
Mobil telah melesat ke bandara. Jovanka dan Reynand sudah ada di tempat kerjanya masing-masing setelah perdebatan ronde tadi pagi berjalan dengan alot. Bibir Jovanka cemberut ketika dia berada dalam ruangan kerjanya.
Davin yang baru saja datang dan melihat wajah Jovanka yang muram, akhirnya pria itu mendekat lalu duduk di kursi pasien yang biasa datang ke kliniknya.
"Kamu kenapa, Jo?" Davin bertanya pada Jovanka, karena tidak biasanya Jovanka bersikap seperti itu.
Jovanka memang tidak terlalu cerewet seperti kebanyakan wanita yang dia kenal. Di depan matanya, Jovanka seorang wanita mandiri yang mampu menjalani hidupnya dengan segala luka yang pernah singgah saat dulu masih bersama Alexi.
Bukan Alexi jahat, semua itu terjadi semata karena Jovanka hidup bersama orang yang samasekali tidak dia cintai.
Kata orang, cinta itu akan datang karena terbiasa. Namun, tidak untuk Jovanka dan Alexi. Seberapapun baiknya Alexi di mata Jovanka. Tetap saja yang ada dalam hati dan otak wanita itu hanyalah Reynand Adam. Lelaki yang dulu dianggap paling nyeleneh, cuek dan dingin itu yang malah membuat hatinya merasa nyaman. Terlebih, ketika Jovanka diselamatkan dari Tristan yang mes*m.
"Eh, Dav. Sejak kapan kamu di sini?" tanya Jovanka yang tidak menyadari kehadiran Davin di hadapannya.
Davin tersenyum. Dia begitu paham dengan perasaan Jovanka seperti saat dulu ketika dia ada masalah bersama Alexi. Jovanka memang lebih memendam perasaan kesal atau kecewanya terhadap siapapun. Namun, ternyata Davin dulu dapat meyakinkan Jovanka untuk bercerita. Apakah hal yang sama akan terulang?
"Baru saja, kok. Maaf, aku masuk tanpa mengetuk pintu karena aku melihatmu sedang duduk dengan sorot mata kosong. Aku mengingat kejadian waktu lalu ketika kamu mempunyai hal yang tidak ingin kamu bagi terhadap siapapun. Apakah saat ini juga kamu merasakan hal yang sama? Kamu lagi kesal?" tanya Davin yang tidak dapat dijawab oleh Jovanka.
Dia memang sedang kesal saat itu ketika Rey meminta hak yang berlebihan padanya.
Kenapa dari dulu Davin selalu bisa menebak perasaanku? Dia memang cuek, tapi perhatian yang dia kasih buatku bisa sedikit mengurangi rasa kesal yang aku rasakan saat ini. Batin Jovanka ketika melihat wajah Davin.
Pria itu melirik dinding ruang kerja Jovanka. Di situ ada jam dinding yang tertempel baru saja akan menunjukkan jam setengah delapan pagi. Masih ada waktu untuk mereka berdua sebelum melakukan kewajibannya bekerja sebagai dokter di klinik tersebut.
"Ke kantin?" ajak Davin.
"Mau ngapain? Aku lagi enggak mau makan ataupun minum," jawab Jovanka lemas.
"Tidak usah makan atau minum. Tapi temani aku saja untuk menikmati secangkir teh hangat pagi ini," pinta Davin.
Jo menarik napas lalu mengembuskannya perlahan. Dia melihat raut wajah dewasa Davin dan akhirnya Jovanka bersedia ikut dengannya ke kantin.
"Mbak! Lemon tea hangat dua, ya!" Davin sedikit berteriak ketika dia baru datang di kantin.
__ADS_1
"Loh, kok, dua? untuk siapa?"
"Untukmu lah. Siapa lagi?"
"Ish! Aku, kan, udah bilang. Aku enggak mau makan atau pun minum, Dav."
"Tanggung udah dipesan. Minum saja enggak bakal gendut ini."
"Bukan itu."
"Haha ... iya, aku paham, kok. Tapi sudah terlanjur juga dipesan. Mubazir," kata Davin yang disambut embusan napas berat dari Jovanka.
Dasar, laki-laki sama aja! Udah Rey nyebelin. Davin juga sama! Ketus Jovanka dalam hatinya.
Davin dan Jovanka duduk di tempat biasanya. Tempat paling ujung yang sepi. Apalagi, pagi itu akan masuk bekerja, jadi kantin itu memang terasa sepi.
Sial, Davin malah diam-diam kembali mencuri-curi pandang untuk melihat wajah cantik Jovanka.
Ternyata dia masih seperti dulu. Cantik. Bahkan, sekarang semakin cantik. Batin Davin kala melihat Jovanka yang sedang terfokus pada ponsel yang ada dalam genggamannya.
Semilir angin yang masuk ke kantin tersebut membuat rambut panjang Jovanka sedikit tersibak dan wajah cantiknya begitu jelas di mata Davin.
Ya Tuhan ... semakin cantik. Batin Davin. Dia begitu terpesona akan kecantikan Jovanka.
Bibir Jovanka tersungging ketika dia berselancar di medsosnya dan hal itu membuat Davin semakin betah memandangi wajah Jovanka. Davin benar-benar lena saat menatap wajah cantik yang dari dulu begitu berkesan di hatinya.
"Dav?" panggil Jovanka yang membuat segala angan yang ada dalam lamunannya itu berantakan.
"Iya?" jawab Davin ketika dia menyadari bahwa wanita yang ada di hadapannya itu memanggil namanya. Mungkin saja Jovanka sadar telah diperhatikan oleh Davin.
"Itu lemon teanya cepat di minum, nanti kita balik ke klinik. Jam kerja kita akan segera dimulai," ucap Jovanka.
Davin menghela napas lalu mengembuskannya perlahan.
__ADS_1
Selamat ... aku kira Jovanka tau kalau sebenernya diam-diam aku memperhatikan wajah cantiknya. Arrgghhh ... kenapa rasa ini selalu hadir, Tuhan? Batin Davin ketika menyadari perasaan yang sepertinya belum usai. Rasa kekaguman akan sosok Jovanka yang cantik dan juga kuat di matanya.
***
Rey mendapati kabar baru dari Vicky. Dia yang sudah lama jarang terlihat kini dipindah tugaskan di Surabaya. Siang itu merupakan saat terakhir Reynand bersama Vicky karena esok hari Vicky harus terbang ke Surabaya demi tugas yang dia emban.
"Lu ke Surabaya itu untuk bertugas atau untuk ngejar adek gue, sih, Kuya?" tanya Reynand.
"Yang pertama karena tugas dan yang kedua karena jodoh gue ada di sana hahahaha ...." Vicky tertawa renyah.
"Dih! Awas aja kalau lu apa-apakan adek gue?!" ucap Reynand dengan nada mengancam.
"Ya enggaklah, Kakak ipar. Kalaupun gue berniat seperti itu, ya, dari dulu aja gue lakuin."
"Iya. Gue percaya sama lu. Tolong jaga baik-baik adik dan nyokap gue di sana. Entah berapa lama mereka menetap di Surabaya," ucap Rey pelan.
"Dih ... lu belum tau kalau Nana akan tinggal di sana?" tanya Vicky.
"Hah? Tinggal di sana? Mau ngapain?" Rey terkejut, karena baik ibu atau pun adiknya tidak ada yang memberi tahu akan hal itu.
Vicky akhirnya menceritakan tentang perusahaan yang dipegang oleh Rhiena itu telah dibangun dan semuanya sudah selesai. Pasar di sana responsnya sungguh baik dan mengharuskan untuk selalu dipantau oleh Rhiena karena ibunya belum mempercayai orang lain selain putrinya sendiri.
"Sesungguhnya gue duluan yang jauh-jauh hari sudah mendapatkan keputusan untuk dipindahkan ke Surabaya. Awalnya, Nana pun tidak menyetujuinya. Tapi, mau gimana lagi kalau sudah tugas dari pekerjaan?" ujar Vicky ketika bercerita pada Reynand.
"Oh ... berarti lu duluan yang ditempatkan di Surabaya?"
"Iya. Gue sengaja enggak kasih tau lu atau Nana. Karena gue kira hanya beberapa minggu saja bertugas di sana. Nyatanya keputusan mengharuakan gue untuk menetap di sana."
"Apa pun itu, yang penting terbaik buat lu, Vick. Gue tau lu orang baik. Tolong jaga adik dan nyokap gue yang kini masih di Surabaya."
"Rey, jangan marahin Nana, ya? Sebenernya dia sedang menunggu waktu yang tepat saja untuk nelepon lu. Mungkin baginya pun sulit mengungkapkan keadaannya saat ini. Karena gue tau, dia deket banget sama lu."
"Santai aja, Bro! Gue begitu mengenal watak adik gue." Reynand menepuk pundak Vicky.
__ADS_1
Tidak disangka Vicky dan Reynand harus terpisah. Mereka yang mengenal dari jaman SMA hingga bekerja cukup lama, akhirnya harus terpisah karena pekerjaan. Namun, jarak yang cukup jauh tidak akan terasa ketika silaturahmi masih tetap terjaga walau hanya sekadar virtual saja.