Menikahi Janda Dokter

Menikahi Janda Dokter
Part 53. Diary Jovanka


__ADS_3

Hingga tidak terasa, sang mentari telah tergelincir. Langit berubah menjadi gelap karena waktu telah menunjukkan pukul tujuh malam.


Drttt!


Ponsel Reynand bergetar. Ia merogoh ponsel yang ada dalam saku celananya.


Mama? Umpat hati Rey, netranya membulat.


“Cap, Rey permisi dulu, ya?” ujar Reynand.


“Silakan!”


Rey memilih untuk mengangkat telepon dari Mamanya di luar kamar Adara. Rey menyentuh layar ponsel dan terdengar suara wanita paruh baya, yang tak lain Nadin, Ibunya Reynand.


[Halo, Ma?]


[Nak, kamu di mana?]


[Di rumah sakit, Ma!]


[Kenapa? Kamu kecelakaan? Di rumah sakit mana?]


[Bukan itu, Ma. Rey lagi menjenguk keadaan anak dari Captain pengajar di sekolah. Anaknya sakit, kebetulan Rey mengenalnya, makanya Rey ikut menjenguknya.]


[Haduh ... Sayang! Kenapa gak hubungi Mama atau Nana dulu, sih? Kalau seperti ini, Mama 'kan jadi khawatir!]


[Iya, Ma. Maaf, Rey lupa.]


[Ya sudah, pulangnya jangan malam-malam ya, Nak! Kamu harus istirahat. Esok hari 'kan kamu wisuda.]


[Baik, Ma!]


Tut!


Telepon mati.


Rey kembali ke kamar Adara. Di sana terlihat keharmonisan antara Cap Wahyu, sang istri dan Adara, anak mereka.


“Misi Cap, Tante. Rey pamit pulang, ya?” ujar Reynand.


“Iya. Oh iya, Rey. Kalau di luar Deraya, panggil Om saja gak papa,” ujar Cap Wahyu.


Rey tersenyum, “Lebih enak panggil Cap, berasa gagah,” ujar Reynand.


“Rey ... Rey ... Kamu itu ada-ada saja. Ya sudah, senyamannya kamu saja. Hati-hati, jangan ngebut, ya?” ujar Cap Wahyu.


“Baik, Cap! Adara, gue balik, ya?” pamit Reynand.


“Tapi, besok ke sini ‘kan, Kak?” tanya Adara.


“Dara, besok Kak Rey wisuda. Kapan-kapan lagi ‘kan bisa ketemu,” ujar Cap Wahyu.


Adara tidak bicara apa-apa, tetapi bibir yang meruncing. Hal itu sudah menjawab kalau ia kecewa.


“Iya, besok gue usahain ke sini. Lu cepet sehat, ya? Kalik aja besok lu bisa hadirin wisuda gue,” ujar Reynand.


Senyum itu mengembang dari bibir Adara. Ia bahagia bisa mengenal bahkan dekat dengan Rey. Laki-laki yang mirip sekali dengan kekasihnya.


“Ya sudah, sekarang gue boleh balik, ya? Bibirnya jangan meruncing lagi!” goda Reynand.


“Iya, Kak!”


Lagi, lengkung indah di bibir itu terukir kembali.


Rey berjalan di dalam koridor rumah sakit, setelah berpamitan pada Adara beserta kedua orang tuanya. Melewati banyak ruangan dan orang yang masih berlalu lalang.


Rey membuka pintu mobil dan masuk. Melesat di bawah langit gelap. Hanya cahaya lampu taman yang remang-remang menemani perjalanannya hingga sampai rumah.


.


Mobil telah terparkir dalam garasi. Pintu gerbang pun kembali di tutup oleh scurity. Rey membuka handle pintu mobil dan masuk ke dalam rumah.


Waktu telah menunjukkan pukul sembilan malam. Rey melihat Mamanya tertidur di sofa ruang tamu. Rey mendekat dan mengusap lembut tangan Nadin.


“Ma, bangun. Tidurnya pindah ke kamar,” bisik Rey dengan pelan.


Netra senja itu terbuka, “Rey, udah pulang?” senyum itu terukir di bibir Nadin.


“Udah. Mama masuk kamar, ya? Nanti malah sakit kalau tidur di sini,” ujar Reynand.

__ADS_1


“Iya. Mama pindah ke kamar, ya? Tadi Mama gak bisa tidur di kamar. Teringat kamu terus.” Tangan Nadin mengusap pipi Rey, lembut.


Rey tersenyum, “Makasih ya, Ma?”


“Untuk apa?”


Netra Nadin menyipit.


“Mama udah sayang sama, Rey, udah khawatir sama Rey. Semuanya! Makasih ya, Ma?” ungkap Rey dengan menggenggam jemari Nadin.


“Sama-sama, Sayang! Mama bangga, kamu besok sudah wisuda. Ya sudah, ayok tidur! Besok juga Mama ‘kan mau siap-siap ke acara wisuda putra Mama,” ujar Nadin dengan senyum terukir indah di bibirnya.


.


Nadin masuk ke dalam kamar, Rey juga memasuki kamarnya. Menaruh ransel dan melangkahkan kaki ke balkon kamar karena matanya masih terjaga.


“Jo, esok aku akan wisuda. Andai saja kamu bisa mendampingiku di wisuda esok hari, sayang. Aku tau, rasa ini mungkin terlarang karena kamu telah mempunyai suami. Tapi, apa rasa cinta itu telah hilang dari hatimu, Jo? Jujur, aku sedikit pun tidak mampu untuk melupakanmu. Wanita yang mencoba masuk ke hatiku saja sampai sakit hati lalu pergi. Karena aku tak sanggup menggantikanmu dengannya. Andai saja kita ditakdirkan hidup bersama!”


Rey memejamkan matanya setelah ungkapan hatinya telah terkuak di balkon kamar. Memandang langit hitam, keadaan jalanan yang mulai sunyi, karena sang malam telah berkuasa saat ini. Hanya ada hitam dan sunyi, seperti hidup Reynand saat ini.


Rey memejamkan mata, merasakan desau angin membelai tubuhnya. Dingin. Seperti hatinya ketika Jovanka harus menikah dengan lelaki pilihan orang tuanya.


Kakinya melangkah, menuju tempat tidur karena waktu telah menunjukkan pukul sebelas malam.


Rey masih tampak gelisah. Netranya belum sepenuhnya terpejam karena hati yang masih gundah untuk hari esok. Padahal, esok merupakan momen bersejarah untuknya. Di mana ia akan diwisuda, itu merupakan akhir dari prestasi sekolahnya dan awal untuk hidup barunya.


Rey mengusap gawai, ia masih menyimpan beberapa foto kebersamaannya bersama Jovanka dulu.


“Jo? Apakah rasa yang kumiliki sama? Apakah di hatimu masih tersimpan namaku?”


Rey berusaha memejamkan mata setelah melihat beberapa foto Jovanka.


***


Sedangkan di sisi lain. Ada Jovanka yang resah karena perasaan yang sama. Rindu.


Jo membuka kembali selembar surat dari Reynand. Ia membacanya walau hanya beberapa kata dan tidak ada kata romantis.


Surat yang ia dapat ketika Rey menjalankan Masa Orientasi Siswa. Secarik kertas yang membawanya menjalin kebersamaan yang indah dulu. Jovanka meraih buku diarinya dan menuliskan beberapa puisi akrostik teruntuk Reynand.


**Dear, Diary.


Malam ini, aku sangat merindukannya. Dia adalah lelaki satu-satunya yang membuatku jatuh cinta. Bahkan, setelah aku menikah. Rasa ini selalu ada untuknya. Selalu menyimpan kenangan indahnya. Semuanya telah terekam dalam hati dan tidak ada yang bisa menghapusnya.


Diary, simpanlah akrostik ini untuk orang yang kusayangi. Semoga kelak, ia akan membaca puisi yang aku rangkai saat jauh dengannya.


*RINDU* By : Zank Lee


Risalah hati tanpa dirimu


Indahnya kenangan kita dahulu


Namamu kekal bersemayam dalam hati


Duniaku runtuh tanpa ada kamu


Untaian cinta, kupanjatkan dalam doa.


*SAYANG* Zank Lee


Selalu ada namamu dalam kalbu


Anganku melayang tanpa arah


Yakinkan aku agar selalu setia


Asa rindu telah membara


Napasmu adalah hidupku


Gundahmu merupakan laraku.**


Air mata Jovanka membasahi buku diary berwarna ungu. Ia menutup dan mendekap erat di dada. Napas yang semakin bergemuruh karena sesak dalam dada ketika ia mengingat sang pujaan yang tidak ada di sampingnya.


“Tuhan ... Hatiku selalu untuknya. Apakah Rey merasakan rindu yang teramat dalam? Ingin rasanya aku menghubunginya. Tapi aku sadar, kalau sekarang aku sudah milik orang. Tapi, kenapa engkau jaga rasa ini? Sampai kapan aku merasakan siksaan dalam hidup? Hidup yang berkecukupan tanpa cinta yang menyentuhku, terasa hampa!”


Air mata Jovanka semakin deras ketika ia telah meluapkan perasaannya. Hingga jam setengah dua belas malam Jovanka masih belum dapat tidur dengan nyenyak. Untungnya, jam kuliah besok agak siang. Hingga akhirnya, Jo semakin berusaha keras untuk dapat tertidur.


.

__ADS_1


Drttt!


Ponsel Jovanka bergetar.


Ia meraihnya di atas nakas dengan mata yang masih terpejam. Rasa kantuk yang teramat sangat, hingga membuat matanya menjadi perih untuk terbuka.


Jo menggeser layar ponselnya, “Tante Emi?”


Rupanya Emillia meneleponnya. Jo pun mengangkat telepon itu walau belum sepenuhnya Jo tersadar dari mimpi.


[Iya, Tan. Ada apa?]


Suara Jo masih serak ketika menyapa Emillia di pagi itu.


[Jo, Tante mau cerita sama kamu sekarang, bisa enggak? Kamu kuliah agak siang ‘kan?]


[Iya. Janjian di mana, Tan?]


[Di Kafe biasa saja. Nanti Tante tunggu di sana.]


[Oke! Nanti Jo kesana setelah mandi.]


Percakapan pun selesai. Jo menaruh ponselnya di atas nakas dan meraih handuk berwarna putih, lalu bergegas mandi.


Ia ke luar dari kamar mandi dan membuka lemari untuk mengambil pakaiannya. Celana jeans berwarna hitam serta kemeja berwarna navy pun ia kenakan. Jo bermaksud sekalian ke kampus setelah bertemu dengan Emillia yang tak lain merupakan Tantenya sendiri.


Ia sudah siap setelah parfum bersemayam di kemeja dan lehernya. Jo menuruni anak tangga dengan membawa tas dan buku-buku tebal yang ia pegang.


“Sarapan dulu, Sayang!” ujar Mamanya.


“Enggak, Ma. Jo buru-buru, nanti saja Jo sarapan di luar rumah,” jawab Jovanka.


“Baiklah, hati-hati ya, Nak? Jangan sampai lupa sarapan!” ujar Mamanya.


“Iya!”


Suara Jo terdengar sayup-sayaup karena ia sudah masuk dalam mobilnya.


Meluncur menggunakan mobilnya menuju Kafe tempat janjian bersama Emillia.


.


Jo melangkah, memasuki Kafe tersebut. Emillia pun terlihat melambaikan tangannya dan Jovanka menghampirinya.


“Hai, Jo?”


Emillia menyapa sambil mencium pipi kiri dan kanan khas seorang wanita jikalau berjumpa.


“Hai, Tan. Ada apa?” ujar Jovanka tanpa basa-basi.


“Iya, sabar. Pesan sarapan pagi dulu, ya?” ujar Emillia.


“Oke! Jo juga belum sarapan kok, Tan.” Jovanka tersenyum.


Emillia pun memesan menu sarapan yang tidak terlalu berat. Sementara mereka menunggu, Jo dan Emillia pun mengobrol tentang perempuan. Termasuk menanyakan Alexy.


“Dih ... Kok malah ngomongin rumah tangga Jo, sih?” elak Jovanka.


“Eh, iya, ya! Yaudah deh. Tante mulai dari mana, ya?” Emillia memutar bola matanya.


“Terserah! Jo pasti akan menjadi pendengar sejati buat Tante.”


Akhirnya, Emillia menceritakan tentang mantan suami yang memintanya untuk kembali.


“Tante udah putuskan, untuk menerimanya kembali. Menurut Jo apa Tante salah mengambil keputusan ini?” ujar Emillia.


Jo menggeleng, “Dari dulu ‘kan Jo udah bilang supaya Tante bisa menerimanya. Lalu, apa salahnya kalau Tante nerima dia? ‘Kan enggak ada. Tante seorang janda dan Om Arman seorang duda.”


“Tante merencanakan pernikahan kami di gelar dua minggu lagi, hanya acara ijab kabul saja sih. Enggak ada resepsi,” ujar Emillia.


“Yang penting kan niatnya. Bay the way, semangat, Tan!”


Mereka berbincang sambil sarapan pagi. Ngobrol omong kosong ke sana-kemari. Hingga waktu pun terasa cepat berlalu.


“Tante, Jo pamit, ya? Jo harus ke kampus,” ujar Jovanka.


“Iya, Jo. Hati-hati, ya? Makasih sudah mau diajak ngobrol sama Tante.”


Jovanka mengangguk dan bergegas pergi, meninggalkan Emillia di dalam Kafe tersebut. Jo pun melesat menggunakan mobil ke kampusnya.

__ADS_1


__ADS_2