Menikahi Janda Dokter

Menikahi Janda Dokter
Part 69. Davin Penghibur Jovanka


__ADS_3

Jo duduk bersebelahan di samping Davin. Menikmati indahnya bias lampu malam yang terlihat dari atas bukit.


Ddrrrttt!


Ponsel Davin bergetar.


“Sorry ya, Jo. Gue angkat telepon dulu,” ujar Davin.


Jo mengangguk.


“Adara?”


Mata Davin membulat.


“Pacar kamu?” tanya Jovanka.


Davin mengangguk.


“Angkatlah, santai aja,” ujar Jovanka.


[Kak, lagi di mana? Katanya mau ajak aku jalan malam ini?] sedikit terdengar suara wanita dalam telepon itu.


Mati! Gue lupa gak hububgin Dara lagi! Umpat dalam hati Davin.


[Kok gak dijawab? Kak Davin denger aku 'kan?]


[I – Iya, maaf Dara. Kakak lupa kasih tau Dara. Kalau Kakak pergi ke Bandung.]


[Oh ... Ya sudah, tidak apa-apa, hati-hati ya, Kak?]


[Kamu gak marah, Dara?]


[Ngapain marah sama orang yang kita sayang?]


[Bener?]


[Iya, Dara gak marah kok. Ya udah, Dara mau belajar ya, Kak? Selamat malam!]


Tut!


Telepon tertutup.


Jovanka tersenyum.


“Ngapain lu senyum-senyum? Ledekin gue, ya?” sahut Davin sambil memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celana.


“Kamu pikir, gimana?”


Jo masih tersenyum, ia sudah mencoba menahan agar tidak tertawa di depan Davin.


“Lu ledekin gue!”


Sambil mencubit pelan hidung mancung Jovanka.


“Emang, hahaha ....”


Akhirnya tawa itu pecah dan senyuman di bibir indah itu kembali merekah.


“Mulai bisa lu ngetawain gue, ya?” ujar Davin.


Davin menarik lengan Jovanka sehingga tubuhnya hampir berdempetan. Netra Jo membulat ketika menatap mata Davin. Entah kenapa, mereka malah jadi salah tingkah.


Apa yang terjadi dengan mereka?


Entahlah, mungkin karena waktu yang mengizinkan mereka untuk berdua kala itu.


Tidak, tidak, ini hanya karena gue jauh dari Adara, umpat hati Davin.


Rey, kamu di mana sih? Aku gak mau terlibat rasa dengan orang lain, terlebih lelaki ini sudah mempunyai kekasih, umpat hati Jovanka.


Kadang karena kebersamaan juga bisa menimbulkan rasa yang berbeda. Dari sahabat mungkin juga jadi cinta. Jagalah hati untuk pasangan kalian. Karena rasa debar itu bukan karena rasa sayang saja. Bisa saja karena nafsu semata.


Ingat, dalam diri kalian punya dua sisi. Sisi baik dan buruk, tinggal kita yang memilih mau ikut si buruk atau si baik?


Pernikahan Jo waktu lalu karena memang perjodohan. Waktu itu, ia tidak memiliki perasaan apa pun terhadap Alexy. Mungkin karena mereka terasa diburu-buru menikah, karena kata orang tua Jovanka seiring waktu, sayang itu akan tumbuh.


Yupz, memang ada yang tumbuh dari hati Jovanka untuk Alexy. Rasa sayang? Entah, sayang, cinta, atau mungkin kasihan? Tiga hal itu hampir sama. Seperti rasa yang sedang Jovanka rasa sekarang, bisa saja ia merasa kasihan terhadap Alexy.


Byur!


Turun hujan lebat malam itu.


Davin langsung menarik Jo untuk berteduh di warung.


“Jo, maafin gue. Gue gak ada maksud apa-apa,” ujar Davin merasa tidak enak.


“Iya, aku juga minta maaf, Dav.”


“Oh, iya. Makan, yu?” ajak Davin, “Pliss! Gak usah nolak!”


Davin merapatkan kedua tangannya.


“Dih ... Siapa juga yang mau nolak? Orang aku aja udah kelaperan!”


Davin tersenyum, ia sedikit mengacak rambut Jovanka. Mungkin, cara itu yang ditunjukkan oleh Davin walau ia cuek tapi mempunyai care yang tinggi terhadap sahabatnya.


Makanan pun telah dipesan. Di malam ini, Jovanka ditemani hujan dan Davin. Orang yang paling ngeselin, yang dapat membuatnya tertawa.


Davin rela bolak-balik Jakarta-Bandung hanya karena care terhadap Jovanka. Memang dia seperti itu. Kalau sudah mempunyai sahabat, ia akan benar-benar peduli terhadapnya. Apalagi, Jovanka yang saat ini sedang terpuruk.


Pesanan pun sudah datang. Jo dan Davin makan malam bersama dengan ditemani rintik hujan malam ini.

__ADS_1


“Dav, kok pacar kamu gak curiga sama kamu. Gak nanya kamu lagi sama siapa, atau apa gitu?”


“Enggak. Dari dulu memang seperti itu. Makanya gue sayang sama dia.”


“Seperti gak punya rasa cemburu. Bukannya kalau tidak cemburuan itu berarti dia tidak ada rasa sayang, ya?”


“Kalau cemburu pasti ada. Tapi, selama gue jalan sama dia. Cemburunya wajar aja. Apalagi dia sekarang baru masuk SMA.”


“What?”


Davin tersenyum.


“Awalnya gue gak direstuin sama bokapnya, mungkin karena waktu lalu dia masih sangat kecil jadi gak boleh pacaran dulu.”


Kok ceritanya sama kaya aku? gak direstui orang tua, umpat hati Jovanka.


“Lalu sekarang, gimana? Kalian udah dapat restu?”


“Belum. Gue masih berstatus KOAS/dokter muda. Jadi gue gak berani ke rumahnya.”


“Kenapa?”


“Merasa gak pantas saja. Mungkin kalau sudah berstatus seorang dokter, gue bakal melamarnya.”


“Salut aku sama kamu, good luck ya, Dav!”


Davin tersenyum.


Setelah hujan berhenti, akhirnya Davin mengajak Jovanka pulang.


Kembali melesat dengan motor sportnya menuju rumah Jovanka. Motor melaju cukup kencang hingga akhirnya jam sembilan mereka sudah sampai di rumah Jovanka.


Jo turun dari motor begitu pun dengan Davin. Davin langsung berpamitan pada Mama Jovanka karena Papanya belum sampai rumah.


“Maaf ya, Tan. Kalau kaleman?”


“Iya. Makasih udah ajak jalan-jalan anak Tante ya, Nak Davin?”


“Sama-sama, Tan. Permisi,” pamit Davin.


Meli tersenyum, “Hati-hati!”


Davin berjalan ke halaman rumah dengan diikuti oleh Jovanka. Davin naik ke atas motor dan memakai helm.


“Dav, makasih, ya? Lagi-lagi, kamu yang hibur aku,” ujar Jovanka.


“Iya. Makanya, lu jangan sedih lagi. Biar gue gak sia-sia ngehibur lu.”


Davin mencubit gemas pipi Jovanka.


“Iya, aku usahain.”


“Oh, iya. Nanti lu KOAS mau di mana?” tanya Davin.


“Ya sudah. Tenangin diri lu, ya? Tapi ingat, jangan sampai bersedih lagi biar gue gak ngerasa sia-sia datang ke Bandung buat bikin lu tersenyum,” ujar Davin.


Jo tersenyum.


Kenapa sih, Dav. Walau kamu itu gak romantis, tapi perhatianmu itu seolah ngena ke hati? Umapt hati Jovanka.


“Gue balik, ya? Bye!”


Motor Davin melesat kencang menuju Jakarta.


***


Jam telah menunjukkan pukul satu dini hari. Davin sudah tiba di rumahnya. Rumah sederhana yang dulu terasa hangat ketika masih ada Papa dan Mamanya.


Ia masuk dalam kamar dan bergegas untuk tidur, mengistirahatkan badannya yang letih karena pekerjaan dan bolak-balik Bandung-Jakarta.


.


Drrttt!


“Shit! Siapa sih? Ganggu gue istirahat aja!” pekik Davin kesal.


Davin meraih ponsel dan melihat layar di ponsel itu.


“Rumah sakit? Ngapain mereka nelpon gue? Pan hari ini gue libur.”


Akhirnya Davin mengangkat telepon itu.


[Halo?]


Davin menyahut.


[Dav, kamu disuruh ke rumah sakit menghadap kepala bagian rumah sakit.]


[Mau ngapain? Hari ini kan gue libur. Apa gak bisa ditunda besok gitu?]


[Katanya harus hari ini juga, Dav. Pimpinan rumah sakit minta kamu datang jam delapan, langsung ke ruangannya.]


[Emang sekarang jam berapa, sih?]


[Yaelah, di rumah kamu gak ada jam gitu? Sampe nanya sama aku?]


[Elah, tinggal jawab aja, napa?]


[Heuh! Dasar Bujang! Jam tujuh lebih dua puluh lima menit!]


[Mati! Gue belum mandi, bye!]

__ADS_1


Davin melempar ponsel ke atas ranjang dan segera beranjak dari kamar tidur untuk bergegas mandi.


Davin langsung memakai celana jeans dan kemeja panjang yang ia lipat sampai sikut. Tak lupa juga ia membawa jas warna putih lalu melesat ke rumah sakit dengan kecepatan tinggi.


Sampailah Davin di rumah sakit. Ia buru-buru memarkirkan motor dan langsung berjalan memasuki koridor rumah sakit.


“Lima menit lagi! Mati gue kalau sampai telat, Ibu kepala rumah sakit kan paling galak, mati, mati gue hari ini!” gerutunya sambil berjalan.


“Dav, udah ditunggu!” pekik temannya.


“Iya, gue udah tau!”


Berjalan menaiki anak tangga dan akhirnya Davin sampai di depan ruangan kepala rumah sakit.


Tok ... Tok ... Tok ....


Davin mengetuk ruangan itu.


“Masuk!” terdengar suara tegas dari wanita paruh baya.


Ceklek!


Davin mendorong pintu, “Pagi, Bu?” sapa Davin.


“Hem ... Kurang satu menit, beruntung kamu! Duduk!” perintahnya.


Davin menarik kursi dan segera duduk di depan wanita paruh baya itu.


“Maaf, Bu. Ada apa, ya?” tanya Davin langsung menodong.


“Esok, kamu tidak di sini lagi!”


“Loh ... Kenapa, Bu?”


“Kamu di tempatkan di klinik bandara sebagai dokter penanggung jawab di sana.”


Davin mengernyitkan dahinya.


“Kamu sudah jadi dokter, bukan KOAS/dokter muda lagi. Saya sudah memberikanmu kepercayaan untuk menjadi dokter di sana. Jaga baik-baik kepercayaan yang telah saya berikan. Mengabdilah seperti sumpahmu sebagai seorang dokter,” pesannya.


“Baik, Bu. Terima kasih.”


Ihiyy! Semakin cepet waktu gue untuk ngelamar Adara! Umpat hati Davin.


***


Di sisi lain ada Rey yang baru naik pangkat.


Hari ini ia libur bekerja. Rey hanya menghabiskan waktu di dalam kamar.


“Bang! Libur itu keluar, main sono!” ujar Rhiena.


“Yaelah, Na. Abang males.”


“Gimana mau dapat pacar coba? Walau Abang itu ganteng, tapi kalau tiap hari berada di kamar terus. Cewek mana yang bisa lihat Abang?”


“Kata siapa gak ada yang lihat Abang? Ada! Gak cuma satu, Tiga orang malah,” jawab Reynand.


“Tiga? Mana? Siapa aja?”


“Nana, Mama sama Bi Weni.” Rey terkekeh.


“Dih!”


Rhiena ngeloyor pergi.


Rey melanjutkan memainkan gawainya di atas tempat tidur. Bukan memainkan medsosnya, ia hanya bermain game di mana suntuk atau capeknya dapat terobati. Kesepian yang melada lebih dari tiga tahun pun ia lupakan sejenak dengan bermain game. Tapi, setelah selesai, sepi itu kembali menghinggapi dirinya.


“ABANGGG!” pekik Rhiena mengagetkan.


“Apa sih, Na?”


“Princess, Bang! Princess!” entah Rhiena mau ngomong apa.


“Hadeuh! Mulai deh ngomongnya gak jelas!”


“Papa Mamanya meninggal!”


“What? Kok bisa?”


“Namamya juga umur, Bang!”


“Nana, Abang serius!”


“Cieee ... Perhatian,” ledek Rhiena.


“Serah!”


“Iya, iya. Jangan marah. Nih Nana tanyain, ya?”


Rhiena menelepon nomor Princess.


‘Nomor yang Anda tuju, sedang tidak aktif.’


“Halah, Bang. Malah gak aktif!”


“Ya sudah, kirim SMS aja. Nanti juga dia baca, barangkali hapenya lowbatt, Na,” ujar Reynand.


“Iya, Bang!”


Rhiena mengirimkan pesan pada Princess menanyakan kabar Mama dan Papanya.

__ADS_1


Rey dan Rhiena menunggu kabar dari Princess tetapi belum juga mendapatkan balasan.


Satu tanda tanya besar bagi Rhiena sebagai sahabat terbaik Princess, dia mengkhawatirkan sahabatnya itu.


__ADS_2