Menikahi Janda Dokter

Menikahi Janda Dokter
132. Hambar


__ADS_3

Vicky sudah pasrah pada semua yang akan terjadi. Mungkin saja Rhiena memang belum siap menikah dengannya. Namun, tidak menutup kemungkinan kalau Rhiena tidak ingin menikah dengannya bukan?


Keadaan ramai seolah sepi, karena Vicky merasa Rhiena benar-benar menolaknya. Dia tidak ingin memaksakan kehendaknya. Padahal, Vicky telah mempersiapkan acara itu dengan sungguh-sungguh dan matang. Namun, apa boleh dikata kalau Rhiena malah menolaknya?


"Kak?" Rhiena menyapa karena Vicky membisu sesaat penolakan darinya.


"Iya." Vicky mendongak dengan sedikit ragu menatap Rhiena.


"Kakak enggak marah, kan?" tanya Rhiena dengan wajah meragu serta mata menyipit ketika memandang wajah muram Vicky.


"Enggak. Itu hak kamu, wajar dan aku terima, Na."


Sesungguhnya aku pun ingin menerimamu, Kak. Tapi, entah kenapa hati aku seperti belum meyakini sepenuhnya. Batin Rhiena.


Makan malam itu terasa begitu hambar. Penolakan dari Rhiena yang membuat Vicky terasa menjadi orang asing yang baru bertemu. Semuanya terasa menjadi kaku. Keromantisan yang Vicky punya seolah hilang karena malu.


Mereka menuntaskan makan malam bersama di tengah kesunyian. Padahal, musik romantis mengalun indah dan suasana hangat menyelimuti keduanya. Lilin yang menyala, bunga mawar yang tersimpan di pas kaca, makanan yang benar-benar disajikan cantik. Namun, semua seolah sia-sia ketika Vicky mendengar kata penolakan dari bibir kekasihnya.


"Pulang, yuk?" ajak Rhiena.


"Udah selesai makannya?" tanya Vicky yang mencoba santai.


"Udah."


Vicky dan Rhiena bangkit dari kursi tersebut. Mereka berjalan berdampingan, tetapi berjarak, tidak sedekat biasanya.


Vicky membuka handle pintu mobil untuk Rhiena dan gadis itu masuk lalu duduk di samping kemudi.


"Makasih," jawabnya pelan.


Vicky tersenyum. Dia masuk dari pintu sebelahnya dan kini duduk dan menyalakan mesin. Deru mesin terdengar, tidak menunggu lama, mobil Vicky melesat dari restoran tersebut. Cincin yang ada dalam tempat berbentuk hati itu masih tersimpan rapi dalam saku jasnya.


Gagal semua keromantisan Vicky malam itu hanya karena penolakan.


"Na?" Vicky memecah keheningan.


"Iya."


"Dengan penolakan ini, bukan berarti kita putus, kan?" tanya Vicky ragu.

__ADS_1


Rhiena terdiam. Sesungguhnya dia memikirkan perintisan usaha yang menurutnya belum sukses. Masih banyak yang harus dibenahi dan umpama dia menikah, otomatis semuanya akan terbengkalai karena pikirannya harus terbagi antara kantor dan rumah tangganya.


"Na? Kok, gak jawab? Kita enggak putus, kan?" Vicky kembali bertanya dengan degup yang mengencang. Hatinya merasa tidak enak.


"Maaf, Kak. Aku––"


Kata Rhiena terhenti dan membuat Vicky semakin tidak keruan dengan perasaannya saat itu.


Apa ini artinya hubungan kami selesai sampai di sini, Tuhan? Batin Vicky yang merasa tidak adil.


Keadaan dalam mobil kembali sepi. Setelah beberapa saat Vicky mencoba memecah keheningan, tetapi nyatanya malah semakin sunyi.


Vicky masih berusaha memecah keheningan. Dia memutar music di dalam mobil. Alunan nada romantis kini terdengar di telinga mereka dan seolah keromantisannya memenuhi atmosfer mobil mereka.


Hingga tidak terasa, mobil telah terparkir di halaman apartemen Rhiena. Keduanya mematung dan akhirnya Rhiena membuka pintu mobil.


"Na?" Vicky kembali memanggil setelah kaki Rhiena hampir melangkah ke luar dari mobil.


"Iya?" jawabnya sambil menghentikan langkah.


"Kamu belum jawab pertanyaanku yang tadi."


"Kita enggak putus, kan?"


Rhiena terlihat menarik napas dalam untuk menjawab pertanyaan kekasihnya.


"Entah. Aku masih ingin fokus di perusahaan yang idenya datang dari aku, Kak."


"Tapi ini enggak adil, Na. Aku enggak akan mengganggu aktivitas kamu, kok. Aku tidak akan pernah membatasi, asalkan––" kata Vicky terhenti.


"Tuh, kan. Ada kata asalkan, itu tandanya akan menyusul syarat-syarat lain dari kamu, Kak. Udahlah." Rhiena gegas keluar dari mobil.


"Na, bukan itu. Bukan itu maksud aku, Na. Denger dulu!" teriak Vicky dari dalam mobil yang tidak didengar oleh Rhiena.


Vicky mencoba mengejarnya. Namun, Rhiena menyuruhnya untuk pulang. Vicky pun menghentikan aksinya. Karena dia cukup mengerti karakter Rhiena. Pacar cantiknya itu tidak akan mendengar ketika ada dalam kemarahan. Jadi, percuma saja Vicky mencoba untuk meluruskan kesalahpahaman, kalau saja keadaan Rhiena masih emosi. Bukankah memang kebanyakan manusia itu tidak akan mendengar ketika dalam keadaan marah?


Vicky memilih untuk kembali ke mobil. Dia hanya mengikuti Rhiena hingga di depan pintu apartemen dan melihatnya telah masuk dan menutup pintu. Langkah Vicky kembali ke lobby untuk pulang dan menenangkan hati dan juga pikirannya untuk menuntaskan kesalahpahaman yang terjadi saat itu.


Di dalam pikiran Vicky hanya ada Rhiena. Pria itu tidak rela kalau saja hubungannya putus hanya karena lamaran yang ditolak. Itu begitu tidak adil, apalagi sebelumnya mereka baik-baik saja.

__ADS_1


"Aku gak mau kita putus, Na!" ucap Vicky sambil memukul stir mobil.


Namun, tiba-tiba saja ada cahaya di depan mobilnya begitu menyala dan menyilaukan pandangannya. Vicky menabrak sesuatu hingga akhirnya dia tidak tersadar.


***


Sedangkan di sisi lain ada Rhiena yang masih bingung dengan perasaannya.


"Na? Udah pulang? Gimana acaranya?" Nadin bertanya ketika Rhiena akan masuk ke kamarnya.


"Lohhh ... kok, Mama belum tidur? Katanya mau cepet-cepet tidur?"


"Mama enggak tenang kalau kamu belum sampai di rumah sama Mama."


Tuh ... kan, Mama aja masih butuh banget Nana. Gimana kalau Nana tadi Nerima lamaran Kak Vicky coba? Batin Rhiena.


"Na? Kok malah diem?" tanya Nadin karena putri sematawayangnya malah membisu. Dia sibuk dengan segala pikiran yang bergelayut di kepalanya.


"Eh, iya gitu, Ma."


"Gitu gimana, Sayang?"


"Nana capek, Ma. Mau istirahat dulu, ya? Nanti Nana cerita besok," kata Rhiena yang terlihat menghindari pertanyaan ibunya.


"Oh ... baiklah, selamat tidur, Sayang," ucap Nadin sambil mengusap pundak putrinya dengan lembut.


Rhiena pergi ke kamarnya begitu pun dengan Nadin.


Rhiena meletakan tas di atas nakas lalu duduk di tepi ranjang. Pertimbangannya begitu berat untuk menerima lamaran Vicky, karena dalam pikirannya, Vicky akan menghambat dirinya di dunia karier. Padahal, usainya sudah dari cukup untuk berumah tangga.


Wanita itu mencoba merebahkan tubuhnya di kasur yang empuk dan nyaman. Matanya terpejam. Dia berusaha bersikap tenang dan mengumpulkan jawaban atas pertanyaan Nadin tadi.


Cukup lama mata Rhiena terpejam, hingga kembali terbuka karena dering ponsel terdengar dan cukup mengagetkannya. Rhiena bangkit dari kasur lalu meraih tas yang ada di atas nakas. Dia meraih ponsel yang ada di tas.


"Kak Vicky? Angkat enggak, ya?" Sejenak Rhiena berpikir. Namun, ketika dia hendak mengangkat, ponselnya kembali mati.


"Yee ... malah mati," keluhnya ketika jarinya hendak menggeser kunci screen ponsel.


Sempat ada dalam pikiran Rhiena untuk menghubunginya kembali. Namun, rasa ego yang tinggi mengalahkan segalanya. Rhiena memilih untuk meletakkan ponsel untuk diisi daya baterainya yang hampir habis dan bergegas tidur setelah dia mengisi baterai ponsel setelah me-non aktifkannya.

__ADS_1


__ADS_2