
Kedua mata laki-laki itu kini tertuju menatap Jovanka. Keadaan pun menjadi hening seketika.
“Jo rela kalau Papa tidak merestui hubungan Jo sama Rey!” ujar Jovanka lirih dengan berurai air mata.
“Jo! Apa maksud kamu? Bukankah kita akan memperjuangkan cinta kita bersama?” ujar Reynand.
Hening.
“Jo?”
Meli mendekat dan berdiri tepat di samping Jovanka.
“Ungkapkan apa yang kamu inginkan, Nak!” ujar Meli dengan lantang tapi dengan wajah yang tenang.
“Mama!” pekik Rendy.
Jo masih tertunduk.
“Katakan, Nak! Semua keputusanmu, Mama setujui!” ujar Meli lagi.
“Mama! Kamu apa-apaan sih?!” bentak Rendy.
Meli tidak bergeming dengan bentakan suaminya. Baginya, ia ingin melihat putrinya bahagia, bukan menuruti ego suaminya yang tanpa alasan membenci dan tidak merestui hubungan putrinya dengan Reynand.
“Katakan, Nak! Jangan takut,” ujar Meli bersuara pelan dan halus.
“Sebenarnya, Jo ....” katanya terhenti saat Rendy membentaknya.
“JOVANKA!” bentak Rendy.
“Jangan dengar ucapan Papa. Dengar suara hatimu, Sayang!” ujar Meli.
Perdebatan itu terjadi antara Rendy, Meli dan Jovanka. Sedangkan Rey memilih untuk diam. Bukan tidak ingin memperjuangkan cintanya. Tetapi, dirinya juga bingung dengan alasan Rendy yang tidak pernah memberi tahu perihal kebencian Rendy terhadap dirinya.
“MELI!”
Pekik Rendy semakin menjadi, hingga menyebut nama istrinya.
Tes!
Air bening jatuh di pipi Meli.
“Jo sayang sama Rey, Pa!” pekik Jovanka, “Dan Jo mau menikah dengan dia!”
Hening.
Meli memeluk Jovanka.
Tubuh Jovanka bergetar ketika dipeluk oleh Meli. Kepalanya pusing dan pandangannya bertambah gelap setelah Jovanka menjawab semua yang ada dalam hatinya.
Gubrak!
Akhirnya Jovanka pingsan.
“Jo! Bangun sayang!” ujar Meli sambil menepuk-nepuk pelan pipi putrinya.
“Jo!”
Rey menghampiri.
“Jangan sentuh anak saya!” pekik Rendy.
Rey tidak memperdulikannya.
Ia menggendong Jovanka lalu masuk ke dalam mobil. Rey tidak mendengarkan teriakan Papanya Jovanka karena dalam hatinya hanya ingin Jovanka baik-baik saja.
“Maaf Jo, walau nanti Papamu akan membenciku. Aku sudah siap! Yang jelas, kamu selamat Sayang!” ujar Rey ketika sedang melesat kencang dalam mobil menuju rumah sakit.
***
Ddrrttt!
Ponsel Rendy bergetar.
Ia meraih ponsel dari saku celananya.
“Bu Nadin?”
Rendy langsung mengangkat telepon dari Nadin.
[Halo, Bu Nadin? Ada yang bisa saya bantu?] ujar Rendy yang seperti tidak ada beban.
[Pak Rendy, ada berkas yang belum ditandatangani, tadi saya lupa memasukkan lembar ini di dalamnya. Apakah Pak Rendy ada di apartemen?]
[Ada, Bu.]
[Ya sudah, saya akan ke apartemen Bapak.]
[Tidak usah, Bu. Saya saja yang ke kantor Ibu. Saya minta alamat kantor Ibu Nadin saja.]
[Oh ... Seperti itu? Tapi, saya lagi tidak di kantor Pak. Saya lagi ada di DK restoran.]
[Ya sudah, Ibu tunggu di sana saja. Biar saya yang menemui Bu Nadin di sana.]
__ADS_1
[Baiklah, saya tunggu! Selamat siang!]
Telepon tertutup.
Rendy bergegas untuk bersiap-siap ke DK restoran. Ia mengenakan kemeja yang didobel dengan jas dan mengenakan celana panjang. Tak lupa, ia memakai sepatu pantofel agar semakin terlihat resmi.
“Papa mau ke mana?”
“Mau ngurus pekerjaan, Ma.”
“Tapi, gimana dengan Jovanka, Pa?”
“Nanti Papa ke sana kalau maslah kantor sudah selesai. Lagian, Papa juga enggak tau laki-laki itu membawa Jovanka ke mana?”
Rendy berlalu pergi meninggalkan Meli. Rendy berjalan masih menggunakan tongkat, lalu ia melesat dengan menggunakan taksi menuju DK restoran.
Awalnya, perjalanan cukup lancar. Hingga akhirnya memasuki area macet di pusat ibu kota.
Tin ... Tin ... Tin ....
Bunyi klakson mobil dan motor saling bersahutan di tengah terik sang matahari dan kemacetan di kota ini.
“Bang, gak ada jalan alternatif?” ujar Rendy yang sudah tidak sabar.
“Ini jalan terdekat untuk sampai di DK restoran, Pak.” Jawab si sopir taksi.
Rendy mengangguk.
Ia mencoba bersabar dalam mobil taksi itu. Karena jalanan sangat macet, mobil yang sedang ia tumpangi pun tidak dapat bergerak.
Sial! Bisa malu sama Bu Nadin kalau sampai telat! Umpat hati Rendy.
Ia membuka ponselnya lalu mengirimkan pesan pada Nadin yang memberitahukan bahwa dirinya akan sedikit telat karena perjalanan macet.
Balasan pesan pun masuk. Rendy tersenyum lega karena Nadin bersedia menunggu.
Susah payah menembus kemacetan, akhirnya taksi itu sampai juga di DK restoran. Terlihat Nadin sedang memainkan hand phone. Ada piring dan gelas yang sudah kosong di depannya. Rendy menghampiri.
“Siang, Bu? Maaf saya terlambat,” ujar Rendy berbasa-basi.
“Eh ... Pak Rendy. Iya gak papa, silakan duduk, Pak! Mau pesan apa?”
Rendy pun menarik kursi lalu duduk, tepat di hadapan Nadin yang terhalang oleh meja.
“Tidak usah, Bu. Saya ‘kan cuma sebentar,” tolak Rendy.
“Beneran?”
“Iya, gak usah, terima kasih.”
Rendy mengambil selembar kertas dan membacanya dengan teliti.
Semuanya sesuai dengan harapan. Ia merasa diuntungkan dalam perjanjian itu. Akhirnya berkas itu ditandatangani.
“Ini, Bu!”
Rendy menyerahkan berkas yang telah ditandatangani.
“Baiklah. Oh iya, kira-kira Pak Rendy sudah siap masuk kerja kapan? Esok hari, kantor sudah beroperasi. Beberapa staf kepercayaan saya pun akan diterjunkan ke sana agar perusahaan baru itu cepat berkembang,” ujar Nadin.
“Saya sudah siap, Bu. Tapi, gak papa ‘kan, kalau saya masih memakai tongkat untuk bantuan saya berjalan?”
Nadin tersenyum, “Tidak masalah, Pak. Untuk hari-hari awal, mungkin Bapak hanya memeriksa dokumen dari staf karyawan lain,” ujar Nadin.
“Baik, Bu. Bolehkah saya tau alamat kantor baru itu?”
“Boleh. Apa Bapak ada waktu? Sekarang saya akan meninjau kantor baru di sana. Kalau Bapak ada waktu, mari ikut bersama saya.”
“Baiklah.”
Rendy dan Nadin berjalan ke luar dari restoran itu berjalan berdampingan ke tempat parkir.
Kedua pintu mobil telah terbuka dan Nadin memegang kendali, melesat ke kantor baru itu bersama Rendy.
Hingga akhirnya, mereka telah sampai di kantor yang cukup besar untuk kriteria kantor baru, fasilitasnya sudah bagus. Nadin dan Rendy berjalan ke dalam kantor baru itu. Semua terlihat rapi. Tata ruang sudah sangat sempurna. Nadin memang sangat berpengalaman di dunia bisnis. Tak ayal, tata letaknya pun dibuat sangat rapi.
“Gimana Pak Rendy? Menurut Bapak, kurangnya apa? Biar saya memperbaiki atau menambahkan,” ujar Nadin.
“Semua sudah apik kok, Bu. Sangat rapi, enak dipandang kalau saya sebagai customer atau rekan bisnis. Tempatnya nyaman,” puji Rendy.
Mereka terus berkeliling ke tiap sudut kantor, cukup lama berada di sana sambil berbincang tentang kantor baru itu.
“Kapan tepatnya kantor mulai beroperasi, Bu?”
“Hari Senin esok, Pak.”
“Baiklah, saya akan masuk kerja Senin esok hari, Bu. Oh ... Iya, Bu Nadin panggil saya Rendy saja. Saya kan hanya karyawan Ibu, bukan partner kerja lagi,” ujar Rendy.
Nadin tersenyum, “Sudah kebiasaan, Pak. Tidak apa-apa lah. Toh kita memang pernah menjadi rekan bisnis. Jalan seperti dulu saja, biar nyaman.”
Rendy tersenyum.
Hari sudah sore. Nadin dan Rendy memutuskan untuk kembali pulang. Nadin pun mengantarkan Rendy pulang dengan mobilnya.
__ADS_1
Mereka masih mengobrol tentang perusahaan baru itu. Tentang struktur kerja dan pengoperasiannya. Hingga akhirnya Nadin memberhentikan mobilnya karena melihat sosok gadis yang ia kenal.
“Princess?”
Nadin segera menepikan mobilnya.
“Sebentar ya, Pak?” ujar Nadin pada Rendy.
Rendy mengangguk dan Nadin turun dari mobilnya.
“Princess?” sapa Nadin.
“Tante Nadin?”
Mata Princess membulat.
“Kamu sedang hamil?” ujar Nadin ketika melihat perut Princess yang sudah kelihatan sedikit membuncit.
“Iya, Tan. Princess udah nikah waktu di Singapura,” terangnya sambil meringis.
“Oh ... Kamu mau ke mana, Nak?”
“Mau ke rumah sakit, Tan. Perut Princess sakit.”
“Ya sudah, Tante antar ke rumah sakit.”
“Gak usah Tante, Princess tunggu taksi aja. Enggak enak ngerepotin,” tolaknya halus.
“Enggak repot. Ayok! Takut terjadi apa-apa,” ujar Nadin.
Akhirnya Princess pun mendengar dan menerima ajakan Nadin untuk diantar ke rumah sakit.
“Maaf Pak Rendy, kita antar Princess ke rumah sakit dulu, ya?” ujar Nadin.
“Baik, Bu!”
Nadin melesat membawa mobil itu dengan kecepatan tinggi karena ia melihat Princess yang sudah kesakitan sambil memegangi terus perut buncitnya.
Sampailah mereka di rumah sakit. Rendy memilih menunggu dalam mobil, sedangkan Nadin menemani Princess masuk ke dalam rumah sakit.
Rendy tidak mengenal Princess padahal waktu perceraian Jovanka, Princess turut serta di persidangan itu. Mungkin karena Princess sekarang bertubuh agak gemuk, atau mungkin Rendy yang tidak memperhatikan Princess waktu lalu, karena ia terlalu emosi dengan mantan menantunya yang bernama Alexy, sehingga Rendy tidak menyadari Princess itu istri dari mantan suami putrinya.
.
Princess sudah ditangani dokter, keadaannya berangsur membaik.
“Suamimu ke mana, Princ?” tanya Nadin.
“Mas Alex lagi beli tiket untuk ke Bandung, Tan. Tadinya Princess gak kenapa-kenapa. Makanya Mas Alex pergi untuk mengurus tiket pemberangkatan kami hari esok.”
“Suamimu udah tau kamu di rawat di sini?”
“Udah, Tan. Barusan Princess hubungi, Mas Alex lagi perjalanan ke sini,” ujar Princess yang sudah membaik.”
“Maaf ya, Princ. Tante harus segera pergi. Gak enak sama Pak Rendy, rekan kerja Tante.”
“Oh ... Iya, gak papa, Tan. Makasih ya, Tan, udah antar Princess?”
“Iya, Sama-sama, Sayang!” Nadin mengusap kepala Princess. “Tante, pulang, ya? Cepat sembuh, Sayang.” Nadin berlalu pergi.
Nadin kembali ke parkiran dan masuk ke mobil.
“Maaf, Pak. Jadi menunggu lama,” ujar Nadin merasa tidak enak pada Rendy.
“Iya, gak papa, Bu. Oh iya, bisa antar saya ke rumah sakit, Bu?” ujar Rendy.
“Loh ... memang Bapak sakit apa?”
“Bukan saya, tapi putri saya. Barusan istri saya kirim pesan alamat rumah sakit tempat putri saya di rawat,” ujar Rendy.
Nadin pun meluncur menuju alamat rumah sakit yang diberitahu oleh Rendy. Tetapi di tengah perjalanan Rhiena mengirim pesan pada Nadin untuk menyuruhnya pulang.
Rhiena memang manja terhadap Mamanya sedari kecil. Seandainya Nadin telat datang rumah, terlebih rumah itu kosong. Tidak ada Mama atau Abangnya, karena Rhiena seorang yang penakut.
Akhirnya sampai juga di rumah sakit. Rendy pun ke luar dari mobil Nadin.
“Pak Rendy, maaf saya tidak bisa menjenguk putri Bapak. Saya harus segera pulang,” ujar Nadin yang sebenarnya merasa tidak enak.
“Iya, gak papa, Bu. Ibu pulang saja. Makasih untuk semuanya ya, Bu?”
“Sama-sama, Pak. Mari?”
Nadin meluncur pergi.
Rendy masuk dan menghubungi nomor Meli. Meli pun memberi tahu kamar rawat inap putrinya.
.
Di dalam sana, Jovanka masih belum sadar. Ada Meli dan Rey yang setia menunggu Jovanka.
Ceklek!
Pintu kamar inap Jovanka terbuka.
__ADS_1
“Om Rendy?”
Mata Rey membulat.