
Alexy dan Princess kembali ke rumah sore itu selepas dari rumah Sarah. Mereka berbincang hangat di dalam ruang tamu, sambil ditemani kopi dan camilan kecil yang telah terhidang di atas meja.
“Princ, Aku boleh tanya?” ujar Alexy di sela mengobrol hangat itu.
“Iya, tanya apa?”
“Dulu, kenapa kamu lari dari rumah ketika mengetahui orang tuamu akan menjodohkanmu dengan lelaki itu? Selain alasan belum siap untuk menikah, adakah alasan lain yang membuatmu seperti itu?” ujar Alexy dengan mata memandang lekat kedua netra indah gadis itu.
Princess, merunduk. Ia teringat tentang masa lalunya bersama Reynand. Laki-laki yang ia sayang, tapi cintanya bertepuk sebelah tangan.
“Princ, jawab Sayang?” ujar Alexy dengan nada yang lembut.
Princess mendongak dan memandang lekat lelaki berkaca mata yang akan menjadi suaminya esok hari.
“Iya, ada alasan lain, Mas. Tapi, Mas jangan marah, ya?” jawab Princess bersuara lemah.
“Iya, ceritalah. Biar aku mengetahui masa lalumu.”
“Sebenarnya, dulu aku sudah mempunyai pacar ketika di Jakarta. Tapi cintaku bertepuk sebelah tangan karena dia tidak mampu moveon dari pacarnya yang dulu. Padahal, wanita itu telah menikah dengan lelaki lain. Tapi, cinta dia begitu besar untuk wanita itu. Sehingga, walaupun aku telah menjalin cinta dengannya, aku tidak dapat menggantikan wanita itu di hatinya.”
“Masih adakah foto lelaki itu?” tanya Alexy.
“Aku sudah tidak menyimpannya. Hapeku dulu hilang, tapi seingatku, ada akun instagramnya.”
“Boleh aku lihat?”
“Aku tidak mengikutinya, Mas. Aku ingin moveon dari dia. Terlebih, besok kita akan menikah. Aku ingin membuka hatiku untuk kamu seutuhnya, karena aku sangat tau bahwa cinta bertepuk sebelah tangan itu menyakitkan. Bahkan, sekarang aku tidak pernah menghubungi adiknya, walau ia teman baikku ketika di Jakarta dulu.”
Alexy tersenyum, “Gak papa. Tapi, boleh tidak Mas hanya lihat foto profil lelaki itu?”
Entah kenapa Alexy memaksa ingin melihat wajah pacar Princess di masa lalu. Mungkin ia penasaran dengan sosok lelaki yang menjadi pacar Princess dahulu.
“Baiklah, aku cari sebentar,” ujar Princess, sambil membuka layar gawainya dan mencari akun instagram milik Reynand, “Ini!” Princess memberikan ponselnya pada Alexy ketika sudah ada instagram Reynand.
Alexy meraih ponsel itu dan melihat wajah dari lelaki yang dulu pernah singgah di hati calon istrinya.
“Emm ... Ganteng!” ujar Alexy dengan jari memegang dagu dan mata melihat ke layar gawai milik Princess.
“Itu hanya sebuah kenangan, Mas. Esok hari, aku menjadi istrimu. Sayangi aku dengan sepenuh hatimu ya, Mas?” ujar Princess mengharapkan kasih tulus dari calon suaminya itu.
Alexy mengangguk, “Pasti, Sayang!” sambil menatap wajah cantik Princess.
Berulang kali, Alexy memandang foto lelaki itu. Sepertinya, ia pernah melihat orang yang berada dalam foto itu.
“Mas kenapa? Kok mandangin foto dia gitu banget?” ujar Princess merasa heran.
“Sebenarnya, Mas merasa pernah melihat orang ini. Tapi di mana? Mas lupa,” terangnya sambil melihat foto Reynand.
“Masa, sih? Mas gak lagi cemburu, kan?”
“Tidak. Beneran, Mas pernah melihat sosok lelaki ini.” Alexy terus berpikir hingga mengakibatkan kepalanya kembali sakit apabila dipaksakan mengingat sesuatu, “Awww!” keluh Alexy sambil memegang kepalanya.
“Mas? Kenapa? Pasti Mas terlalu keras mengingat sesuatu! Aku ambilkan dulu obat, ya?”
Princess berlalu pergi untuk mengambil obat lalu memberikannya pada Alexy.
“Istirahatlah, Mas. Jangan terlalu dipaksakan untuk mengingat. Sedikit-sedikit saja,” ujar Princess.
Alexy mengangguk.
Hingga tak terasa, malam pun telah tiba. Waktu menunjukkan pukul sembilan malam waktu setempat.
Tok ... Tok ... Tok ....
Ting tong!
Suara ketikan pintu yang disertai dengan suara bel di pintu rumah Princes.
“Mas istirahat saja. Biar aku yang buka pintu,” ujar Princess.
Princess berjalan ke pintu ruang utama lalu membuka pintu itu. Alexy belum tertidur karena khawatir dengan Princess, ia mengintip dari pintu kamar. Memperhatikan calon istrinya yang akan membukakan pintu.
Ceklek!
Pintu pun terbuka.
“Tante Sarah?”
Mata Princess melebar ketika melihat sosok Sarah yang berada di depannya.
Sarah tersenyum, “Maaf, Princ. Malam-malam Tante ganggu kamu,” ujar Sarah.
__ADS_1
“Gak papa, Tan. Mari masuk?” ujar Princess dan Sarah pun mengikuti Princess yang ada di depannya.
“Duduk, Tan!” ujar Princess, Sarah pun duduk di samping Princess.
“Gini Princ, tapi sebelumnya Alexy ke mana? Apakah ia sudah tidur?” tanya Sarah.
“Barusan aku suruh tidur, tadi kepalanya sakit lalu aku kasih obat buat Mas Alex. Ada perlu dengan Mas Alex kah?”
“Iya. Ini menyangkut pernikahan kalian. Sebaiknya dua-duanya ada di sini,” ujar Sarah.
“Saya belum tidur kok, Kak. Ada apa, ya?” tanya Alexy yang ke luar dari dalam kamar.
“Mas Alex belum tidur?”
Mata Princess membulat.
Alexy tersenyum, “Khawatir, kamu membuka pintu tengah malam,” ujar Alexy.
Princess tersenyum malu, wajahnya kini memerah dan merundukkan pandangannya dari lelaki yang memberikan perhatian lebih untuknya.
Hening.
“Ehm!”
Sarah berdehem karena tiba-tiba suasana menjadi hening kala itu.
Alexy dan Princess pun akhirnya tersadar, kalau di tengah mereka ada Sarah.
“Maaf, Kak. Gimana? Tadi mau bicara apa?” ujar Alexy sambil tersenyum.
“Jadi gini, sore tadi suami Tante mencoba mengurus surat-surat untuk pernikahan kalian. Tapi ternyata tidak bisa, karena data Alexy tidak lengkap dan yang lebih menyulitkan lagi, karena Alexy bukan asli warga sini sepertinya,” ujar Sarah.
“Lalu, bagaimana nasib pernikahan kami esok hari, Tan?” ujar Princess.
“Belum bisa dilaksanakan esok hari. Untuk sementara, Princess tidur di rumah Tante saja sebelum Alexy mengingat jati dirinya. Ia harus mempunyai data yang lengkap apabila mau melaksanakan pernikahan, Princ. Ini untuk jaga-jaga aja dari gunjingan tetangga. Semoga ingatan Alexy bisa cepat kembali,” ujar Sarah.
“Gimana, Mas?” tanya Princess pada Alexy.
“Iya, gak papa. Kamu tidur di rumah Kak Sarah dulu aja. Masa iya kamu yang harus tinggal di rumah ini sendirian?” ujar Alexy.
“Baiklah. Kalau ada apa-apa, kamu hubungi nomor Tante Sarah, ya? Nomornya ponselnya ada di list hapeku,” ujar Princess lalu menyerahkan ponselnya pada Alexy.
“Enggak, ponsel ini Mas yang pegang saja,” ujar Princess.
“Ya sudah, ayo Princ!” ajak Sarah.
Akhirnya malam itu Princess tidur di rumah Sarah, sedangkan Alexy masuk ke dalam kamar. Ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang yang cukup besar.
Kala itu, entah kenapa mata Alexy sulit untuk terpejam. Padahal, tubuhnya telah lelah. Ia ingin segera beristirahat tapi mata itu selalu terjaga. Akhirnya ia mengambil ponsel Princess yang ada di atas nakas. Alexy kembali membuka ponsel itu dan kembali melihat foto mantan pacar dari calon istrinya tersebut. Alexy terus memandang foto itu dan lagi, kepalanya terasa nyeri.
Alexy menaruh ponsel itu di samping tempat tidurnya. Kedua tangannya menggenggam kepala yang terasa sakit malam itu.
Bayangan pun terlintas di pikiran Alexy tentang sedikit masa lalunya.
“Aku telah menikah bersama wanita cantik tapi dia tidak mencintaiku. Aku tidak melihat cintanya untukku. Tapi, ketika lelaki ini datang, aku bisa melihat dengan jelas ada sorot cinta yang besar dari wanita yang kala itu telah menjadi istriku. Bukan untukku, tapi untuknya. Aku melihat cinta di matanya ketika ia melihat lelaki ini. Ya! Itu yang aku ingat!” ujar Alexy malam itu.
***
Ddrrrttt!
Ponsel bergetar di atas nakas.
Rey menggeser layar ponselnya dan bangun untuk melakukan aktivitasnya sebagai pilot.
.
“Pagi semua!” ujar Rey yang ada di meja makan.
“Pagi, Bang!” ujar Rhiena.
“Pagi, Rey!” ujar Nadin.
Mereka bertiga sarapan, tidak berselang lama. Meja makan itu kembali kosong karena sudah ditinggal oleh penghuni rumah yang kembali beraktivitas di pagi itu.
Nadin juga sudah membaik, ia pergi ke kantor. Rhiena pergi ke kampus dan Rey pergi ke bandara untuk menjalankan kewajibannya menjadi seorang pilot di sana.
Setibanya di bandara, seperti biasanya Rey melihat Jovanka yang sedang berdiri di pintu kedatangan itu. Rey menghampirinya karena waktu penerbangan masih dua jam ke depan.
“Hai, Jo?” ujar Rey dari belakang.
Jovanka pun agak kaget mendengar sapaan dari lelaki yang dulu pernah mengisi hatinya, malah hingga saat ini hati itu masih terisi oleh namanya.
__ADS_1
Jovanka menjatuhkan kunci kontrakan yang sedang ia pegang karena terlalu kaget.
“Ups! Sorry!”
Rey merundukkan badannya, begitu pun dengan Jovanka yang hendak mengambil kunci yang terjatuh.
Tiba-tiba kalung panjang yang berliontin hati itu ke luar dari dalam baju Jovanka. Hingga Rey melihat liontin yang ia sangat kenal.
“Liontin itu!”
Rey menunjuk ke arah kalung yang terlihat di luar kemeja yang sedang Jovanka kenakan.
Jo melihat ke kalung miliknya. Ia tersadar, kalung itu sudah terlihat oleh Reynand. Kalung pemberian Reynand dulu, yang tidak jadi ia berikan langsung padanya.
Kenapa Jo bisa memakai kalung itu? Dulu, aku membuang kalung itu, umpat dalam hati Reynand.
Jo melihat ekspresi kaget pada wajah Rey. Jo pun menjelaskan pada Rey perihal liontin itu.
“Kamu heran dengan liontin ini?” ujar Jo sambil memperlihatkan kalung berliontin hati pada Rey.
Rey terdiam, ia bingung harus menjawab apa pada Jovanka.
“Liontin ini kamu buang karena dulu kamu cemburu pada Om Alex, kan? Aku mendapatkan liontin ini dari Salsa. Ia menceritakan semuanya padaku.”
“Lalu, kenapa kamu masih memakainya?” tanya Rey walau sedikit ragu.
“Karena ... Em ... Karena, aku ....”
Jovanka terbata, bahkan ucapannya pun tidak jelas karena ia malu mengungkapkan isi hati yang ia rasakan hingga saat ini.
“Kenapa? Apa alasannya, Jo?”
Rey memegang bahu Jovanka dan menatap matanya dengan sorot tajam.
“Sebenarnya, aku ....”
Lagi, ucapannya kembali terhenti. Lidahnya kelu ketika ia ingin menceritakan perasaannya pada Reynand. Sosok lelaki yang kini masih menghuni hatinya.
“Jawab, Jo!”
“Maaf, Rey! Aku mau ke toilet, perutku sakit!” elak Jovanka.
Jovanka lari meninggalkan Rey karena ia tidak bisa menjawab alasannya di depan Reynand. Rey hanya terdiam, ia masih penasaran apa yang menjadi alasan wanita cantik yang ia sayang hingga saat ini.
“Woyyyy!”
Rey terperanjat ketika ada lelaki yang mengagetkannya dari lamunan.
“Ngelamun aja, lu! Kenapa?”
“Oh ... Lu, Vin! Kirain siapa? Iseng banget, lu!” ujar Reynand.
“Ya kali pagi-pagi udah ngelamun? Keknya tadi gue liat Jovanka. Kenapa dia lari dari lu?” tanya Davin menyelidik.
“Kepo!”
“Eyalah! Dia temen gue, jangan lu sakitin Bro! Terlebih dia itu sedang berduka. Suaminya telah meninggal tapi ia masih menganggap bahwa suaminya masih hidup, eh!”
Davin membungkam mulutnya sendiri. Ia keceplosan menceritakan apa yang terjadi pada Jovanka.
“What?”
Mata Rey membulat, kaget.
“Kagak! Lupain aja, gak penting!” elak Davin sambil memalingkan muka.
“No, no, no! Lu harus ceritain ke gue!” ujar Rey.
“Dih ... Itu bukan hak gue menceritakan. Lu siapanya dia, sih? Kok sekarang lu yang jadi kepo?” ujar Davin.
Sekakmat!
Akhirnya, Rey menceritakan masa lalunya pada Davin. Kalau dirinya dulu pacaran dengan Jovanka hingga akhirnya Jo menikah dengan Alexy karena dijodohkan oleh orang tuanya.
“Ternyata kisah lu kek gue dulu, Rey! Gak direstui oleh orang tua si cewek,” ujar Davin.
Hening.
“Rey, gimana kalau lu balikan sama Jovanka? Lu gak ilfeel 'lah kalau lu beneran sayang dengan status dia sekarang?” ujar Davin.
Rey menggeleng, “Status Janda, tidak mengurangi sedikit pun dengan rasa sayang yang gue punya untuk dia, Vin!”
__ADS_1