Menikahi Janda Dokter

Menikahi Janda Dokter
Part 44. Pertemuan Bisnis


__ADS_3

Rey tengah sibuk mempersiapkan untuk mencapai syarat menjadi seorang pilot. Di DFS menjamin, akan memperoleh sepenuhnya seratus enam puluh jam terbang, selama masa pendidikan dan Rey hampir memenuhi semua itu. Dengan kata lain, Rey dapat wisuda lebih cepat. Itu artinya, ia akan lebih cepat lagi menjadi pilot seperti cita-citanya.


“Selamat ya, Rey! Kamu hampir menyelesaikan seratus enam puluh jam terbang. Sebentar lagi, cita-cita menjadi seorang pilot dapat terwujud,” ujar Captain Wahyu.


Rey tersenyum, “Makasih, Cap! Mohon bimbingannya!”


Hingga tak terasa, hari mulai senja dan Rey kembali pulang. Ia memacu mobil hitamnya dengan kecepatan tinggi, berharap bisa cepat sampai rumah dan merebahkan tubuhnya yang telah lunglai dengan aktivitasnya di DFS.


.


Ssrrrttt!


Mobil terparkir di halaman rumah. Ia segera turun dari dalam mobil dan melangkahkan kaki ke dalam rumah.


Ceklek!


Rey mendorong pintu lalu masuk tanpa permisi, karena ia tahu hari ini Mamanya tengah ke Bandung untuk berbisnis.


“Udah balik, Bang?” sapa Rhiena yang sedari tadi berads di rumah.


“Udah!”


Rey langsung berjalan, menaiki anak tangga dan membuka pintu kamarnya. Ia menyimpan ransel dan segera merebahkan tubuhnya di atas ranjang.


Matanya terpejam. Sesekali, Rey menarik napas panjang dan menghempaskannya perlahan.


Matanya kembali terbuka, ia memandangi langit-langit kamar yang berwarna putih. Membayangkan kalau dirinya sudah menjadi Pilot.


Lengkungan bibir terukir indah. Rey menjadi semakin tampan dan tubuhnya bertambah atletik, tidak seperti ketika di Bandung, kurus. Mungkin, karena di sana mengontrak, jadi pola makannya tidak teratur karena tidak ada yang mempeehatikan seperti Mamanya.


“Yaelah, mandi dulu sana, Bang!” ujar Rhiena yang tiba-tiba saja ada di depan kamar Reynand.


“Iya, Na. Bentaran lagi. Mama berangkat jam berapa ke Bandung?” tanya Reynand.


“Jam satu siang.”


“Ohh ....”


.


Tidak ada yang mengetahui bahwa Rey hampir mencapai target dari jam terbang di sekolahnya. Ia sengaja merahasiakan dari Mama dan juga adik kembarnya. Hanya, Vicky yang mengetahuinya, karena ia satu kelas dengan Reynand.


Ddrrtttt ....


Ponsel Reynand bergetar di atas nakas. Ia meraihnya dan menggeser layar ponsel miliknya.


[Iya, Princ. Ada apa?]


[Aku mau ke rumahmu, kamu gak ke mana-mana ‘kan?]


[Enggak, aku ada di rumah ‘kok.]


[Oke! See you ....]


Tut!


Telepon tertutup.


Rey bangkit dari tempat tidurnya. Menyambar handuk lalu menuju kamar mandi.


“Ciee ... Kalau pacarnya mau datang aja gercep mau mandi. Tadi, adeknya yang menyuruh jawabnya nanti lagi!” goda Rhiena.


“Sok tau!”


Rey ngeloyor masuk kamar mandi.


“Bang! Dandan yang ganteng, ya?” pekik Rhiena menggoda.


“Gue gak bisa dandan!” ujar Reynand dalam kamar mandi.


Rhiena kembali ke kamarnya, sedangkan Reynand membersihkan diri dari sabun yang menempel di sekujur badannya.


Rey melangkahkan kaki ke dalam kamar, ia membuka lemari dan mengambil kaos dan celana jenas panjang.


Ting ... Tong!


Bunyi bel dari pintu rumah Reynand.


Rey masih di kamarnya, ia malah bermain gitar di atas tempat tidur. Ia memetik senar gitar, seketika ia teringat Jovanka.


Shit! Kenapa bayangnya kembali terlintas? Pekik Rey dalam hati.


Rey meletakan gitar itu di atas tempat tidur. Tetapi, kerinduannya terhadap Jovanka sungguh menggebu. Akhirnya, sebagai pengobat rindu. Rey kembali meraih gitar dan mulai melainkan.


“Dengarlah cinta, hatiku remuk redam. Jika tak ada kamu, menemani aku.”

__ADS_1


Rey bersenandung sambil memainkan gitar.


“Dengarlah cinta, ku memanggil namamu ....”


Lagu itu tidak diteruskan karena gitar yang Rey mainkan telah terhenti mendengar suara gadis yang bernyanyi meneruskan lagunya.


Jovanka? Umpat dalam hati Rey.


Rey mendongak dan memandang wajah gadis yang barusan menyambung lagunya.


“Princess?”


Netra Rey membulat ketika melihat Princess yang telah menyambung lagunya, bukan Jovanka.


Princess tersenyum, “Kenapa gak diterusin lagunya?”


“Enggak. Tadi cuma ngisi waktu luang aja sambil nungguin kamu,” elak Reynand.


Princess tersenyum dengan wajah yang memerah, terlihat sangat jelas kalau dirinya tersipu malu dengan ucapan Reynand.


***


Sementara di sisi lain, ada Mamanya Rey yang sedang mengurus bisnisnya di Bandung.


Ddrrttt ....


Ponsel Nadin bergetar.


“Nana?”


Nadin tersenyum lalu menggeser layar ponselnya.


[Halo, Sayang ... Ada apa? Jangan bilang kangen Mama!] ujar Nadin sambil tersenyum.


[Dih ... Memangnya gak boleh kalau Nana kangen sama Mama?]


[Haha ... Ya bolehlah, Mama hanya bercanda.]


[Mama kapan pulang?]


[Baru juga nyampe Bandung tadi sore, kok udah ditanyain pulang?]


[Nana rindu sama Mama.]


[Gak ada teman tidur. Nana rindu Mama.]


[Udah, ah! Jangan nangis. ‘Kan Nana udah gede, udah punya pacar pula.]


[Mama tau dari mana? Pasti si Abang yang bilang!]


[Dih ... Ketahuan deh prediksi Mama bener. Bang Rey gak bilang apa-apa kok. Cie ... Yang udah punya pacar. Gak dikenalin sama Mama ‘nih?]


[Iihh ... Mama! Ya udah, Mama baik-baik di Bandung, ya? Nana sayang Mama!]


Tut!


Telepon pun mati.


Nadin hanya tersenyum mendengar putrinya yang beranjak dewasa, mempunyai sifat yang masih kekanak-kanakan. Tidak seperti Rey, walau pun mereka lahir hanya selisih lima menit saja.


Nadin pun membaringkan tubuhnya di ranjang hotel yang terdapat di pusat kota Bandung.


Klik!


Nadin mematikan lampu dan tertidur pulas.


***


Bulan telah berganti dengan sosok mentari pagi. Cahaya berwarna jingga itu telah menyelinap masuk ke dalam ventilasi jendela kamar hotel.


Nadin bergegas mandi dan memesan menu makanan dari hotel. Tidak terlalu lama, pesanan Nadin pun datang.


Tok ... Tok ... Tok ....


Suara pintu diketuk.


Nadin membuka pintu kamar hotel dan ia mendapati seorang wanita yang membawa menu sarapan pagi yang telah ia pesan.


“Pagi, Bu. Saya mengantarkan menu sarapan pagi, pesanan Ibu,” ujar seorang wanita cantik berpenampilan rapi.


“Terima kasih,” ujar Nadin.


“Sama-sama. Ada lagi yang bisa saya bantu, Bu?”


“Saya rasa, sudah cukup.”

__ADS_1


“Baiklah, selamat menikmati sarapan pagi dan terima kasih.”


Wanita itu berlalu pergi setelah memberikan menu sarapan pagi untuk Nadin.


Nadin kembali masuk dalam kamar. Ia menikmati sarapan paginya sambil menonton televisi.


Setelah semuanya selesai. Nadin tengah bersiap untuk menuju lokasi perusahaan yang akan bekerja sama dengannya.


Ia meluncur menggunakan taksi. Perjalanan cukup lancar karena masih cukup pagi Nadin berangkat ke lokasi.


.


Masih belum banyak orang terlihat di perusahaan itu. Tulisan Rendy corp, terpampang jelas di dinding belakang resepsionis.


“Pagi, Bu, ada yang bisa saya bantu?” sapa resepsionis di pagi hari.


“Pagi ... Saya mau bertemu dengan Pak Rendy,” jawab Nadin.


“Pak Rendy sebentar lagi datang. Ibu boleh menunggu di sofa tunggu dulu,” ujar si resepsionis itu.


“Baiklah,” jawab Nadin, ia melangkahkan kaki dan duduk di sofa tunggu. Nadin pun sesekali mengecek laporan kantor di Jakarta melalui email.


Tidak berselang lama. Akhirnya terlihat sosok Rendy. Ia mengenakan setelan jas dan sepatu pantofel yang melengkapi penampilan resminya hari ini.


“Pagi, Pak. Ada yang ingin bertemu dengan Bapak,” ujar si resepsionis.


“Pagi. Siapa yang ingin bertemu dengan saya?”


“Ibu Nadin. Ia sudah menunggu di sofa tunggu.”


“Suruh menemui saya di ruang kerja,” perintah Rendy.


“Baik, Pak!”


Resepsionis itu pun menghampiri Nadin dan mengantarkannya ke ruangan Pak Rendy.


Tok ... Tok ... Tok ....


Pintu ruang kerja Rendy diketuk.


“Masuk!” ujar Rendy yang ada di dalam ruangan.


Ceklek!


Pintu itu pun terdorong masuk dan terlihatlah sosok wanita paruh baya yang masih sangat cantik.


Senyuman manis pun terukir di bibir Ibu dari dua anak kembar yang telah beranjak dewasa ini.


“Pagi, Pak!”


Nadin menyapa dengan suara lembut.


“Pagi. Silakan duduk! Maaf, Anda siapa, ya?” tanya Rendy dengan mengernyitkan dahinya.


“Perkenalkan, nama saya Nadin ....”


Belum selesai memperkenalkan diri, uluran tangan dari Nadin telah dijabat oleh Reny.


“Oh ... Ibu Nadin dari Jakarta, ya?” potong Rendy.


Nadin tersenyum, “Iya, Pak! Saya Nadin.”


“Silakan duduk, Bu!”


Nadin pun duduk di kursi yang cukup nyaman. Mereka kini saling berhadapan, hanya terhalang oleh meja.


Perbincangan bisnis pun akhirnya dimulai. Mereka mengobrol serius masalah bisnis. Hingga tak terasa, jam makan siang pun telah tiba.


“Ya sudah, saya cukupkan sampai di sini. Mungkin besok saya akan kembali ke sini,” ujar Nadin.


“Baik, Bu! Ditunggu kabar baiknya dari perusahaan Ibu,” ujar Rendy.


Nadin berjalan melewati koridor kantor. Banyak sekali meja karyawan yang tersusun rapi di sepanjang jalan, lengkap dengan penghuni meja kerja itu, yang terlihat sedang sibuk di siang ini.


.


Nadin melesat menggunakan taksi menuju ke salah satu restoran yang letaknya tidak jauh dari hotel yang ia tinggali. Ia pun memesan menu makan siang dan menikmatinya seorang diri di restoran itu.


Nadin kembali ke hotel untuk beristirahat sejenak dari aktivitasnya siang ini.


Ceklek!


Pintu kamar hotel pun terbuka. Nadin melangkahkan kaki masuk ke kamar yang cukup mewah dan nyaman ini.


Tidak lupa, ia mencuci kaki dan wajahnya sebelum naik ke atas tempat tidur. Matanya pun mulai terpejam ketika sudah terbaring di ranjang yang nyaman.

__ADS_1


__ADS_2