
Malam semakin larut, udara cukup dingin malam itu. Rendy masih betah berada di kamar. Walaupun Meli beberapa kali membujuknya untuk keluar dari kamar. Namun, Rendy begitu banyak alasan. Mulai dari badan yang capek, mengantuk dan alasan-alasan lain yang sesungguhnya kurang masuk alasan.
Meli, Jovanka dan Reynand masih menikmati teh dan camilan yang terhidang menemani kebersamaan mereka. Ruangan yang cukup besar itu terasa hangat walau hanya dinikmati bertiga saja. Ada keinginan dan harapan Reynand untuk dapat berkumpul bersama Rendy. Entah kapan, tapi Reynand percaya, hati Rendy lambat-laun akan luluh dan menerimanya.
Waktu menunjukkan jam sepuluh malam. Rey memutuskan untuk menginap di sana sebagai obat kerinduan untuk istrinya pada kedua orang tuanya.
"Rey, aku boleh ke kamar menemui Papa?" Jovanka bertanya dengan ragu.
"Boleh, dong. Tapi untuk saat ini aku tidak bisa menemanimu, ya? Aku tidak ingin memperkeruh suasana kebahagiaan malam ini."
Jovanka mengangguk.
"Ya udah, aku ke kamar Papa."
"Iya, Sayang. Aku mau ke kamar duluan, ya?"
"Baiklah, selamat malam, Sayang."
Jovanka ke kamar Papanya dan Reynand berpamitan pada Meli yang masih duduk di sofa.
"Ma, aku ke kamar duluan, ya?" ucap Reynand yang sepertinya sudah kecapean.
"Iya. Istirahatlah, Rey."
Reynand pun bangkit dari sofa tempat di mana dia duduk. Reynand berjalan menuju kamar di lantai dasar setelah berpamitan pada ibu mertuanya. Karena tubuh yang benar-benar capek, akhirnya pria bertubuh jangkung itu pun terlelap.
Sedangkan di kamar yang lain, ada Jovanka yang sedang mendekati papanya.
"Pa, boleh Jo bercerita sebentar?" ucap Jovanka begitu lembut.
"Iya. Mau bicara apa?"
"Mungkin Papa udah tau kehamilan Jo dari Mama. Tapi, di sini Jo ingin mengabarkan sendiri berita bahagia untuk Papa. Bentar lagi Jo akan menjadi ibu dan Papa akan menjadi Kakek," ucap Jovanka.
Jemari lentiknya menggenggam tangan Rendy yang sedang mengepal. Mata Rendy pun kini melirik pada wajah putrinya. Pria paruh baya itu melihat mata yang berkaca-kaca. Air mata kebahagiaan yang hendak turun, tapi ditahan.
Rendi tidak kuasa melihat putrinya menahan tangis itu. Dia memeluk erat putrinya dengan hangat. Pelukan yang telah lama Jovanka rindukan.
__ADS_1
"Selamat, ya Jo. Selamat kamu akan menjadi seorang ibu. Contohlah Mamamu. Dia wanita yang kuat tapi begitu sabar. Terlebih ketika menghadapi keegoisan Papa," ucap Rendy pada putrinya dengan begitu pelan.
Jovanka hanya mengangguk samar. Baju Rendy di bagian dada telah basah oleh air mata Jovanka. Air mata kebahagiaan itu kini meluap bersama dekapan hangat dari Rendy.
Percakapan antara anak dan ayah pun telah usai karena malam yang semakin larut. Jovanka berpamitan untuk ke kamarnya. Tidak berselang lama, Meli pun masuk ke kamar. Sedangkan Jovanka masuk ke kamarnya.
Jovanka membuka pintu kamar lalu menutup pintu tersebut dan berjalan ke arah suaminya yang telah masuk lebih dulu ke alam mimpi. Jo duduk di samping ranjang. Dia menatap wajah suaminya yang terlihat lelah dengan dengkur halus yang Jovanka dengar saat itu.
"Kasihan sekali kamu, Rey. Harusnya aku tidak egois untuk memintamu mengantar hari ini ke tempat Papa Mama. Aku harus belajar bersabar lagi ternyata. Setelah bertubi-tubi cobaan yang menyinggahi hidupku, ternyata belum ada apa-apanya." Jovanka bergumam.
Jovanka meraih tangan Reynand, dia mengecup lembut lalu membaringkan tubuh di sisi Reynand.
"Good night, Honey," bisi Jovanka yang tidak mendapatkan respons dari Reynand karena sudah terlelap sedari tadi.
Jarum jam terus berputar. Detik berubah menjadi menit, menit berubah menjadi jam dan seterusnya.
**
Malam menjelang pagi, Reynand masih terkapar di tempat tidur. Sedangkan Jovanka bangun lebih dulu. Badannya terasa panas dan dia berjalan ke kamar mandi sambil meraih handuk yang terlipat di dalam lemari kayu berwarna hitam.
Air dari shower membasuh tubuhnya. Perlahan, dia mengusap-usap tangan, kaki, leher dan bagian tubuh lainnya. Namun berbeda ketika dia belum hamil dulu. Di kamar mandi bisa berlama-lama. Entah itu berendam, luluran dan perawatan lainnya.
"Sayang?" Suara berat Reynand memanggil Jovanka.
"Iya?"
"Sini." Reynand menepuk-nepuk kasur di sampingnya dengan bibir tersenyum manis.
"Mau apa, sih?"
"Mau peluk."
"Idih ... malu, lah. Di sini ada Papa dan Mama juga."
"Pintu masih tertutup, tuh. Aku ingin memelukmu karena semalam tidak memelukmu. ku tertidur dan kamu malah tidak membangunkanku."
Jovanka tersenyum, dia bangkit dari kursi yang ada di depan meja rias menuju Reynand yang masih terbaring dengan posisi menyamping.
__ADS_1
Jovanka duduk di samping ranjang. Namun, tangan kekar Reynand meraih tubuh Jovanka dengan cukup kencang sehingga tubuh Jovanka kini terbaring tepat di sisinya.
"Idihh ... mau apa?" tanya Jovanka karena bibir Reynand sudah mengerucut seperti hendak menciumnya.
"Mau mencicipi istri yang udah mandi," ujar Reynand dengan bibir mengecup pucuk kepala Jovanka.
Jovanka mencium aroma tubuh Reynand yang menurutnya begitu menggoda. Padahal, dari kemarin Reynand dilarang mandi olehnya.
"Sayang ...." Reynand memanggil.
"Iya."
"Aku mau," bisik Reynand tepat di samping telinga Jovanka.
"Mau apa?"
"Anu."
"Aku apa, sih, Sayang. Gak jelas banget, deh."
Tanpa ada kata, Reynand bangkit dari ranjang. Dia berjalan ke pintu hanya untuk mastikan kalau pintu kamarnya telah terkunci dengan benar, lalu dia kembali ke tempat tidur mendekati Jovanka.
"Rey? Kamu mau apa?" tanya Jovanka ketika melihat tubuh jangkung Reynand berada tepat di tubuhnya saat itu tanpa menyentuh.
Bukan jawaban yang Reynand kasih saat itu. Pria itu malah mencium bibir Jovanka dengan lembut. Perlahan, bibir merah muda itu pun membalas ciuman Reynand. Keduanya saling menikmati, hingga akhirnya semakin dalam dan intim.
Perlahan, jemari Reynand membuka kancing piyama Jovanka yang baru saja dia pakai setelah mandi. Wangi sabun menguar dari tubuh Jovanka ketika kulit Reynand bergesekan dengannya.
Jemari Reynand mulai membuka seluruh pakaian yang Jovanka kenakan pun dengan dia. Kini, mereka berdua polos tanpa benang sehelai pun. Aktivitas yang membahagiakan itu pun terjadi. Surga dunia yang benar-benar mereka rasakan.
Kegiatan itu terhenti. Jovanka memeluk tubuh Reynand dengan napas yang masih memburu. Rey mengusap pelan peluh yang terlihat di dahi istrinya dengan lembut.
"Makasih, Sayang," bisi Reynand sambil mengecup telinga Jovanka.
Jovanka hanya bisa mengangguk kala bibir suaminya masih saja menggodanya dengan kecupan-kecupan kecil yang hangat.
"Mandi bareng, yuk?" ajak Reynand.
__ADS_1
"Enggak mau, nanti kamu macam-macam lagi."
"Enggak macam-macam. Paling itu doang. Apa lagi coba? Si Tikus masih bisa ini," ujar Rey sambil memainkan alisnya naik turun membuat Jovanka ingin segera berlari menghindari terkaman dari Reynand yang bisa saja terjadi ronde-ronde berikutnya.