Menikahi Janda Dokter

Menikahi Janda Dokter
Part 79. Alasan Nadia Memberi Restu


__ADS_3

Tidak berselang lama, Jo datang membawa minuman dan makanan ringan.


“Silakan, Ma, Rey!” ujarnya sambil menghidangkan.


“Makasih ....” ucap Rey dan Mama mertua Jovanka.


Mereka bertiga berbincang hangat, hingga tak terasa waktu sudah sore. Rey pamit pulang ke rumahnya.


“Jo, Tan. Aku pamit pulang,” ujar Rey berpamitan.


Jovanka tersenyum.


“Rey, inget yang Tante bilang, ya?”


Nadia tersenyum.


“Sip, Tan!”


Rey mengangkat jempolnya.


Jo hanya melirik, bingung pada kedua orang ini.


Kenapa jadi akrab? Apa yang mereka bahas barusan? Wah ... Mesti diselidik! Umpat hati Jovanka.


Setelah Rey pulang. Tinggallah Jovanka dengan Mama mertuanya. Mereka melanjutkan obrolan hingga tak terasa, sang mentari telah tenggelam.


“Mama nginep sini aja, ya? Jo masih kangen sama Mama.”


“Enggak, Sayang! Mungkin lain waktu. Mama harus urus dulu tugas Mama malam ini.”


“Ma?”


“Ya?”


“Tadi kalian ngomong apa, sih?”


“Siapa?”


“Mama sama Rey.”


“Gak ngomongin apa-apa.”


“Jangan bo’ong! Kok Rey bilang sip? Maksudnya apa?”


“Oh ....”


Mata Nadia menatap tajam Jovanka.


“Kenapa Mama memandang Jo dengan tatapan seperti itu?”


“Jo, sebenarnya, dulu Mama melarang Alexy untuk menikahimu.”


Jo mengernyitkan keningnya.


“Bukan Mama tidak percaya pada pilihan Alexy. Mama tidak menyetujui karena Alex bilang, waktu itu kamu dijodohkan oleh Tante kamu dan akhirnya Papamu memaksa agar kamu menikah dengan Alex. Kisah itu sama seperti Tante dulu, dijodohkan hingga akhirnya kami berpisah karena tidak saling mencintai.”


“Tapi, Jo sekarang mencoba buka hati kok, Ma.”


Nadia tersenyum, “Tapi Alex udah gak ada, Sayang! Mulailah hidup baru. Mama tau, selama kamu menikah dengan Alex, kamu tidak bahagia. Karena dulu, Mama merasakannya. Mama tidak ingin kamu larut dalam kesedihan, walau kamu telah membuka hati untuk Alex, percayalah itu tidak akan mudah, Sayang!”


Hening.


“Bukan Mama tidak menyukaimu, Jo. Tapi, dulu Mama pernah merasakan berada di posisimu, menikah dengan pilihan orang tua. Mama tidak ingin melihat orang lain, yang senasib seperti Mama. Tapi, malah menantu Mama sendiri yang bernasib sama. Jo? menikahlah lagi dengan lelaki yang kamu sayangi, Nak!”


“Tapi, Ma, Jo ....” katanya terputus.


“Tidak usah merasa sungkan atau tidak enak. Mama akan selalu menjadi Mamamu, Sayang! Mama merestui seumpam kamu mau menikah lagi, Mama tidak ingin melihatmu terpuruk karena kematian Alex.”


“Tapi Papa Jo tidak merestui hubunganku dengan Rey, Ma.”


“Kenapa? Tante liat, Rey anaknya baik dan ramah. Kenapa Papamu tidak menyukainya?”


“Entah ....”


Jo pun menceritakan tentang perihal keadaan keluarganya dan kondisi Papanya saat ini. Hingga tak terasa, waktu menunjukkan pukul tujuh malam.


“Ya sudah, Mama pamit, ya? Habis beres urusan di sini, Mama langsung pulang ke Bandung. Jaga diri baik-baik, Sayang!”


Nadia memeluk erat Jovanka. Begitu pun dengan Jo, yang sama memeluk erat.


***


Rendy semakin terpuruk. Sudah ditipu rekan bisnisnya, malah sekarang stroke. Perusahaannya sudah berpindah tangan, ia kini menjadi orang miskin. Hartanya tinggal menyisakan segelintir saham di kantornya. Itu pun ia harus menjualnya untuk berobat di rumah sakit.


Meli mengambil ponsel lalu menghubungi Jovanka. Karena hanya ia yang dapat membantunya saat ini.


[Jo, Papamu benar-benar sudah bangkrut. Semua sahamnya telah habis. Mama harus gimana?]


[Mama ke Jakarta saja. Biar nanti Papa di rawat di rumah sakit sini, biar Jo juga bisa pantau Papa. Besok Mama berangkat ke Jakarta sama Papa, bisa?]


[Ya sudah, besok Mama akan ke Jakarta sama Papa.]


Akhirnya, obrolan dalam ponsel pun terputus. Baik Jo dan Meli, kini telah beristirahat untuk menghadapi hari esok. Awal mula mereka hidup menjadi orang miskin. Di mana kemewahan yang biasa mereka nikmati, kini harus hidup sesederhana mungkin untuk bisa bertahan hidup.


***


Sementara di Singapura ada Alexy dan Princess yang sudah bersiap untuk melaksanakan pernikahan mereka.


Tidak ada pesta mewah, hanya kedua mempelai dan dari keluarga Sarah yang menyaksikan ikatan janji suci mereka.


Semuanya berjalan dengan baik dan lancar. Hingga akhirnya, resmi sudah jalinan cinta Alexy dan Princess di pelaminan. Mereka kini sudah resmi menjadi sepasang suami istri.


“Selamat ya, Sayang!” ujar Sarah pada Princess.

__ADS_1


“Makasih, Tan.”


Ucapan selamat pun mengalir dari keluarga Sarah dan yang menyaksikan pernikahan ini. Rona bahagia terpancar pada wajah Princess dan Alexy saat itu.


.


Hari-hari yang mereka lalui sangatlah bahagia. Mereka saling mencintai dan kini telah bersatu dalam ikatan janji suci pernikahan. Alexy mendapatkan seluruh haknya sebagai seorang suami dari Princess.


.


“Sayang, makasih atas semuanya. Termasuk untuk malam ini,” ujar Alexy ketika masih ada di atas tempat tidur.


Princess tampak malu-malu. Ia hanya tersenyum, menutup wajahnya dengan selimut.


Alexy membukanya pelan, terlihatlah wajah yang sudah merona karena mendengar kata mesra dari suaminya.


“Mas?” ujar Princess ketika mata mereka saling bertautan.


“Hem?”


“Apakah kamu benar-benar menyayangiku?”


Alexy tersenyum, sungguh hal yang selalu ditanyakan oleh gadis muda seusianya. Princess belum terlalu dewasa, jadi ia terbiasa harus mendengar ungkapan sayang.


“Princ, apakah harus aku menggombal?”


Princess menggeleng.


“Jadi, ngapain aku harus jawab?”


“Kan, aku mau tau isi hatimu, Mas!”


Bibir Princess meruncing.


“Rasa di sini seperti apa?”


Alexy menunjuk dada Princess.


“Sayang.”


“Hanya sayang?”


Alexy kembali bertanya.


“Ya ... Mas gak usah tau, pokoknya aku sayang sama Mas Alex.”


“Sama!”


“Maksudnya?”


“Tidak semua harus diutarakan, Sayang. Cinta yang tulus tidak selalu terucap di bibir, tapi ia bisa dirasakan, dari sini!”


Lagi, Alexy menunjuk ke dada Princess.


Lagi, pipi Princess merona lalu memeluk erat Alexy yang kini telah menjadi suaminya.


“Selamat malam, Sayang!”


Cup!


Ciuman mesra mendarat di kening Princess.


“Malam, Mas,” ujarnya dengan suara lembut.


Klik!


Lampu dimatikan dan mereka terlelap malam itu dalam kehangatan.


.


Ddrrtttt!


Ponsel bergetar.


Princess meraba ponsel yang ada di atas nakas untuk mematikan alarm yang ia setting di ponsel miliknya.


Klik!


Dengan satu kali sentuhan, alarm pun telah mati. Tak ada lagi suara berisik pagi itu.


Princess melihat jam, lalu ia mulai sedikit menggeser tangan Alexy yang sedang memeluk dirinya.


Dengan hati-hati, Princess memindahkan lengan kekar yang berada di atas perutnya.


“Emh ....”


Alexy kembali memeluk Princess kala ia tertidur. Princess pun membiarkannya sejenak. Selang beberapa menit, ia kembali memindahkan lengan suami yang melingkar di perutnya itu.


Lagi, Alexy kembali memeluk tubuh Princess.


Princess melihat jam yang terus berputar, bahkan sang mentari pagi pun telah menerobos masuk ke dalam kamarnya. Dengan terpaksa, akhirnya Princess membangunkan suaminya di pagi itu.


“Sayang, bangun ‘yuk? Aku mau bikinin kamu sarapan,” bisik Princess pada Alexy.


“Emh ....”


Alexy belum juga sadar dari tidur lelapnya.


Princess memperhatikan wajah tampan suaminya ketika tertidur lelap. Dari mulai mata, hidung, bibir dan pipi Alexy. Tangannya mulai jahil, Princess menyentuh halus pipi sang suami ketika ia masih tertidur pagi itu.


Tak puas ia meraba pipi suaminya. Princess pun mulai meraba hidung mancung lalu mendarat di bibir yang agak kemerahan.


Alexy pun terbangun. Dengan cepat, Alexy menangkap tangan Princess yang sedang menyentuh bibirnya. Matanya pun kini memandang wajah cantik yang sedang berekspresi kaget.

__ADS_1


“M – Mas, udah bangun?” ujar Princess kala melihat mata suaminya yang sudah terbuka.


“Jangan membangunkan singa yang sedang tertidur, Sayang!” bisik Alexy di telinga Princess.


Wajah mereka kini sangat berdekatan, nyaris tak berjarak. Mata mereka kini lekat dengan pandangan yang saling bertautan. Princess hanya bisa menelan saliva, untuk mengurangi degup jantungnya yang kian mengencang. Alexy semakin merapatkan bibirnya, Princess pun memejamkan mata dan merasakan sensasi hangat ciuman lembut dari bibir suaminya.


Ciuman mesra itu berlanjut hingga beberapa saat. Tangan Alexy mulai meraba tubuh Princess, mereka tidak peduli dengan sinar mentari yang tengah memasuki kamar. Percumbuan pun semakin memanas saat itu.


Ting tong!


Mereka dikejutkan dengan bunyi bel di rumah.


“Sial!” umpat Alexy pelan.


Princess tersenyum, “Aku bukain pintu bentar ya, Mas?” ujar Princess yang menjauhkan tangan Alexy dari tubuhnya.


Princess menyibak selimut hangat itu. Ia hanya mengenakan baju tidur pendek di atas lutut, paha putihnya pun terlihat sangat menggoda. Alexy kembali menarik lengan istrinya dan kembali mencium bibir merah muda itu. Princess pun tidak dapat lepas dari cium dan dekapan Alex yang kian membara.


Ting tong!


Lagi, bel kembali berbunyi yang disertai dengan ketukan pintu yang mengganggu konsentrasi Alexy.


“Shit!”


Akhirnya, Alexy membiarkan istrinya untuk membukakan pintu.


Princess hanya tersenyum melihat ekspresi kesal suaminya. Ia berjalan dan memakai celana panjang sebagai dobelannya.


Princess ke luar dari kamar menuju pintu ruang tamu. Sedangkan Alexy masih berada di atas ranjang dengan ekspresi yang masih kesal.


Ceklek!


Pintu rumah terbuka.


“Pagi, Bu?” ujar seorang perempuan.


Princess tersenyum, “Iya, pagi. Ada apa, Yul?” tanya Princess.


“Maaf, Bu. Yul mau minta tandatangan untuk mengurus kepindahan perusahaan nanti.”


Princess pun mengambil dokumen dari tangan karyawatinya, lalu segera menandatanganinya.


“Ini!”


Princess mengembalikan dokumen itu setelah ia menandatanganinya.


“Makasih, Bu. Maaf, pagi-pagi saya sudah mengganggu. Permisi!”


Karyawatinya pun berlalu pergi.


Princess kembali masuk rumah. Ia melihat jam yang tertempel di dinding ruang tamu.


“Pantas saja, sudah jam sembilan!”


Princess tersenyum.


Ia berjalan ke arah dapur, mempersiapkan sarapan untuk suaminya, “Sayang! Mandi dulu, sana!” teriak Princess dari dapur.


Ia takut seumpama kembali, suaminya tidak mandi-mandi karena terus mencumbu dirinya.


“Iya!” pekik Alexy dari dalam kamar.


Princess mulai mempersiapkan masak. Pagi ini ia akan memasak nasi goreng, karena tidak ada waktu banyak untuk memasak masakan yang ribet.


Princess masih mengaduk nasi goreng yang ada di dalam wajan menggunakan spatula. Tiba-tiba, lengan kekar itu kembali melingkar di perutnya. Siapa lagi kalau bukan suaminya?


Alexy menyenderkan pipi di pundak sang istri. Satu lengannya tertarik mengusap lembut leher putih Princess dan bibirnya mengecup lembut leher jenjang itu.


“Masss ... Jangan gini, ah! Aku lagi masak,” ujar Princess dengan suara yang seperti menahan rasa geli karena kelakuan Alexy.


Alexy tersenyum. Ia semakin suka ketika melihat istrinya berekspresi seperti itu. Lagi, Alexy kembali mencumbu leher istrinya. Tapi, dengan cepat, Princess menjauhkan wajah Alexy dari pundaknya.


“Mas, nanti lagi. Aku lagi masak!” ujar Princess dengan mata yang membulat.


“Iya, iya!”


Alexy terkekeh melihat istrinya sudah sedikit berteriak kesal padanya.


“Ya udah, duduklah. Sebentar lagi matang nasi gorengnya,” titah Princess.


Alexy pun duduk di kursi meja makan.


“Sayang?” ujar Alexy.


“Hem,” jawab Princess tanpa menoleh.


“Esok kita ke Indonesia, ya?”


“Untuk apa?”


“Kita menemui Mama dan Papa untuk mengurus perceraian dengan istri pertamaku,” ujar Alexy.


Jtrek!


Princess mematikan kompor.


“Mas yakin, sudah siap?”


Alexy mengangguk.


Hening.


“Tidak mungkin juga kita harus hidup seperti ini. Ingatanku pun sudah hampir kembali semuanya. Aku telah mengingat apa yang terjadi sebelum aku kecelakaan waktu lalu.”

__ADS_1


“Kalau Mas siap. Aku ikut saja,” ujar Princess.


Princess memasukkan nasi goreng ke dalam piring. Mereka berdua sarapan pagi bersama sambil mengobrolkan rencana mereka esok hari.


__ADS_2