
“Sepertinya, lu gak mencintai suami lu, si Om-om itu!” ujar Davin.
“Kenapa kamu bilang seperti itu? Aku mencintainya, bahkan teramat menyayanginya!” pekik Jovanka.
“Kalau lu cinta, kenapa lu berteriak? Selow, baby!”
Berkali-kali, Davin terus menggoda Jovanka, walau terkesan cuek. Sebenarnya Davin itu care terhadap Jovanka. Buktinya, ia dapat menilai kalau Jovanka tidak benar-benar mencintai suaminya.
“Dia ketuaan, mending lu sama gue,” ujar Davin.
Plakk!
Tamparan itu mendarat di pipi Davin.
“Jangan sekali-kali kamu menghakimi orang lain! Kamu tidak tau semua perasaanku dan Kehidupanku!” ujar Jovanka penuh amarah.
“Woiihhhh ... Santai, Beib! Tidak usah bereaksi seperti itu, karena mata lu gak bisa bohong. Lu gak pernah cinta sama suami lu!”
“Sok tau!”
Jovanka melangkahkan kaki.
Tetapi, sampai di depan pintu, langkahnya terhenti ketika Davin mengucapkan sesuatu.
“Sebenarnya gue suka sama lu, Jo!” ucap Davin.
Mata Jo membulat, ia membalikkan tubuhnya, “Tapi sayang, tipeku bukan seperti kamu!”
Davin tersenyum kecut menanggapi jawaban Jovanka, “Lalu tipe lu kek mane? berondong?”
“Iya!”
Jo berlalu pergi.
Entah dia hanya bercanda supaya Davin menjauhinya atau memang benar adanya, karena Rey juga berusia dua tahun di bawahnya.
Akhirnya jam kampus telah usai. Jo memilih naik taksi karena Alexy tidak dapat menjemputnya sore itu.
“Jo, gue gak akan menyerah sampai gue bisa dapatin lu! Gue akan berhenti seumpama ada wanita yang menyerupai lu!”
Davin melesat menggunakan motornya.
"Dasar gila!" umpat Jovanka.
.
Sesampainya di rumah. Jo langsung masuk dalam kamar. Hatinya masih sebal dengan sosok lelaki, kakak tingkatnya di kampus. Lelaki tengil yang menjengkelkan baginya.
“Tengil, sok tau hati orang, nyebelin kamu Davin!” gumam Jovanka di atas tempat tidur.
Tanpa sepengetahuan Jovanka, Alexy telah mempersiapkan surprise kecil untuk Jovanka. Ia sengaja pulang larut malam hanya sekedar menunggu pergantian waktu, karena esok hari merupakan ulang tahun Jovanka.
Waktu telah menunjukkan pukul sebelas malam. Tetapi, belum ada tanda-tanda Alex telah pulang. Keluarganya pun sudah tertidur, karena bagi mereka, itu sudah hal yang biasa. Terkadang, Alex tidak pulang.
Jo menunggu dengan hati yang resah. Walau ia tidak mencintai Alexy, tetapi tetap saja dirinya adalah suami Jovanka saat ini.
“Om, kamu di mana, sih?” gelisah, hati Jovanka menunggu sang suami pulang.
Jovanka meraih hand phone, lalu menekan layar yang bernama Om Alexy yang tertera dalam ponsel miliknya.
‘Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif ....’
“DAMN IT!” pekiknya ketika mengetahui ponsel suaminya tidak aktif.
“Ya Tuhan ... Om Alex di mana? Mas, kamu di mana sih?”
Jo mulai resah dengan keadaan itu. Rasa khawatir kini tersemat dalam dirinya. Sedikit, posisi Rey telah tersisihkan akibat kekhawatirannya terhadap Alexy.
__ADS_1
Alexy pulang dengan mengendap-endap. Mobilnya sengaja ia tinggal di klinik dan ia pulang menggunakan taksi.
Ceklek!
Pintu kamar terbuka.
“Happy brith day, Jo!”
Alexy masuk ke dalam kamar sambil membawa kue ulang tahun, serta lilin dengan api yang menyala, telah tersemat di atasnya.
Jovanka memandang ke arah pintu lalu berlari memeluk Alexy.
“Mas dari mana? Aku khawatir!” ujar Jovanka lirih dengan berlinang air mata di pipi.
“Kok malah nangis? Aku sengaja bikin surprise buat kamu, Jo.”
“Surprise?”
“Iya, kamu ulang tahun kan hari ini?”
Jo melihat jam di dinding telah menunjukkan pukul 00.05.
“Tapi jangan seperti itu, Jo gak suka! Jo khawatir, Mas!”
Alexy tersenyum dengan hati yang berbunga-bunga seperti anak SMA yang sedang dimabuk cinta.
Lagi, Jo memeluk Alexy. Ia malah melupakan kue yang berada di tangan Alexy.
“Tiup dulu, dong. Tuh, lilinnya udah mau abis,” Alexy terkekeh.
Jo mengangguk dan meniup lilin itu.
***
Malam menjelang pagi, mereka habiskan di atas tempat tidur. Alexy bercerita, dalam waktu beberapa bulan ini, dirinya harus terbang ke Singapur untuk membantu sahabatnya menangani kasus penyakit yang entah namanya apa. Alexy di pinta untuk berangkat ke sana.
Alexy mengangguk, “Iya, kamu baik-baik di rumah, ya?”
“Jo boleh ikut?”
“Kalau kamu ikut, nanti kuliahnya gimana?”
“Cuti.”
Alexy menggeleng, “Kamu harus melanjutkan kuliah, Jo.” Alexy mengacak sedikit rambut Jovanka.
Bibir Jo meruncing. Sepertinya, ia mulai tidak ingin jauh dari Alexy. Apakah Rey akan tersisih dari hatinya? Ataukah, Jo hanya terlena dengan kebaikan yang Alexy punya? Entahlah.
“Jangan cemberut lagi, tidur yuk? Udah jam dua pagi,” ajak Alexy.
Jo mengangguk.
Alexy bergegas turun dari ranjang itu, tapi Jo menarik lengan Alexy, “Mas mau tidur di mana?”
“Ya di sini, di mana lagi?”
Alexy menunjuk ke kasur bawah.
“Mas tidur di sini aja.”
Jo menepuk kasurnya.
Mata Alexy terbelalak, ia tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh istrinya.
“Aku boleh tidur sama kamu, eh! Maksudku tidur di ranjang ini?” Alexy gelahapan.
“Iya.”
__ADS_1
Jo mengangguk dan tertunduk.
Ya Tuhan ... Aku mimpi apa? Pekik hati Alexy.
Seandainya, aku tidak lagi datang bulan. Aku ingin memberikan malam pertama ini untuknya, umpat hati Jovanka yang mulai membuka pintu hatinya.
Alexy tidur di samping Jo. Ia terlihat canggung dengan keadaan itu. Untunglah, Jo mengerti kalau suaminya itu merasa canggung, ia menggeserkan tubuhnya dan memeluk suaminya yang esok hari akan terbang ke Singapura.
Deg!
Jantung Alexy berdegup kencang ketika tubuh wanita yang ia cintai memeluknya erat di atas ranjang.
“Maaf ya, Mas. Jo lagi datang bulan,” bisik Jovanka.
“I-Iya, aku gak minta itu sekarang kok, tapi ....” kalimatnya terputus.
“Tapi, apa?”
Jo mendongak memandang wajah suaminya.
“Boleh enggak, aku mencium keningmu?” ujar Alexy yang seperti ragu.
Jo menangguk.
Cup!
Ciuman kecil tersemat di kening Jovanka.
Alexy sangat bahagia malam ini. Di mana esok hari harus berangkat ke Singapur, istrinya malah telah membuka pintu hati untuknya. Akhirnya, Jo dan Alexy tertidur dengan saling berpelukan.
***
Sementara di sisi lain, ada Rey dan Princess yang tengah jadian. Rey mengantar Princess ke rumahnya. Ia ke luar dari dalam mobil dan Rhiena berpindah posisi duduk di samping Reynand.
“Princ, sorry, gue gak masuk ke dalam. Pamitin aja sama orang tua lu. Maaf gue gak mampir, udah larut malam,” ujar Reynand.
Princess mengangguk, “Makasih ya, Bang?” dengan senyum terukir indah di bibir Princess.
“Iya, sama-sama,” jawab Rey yang masih kaku.
Princess masuk ke dalam rumah dan Rey melesat kembali pulang bersama Rhiena yang sudah ada di sampingnya.
“Na?”
“Hem?”
“Menurut Nana, Abang salah gak sih, kasih kesempatan buat Princess?”
“Ya enggaklah. Inget, mungkin saja di sana mantan Abang juga sudah bahagia dengan suaminya. Lalu, kenapa Abang harus sendiri? Abang udah bener kok, ngambil keputusan untuk memberikan kesempatan pada Princess.”
Hening.
Hingga tak terasa, keheningan yang terjadi dalam mobil, membawa mereka ke rumah mewah yang berdiri kokoh di tengah kota.
Rey memarkir mobil ke garasi. Dia dan Nana masuk dalam rumah.
“Ma, Mama?”
Rhiena membangunkan Nadin yang tertidur di sofa ruang tamu.
“Eh ... Nana, Rey, kalian baru pulang?”
“Iya, Mama pindah ke kamar, nanti malah sakit,” ujar Rhiena.
“Ya udah, Mama udah tenang kalau kedua anak Mama udah pulang. Mama tidur di kamar, ya?” ujar Nadin.
Rey dan Rhiena mengangguk. Nadin sudah masuk dalam kamar, begit pun dengan Rhiena. Tinggal Rey yang masih mematung di sofa ruang tamu. Ia menghempaskan tubuhnya ke sofa lalu menghela napas panjang dan menghempaskannya perlahan.
__ADS_1
Tuhan, apakah Jo sudah melupakanku? Apakah aku juga harus memulai hidup yang baru?