
Rey akhirnya mendapatkan pekerjaan baru di sebuah Cafe sebagai barista setelah melepaskan pekerjaannya sebagai guru les matematika. Tidak sia-sia ketika ia di Jakarta belajar kepada sahabatnya cara membuat kopi ala Cafe.
“Mbak, kapan Saya mulai bisa masuk kerja?” tanya Reynand.
“Hari Senin aja ya, Rey? Tapi, apa Kamu tidak kelelahan setelah sekolah harus kerja sampai malam di sini?” Mata Vina mendelik.
“Bisa diatur, Mbak.” Rey meyakinkan.
“Kamu masuk jam empat sore sampai jam sepuluh malam ya, Rey?”
“Siap, Mbak. Tapi, Boleh gak bawa buku sekolah?” Pinta Reynand.
“Iya. Asal Kamu bisa atur waktu, gak ada masalah,” ujar Vina.
Reynand kemudian pamit pulang setelah semuanya jelas. Masih ada beberapa hari ke depan untuk mulai kembali bekerja.
Rey memacu motor FU bergegas pulang ke kost. Hatinya kini bahagia. Karena, ketika ia melepaskan pekerjaan sebagai guru les, ia langsung mendapat gantinya. Ia mempunyai pekerjaan yang baru.
Rey menunggangi si kuda besi dengan santai. Sambil sesekali mengembuskan napasnya agak kencang. Rey tersenyum karena ia merasa tidak sendirian berada di Bandung.
Rey langsung memasukkan motor dalam garasi kost dan langsung menuju ke kamarnya. Ia melirik ke kamar Vicky yang telah gelap.
“Besok lagi, lah. Kasih kunci motornya. Sepertinya Vicky telah tidur,” ucap Rey sambil membuka kunci pintu kamarnya.
Rey masuk dalam kamar, ia menghempaskan tubuhnya ke atas kasur lantai. Malam ini terasa sangat gerah. Rey membuka kaca jendela kamarnya. Ia menatap langit malam yang hitam dan menatap jalanan yang menjadi sepi karena telah larut malam.
Sengaja Rey membuka kaca jendela kamarnya. Ia membaringkan kembali tubuhnya di atas kasur lantai. Tak berselang lama, Rey tertidur dan hujan pun turun dengan derasnya.
.
“Rey, bangun!” Vicky memanggil sambil mengetuk pintu kamarnya.
Hening.
Vicky semakin kencang mengetuk pintu kamar Reynand, “Bangunnn, Woy!”
CKLEK. Pintu kamar terbuka
HOWWAAMMM, Vicky di sambut dengan bibir yang terbuka lebar karena menguap.
“Ada apa, Vic? Howamm ....” Rey masih menguap.
“Tutup, tuh mulut! Cari makan, yuk?” ujar Vicky.
“Ogah! Gue masih ngantuk!”
“Ya udah, Lu mau titip apa? Entar Gue yang berangkat.” Tutur Vicky yang telah sembuh dari sakitnya.
“Nasi telur aja, Gue lagi gak punya duit! Bentar, Gue ambil kunci motor, Lu.” Rey ngeloyor masuk dalam kamar dan membawa kunci motor Vicky.
***
Di sisi lain, ada Alexy Abinaya yang dikejar untuk cepat-cepat menikah oleh kedua orang tuanya. Ia merasa bingung dengan keadaan ini. Sempat ingin menjalin hubungan dengan kepura-puraan. Tapi, itu bukanlah sifat Alexy yang memang benar-benar serius untuk menjalin suatu hubungan.
“Lex, sampai kapan Kamu akan hidup membujang?” tanya Michael yang tak lain papa dari Alexy.
“Alex juga ingin berumah tangga, Pa! Tapi, kalau belum ada jodohnya gimana?” ujar Alexy.
“Ya udah. Apa susahnya kalau Kamu terima tawaran Papa? Menikahlah dengan wanita pilihan Papa dan mamamu!”
“Enggak, Pa! Alex mau mencari calon istri sendiri!”
“Tapi sampai kapan? Usiamu sudah lebih dari cukup untuk menikah, Lex!”
Perdebatan itu terjadi hampir tiap hari dalam kehidupan Alexy. Ia terus dipaksa menikah oleh kedua orang tuanya.
Memang, dari fisik Alexy sungguh sempurna di mata banyak wanita. Ia seorang dokter. Mempunyai wajah tampan, berkulit putih, hidung mancung dan mempunyai perawakan yang cukup tinggi. Ia besar di keluarga dokter. Papa dan mamanya juga seorang dokter. Tak ayal, Alexy tumbuh dewasa mengikuti jejak papa dan mamanya.
Ia menjadi dokter dan kini, ia tengah sibuk menggeluti karier sebagai seorang dokter dan membuka klinik yang sekarang mulai dikenal orang. Sikapnya yang begitu ramah membuat siapa pun terpesona akan keramahan dokter tampan itu. Namun, belum ada wanita yang dapat menaklukan hati Alexy.
Apabila telah ribut begitu, Alex biasanya pergi ke Cafe untuk minum secangkir kopi dan menikmati kesendiriannya di sana. Ia membawa mobilnya menuju Cafe favorit-nya.
.
SRET. Mobil terparkir di sebuah Cafe.
Ting! bunyi lonceng yang menandakan bahwa pintu terbuka.
“Malam Pak Alex,” ucap salah satu waitrees di cafe itu.
Alex tersenyum dan memilih meja tempat favorit-nya.
__ADS_1
“Ristretto Bianco Grande, satu!”
“Baik! Ditunggu sebentar ya, Pak!” Waitrees berlalu pergi setelah mencatat menu kopi.
««Sedikit menjelaskan, Ristretto Bianco Ini diperkenalkan waktu musim gugur 2013, Espresso yg sedikit ‘elit’ karena bikinnya juga lumayan rumit dan namanya keren. Ristretto Bianco diseduh dari double shot Ristretto, susu full cream yang diolah jadi busa lembut, terus dituang langsung sampi akhirnya membentuk signature berupa titik putih di tengah gelas hasil dari susu yang menguap. kopi ini seduhan antara Kopi Sumatera sama Kopi Guatemala, rasanya agak sedikit pahit dan aromanya lebih perfek ke coklat (bau coklat dari kopi Guatemala). Sedangkan Grande itu ukuran gelas/cup yang berarti Medium.««
Tidak menunggu terlalu lama, akhirnya waitrees datang membawakan pesanan Alexy.
“Ristretto Bianco, Grande. Selamat menikmati,” ucap si waitrees tersenyum ramah.
“Makasih.”
Alexy mengambil gelas yang berukuran sedang itu dan mencium aroma kopi yang menurutnya menenangkan. Ia mulai sedikit menyeruput kopinya perlahan. Rasa pahitnya lebih mendominasi pada kopi ini.
Sesekali Alexy memejamkan matanya dan menyenderkan punggungnya pada kursi, terasa nyamannya dalam keadaan tertekan disuruh menikah oleh kedua orang tuanya.
Drett ... Drett ....
Gawai di atas meja cafe bergetar. Alexy melihat pada layar gawai.
Emillia Calling ..
‘Halo ....’ Alexy mengangkat telepon.
‘Lex, Kamu di mana?’ Suara dalam telepon dari seberang sana.
‘Lagi di Cafe, tempat biasa.’
‘Ngapain?’
‘Nongkrong aja, kenapa?’ Alexy bertanya.
‘Aku mau curhat, bisa?’
‘Ya udah, sini aja.’
Tut! Panggilan telepon terputus.
Alexy melanjutkan minum kopi kegemarannya. Rasa pahit dalam kopi penawar stres untuknya. Hanya kopi ini lah yang selalu menemaninya dikala tertekan masalah tuntutan perkawinan dari kedua orang tuanya.
Tak berselang lama. Emillia datang dengan menggunakan rok pendek dan atasan kemeja slim fit yang memperlihatkan lekuk tubuhnya.
“Hai, Lex ....” sapa Emillia.
“ Green Tea Latte, Grande,” ucap Emillia singkat.
Alexy memesankan pesanan Emillia. Oh iya, ««Green Tea Latte ini dibuat dari bubuk teh hijau (Matcha), susu dan air. Ada yang menambahkan lagi gula, bagi yang suka.««
“Ada apa, Mi?” tanya Alexy.
“Anakku ngambek, Lex.”
“Kenapa?”
“Guru les nya udah gak ngajar lagi, ternyata Anakku suka sama dia.” Emillia menceritakan.
“Reynand, maksudnya?”
Emillia mrngangguk.
Alexy tak bisa menahan tawanya. Ia tertawa walau sedang ada masalah dengan orang tuanya.
“Ish! Malah ngetawain!”
“Lucu, Mi! Ibu dan anak sama-sama suka dengan laki-laki yang sama, hahaha ....” Alexy tak bisa menyembunyikan tawa dari sahabatnya.
Emillia memonyongkan bibirnya karena sahabatnya malah menertawakan curhatannya.
“Ya udah, ya udah. Aku minta maaf, Mi.” Alexy tersadar kalau sahabatnya sedang merajuk.
Emillia masih merengut. Ia masih merasa kesal pada sahabatnya ini.
Hening.
.
“Mi,” ucap Alexy memecah keheningan.
Emillia mendongak tanpa ada kata dari bibirnya.
“Menurutku, Kamu itu hanya kesepian, Kamu itu bukan jatuh cinta. Aku merasa, Kamu masih cinta terhadap mantan suamimu.” Alexy mengutarakan pendapatnya.
__ADS_1
“Kok Kamu bisa bicara seperti itu?” tanya Emillia.
“Ketika Kamu membicarakan Rey, itu seperti sedang membicarakan orang yang sedang nge-fans sama dia bukan cinta, Mi.”
Hening.
Emillia merasakan kalut dalam hatinya. Satu sisi memang iya, kalau Emillia memang suka terhadap Rey. Tapi, apakah rasa suka ini berujung cinta atau kah hanya nge-fans semata? Seperti pendapat dari sahabatnya itu.
“Green Tea Latte, Grande.” Waitrees itu menyajikan minuman yang telah Emillia pesan.
Emillia terperanjat dari lamunannya. Ia tersadar ketika pelayan cafe itu berbicara.
“Oh, iya. Makasih, Mbak.” Emillia tersenyum.
Akhirnya, Emillia dan Alexy kembali berbicara dengan di temani minuman favorit mereka. Menghabiskan malam ini untuk bercerita tentang permasalahan hidup mereka.
Emillia kembali pulang, sedangkan Alexy masih bertahan di dalam cafe itu. Biasanya, ia pulang menjelang cafe tutup. Ia merupakan salah satu pelanggan dari cafe itu. Tak ayal, seluruh karyawannya tau. Bahkan, Vina pun mengetahui tentang Alexy si pelanggan tetapnya.
Ting! Pintu cafe terbuka.
Alexy menoleh ke pintu. Ia melihat gadis cantik berambut panjang yang diikat bak ekor kuda.
“Malam, Naura ....” sapa salah satu waitrees.
“Malam, Mbak. Aku pesan Signature Chocolate Grande, tapi bawa pulang, ya? Udah larut malam soalnya.” Pungkas gadis itu.
««Signature Chocolate merupakan minuman full coklat yang ditambah whipped cream dan lumuran sirup coklat di atasnya.««
Alexy memandang dengan mata yang melebar. Ia melihat wanita yang beranjak dewasa. Wajah yang cantik, berkulit putih dan mempunyai mata yang sedikit besar. Begitu indah sorot mata dan senyumannya. Ia terpana oleh seorang wanita untuk yang pertama kali dalam hidupnya.
Alexy terus memandangi gadis itu di mejanya. Ada rasa ingin tahu dalam dirinya. Pertemuan awal yang membuatnya seakan terhipnotis oleh seorang wanita.
Alexy tetap berada di mejanya. Ia hanya mengamati gadis itu dari jarak yang cukup jauh. Ia melihat keakrabannya bersama karyawan di cafe itu. Senyumnya menghiasi bibir indah yang berwarna merah jambu itu.
Tak berselang lama. Gadis itu akhirnya berlalu, ia tak terlihat lagi dari pandangan Alexy, ia telah menghilang.
Alexy menghampiri para waitress yang tengah berkumpul di satu meja, ia bermaksud mencari informasi tentang gadis itu yang membuat hatinya penasaran.
“Udah beres, Pak?” tanya salah satu waitress.
“Iya. Tapi, Saya boleh nanya enggak?” ucap Alexy.
“Iya. Tanya apa, Pak?”
“Yang tadi itu siapa, ya? Yang barusan memesan Signature Chocolate Grande,” ucap Alexy.
“Oh ... Dia salah satu pelanggan Kami, Pak. Seperti Pak Alex juga. Namanya Naura.”
“Oh ... Apakah ia sudah bekerja?” tanya Alexy lagi.
“Belum, Pak. Dia masih sekolah SMA.”
“Oh ... Ya udah, makasih, ya?” Alexy mengeluarkan uang berwarna merah tiga lembar.
“Ini kebanyakan, Pak.”
“Gak papa, bagi-bagi aja buat yang berjaga malam ini. Makasih informasinya, ya?” ucap Alexy.
“Waahhh ... Sama-sama, Pak. Makasih juga uang tips-nya!”
Alexy tersenyum dan meninggalkan cafe itu.
***
Alexy memacu mobilnya dengan hati yang ceria. Ada debar dari laki-laki dewasa ini ketika melihat sosok gadis remaja yang cantik di cafe itu.
Ia memacu kendaraannya dengan santai sembari tersenyum layaknya seorang lelaki yang tengah dimabuk cinta.
Ia memarkirkan mobil ke dalam garasi dan bergegas menaiki anak tangga untuk dapat sampai ke kamarnya. Ia merebahkan badannya dan menatap langit-langit kamar yang berwarna putih bersih.
Alexy membayangkan wajah cantik gadis yang bernama Naura. Gadis itu yang sudah membuatnya tidak dapat tidur malam ini.
“Naura! Kenapa Aku terus terbayang wajahnmu?” Pekik Alexy.
*Kok Gue kek berasa jualan minuman di part ini, ya? hajar terus. Lanjoddd aja, Guys!😅😅✌
..
Bersambung..
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE/KOMEN/VOTE Ceritannya, karena itu merupakan hadiah terindah untuk Penulis🙏😁