
Tatapan mata teduh Rey membuat Jo terdiam. Bibir merah muda itu seolah terkunci melihat wajah tampan di hadapannya.
"Ma–maafin aku, Rey," ujar Jovanka terbata.
Rey hanya tersenyum dan Jovanka mengerti, kalau suaminya tidak menginginkan kenangan buruk yang begitu rapat dia tutup itu kembali terusik. Luka lama seolah kembali tertoreh. Nyeri.
"Mau ke mana lagi?" tanya Rey mengalihkan perhatian.
"Ke mana pun. Aku mau asal bersamamu, Rey." Tatapan penuh kesungguhan begitu terlihat pada wajah Jovanka. Terlebih, ketika Rey memang telah memiliki dia seutuhnya.
Rey meraih jemari Jovanka. Dia menggenggam erat lalu melangkah pergi dari taman tersebut.
Merka hanya menyusuri jalanan di sekitar taman yang banyak ditumbuhi oleh bunga dan tumbuhan yang cukup meneduhi keduanya ketika duduk di bangku pinggir jalan.
Langit jingga berubah hitam. Mentari yang bertugas menyinari bumi, kini berganti oleh sinar bintang-bintang yang bertaburan di atas sana.
"Rey, lihatlah." Jo menunjuk pada salah satu bintang.
"Apa?"
"Bintang."
"Yang mana? Kan banyak itu."
"Yang paling terang." Tunjuk Jovanka.
"Enggak ada, ah."
"Ck! Ada. Itu, loh, Sayang." Jovanka mulai kesal karena menurutnya bintang seterang itu tetapi Rey tidak melihatnya.
"Enggak ada, Sayang," ujar Rey yang masih mendongak ke langit.
"Itu, loh. Ish!" Jo mulai kesal tetapi telunjuknya masih mengarah ke langit.
Rey tersenyum ketika merasa istrinya sudah kesal oleh sikap berpura-puranya. Perlahan, Rey memegang kedua pundak Jovanka dan kini terlihat wajah cantik dengan bibir mengerucut.
"Kenapa? Masih belum liat juga?" ketus Jovanka dengan suara pelan. Dia merajuk.
"Ada."
__ADS_1
"Coba tunjuk," kata Jo masih kesal.
"Ini." Rey menunjuk wajah Jovanka.
"Rey?"
"Apa?"
"Maksudmu apa?" tanya Jovanka dengan suara melemah.
"Bintang terang, kan?" Rey memastikan.
Jovanka mengangguk.
"Di atas sana terlalu banyak bintang dan terangnya pun hampir sama saja. Di depan mataku sudah ada bintang yang begitu terang dalam mata dan hatiku. Kenapa harus menoleh ke atas?"
"Maksudnya?" Mata Jovanka menyipit memandang wajah suaminya. Dia begitu bingung dengan kata-kata yang meluncur dari bibir Reynand.
"Menurutku, bintang yang paling terang itu kamu, Jo. Jadi, untuk apa aku mendongak ke langit?"
Sungguh, Jo tersipu malu mendengar ucapan suaminya yang tiba-tiba saja romantis. Karena setahu Jovanka, Rey lelaki yang paling tidak romantis ketika mengingat masa SMA. Rey menulis surat cinta untuknya dengan kata yang membuat dia mengulum senyum ketika mengingat masa itu.
"Enggak. Aku hanya mengingat suratmu ketika SMA dulu." Jovanka kembali tersenyum dengan kedua tangan yang menutup bibirnya.
Rey tersenyum. Dia pun seolah terkenang kembali masa-masa putih-abu bersama Jovanka yang merupakan kakak kelasnya.
"Iya. Aku emang bukan cowok romantis." Rey tersenyum sambil mendongak. Dia mengingat ketika masa SMA dulu.
Jovanka meraih tangan suaminya dan menggenggamnya hangat. Sepasang mata Jo, pun, kini menatap langit malam yang ditemani dengan banyak bintang.
"Kala itu, kamu emang orang yang paling gak romantis, Sayang. Namun, saat ini aku merasa kamulah orang paling romantis untukku," cetus Jovanka tanpa memandang wajah Rey.
Rey menurunkan pandangannya. Dia melirik istrinya yang masih menatap langit malam.
"Kamu bercanda. Mana bisa aku romantis, Jo?"
Jovanka menurunkan pandangannya lalu melirik pada wajah suaminya.
"Saat ini, kamu orang yang paling romantis, suamiku yang sangat romantis," ujar Jovanka ketika mata mereka saling bertatap. Bibir Jo tersenyum yang di susul oleh senyum manis dari Rey.
__ADS_1
Jo kembali menatap bintang di langit setelah meyakinkan bahwa Reynand lah yang mampu mencuri hatinya. Seberapa pun orang itu bersikap dingin, ketika telah mengecap cinta akan berubah. Walau bukan dengan ucapan, pasti mereka mempunyai cara untuk membuat wanitanya bahagia. Termasuk Rey.
"Andaikan waktu akan berlalu, kita tidak berdua lagi karena akan ada atau bahkan banyak anak di istana kecil kita. Aku mohon, semoga kamu selalu menjadi sosok Jovanka. Wanita yang terlihat mandiri di depan orang lain tetapi tidak di hadapanku. Tetaplah manja seperti saat ini dan tetaplah engkau merebahkan kepalamu di pundakku ketika mulai terasa berat. Aku akan selalu ada dan selalu siap untuk mengambil alih semua perasaan tidak nyaman itu." Panjang lebar, Rey mengungkap rasa pada istrinya.
"Really?" Jo memastikan.
"Yap! Aku akan selalu ada untukmu, Jo. Selalu!" Rey menatapnya dengan tajam.
"Aku percaya padamu dan selalu mencoba menjadi diri sendiri. Hanya saja, kalau aku manja, apa kamu tidak akan bosan?"
"Mungkin tidak."
"Loh, kok?"
"Semua sosok wanita memang sepertinya ditakdirkan untuk manja. Mereka diibaratkan tulang rusuk yang tidak dapat menopang tubuh karena penopang utama itu tulang punggung alias sang suami. Namun, ketika tulang rusuk itu patah, badan pun akan ikut nyeri walau mungkin tidak ambruk, tapi lama kelamaan akan tumbang juga."
Hingga tidak terasa, waktu telah larut dan mereka memutuskan untuk kembali ke hotel tempat tinggal sementara untuk mereka berdua.
Jo dan Rey menaiki mobil taksi melesat di bawah langit malam yang disoroti banyak sekali lampu taman dan jalan menghiasi di jalanan kota di Jepang. Hingga akhirnya mobil tersebut berhenti sesaat sampai di hotel yang menjulang tinggi.
Lampu-lampu kamar hotel pun terlihat menyala. Rey menyodorkan uang pada sopir itu lalu keluar untuk membukakan pintu mobil istrinya.
"Makasih, Sayang," ujar Jo dengan seulas senyuman.
Jo dan Rey sama-sama berjalan memasuki area hotel. Di depan hotel tampak lampu taman berwarna putih terang sebagai penerangan. Tidak lupa, Rey mengecek kamar yang ditinggali bersama adiknya ke resepsionis. Benar saja, mereka berdua telah meninggalkan hotel dari tadi sore.
Rey menggenggam tangan istrinya kemudian berjalan menuju kamar nomor 25. Membuka kunci lalu masuk ke kamar tersebut.
Kamar itu, kamar di mana Reynand dan Jovanka mempersatukan tubuh mereka setelah resmi menyandang gelar suami-istri. Kamar yang memberikan kehangatan disertai gelora membara saat itu.
"Sayang?" Tanpa aba-aba, Reynand menggendong tubuh Jovanka.
"Eh, kok malah digendong?" ucap Jo ketika tubuhnya telah berada di gendongan suaminya.
Rey hanya tersenyum lalu melangkah menuju ranjang big size dengan sorot lampu remang yang sama seperti awal mula mereka melepas semuanya kemudian hal indah itu terjadi begitu saja.
Rey membaringkan tubuh Jovanka di kasur empuk. Kini, wajah mereka begitu berdekatan dan hangat napas pun mereka telah rasakan.
Aneh, kenapa jantungku selalu seperti ini ketika menatap Jovanka? Padahal, hal ini harusnya biasa saja. Aku sudah memiliki dia seutuhnya. Tapi, kenapa rasa ini belum berubah? Detak ini semakin mengencang kala menatap wajah Jovanka. Batin Reynand. Dia masih bingung akan debaran yang sampai hingga ini belum juga bisa berubah.
__ADS_1
Rey, Rey. Detak cinta itu tidak akan sirna. Yang ada semakin bertumbuh besar karena kamu menyadari kalau Jovanka itu istrimu. Istri yang boleh kamu sentuh kapan pun dan di mana pun. Kalian kini telah resmi. So, apa yang harus kamu takutkan?