Menikahi Janda Dokter

Menikahi Janda Dokter
Part 9 ( Cemburu )


__ADS_3

Hening.


“Oke! Gue percaya sama Lu, Vic. Tapi, Gue minta satu hal sama, Lu.” Pinta Rey.


“Paan?”


“Ini rahasia Kita berdua, jangan sampai Lu bocorin ke orang lain. Terutama temen-temen sekolah.”


“Termasuk, Jovanka?” tanya Vicky.


“Iya.”


Dengan berat hati, akhirnya Rey menceritakan keadaan keluarganya terhadap Vicky.


**Last back ke masa lalu.


Keluarga dari pasangan Reyfand dan Nadin merupakan keluarga bahagia. Di tengah kesuksesan dalam kehidupan yang dihiasi oleh kemewahan. Mereka juga dikaruniai sepasang anak kembar laki-laki dan perempuan.


Reynand Adam dan Rhiena Adam, adalah anak kembar dari mereka. Rey dan Nana tumbuh dewasa. Namun, setelah masuknya sekretaris Reyfand (papa Reynand) yang bernama Helena masuk dalam kehidupan mereka. Seketika, kehidupan harmonis keluarga mereka menjadi hancur karena kehadiran orang ketiga.


Nadin (mama Rey) memutuskan meminta cerai kepada suaminya karena ia tidak ingin dimadu. Ketika Rey dan Nana masih duduk di bangku SMP.


“Mas, ceraikan Aku sekarang juga!” Nadin berurai air mata setelah mendengar pernikahan suaminya bersama wanita yang bekerja sebagai sekretarisnya.


“Gak bisa, Nadin. Aku sangat mencintaimu!” Reyfand menolak permintaan Nadin, istrinya.


“Mas berbohong! Kalau memang Mas mencintaiku, kenapa Mas menikahi wanita lain lagi? Pokoknya Aku minta cerai!” Nadin terus memaksa.


Terlihat Rey dan Nana mengintip di balik pintu kamar. Mendengarkan suara pertengkaran dari papa dan mamanya. Nana menangis di pelukan Rey.


“Udah, Na. Abang ada buat Nana,” ucap Rey lirih menenangkan adiknya.


Rhiena terus menangis di pelukan Rey ketika melihat, bahkan mendengar pertengkaran papa dan mama mereka.


..


Akhirnya, perceraian itu pun terjadi. Menyisakan luka kepada semuanya. Luka pada Nadin yang akhirnya harus menerima bahwasanya ia menjadi seorang janda dan anak-anak mereka yang menjadi korban atas perceraian mereka.


“Reynand ikut sama Saya!” Pinta Reyfand.


“Gak bisa! Baik itu Reynand atau pun Rhiena, tidak ada yang boleh ikut bersamamu Mas. Mereka biar Aku yang urus!” Pungkas Nadin ketika mereka telah resmi bercerai.


“Reynand! Kamu ikut Papa! Kalau Kamu tidak mau, sepeser pun Papa tidak akan membiayai sekolahmu!” Ancam Reyfand.


“Rey lebih baik gak dibiayain sekolah sama Papa dibandingkan harus meninggalkan Mama yang telah melahirkan Rey dan Nana. Di sini, Mama juga jadi korban karena Papa lebih memilih wanita lain! Kenapa Rey harus memilih orang yang tega berbuat seperti itu?” Mata Rey menatap tajam papanya.


“Baiklah, kalau itu mau kalian. Ingat Rey, Papa berani jamin, suatu saat Kamu akan mengemis sama Papa untuk urusan keuangan!” ucap Reyfand lantang.


Rey tersenyum sinis mendengar ancaman dari papanya. “Uang bukan segalanya, pa!” timpal Reynand.


..


Setelah dua tahun perceraian kedua orang tuanya. Rey memilih untuk menjauh dari kedua orang tuanya. Ia memilih menyembunyikan identitasnya demi membuktikan kepada papanya kalau ia bisa membiayai sekolahnya sendiri tanpa bantuan siapa pun termasuk mamanya.


Rey memilih bersekolah di Kota Bandung yang tidak terlalu jauh dengan Kota Jakarta. Sehingga Rey masih bisa menjenguk mamanya kapan pun.


Rey selalu menahan rindunya bertemu mama dan adik kembarnya. Rey tumbuh menjadi laki-laki yang tangguh dan mandiri tanpa ada bayang-bayang keluarga Adam yang terkenal di Kota Jakarta.


***


Rey tertunduk ketika menceritakan tentang keadaan keluarganya kepada Vicky.


“Gue gak nyangka Rey! Lu punya pengalaman sejauh ini. Gue bangga punya sahabat kek, Lu! Sabar ya, Rey. Gue akan bantu Lu sebisa Gue,” ucap Vicky sembari menepuk pundak Reynand.


“Thank’s, Vic. Lu udah mau jadi sahabat sekaligus mau mendengar cerita Gue. Gue udah seneng banget. Thank’s Bro!”


Vicky dan Rey berpelukan. Vicky menepuk-nepuk pundak Rey sahabatnya, memberikan semangat untuk sahabatnya.


Hari Minggu itu menjadi hari terkuak tentang siapa Reynand.


Reynand yang ternyata berasal dari keluarga kaya raya di Kota Jakarta yang memilih untuk hidup sederhana dan ingin membuktikan kepada papanya bahwa uang, bukanlah segalanya.


.


Drett ... Drett ....


Gawai Vicky bergetar. Vicky mengambil gawai yang ia letakan di lantai kamar Reynand.


“Nomor gak dikenal.” Ucap Vicky sambil menggeser layar gawainya.


“Fans Lu kalik, Vick!” ucap Reynand.


“Jovanka?” ucap Vicky dengan mata membulat ketika membaca nama Jovanka pada hapenya.


Rey mendelik.

__ADS_1


“Vic, ini Jovanka. Sorry kalau Gue ganggu. Gue tau nomor hape Lu dari tetangga Gue yang sekelas sama Lu di sekolah. BTW, cewek yang semalem itu siapanya Rey, sih?” Vicky membacakan pesan dari Jovanka.


“Hahaha ... Rey, feeling Gue si Jovanka suka sama Lu, bro!” timpal Vicky.


“Mulai sotoy deh dengan perasaan orang.” Elak Reynand.


“Kalau iya?” Vicky menggoda Reynand yang kini pipinya menjadi sedikit merah jambu.


“Udah, Lu bales kek. Dia nungguin, tuh!” Perintah Rey mengalihkan.


“Hem ... Gue harus bales apa? Katanya gak boleh ada orang yang tau tentang siapa Lu?”


“Bales aja. Dia anak majikan Ibuku.”


“Gadis kemarin adalah anak majikan dari ibunya Reynand, ibunya Reynand menjadi asisten rumah tangga di rumah gadis itu.” Vicky membacakannya dan mengirimkan sebagai balasan dari pesan WA untuk Jovanka.


Percakapan lewat WA pun berkelanjutan, tapi Jo seperti tidak percaya. Sehingga, Vicky menyuruh menanyakan langsung kepada Reynand.


***


Aktivitas sekolah sudah dimulai. Rey dan Vicky mengikuti pelajaran di sekolah.


“Vic, sorry. Kemarin Gue kasih nomor hape Lu ke Kak Jovanka. Katanya penting,” ucap Eva teman sekelasnya.


“Iya gak papa, udah ngehubungin Gue kok,” ujar Vicky.


Waktu terus berputar. Pelajaran sekolah pun terus berganti, tibalah saatnya pulang dari sekolah. Semua siswa dan siswi berlarian ketika mendengar bel pulang sekolah. Canda tawa dari para siswa sekolah terdengar pecah ketika mereka telah bebas dari pelajaran yang mereka anggap memusingkan. Jiwa remaja mereka terkuak ketika sesama teman mengurai canda tawa bersama.


“Ayok, Rey!” Ajak Vicky ketika di parkiran.


“Lu duluan, Vic. Gue ada perlu di luar,” jawab Rey.


“Oke! Gue balik duluan ya? Kalau ada perlu, Lu kontak Gue aja.”


“Oke!”


Vicky berlalu dengan motor FUnya. Sedangkan Rey menunggu angkot di depan halte bus sekolah.


Tin .... (Bunyi klakson)


Kaca mobil yang berwarna hitam pun di turunkan. Terlihat gadis cantik berseragam putih-abu. Ia tersenyum.


“Lu ngapain, Rey? Kok sendirian?” tanya Jo yang membuka kaca mobilnya.


“Gue lagi nunggu angkot, Vicky udah Gue suruh balik duluan,” ucap Reynand menerangkan.


“Mau ke rumah tante Emi,” terang Reynand.


Mata Jovanka membulat. Heran.


“Mau ngapain?”


“Ada perlu,” ucap Rey yang terkesan mengambang.


“Ya udah, ikut Gue aja, yuk! Pan kelewatan rumahnya Tante Emi,” ucap Jo sambil membukakan pintu mobil.


Tanpa basa basi. Rey naik dalam mobil warna hitam itu. Melihat wajah Jo yang seperti canggung. Akhirnya Reynand memberanikan diri untuk bertanya.


“Lu kenapa, Kak?” tanya Reynand.


“Hah?”


“Kok seperti ada yang dipikirin?”


“Gak ada!”


“Jangan bohong.” Ucap Rey santai.


Hening.


Jo lebih fokus mengendarai mobilnya, sedangkan Rey lebih fokus melihat hapenya.


“Rey!” ucap Jo membuka percakapan.


“Hem.”


“Boleh tanya sesuatu?” tanya Jo dengan mimik wajah ragu.


“Paan?”


“Cewek yang kemarin itu siapa?”


“Rhiena?”


“Iya.”

__ADS_1


“Dia anak dari majikan Ibu Gue, kenapa?” Rey balik bertanya kepada Jo dengan santai.


“Gak papa sih. Berarti yang dikatakan Vicky bener dong?” ucap Jo dengan bola mata yang ia putar ke sudut matanya.


“Iya, pan Gue ada di situ.”


Wajah Jo memerah tatkala Rey mengetahui percakapannya dengan Vicky.


Di dalam mobil, menjadi hening. Tak ada lagi percakapan di antara mereka sampai mobil berhenti tepat di depan rumah tante Emi.


Rey membuka handle mobil, mendorong dan beranjak ke luar dari dalam mobil. Jo masih duduk melihat Rey yang tengah turun dari mobilnya. Seakan tak ingin kebersamaannya berlalu, Jo mengikuti membuka handle pintu mobil.


“Rey! Gue ikut, ya?” ucap Jo.


“Ayok! Ini kan rumah Tante Lu, Jo. Ngapain minta ijin sama Gue segala?” Rey tersenyum melihat tingkah Jo yang terlihat salah tingkah.


Jo tersenyum. Rona pipi yang semakin memerah karena dirinya ketahuan salah tingkah di depan Reynand.


‘Kenapa Gue malah se’absurd ini sih di depan Reynand? Bakalan ilfeel Dia sama Gue!’ gerutu dalam hati Jovanka.


“Ayok! Silakan Lu duluan. Pan Lu ponakannya.” Rey kembali tersenyum.


Jo melangkahkan kaki dan membuka pintu gerbang rumah tante Emi. Ia melangkahkan kakinya menuju pintu rumah tante Emi.


Ting ... Tong ....


Bel pun dipencet Jovanka.


Sesekali, Jo melirik ke arah Rey dan tersenyum. Semakin terlihat salah tingkah.


CKLEK (Pintu dibuka)


“Om? Udah datang?” seru Nourma.


“Om?” Mata Jovanka membulat, menatap Rey.


Rey mengangguk sembari tersenyum.


“Dek, panggilnya jangan Om. Kan Rey satu sekolah sama Kak Jo, masa disebut Om?” Mata Jo menyipit menatap Nourma.


“Om Rey aja gak keberatan kok. Iya kan Om?” tanya Nourma ketika menatap mata Reynand.


“Iya, sayang. Senyamannya Kamu aja,” jawab Reynand.


“Ya udah! Terserah!” Jo berlalu masuk ke dalam rumah.


Jo memperhatikan ketika Rey memberikan les matematika untuk ponakannya. Berkali-kali Nourma salah dalam mengerjakan soal. Tapi, tak sedikit pun lelah di wajah Rey untuk memberikan pengajaran dengan sabar.


Hati Jo semakin yakin, kalau Rey adalah pria baik yang bisa di jadikan pasangan hidupnya kelak.


Lamunan pun melayang entah ke mana. Jo membayangkan ia menjadi istri dari Rey. Ia masih bergulat dengan angan-angannya, ia membayangkan Rey sedang mengajari anaknya belajar matematika.


‘Eh! Gue ngehalu apaan, sih?’ ucap Jo dalam hati.


.


Tak berselang lama. Suara bel berbunyi.


“Siapa tuh?” ucap Reynand.


“Kayaknya itu Mama,” ucap Nourma.


“Ya udah, biar Om yang bukain. Nourma lanjut ngerjain tugas, ya?”


Nourma mengangguk dan kembali fokus mengerjakan pelajaran matematika yang Rey berikan.


Ting ... Tong ....


Bel berbunyi untuk yang ke dua kalinya. CKLEK, pintu rumah terbuka.


“Rey?” Mata sayu tante Emi membulat. Terlihat wajah lelah sehabis mengemban amanahnya yang bekerja sebagai dokter.


Rey tersenyum dan membuka pintu lebar, “Silakan masuk, Tan.’


Tante Emi melangkah masuk ke dalam ruang tamu, sedangkan Rey mengekor dari belakang. Ia tersenyum kepada Nourma yang tengah khusuk belajar. Tante Emi mendekati Nourma, bermaksud untuk mencium putri kecilnya yang beranjak ABG ini.


Namun, tiba-tiba tante Emi terpeleset, dengan spontan Rey menangkap tante Emi yang hampir terjatuh.


Netra tante Emi memandang Rey yang telah menghalaunya ketika hampir jatuh. Tante Emi dan Rey saling berpandangan dengan badan yang masih ditahan oleh lengan Reynand.


Dari arah dapur ada Jovanka yang mengambil air minum dalam gelas.


Jo terlihat kesal melihat adegan itu di depan matanya. Untuk yang ke dua kalinya, Jo dibuat cemburu oleh Reynand.


Bersambung..

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


JANGAN LUPA LIKE/KOMEN/VOTE Ceritannya, karena itu merupakan hadiah terindah untuk Penulis🙏😁


__ADS_2