamu baik-baik saja, kan, Yank?"
"I- iya. Aku baik-baik saja, Sayang."
"Syukurlah. Hanya itu saja yang ingin aku tanyakan. Ya udah, aku tutup teleponnya, ya, Yank. Mau lanjut kuliah," ujar Adara.
"Oke! Belajar yang pinter, biar nanti lulus kuliah aku lamar," ujar Davin membuat Adara berdecak bahagia di seberang sana.
Sambungan ponsel pun terputus. Entah kenapa, Davin malah merasa lemah ketika dia telah mendapatkan telepon dari kekasihnya. Bukankah seharusnya malah menjadi energi penyemangat ketika seseorang yang spesial di hati kita telah menyapa? Walau sekadar virtual, seharusnya rasa semangat yang hadir, bukan rasa lemah. Ada apa dengan Davin?
Ya Tuhan ... aku merasa bersalah pada Adara. Dia seolah tau keadaanku saat ini. Di mana masih ada rasaku terhadap wanita lain. Batin Davin dilema.
__ADS_1