
“Mama?” Mata Jo membulat ketika melihat Mama mertuanya, “Masuk, Ma!” ajak Jovanka.
Nadia tersenyum.
“Malam, Jo?”
Kembali, mata Jo membulat ketika melihat sosok lelaki yang dianggap telah meninggal.
“M-Mas ... A-lex?”
Netra yang membulat kini berkaca-kaca dengan ucapan yang terbata.
Hening.
Kaki mereka mematung, terlebih Jovanka yang terlalu syok sekaligus gembira melihat suaminya telah kembali.
“Siapa, Jo?” ujar Meli yang sudah ada di dekat Jovanka. Meli pun kaget melihat sosok Alexy di depan pintu kost putrinya. “Nak Alex? Mari masuk!”
Meli, Jo, Nadia dan Alexy masuk ke dalam kost sempit itu. Ada rasa bahagia di hati Jovanka karena selama ini dugaan mereka tentang Alexy itu salah. Alexy masih hidup.
“Bentar, ya? Jo ambilkan dulu minum.”
Jo melangkah pergi, sementara Meli mendorong Rendy yang berada di atas kursi roda, menuju ruang tamu untuk bergabung bersama mereka.
“Papa kenapa, Ma?” tanya Alexy.
“Papa stroke, Nak Alex. Sudah sekitar dua minggu Papa seperti ini,” ujar Meli.
“Silakan di minum,” ujar Jovanka yang menyajikan minuman dan camilan di atas meja kecil itu.
“Makasih, Nak!” ujar Nadia. “Sebenarnya, niat kami ke mari mau ....” ucapan Nadia tertahan, sebagai wanita, ia tidak tega untuk menyampaikan kabar terburuk untuk seorang istri, sekali pun mereka tidak pernah bahagia dalam menjalin rumah tangga.
Jo menunggu keterangan dari ucapan yang terpotong dari bibir mertuanya.
“Ini!”
Alexy memberikan amplop putih di atas meja di depan Jovanka.
“Ini apa, Mas?”
Jovanka meraih amplop putih itu.
“Bukalah,” ujar Alexy.
Jo membuka amplop putih itu dan mengambil lembar kertas di dalamnya. Ia membaca isi dari lembar kertas itu, netra Jo kini berkaca.
Baru saja Jovanka bahagia melihat suaminya. Hanya dengan hitungan menit, kebahagiaan itu hilang karena satu lembar kertas yang ia baca.
“Cerai?”
Jo berusaha menahan air mata.
Alexy mengangguk.
“Apa? Maksud kamu apa mau menceraikan anak saya? Jovanka salah apa sama kamu? Tega sekali kamu Alexy!” hardik Meli emosi.
Alexy memilih diam. Reaksi seperti ini sudah ia duga sebelumnya. Rendy pun terlihat marah dengan keputusan Alexy. Walaupun bibirnya tak bisa berucap, tapi sangat terlihat dari mimik wajah yang memerah karena marah.
Gubrak!
Rendy terjatuh dari kursi rodanya di saat ia bermaksud ingin menghajar Alexy. Tapi apa daya? Sekarang ia lumpuh.
“Papa?”
Jo dan Meli mengangkat tubuh Rendy bersama-sama.
“Sebaiknya kalian berdua pergi!” usir Meli.
“Tapi, Alex belum menjelaskan ....” ucapannya terputus.
“Pergiiii! Saya tidak sudi mendengar apa pun dari mulut orang yang telah menyakiti hati anak saya!” ujar Meli marah.
Jo dan Meli sibuk mengurus Rendy. Sementara Nadia dan Alexy tidak bisa berbuat apa-apa dan memilih pergi, kembali ke hotel. Karena, percuma juga menerangkan kalau situasinya saja masih seperti ini, kacau!
.
“Pa, Papa sabar, ya?” ujar Jo menenangkan.
Meli hanya bisa menangis melihat putrinya diperlakukan seperti itu. Terlebih, sekarang mereka sudah jatuh miskin.
“Maafkan Mama, Jo,” suara lemah, terucap dari bibir Meli. “Seumpama saja, Mama juga tidak memaksa kamu waktu lalu. Mungkin keadaannya tidak seperti ini.” Meli tertunduk.
“Gak usah bahas itu, Ma. Mungkin ini sudah takdir Jo berpisah sama Mas Alex,” suara Jovanka melemah. Ia masih bisa menjawab ucapan dari Mamanya walau hatinya terluka.
“Ini semua gara-gara Papa! Kenapa Papa dulu memaksa Jo untuk menikah dengan Alexy? Sekarang Papa liat! Menantu pilihan Papa itu seperti apa? Dengan mudahnya dia ingin menceraikan putri kita!” pekik Meli dengan berurai air mata.
“Sudah, Ma! Gak ada yang salah. Sudah, jangan bahas hal ini lagi,” pinta Jovanka.
Rendy tertunduk dengan air mata yang jatuh dari mata senjanya. Ada penyesalan dalam hatinya. Ingin rasanya ia meminta maaf terhadap putrinya, tapi bibir itu seperti terkunci, ia tidak dapat berucap atau hanya sekedar menulis kata penyesalannya. Semuanya sudah kaku, sulit untuk digerakkan.
“Papa istirahat saja, ya? Enggak usah memikirkan hal lain. Yang harus Papa perhatiin, yaitu kesehatan Papa. Jo sayang Papa dan Mama.
Jo dan Meli ke luar dari dalam kamar. Membiarkan Rendy beristirahat setelah tubuhnya terbaring di tempat tidur.
Meli terlihat syok dengan kejadian tadi. Ia benar-benar tidak habis pikir dengan keputusan Alexy yang terkesan mendadak.
“Apakah kematian Alexy dulu itu hanya rekayasa, Jo?”
“Ish! Jangan menilai seperti itu. Jo udah bilang, mungkin ini udah takdir kami untuk berpisah.”
Ddrrtttt!
Ponsel milik Jo bergetar.
“Mama?”
Ternyata ada pesan singkat dari nomor Nadia. Jo mengusap layar ponselnya dengan lembut.
[Jo, ini aku, Alexy. Bisakah kita ketemu malam ini? Aku tunggu di ST Restoran.]
“Kenapa Jo?” tanya Mamanya menanyakan isi pesan dari besannya.
“Mas Alexy yang kirim pesan, Ma. Katanya mau ketemu sama Jo malam ini juga,” terang Jovanka.
__ADS_1
“Mau apa?”
“Entah. Jo boleh pergi ya, Ma? Mungkin Mas Alex mau menjelaskan semuanya,” ujar Jovanka.
“Apa kamu siap mendengarkan, apabila penjelasan Alexy itu malah akan menyakitkanmu?” ujar Meli.
Jo mengangguk, “Iya, Jo udah siap! Kalau begitu, Jo mau siap-siap ya, Ma?”
Meli mengangguk.
Jo pergi ke kamarnya untuk mengambil baju ganti dan pergi ke kamar mandi, karena dalam kamar itu ada Papanya yang sudah tertidur pulas malam ini.
Tak disangka, ternyata Meli mencatat nama restoran di mana Alexy meminta Jovanka untuk datang ke sana. Ia juga menyalin nomor ponsel Reynand. Meli kembali meletakan ponsel itu di atas meja.
“Ma? Jo berangkat, ya?”
Jo sudah bersiap, ia mengenakan mini dres yang terlihat kasual dan tas kecil di pundaknya.
“Ini hapenya, Jo!” ujar Meli yang meraih ponsel itu dari atas meja.
“Oh, iya. Jo malah lupa, makasih ya, Ma?”
“Sama-sama. Ingat, kamu harus siap mendengarkan semuanya, ya?” ujar Meli sebelum putrinya berangkat.
Jo mengangguk lalu mencium tangan Mamanya.
***
Jo masuk ke dalam restoran yang telah dituliskan oleh Alexy. Benar saja, Alexy sudah duduk menunggunya di salah satu meja.
“Jo!”
Alexy melambaikan tangan.
Jo menghampiri, “Udah lama, Mas?” tanya Jovanka.
“Lumayan. Silakan duduk!”
Jo duduk di depan Alexy. Tapi, ada yang mengganjal hati Jo saat itu. Ia melihat tas wanita yang berada di meja Alexy.
Tidak mungkin juga Mas Alexy memakai tas wanita! Umpat hati Jovanka.
“Jo?” sapa Alexy.
“Ya?”
Jo sedikit terperanjat.
“Sebelumnya aku minta maaf. Aku tidak bisa meneruskan pernikahan yang penuh dengan kepura-puraan,” ujar Alexy.
“Maksudnya?”
“Kamu berpura-pura mencintai aku. Padahal, dari lubuk hati terdalammu, kamu tidak pernah mencintaiku. Sudah cukup aku menunggumu, Jo. Lebih dari dua tahun kita menjalin rumah tangga tapi aku tidak mendapatkan hakku sebagai seorang suami. Hingga akhirnya lebih dari dua tahun juga kita terpisah jarak.”
“Mas?”
Tiba-tiba seorang perempuan mendekati Alexy.
Alexy tersenyum, sedangkan Jovanka terlihat heran melihat gadis belia yang memanggil suaminya, bahkan mendekat lalu duduk di sampingnya.
Sayang? Umpat hati Jovanka.
“Jo, kenalin. Ini istri aku, namanya Princess. Ia yang mengurusku ketika aku koma, bahkan dengan telaten ia membantu untuk kembali mengingat semua memoriku, ketika aku amnesia.”
Jo mencoba tegar, ia tersenyum pada wanita yang kini telah menjadi madunya.
“Maaf, Jo. Aku sudah jatuh cinta dengan Princess, karena ia telah menjadi istriku seutuhnya. Aku ingin mengurus perceraian kita dengan segera, aku mohon kamu tidak memperlambat prosesi sidang nanti,” ujar Alexy.
Jo hanya bisa mengangguk.
“Makasih, Jo.”
“Mas tenang aja, aku tidak akan mempersulit di persidangan nanti. Selamat ya, Mas, Princess.”
Jo bangkit dari kursi lalu langkahnya terayun ke luar dari restoran.
“Mas, kejar dia. Aku gak tega,” ujar Princess pada Alexy.
“Biarlah, Sayang. Mungkin hal ini memang yang terbaik untuk kita semua. Ini bagaikan jamu untuk Jovanka, sekarang memang terasa pahit, tapi aku yakin obat itu akan memberinya kesembuhan. Dengan adanya lelaki yang kelak mengisi hati dan hidupnya. Lelaki yang ia sayang, aku hanya dapat berdoa, semoga lelaki yang ia cinta itu menjadi jodohnya dan mereka menghabiskan sisa usia mereka bersama-sama, seperti aku dan kamu,” ujar Alexy yang mencolek dagu Princess.
Terlihat semburat pada gadis belia yang kini sudah menjadi istri dari Alexy Abinaya.
**
Sementara Jo berlalu dari ST Restoran dengan berjalan kaki. Air matanya tak henti berurai di pipinya. Ia berjalan di bawah langit malam gelap yang disertai kilatan petir. Sepertinya akan turun hujan. Jovanka terus melangkah tanpa tujuan.
“Jo!” teriak lelaki dari belakang.
Jo berhenti tapi air matanya tidak dapat tertahan, masih terus terjatuh di pipinya.
Rey ke luar dari dalam mobil, “Kamu baik-baik saja?”
“Rey?” Netra Jovanka membulat, ia kaget dengan Rey yang tiba-tiba ada di sana. “Kamu ngapain?”
“Mengajakmu pulang,” jawab Rey.
Jo menggeleng.
“Kenapa? Apakah Alexy menyakitimu?” tanya Rey.
"Dari mana kamu tau kalau aku bertemu dengan Mas Alex?"
"Tidak penting!"
Hening.
Air mata Jovanka kembali tertumpah.
“B*jingan!” umpat Rey. “Ayok, ikut aku!” Rey menggenggam tangan Jovanka.
“Ke mana?” ujar Jo lirih.
“Ke ST Restoran. Dia ada di sana ’kan?” ujar Rey dengan penuh emosi.
__ADS_1
“Untuk apa?”
“Aku ingin memberikannya pelajaran!”
Jo menghempaskan genggaman tangan Rey, “Aku akan bercerai dari Mas Alex.” Jo tertunduk.
“Apa?”
Mata Rey membulat.
“Dalam beberapa hari ini, sidang akan dimulai,” terang Jovanka.
“Arggghhh! Kenapa dia selalu membuatku kecewa? Aku sudah merelakanmu untuknya. Tapi kenapa ia meninggalkanmu?”
Lagi, air mata itu tertumpah. Rey baru sadar, ia terlalu memikirkan emosinya pada Alexy, sehingga ia lupa dengan perasaan Jovanka saat ini. Rey saja kecewa, apalagi Jovanka?
Rey memeluk tubuh wanita yang ia sayang, menenggelamkan wajah cantik itu dalam dadanya.
“Menangislah, Jo. Menangis sepuasmu!” bisik Rey sambil memeluk erat tubuh Jovanka.
.
“Aku sayang kamu. Aku berjanji tidak akan pernah meninggalkanmu, Jo!”
“Tapi, aku ... Aku ini janda, Rey. Aku tidak pantas untukmu!”
Jo kembali mengingatkan statusnya itu.
“Aku tidak peduli!”
Hening.
Byurr!
Hujan turun dengan sangat lebat malam itu.
Rey dan Jovanka masih berdiri di bawah pohon, tapi tetap saja tubuh mereka basah terkena cucuran air hujan yang masuk menerobos dedaunan.
“Izinkan aku membahagiakanmu dan izinkan aku mempersuntingmu,” ujar Rey berlutut di depan Jovanka.
“Tapi, aku ....”
“Sstttt! Tidak usah diteruskan aku akan menerimamu apa adanya,” ujar Reynand.
Rey menggenggam kedua tangan Jovanka. Posisi mereka kini saling berhadapan netra Rey menatap tajam Jovanka ia meyakinkan ketulusannya melalui sebuah lagu. Ia bernyanyi di bawah guyuran air hujan.
______
**Demi semua yang aku jalani bersamamu,
Kuingin engkau jadi milikku
Kuingin kau di sampingku.
Tanpa dirimu, kuhanya manusia tanpa cinta,
Dan hanya dirimu yang bisa
Membawa surga dalam hatiku.
Kuingin engkau menjadi milikku,
Aku akan mencintaimu,
Menjagamu selama hidupku dan aku 'kan berjanji
Hanya kaulah yang kusayangi
Ku akan setia di sini menemani.
Sentuhanmu bagaikan tangan sang dewi cinta. Yang berhiaskan bunga asmara
Dan membuatku tak kuasa
Kuingin engkau menjadi milikku
Aku akan mencintaimu Menjagamu selama hidupku dan aku 'kan berjanji
Hanya kaulah yang kusayangi
Ku akan setia di sini menemani.
Di setiap arung gerak, tersimpan di hati kecilku
Bahwa dirimu terindah untukku.
Kuingin engkau menjadi milikku. Aku akan mencintaimu
Menjagamu selama hidupku dan aku 'kan berjanji
Hanya kaulah yang kusayangi Ku akan setia di sini menemani.
Selama kumasih bisa bertahan
Selama kumasih bisa bernafas
Selama Tuhan masih mengizinkan
Kuingin s'lalu menjagamu.
Selama kumasih bisa bertahan Selama kumasih bisa bernafas
Selama Tuhan masih mengizinkan
Kuingin s'lalu menjagamu.
Selama kumasih bisa bertahan
Selama kumasih bisa bernafas.**
______
Jo memeluk erat tubuh lelaki tampan itu, di bawah derasnya guyuran air hujan yang membasahi tubuh mereka.
__ADS_1
“Makasih, Rey. Aku mau menjadi pendamping hidupmu, janjiku sudah kutunaikan. Aku selalu setia untukmu. Sayangi aku hingga maut memisahkan kita, Rey!” pinta Jo dengan suara lirih.
Rey mengangguk dan semakin memeluk erat, tubuh wanita yang kini bersedia menjadi pendamping hidup disisa umurnya.