Menikahi Janda Dokter

Menikahi Janda Dokter
Part 68. Bukit Bintang.


__ADS_3

Berjalan gontai di siang itu. Jo melangkah di bawah terik sinar mentari. Panasnya siang ini seperti tidak di rasakan. Langkah kakinya membawa ia hingga sampai rumah, hanya dengan berjalan kaki.


“Jo?”


Netra Meli membulat tatkala melihat putrinya hanya berjalan sampai rumah. Padahal, letak pemakaman ke rumah Jovanka sangat jauh.


Jovanka mendongak, tidak menjawab sapaan dari Meli.


“Kamu baik-baik saja ‘kan?” tanya Meli dengan hati-hati.


Jo hanya mengangguk dan berlalu pergi. Menaiki anak tangga dan masuk ke dalam kamar lalu menguncinya dari dalam.


“Ada apa, Ma?” tanya Rendy pada Meli.


“Jo terlihat aneh, Pa!”


“Aneh gimana?”


“Pertanyaan Mama tidak dijawab, ia hanya mengangguk habis itu ngeloyor pergi ke dalam kamar.”


Rendy tersenyum, “Wajar, Ma. Namanya juga sedang berduka. Yang ada, kamu harus menghibur anakmu. Jangan biarkan Jo larut dalam kesedihannya,” ujar Rendy.


Meli mengangguk.


Sudah cukup lama. Jo belum juga turun dari kamarnya. Meli mulai khawatir dengan keadaan putrinya. Apalagi dari tadi pagi Jovanka belum sarapan sama sekali.


Meli menyusul Jovanka yang berada dalam kamar. Meli mengetuk pintu dan memanggil Jovanka berulang kali.


Meli mulai panik, ketika tidak ada sahutan dari dalam kamar.


“Jo? Sayang? Buka, Nak!”


Meli belum menyerah, ia terus memanggil nama Jovanka seraya mengetuk pintu kamar putrinya.


Ceklek!


Akhirnya, pintu terbuka.


Terlihat seraut wajah lesu dengan berhiaskan mata yang sendu.


“Makan yuk, Nak? Mama udah masak makanan yang kamu suka,” ujar Meli merayu.


“Enggak, Ma. Jo gak laper!”


“Tapi, Jo ....”


Jeduk!


Pintu kamar ditutup.


“Jo?”


“Jo gak mau diganggu dulu, Ma!” pekik Jo dalam kamar.


Meli sedih melihat keadaan putrinya saat ini. Netra senja itu mulai berkaca-kaca hingga tidak terasa air yang ia bendung, akhirnya luruh juga meluncur, membasahi pipi.


Meli kembali ke ruang keluarga hanya untuk menonton televisi, ia ingin meredakan kekhawatirannya dengan menonton televisi.


“Ini kan hand phone Jovanka?”


Meli menggenggam ponsel yang ada di atas meja.


Bip!


Ada pesan baru.


“Davin? Siapa dia?”


Meli membuka pesan dari nomor yang bernama Davin.


[Jo? Gimana kabar lu? Gue telepon kok gak diangkat-angkat? Jujur, gue khawatir sama lo!]


[Elah! Pending lagi. Hubungin gue kalau lu udah baca!]


Apa Davin itu sahabatnya Jovanka, ya? Mungkin saja dia bisa menghibur Jovanka. Pikir Meli yang terlintas dalam hati.


Akhirnya, Meli membuka layar ponsel Jo dan menghubungi Davin.


Tuttt!


Panggilan tersambung.


[Heh, Nona? kalau mau pergi hapenya dibawa! Jangan bikin gue khawatir!] cerocos Davin dalam telepon.


[Halo, Nak Davin. Ini bukan Jovanka, ini Mamanya Jo] jawab dari dalam telepon.


Mata Davin membulat, ia kaget ternyata nomor yang menghubunginya bukanlah Jovanka, tapi Mamanya. Wajahnya merah bak udang rebus. Untung saja hanya nelpon bukan video call.


Mati gue! pekik hati Davin.


[Ma – Maaf Tante, Davin kira ini Jovanka. Jovankanya ke mana, Tan?] suara Davin mulai halus, malu mungkin, dia sudah salah orang.


[Ada di kamarnya. Dia baru datang dari pemakaman.]


[Pemakaman? Siapa yang meninggal, Tan?]


[Suaminya, Alexy.]


[What ... Hehe Tante jangan bercanda, ah! Gak boleh bilang mantunya kek gitu.]


[Bener, Nak Davin! Mana mungkin saya bercanda soal kematian seseorang? Apalagi itu menantu saya.]


Hening.


Davin seperti percaya tidak percaya mendengar kabar kematian Alexy.


[Halo, Nak? Kamu masih di situ?]

__ADS_1


[I – Iya, Tan. Davin masih di sini. Mungkin sebentar sore saya ke Bandung, Tan. Minta alamat rumahnya, bisa?]


[Iya, nanti Tante share loc, ya? Tante minta tolong kamu untuk hibur dia. Jo sangant terpuruk saat ini. Tante dan Om sudah tidak dapat membujuknya lagi.]


Tut!


Telepon tertutup.


***


“Ya Tuhan, Jo! Kasihan sekali hidup lu.”


Davin menuntaskan pekerjaannya. Kebetulan besok jatah ia libur dari rumah sakit. Waktu terus berputar, hingga tidak terasa jam telah menunjukkan pukul empat sore.


Davin langsung berangkat ke Bandung setelah pulang kerja. Tapi, ia lupa tidak memberi kabar pada kekasihnya.


Melesat dengan kecepatan tinggi, akhirnya Davin telah sampai di Bandung. Ia mengikuti alamat rumah Jovanka sesuai yang dishare loc oleh Mamanya.


“Ini rumah Jovanka kek nya.”


Davin memarkirkan motor di depan pintu rumah Jovanka.


“Malam, Pak? Apa benar ini rumahnya Jovanka?” tanya Davin.


“Iya, Mas. Ada apa, ya?”


“Saya mau ketemu sama Mamanya Jovanka, bisa tolong panggilin gak, Pak?”


“Baik, sebentar, ya Mas?”


Scurity itu berlalu pergi tanpa membuka pintu pagar, masuk ke dalam rumah yang cukup mewah. Sedangkan Davin, kembali ke motor, ia duduk di atas motor itu. Tidak berselang lama, Scurity itu datang bersama Meli.


“Selamat malam?” sapa Meli dengan mengernyitkan keningnya.


“Malam, Tan. Saya Davin.”


“Oh ... Iya, maaf ya, Nak. Mang Wawan, tolong buka pagar rumahnya!”


“Baik, Bu!”


Grekk!


Mang Wawan membuka pintu pagar.


“Masuk, Nak Davin!” ujar Meli mempersilakan.


Davin tersenyum dan memasukkan motornya ke dalam halaman rumah Jovanka.


“Mari, Nak. Ibu antar ke kamarnya Jo.”


Davin mengekor dari belakang dan mulai menaiki anak tangga. Akhirnya mereka berpijar di tangga terakhir hingga terlihat ada pintu di depan mereka.


Tok ... Tok ... Tok ....


“Jo?” panggil Meli setelah mengetuk pintu kamar putrinya.


“Udah Jo bilang. Jo gak mau diganggu, Ma!” pekik Jovanka dari dalam kamar.


Hening.


Jovanka masih tidak mau ke luar.


“Udah, Tan. Biar saya saja,” ujar Davin setengah berbisik.


“Baiklah. Tante tinggal, ya?”


Meli meninggalkan Davin di depan kamar putrinya.


Tok ... Tok ... Tok ....


Davin mengetuk pintu kamar.


“Jo gak mau diganggu, Ma!” pekik Jovanka masih dengan ucapan yang sama.


***Tok ...


Tok ...


*Tok** ....


Berulang kali Davin mengetuk pintu kamar itu tanpa lelah sehingga telinga Jovanka terasa sakit mendengar suara ketukan pintu itu dari dalam kamar.


Ceklek!


Pintu kamar terbuka.


Dengan pandangan yang merunduk, Jovanka marah-marah, “Udah Jo bilang, Jo gak mau diganggu, Ma!”


Jovanka mendongak, “Davin?” Netra sendu dan bengkak itu kaget melihat sosok Davin yang sudah ada berada di depan kamarnya.


Davin tersenyum.


“Sorry, Dav. Gue gak mau diganggu!”


Jo kembali menutup pintu kamar, tapi dengan cepat Davin menahannya sehingga pintu itu tidak tertutup rapat.


“DAVIN!”


Netra sendu Jovanka membulat.


“Apa, Nona?” jawab Davin halus.


“Gak usah ganggu aku! Aku lagi gak mau diganggu Davin! Plisss!” pekik Jovanka, memohon.


“Tapi gue yang mau ganggu lu,” ujar Davin.


“Plis! Gak lucu tau!”

__ADS_1


“Siapa juga yang ngelucu, Jo? Gue mau ajak lu ke luar,” ujar Davin.


“Gak mau! Ini sudah malam!” elak Jovanka.


“Ini baru jam tujuh malam Nona, waktu masih cukup panjang untuk kita nikmati,” ujar Davin sambil mengedipkan satu mata genitnya.


“Davin!”


“Jovanka!”


“Davin!”


“Apa Jovanka?”


“Sumpah gak lucu, Davin!”


“Ya udah, ayo ke luar, dari pada di sini cuma bilang Davin, Jovanka terus. Mending kita jalan-jalan di luar.”


Davin memainkan alisnya naik turun.


“Aku udah bilang, aku gak mau diganggu, Dav!”


“Suer! Gue gak bakal ganguin lu, asal lu ikut gue, ya?”


“Ke mana?”


Akhirnya Jo terpancing dengan ajakan Davin.


“Ada deh, yuk?”


“GAK MAU!”


Tiba-tiba Davin mendekatkan tubuhnya pada Jovanka, ia menggendong tubuh kecil Jovanka.


“Davin! Turunin, atau aku teriak biar Mama tau!” ancam Jovanka.


“Teriak saja! Paling kita dinikahin,” ujar Davin santai.


“Enak aja! Aku udah punya suami, turunin aku, Davin!”


Akhirnya, Davin kembali menurunkan Jovanka. Ia menatap netra sendu itu dengan tatapan tajam dan tangan yang memegang kedua bahu Jovanka. Punggung Jo tersudut oleh pintu, kini tubuhnya hampir berdempetan dengan Davin.


“Gue udah tau kalau suami lo udah meninggal, Jo!”


Plak!


Satu tamparan yang cukup keras, mendarat di pipi Davin.


“Kamu jangan sembarangan ngomong, Dav!”


“Hey, Nona! Itu nyata. Move on lah! Wake up, come on!”


Hening.


Jovanka tersadar, kalau memang tadi pagi dirinya sudah menyaksikan penguburan jenazah suaminya. Seketika air bening itu luruh dan membasahi pipi mulus Jovanka.


Jo mematung, hanya air mata yang mengalir sebagai ungkapan kesedihannya saat itu.


Davin segera menenggelamkan wajah itu ke dalam dekapan dadanya. Jo pun menangis dalam tubuh si Jangkung.


“Rey!” ringkihnya, tapi Davin masih dapat mendengarkan walah dengan nada suara pelan.


Davin tidak menggubris, dia terus memeluk tubuh Jovanka. Satu hal yang ia rasa saat itu. Davin hanya merasakan kesedihan yang Jovanka rasakan. Mungkin karena dulu ia pernah merasakan kesedihan seperti Jovanka.


Cukup lama Jo menangis dalam dekapan tubuh Davin. Tangannya pun mulai melemas dan ia menjatuhkan tangannya dari kaos Davin yang ia genggam dengan kuat.


“Ikut gue, yu?”


“Ke mana?”


Jo menatap netra Davin.


“Jalan. Plis! Jangan nolak, gue mohon!”


Jovanka mengangguk.


“Sebentar, aku ambil dulu kardigan.”


Jo berlalu pergi, masuk ke dalam kamar.


Mereka menuruni anak tangga. Terlihat, Meli sedang menonton televisi di ruang kerjanya. Sedangkan Papanya masih belum pulang dari rumah Alexy.


“Mam?”


“Hai, Jo. Mau ke mana, Sayang?” tanya Meli.


“Jo mau main dulu sama Davin sebentar.”


“Iya. Hati-hati, ya?”


“Oh ... Iya, Papa ke mana?”


“Papa lagi di rumah Mama Nadia,” ujar Meli.


“Mari, Tan?” pamit Davin.


“Iya, Nak Davin. Hati-hati, ya?”


Jo dan Davin tersenyum dan berlalu pergi.


Menikmati malam hari dengan sepeda motor, melesat ke Bukit Bintang di Bandung, sekitar tiga puluh menit dari pusat kota untuk sampai di sana. Tempat itu salah satu spot terbaik apabila didatangi malam hari. Kita dapat melihat pusat kota yang terang dengan cahaya lampu.


Malam itu, langit mendung, jadi tidak terlalu terlihat jelas lampu-lampu yang menyorot terang.


“Dav, aku mau telepon Mama Nadia dulu, ya?” ujar Jovanka ketika sudah sampai di Bukit Bintang.


“Ok!”

__ADS_1


Akhirnya, Jo menelepon Nadia. Ia meminta maaf tidak dapat ke rumah Nadia untuk sementara waktu karena ia masih sangat terkenang akan sosok suaminya yang kini telah meninggalkannya sendiri dan Nadia pun memaklumi hal itu.


Akhirnya telepon ditutup dan mata Jovanka tertuju pada hamparan kota yang dikelilingi oleh banyak lampu terang bagaikan Bintang. Tak ayal tempat itu disebut Bukit Bintang di kota Bandung.


__ADS_2