Menikahi Janda Dokter

Menikahi Janda Dokter
Part 31. Rencana Kabur


__ADS_3

Nana dan Princess bersiap untuk kembali ke Jakarta esok hari. Rey baru saja datang dari sekolah mengurus surat kepindahannya. Wajahnya tampak semrawut setelah sampai di kost.


“Bang Rey kenapa?” tanya Princess.


“Eh, Princesa, gak papa. Si Nana ke mana?” tanya Rey.


“Lagi ke luar bentar sama Kak Vicky. Bay the way, Abang aku boleh minta sesuatu enggak sama Abang?” tanya Princess.


“Apa?”


“Boleh gak, Princess lebih dekat lagi sama Abang?” tanya Princess.


“Maksudnya?” tanya Rey dengan mengernyitkan dahi.


“Lebih dari teman,” ucapnya lirih sambil merunduk.


Mata Rey membulat, mendengar permintaan Princess, gadis yang baru saja ia kenal.


Hening.


“Boleh, gak?” tanya Princess lagi.


“Sorry, aku gak bisa,” jawab Reynand.


“Kenapa?”


Princess mendongak memandang wajah Rey.


“Aku tidak dapat mencintai, entah hari esok atau lusa.”


“Alasannya? Apa Abang sudah punya pacar di sini?”


“Kamu tidak perlu tahu alasannya. Yang jelas, aku tidak ingin menyakiti siapa pun!”


jawaban Rey menggantung. Membuat Princess tidak mengerti akan maksud dari jawaban Reynand. Menolak, tapi seperti memberi kesempatan.


“Bang? Aku tidak akan menyerah sampai kamu jadi milik aku! Terserah, kamu pandang aku wanita seperti apa? Yang harus kamu tahu hanya perasaanku, yang tulus terhadapmu!”


Tak berselang lama. Rhiena dan Vicky datang membawa satu kantong paper bag yang cukup besar.


Rhiena tersenyum melihat Abangnya dengan Princess sahabatnya. Pikirnya, mereka tengah dekat kala itu.


“Hai ....”


Rhiena melambaikan tangan.


“Hai, Nana!” jawab Princess.


“Loh, kok pada diem? Kalian kenapa?” tanya Rhiena ketika memandang Abangnya dengan sahabatnya.


“Gak papa, Na. Abang masuk kamar dulu, ya?” jawab Reynand.


“Tapi, Bang!”


Ucapan Rhiena tak dihiraukan Reynand, ia berlalu pergi dan masuk ke kamar.


“Ya udah, Na. Kakak mau susul Abangmu!” Vicky berlalu pergi.


“Sebenarnya ada apa, Prin?” tanya Rhiena.


“Aku berusaha mengutarakan perasaanku pada Abangmu, tapi,” ucapannya tertahan.


“Kenapa?” tanya Rhiena.


“Tapi sepertinya bang Rey nolak aku, Na.”


Air mata Princess menetes.


“Sabar ya, Prin! Abangku memang lagi ada masalah sepertinya. Sebenarnya Abangku penyayang kok.”


“Aku bisa melihat itu, Na. Tapi, entah aku bisa mendapatkan hati Abangmu atau tidak.”


“Jangan ngomong seperti itu. Kalau kamu tulus, masa Bang Rey tidak dapat merasakan? Sabar ya, Prin?” Rhiena menghibur.


.


Sementara di dalam sana ada Vicky yang sedang berusaha mendekati Rey yang seperti sedang sedih.


“Lu kenapa sih, Bro?”


“Kenapa lu tanya kek gitu? Gue baik-baik aja,” jawab Reynand.


“Rey, walau gue baru mengenalmu satu tahun, gue sudah mengenal lu seumpama lagi sedih. Ceritalah,” ujar Vicky.


“Kepo!”


Di saat seperti ini, memang lelaki cenderung jarang berterus terang. Mereka lebih pandai menyembunyikan perasaannya sendiri ketimbang seorang perempuan.


“Masalah dengan Jo lagi, kan?” tanya Vicky menodong.

__ADS_1


Hening.


Rey masih membisu namun Vicky masih bersedia menunggu cerita dari Rey.


“Rey?” ucap Vicky pada Rey yang sedari tadi sedang tertunduk di atas kasur lantainya.


“Gue udah bohong sama Jo,” ucap Rey bernada serak.


“Maksudnya? Bohong gimana?” tanya Vicky heran.


“Gue bilang mau ajak lari dari rumah, padahal itu hanya strategi gue supaya Jo bisa mengerjakan Ujian Nasional dengan baik tanpa harus memikirkan gue. Tentang kepindahan sekolah juga gue masih rahasiain,” jelas Reynand.


Vicky terdiam mendengar jawaban dari Rey, sahabat yang baru ia kenal satu tahun ini.


“Gue gak nyangka Rey, kalau Lu sepeduli itu sama Jo, walau Papanya jelas-jelas menolak lu berhubungan dengan putrinya. Salut gue, Rey!” Vicky menepuk pundak Reynand.


“Apa gue salah telah membohongi Jovanka, Vic?” tanya Rey dengan suara parau.


“Semua kebohongan memang tidak bisa dibenarkan Rey. Tapi, gue yakin dengan tujuan lu. Suatu saat Jovanka akan mengerti. Semoga lu mendapatkan yang terbaik ya, Bro!”


***


Hari ini adalah hari terakhir Jo beserta yang lain menyelenggarakan Ujian Nasional di Sekolah.


“Ciee ... Tumben wajahnya berseri-seri yang mau jadi pengantin,” goda Salsa pada Jovanka.


“Apaan, sih?” Jo mendelik.


“Itu, dari tadi senyum-senyum terus,” ucap Salsa.


“Kepo deh!”


Jo masih asyik memandangi wajah Rey dalam ponselnya, ia pun tersenyum tatkala memandang laki-laki yang ia cintai dalam hand phonenya. Hingga tak terasa, bel sekolah berbunyi pertanda Ujian Nasional akan dimulai.


Semua siswa dan siswi tampak berkonsentrasi. Tidak ada lagi canda dan tawa di setiap kelas. Semuanya hening sampai ada Guru pengawas masuk dalam kelas dan membagikan lembaran soal ujian.


Semua tampak serius mengerjakan soal ujian nasional, berbeda dengan Jo yang sesekali tersenyum. Entah apa yang ada dalam lamunannya saat itu, sehingga lembar ujian ia ajak senyum.


Salsa hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan sahabatnya.


Hingga tak terasa waktu UN telah habis, seluruh lebar kertas telah dikumpulkan, tinggal menunggu hasil nilai.


“Akhirnya, Ujian Nasional telah berakhir, huuffff ....”


Jo membuang napas lega, begitu pun dengan Salsa yang sama-sama bahagia, karena cita-cita mereka menjadi seorang mahasiswa sebentar lagi akan terealisasikan.


“Nanti kamu daftar kuliah di mana, Jo?” tanya Salsa.


“Sepertinya aku kuliah di Jakarta, Jo,” ucap Salsa tertunduk.


“Lohhh ... Nanti gak bisa satu kampus dong sama aku?” Jo menatap Salsa, sahabat terbaiknya.


Salsa menganggukkan kepala.


“Yaahh ... Aku sedih banget kita bakal gak sekampus,” keluh Jovanka.


“Tapi, kita masih bisa video callan kok, Jo. Kita juga masih bisa bertemu kalau liburan semester. Kan, jarak Bandung-Jakarta enggak jauh,” hibur Salsa.


“Iya, sih!”


“Ya udah, jangan sedih lagi. Semangat Jo! Oh iya, dari tadi senyum terus kenapa? Aku jadi kepo nih!” Salsa terkekeh.


“Sebenarnya ....”


“Emm ... Gitu deh, suka di potong biar aku penasaran.” Bibir Salsa meruncing.


Jo terkekeh.


“Aku ada rencana kabur sama Rey,” bisik Jovanka.


“What?”


Mata Salsa membulat.


“Ssstttt!”


Telunjuk Jo menutup bibir Salsa.


Salsa mengangguk, “Serius?” tanya Salsa membulatkan mata.


Jo mengangguk dan tersenyum.


“Lah terus, pernikahanmu sama Om Alex gimana?” bisik Salsa.


“Aku gak perduli!”


Jo menutup mulutnya dan tertawa geli.


“Dasar! Kalian tuh udah gila kali, ya?” ujar Salsa.

__ADS_1


“Gila karena cinta, Sa!” Jo tertawa.


***


Sementara di seberang lain ada Rhiena dan Princess yang sudah mau kembali ke Jakarta.


“Bang, Nana pulang, ya?” ujar Rhiena.


“Iya, hati-hati, Na! Jaga Mama, ya?” ujar Rey sambil memeluk adik kembarnya.


“Iya. Kak Vicky, Nana pulang. Sampai ketemu di Jakarta nanti.” Rhiena tersenyum simpul.


“Iya, Na. Kak Vicky udah gak sabar sekolah di sana,” ujar Vicky.


“Bang Rey!” suara kecil dari bibir Princess.


Rhiena menarik lengan Vicky agar menjauh dari Rey dan Princess, memberikan mereka waktu berdua untuk mengobrol sebelum jarak kembali memisahkan.


“Iya!”


“Sampai kapan pun aku akan menunggu Bang Rey! Semoga Abang bisa membuka hati untukku seiring berjalannya waktu,” ucap Princess.


Rey hanya tertunduk, tidak berani menatap wajah Princess karena Rey begitu takut dengan perasaan yang ia miliki malah menjadikan Princess sakit hati.


“Bang?”


Princes mendekat.


“Aku tidak akan lelah menunggumu,” sambung Princess.


Hening. Sampai akhirnya, Rhiena dan Vicky kembali datang.


“Udah ngobrolnya?” goda Rhiena.


“Iya. Ya udah, Na. Ayok kita pulang!” ajak Princess.


Hari itu, Rhiena dan Princess kembali ke Jakarta.


Sebenarnya Princess itu gadis yang cantik, tapi rasa sayang yang Rey punya hanya untuk Jovanka. Entah sampai kapan ia bisa membuka hatinya untuk wanita lain?


“Vic, gue pinjem motor lu bentar, boleh?”


“Boleh, nih!” Vicky melepar kunci motor, “Mau ke mana, sih?” sambungnya.


“Selalu aja kepo!” Rey terkekeh.


Vicky memutar bola matanya, “Serah lu aja dah!” ucap Vicky.


Rey berjalan menaiki sepeda motor milik Vicky tanpa tau arah tujuannya ke mana. Yang ia pikirkan saat ini hanya ingin menyendiri tanpa ada kawan yang mengenali.


Ia ingin menghabiskan waktu sebelum pindah sekolah. Taman, Mal, dan Cafe yang dulu pernah disambangi dengan Jovanka pun akhirnya tak luput Rey sambangi.


Rey juga sudah berhenti kerja ketika waktu lalu dirinya tidak masuk kerja karena harus mengurusi Mamanya yang sedang sakit, sehingga Rey mengundurkan diri dari Cafe tersebut. Sebenarnya, tidak ada yang memberatkan Rey untuk meninggalkan Kota Bandung selain hati. Hati Rey hanya untuk Jovanka.


‘Ssrreeettt!’


Rey mengerem motor ketika mobil merah menghalangi perjalanannya.


“Kak Salsa?”


Mata Rey membulat, tatkala melihat gadis yang berada dalam mobil itu merupakan kakak kelasnya di sekolah.


“Aku mau ngomong sama kamu, Rey!” ujar Salsa.


Rey pun turun dari tunggangannya dan bergegas mengikuti Salsa yang menariknya untuk duduk di kursi taman.


“Ada apa, Kak?” tanya Rey ketika mereka sudah duduk berdampingan.


“Kamu gak salah mau ajak kabur Jovanka?” Tatapan Salsa dalam memandang Reynand.


..


Bersambung..


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


JANGAN LUPA LIKE/KOMEN/VOTE Ceritannya, karena itu merupakan hadiah terindah untuk Penulis🙏😁


Mampir ke cerita Ane yang lainnya, yok!


Yang berjudul :


*Menikahi Janda Dokter (on going)


*Jodoh Si Play Boy (End)


*Jodoh untuk Papa (New)


*Perjalanan Narumi (New)

__ADS_1


*Abisatya Sang Indigo (New) nyoba Misteri.


__ADS_2