
Berjalan gontai menuju pangkalan mobil angkot. Di mana angkot sudah berjajar rapi di pinggiran jalan itu.
Rey masuk dalam salah satu deretan mobil angkot yang sudah sesak. Berharap, mobil itu akan cepat berangkat.
“Bang cepetan, dong! Panas tau!”
“Iya, nih! Ngetem mulu dari tadi!”
“Buruan, bang! Anak saya udah nungguin!”
Dan bla ... bla ... bla ... Celotehan ibu-ibu dalam angkot pada komplen.
Rey hanya terdiam walau di dalam mobil angkot itu riuh dengan suara cempreng ibu-ibu berdaster tapi gayanya sok milenial.
Tak menunggu lama. Akhirnya sopir angkot itu memacu mobilnya. Entah karena berisik oleh protesan ibu-ibu, atau memang ia merasa sudah cukup penumpang.
“Kiri, bang!”
Rey turun dari mobil angkot, melangkahkan kaki masuk ke dalam halaman kost.
Kek nya gue tau mobil itu? Umpat Rey dalam hati.
Rey berjalan menuju teras kost. Benar saja, di sana ada Salsa yang sedang duduk di temani oleh Vicky.
“Bro! Kak Salsa udah nungguin lo dari tadi!” ucap Vicky. “Kak, gue masuk, ya? Rey nya udah balik juga.” Vicky pamit pada Salsa.
“Oke! Makasih ya, Vic,” ucap Salsa.
Vicky berlalu pergi, masuk kembali ke dalam kamarnya. Sedangkan Rey melangkah dan duduk di kursi, tepat di samping Salsa.
“Ada apa, Kak?” tanya Reynand.
“Aku mau kasih ini.” Salsa mengeluarkan paper bag kecil.
Rey melirik pada paper bag kecil itu. Sejenak, Rey mengingat dengan kejadian tadi. Bagaimana kekasihnya pulang dijemput oleh laki-laki lain. Rey juga teringat tentang ucapan Emillia tanpa ia tidak tahu kenyataan yang sebenarnya seperti apa.
“Rey?” sapa Salsa kala itu.
“Iya, kak. Ada apa?” Rey berusaha fokus pada Salsa.
“Aku mau kembaliin ini.” Salsa menyodorkan paper bag itu.
Rey terdiam.
“Kenapa? Ini milikmu, kan?” tanya Salsa lagi.
“Iya. Dibuang aja, Kak. Aku tidak perlu lagi!” jawab Rey.
“Tapi, Rey!”
Belum juga Salsa mengutarakan alasannya. Tiba-tiba Rey berdiri dari kursi dan memotong pembicaraan Salsa.
“Maaf, kak. Rey capek, baru datang dari Jakarta. Mau istirahat. Rey masuk ke kamar dulu, kak. Maaf,” pungkas Reynand.
Rey melangkahkan kaki masuk ke dalam kamar. Sedangkan Salsa mematung duduk di kursi melihat Rey yang berlalu pergi meninggalkannya.
***
Akhirnya Salsa memilih pulang. Sudah tidak ada orang yang menemaninya kala itu. Di dalam mobil, sesekali Salsa melirik ke paper bag kecil berwarna putih yang mendominasi.
Sebenarnya, ini untuk siapa, ya? Umpat Salsa dalam hati.
Mobil melaju kencang dengan kecepatan yang lumayan tinggi. Hingga akhirnya, mobil Salsa sampai di halaman rumahnya.
“Jo,” ucap Salsa yang masih ada dalam mobilnya.
Salsa membukan handle pintu mobil, ia melangkahkan kakinya ke luar dari dalam mobil sambil menenteng paper bag kecil berwarna putih itu.
“Hai, Sa!” ucap Jo ketika ada di depan teras rumah Salsa.
“Jo? Sejak kapan kamu di sini?” tanya Salsa, heran.
“Baru, kok. Kamu dari mana? Shopping, ya?” Jo melirik paper bag putih itu.
“Enggak, kok,” elak Salsa.
“Atau, itu dari pacar kamu?” Jo menggodanya dengan tersenyum jail.
“Idih, bukan! Ini ... Udah gak perlu dibahas. Ada apa, Jo?” tanya Salsa mengalihkan pembicaraan.
“Oh, iya. Mau bahas ini, buat materi ujian nasional, kan kamu jago banget matematika.”
“Oh ... Biasa aja kalik, kadang juga aku salah dalam mengerjakan soal hehe ....” elak Salsa.
“Emm ... suka ngerendah gitu, deh!”
__ADS_1
“Enggak, biasa aja. Ya udah ayok masuk, Jo.”
Salsa membuka pintu rumah dan Jovanka mengekor dari belakang. Mereka menaiki anak tangga, menuju kamar Salsa.
Tak banyak bicara lagi. Mereka mulai mengeluarkan buku dan mengerjakan beberapa materi sekolah.
“Bi! Bawain snack dan minuman, ya!” pekik Salsa dalam kamar.
Sementara, Jo masih bergulat dengan materi itu. Hal yang sesungguhnya sangat menyebalkan untuknya. Namun, pelajaran itu malah masuk dalam ujian nasional. Mau gak mau, Jo harus belajar.
“Ini, non.”
Asisten rumah tangga Salsa datang membawa minuman dan beberapa camilan kecil.
“Iya, bi. Makasih.”
Salsa dan Jo meneruskan belajar mereka, sedangkan asisten rumah tangganya kembali ke dapur.
“Beres juga!” pekik Jo setelah berkutat dengan pelajaran yang ia benci.
“Em ... Jo, aku boleh nannya sesuatu, gak?” tanya Salsa dengan sedikit ragu.
“Tanya apa?”
Jo memasukkan buku ke dalam tas dan menatap wajah Salsa.
“Tapi jangan marah, ya?” ungkap Salsa, masih dengan keraguannya.
“Iya. Ngomong aja.”
“Sebenarnya, perasaan kamu terhadap Rey gimana? Masih sayang or sudah terganti ....”
Ucapan Salsa terpotong dengan jawaban dari Jovanka. “Selalu sayang.” Netra Jo berkaca-kaca.
“Tapi, kenapa kamu mau dijodohkan dengan om dokter?” tanya Salsa lagi.
“Sulit untuk dijelaskan, Sa.” Jo tertunduk.
“Maksudnya?” Dahi Salsa mengernyit.
“Sifat papa keras, kalau papa sudah bilang A!
Ya harus A, begitu pun dengan perjodohan kami. Awalnya, aku pun menolak, tapi aku melihat om Alexy orang yang baik. Aku mencoba membuka hati untuknya walau terasa sakit demi orang tua.” Salsa kembali merunduk hingga terjatuh air mata di kedua sudut matanya.
“Kamu dan Rey gak berusaha untuk menerangkan ke papamu, mungkin?”
“Alasannya?”
“Katanya, bukan dengan cara seperti itu untuk meyakinkan hati orang tua.”
“Sabar ya, Jo.”
Salsa mengusap punggung sahabatnya.
“Jujur, Sa. Kalau saja, Rey mau ajak aku pergi dari rumah. Mungkin aku akan bahagia hidup dengannya walau mungkin harus hidup sederhana, asalkan bersama Rey. Dibandingkan hidup bergelimpangan harta, tetapi bukan dengan orang yang kita cinta.” Air mata Jo kembali luruh dari sudut matanya.
Salsa memeluk sahabatnya itu. “Sabar ya, Jo. Semoga kalian mendapatkan yang terbaik. Aku akan selalu ada untukmu, Jo.” Salsa masih memeluk Jovanka.
“Makasih, Sa,” ucap Jovanka lirih.
***
Malam itu, sebagai sahabat dan sesama wanita, Salsa bisa merasakan apa yang Jovanka rasa saat ini. Harus memutuskan orang yang disayang demi perjodohan yang dilakukan oleh kedua orang tuanya, pasti sangat berat untuk di lalu oleh Jovanka. Bahkan, mungkin saja sangat sulit dilalui oleh wanita mana pun.
Seketika, netra Salsa melihat pada paper bag berwarna putih yang ia simpan di atas meja belajarnya. Salsa turun dari ranjang dan duduk di kursi.
Penasaran sama isinya, apaan sih? Hingga Rey memutuskan untuk membuangnya? Apakah barang ini sudah Rey anggap tidak penting? Umpat dalam hati Salsa.
Salsa membuka paper bag itu dan meraih sebuah tempat berwarna merah menyala berbentuk hati. Ia meraih, lalu membukanya.
“Ya Tuhan!”
Netra Salsa membulat melihat benda indah itu, sebuah kalung berbentuk hati. Salsa juga membuka Liontin yang berbebtuk hati itu. Di dalamnya ada sepasang foto. Sisi kiri foto Rey dan sisi kanan terdapat foto Jovanka.
“Apaan, nih?”
Salsa memungut kertas kecil yang terjatuh. “Surat?” sambungnya lagi.
Salsa membuka kertas kecil berwarna pink muda yang terjatuh. Ada tulisan tangan di dalamnya. Karena Salsa penasaran, akhirnya ia memberanikan membaca isi dari tulisan itu.
###
**Aku tau, engkau telah dijodohkan oleh orang tuamu. Bukannya aku meninggalkanmu, tak ada niat sedikit pun untuk meninggalkanmu. Aku hanya ingin membuktikan pada orang tuamu, kalau aku layak menjadi pendamping hidupmu di kemudian hari. Jo, aku mohon, tunggu aku. Pakailah kalung ini kalau memang kamu mau menungguku, entah sampai kapan.
__ADS_1
Aku mencintaimu dan selalu menyayangimu.
-Reynand**-
###
Salsa menitikkan air mata. Ia merasa terharu sekaligus sedih dengan perjalanan percintaan mereka yang menurutnya sangat rumit.
“Aku harus kasih ini sama, Jo!” ucap Salsa sambil membawa kalung dan surat yang tertulis di secarik kertas kecil berwarna pink muda.
Salsa melangkahkan kaki, menuruni anak tangga dengan cepat. Bahkan ia hampir terjatuh.
“Kamu mau ke mana, Sa?” pekik ibunya.
“Ke rumah, Jovanka!”
Salsa langsung keluar membuka pintu gerbang garasi dan tancap gas ke rumah Jovanka.
.
Tepat di depan gerbang rumah Jovanka. Netra Salsa terbelalak melihat mobil mewah yang ada di dalam pekarangan rumah mewah itu.
Salsa memutuskan keluar dari dalam mobil dan menanyakan pada scurity yang ada di depan pos, dekat pagar rumah Jovanka.
“Malam, Pak,” sapa Salsa.
“Malam, Non. Mau ketemu non Jovanka, ya?” todongnya.
“Iya, Pak. Jovanka nya ada?”
“Ada, non. Tapi lagi ada pertemuan keluarga di dalam,” jelas scurity Jovanka.
“Kalau boleh tau, pertemuan apa ya, Pak?”
“Pertemuan keluarga calon suaminya non Jovanka. Kalau tidak salah dengar, sedang membahas tanggal pernikahan untuk non Jovanka,” terang scurity itu.
Seketika, tubuh Salsa menjadi lemas dan hampir saja ia jatuh. Untung ada scurity Jovanka yang membantunya agar tetap bisa berdiri.
“Non, enggak papa?” tanya scurity yang berwajah sedikit pucat karena panik.
“Eng-enggak, Pak. Ya udah, Salsa pamit dulu ya, Pak?”
“Non Salsa yakin, tidak kenapa-kenapa?” tanya scurity memastikan.
“Iya, Salsa baik-baik aja kok. Permisi, Pak.”
“Iya, Non. Hati-hati!”
Salsa memacu mobil kembali ke rumahnya.
***
Aktivitas masih seperti biasanya. Bersekolah.
Akhirnya Jo kembali bertemu dengan Rey di sekolah.
Rey berjalan di koridor sekolah bersama Vicky. Memang ada yang sedikit berbeda dari Rey, apa yang berbeda? Bibir yang meruncing yang ia perlihatkan pagi itu.
“Rey!” sahut Jovanka.
“Pacar lu manggil, noh! Gue ke kelas duluan, ya?” ucap Vicky dan berlalu pergi.
Rey berdiri dan mematung menunggu Jovanka yang sedang berlari ke arahnya.
“Apaan?” tanya Rey ketus.
“Kamu ke mana aja, sih? Beberapa hari kemarin susah banget dihubungin?” tanya Jo dengan napas yang masih terengah.
“Di rumah tante. Kan gue udah bilang!” dengan nada jutek.
“Kamu kenapa sih, Rey?”
“Udahlah, Jo. Gue udah tau kalau lu mau menikah. Gue udah tau semuanya dari tante lu!”
“Tante Emi?”
“siapa lagi?” Rey berlalu pergi.
“Rey! Aku bisa jelasin!” teriak Jo.
Namun, Rey tidak mempedulikannya. Ia berlalu pergi meninggalkan Jovanka.
..
Bersambung..
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
JANGAN LUPA LIKE/KOMEN/VOTE Ceritannya, karena itu merupakan hadiah terindah untuk Penulis🙏😁