Menikahi Janda Dokter

Menikahi Janda Dokter
Part 43. Debar.


__ADS_3

Dddrrrttttt!


Alarm telah bergetar di atas nakas. Jo pun meraba, mengambil jam beker yang ia pasang karena dari semalam hand phonenya di charger. Netranya mulai terbuka. Jo masih mencium wangi parfum di samping ranjang ia tidur.


“Om Alex?” ujar dari bibirnya dengan air bening yang menetes di pipi.


“Kenapa aku merasa kehilangan dia, Tuhan?” Lagi, air bening itu kembali berlinang.


Drrrttt ... Drttttt ....


Gawai yang masih terhubung dengan charger pun bergetar. Ada video call ternyata.


“Om Alex?”


Netra Jo membulat dan jemarinya lincah menggeser layar ponsel itu.


[Hai, Mas?]


Jo berusaha menyembunyikan kesedihannya, ketika ia memandangi gawai yang ada wajah suaminya.


[Loh ... Matamu kenapa, Jo? Kamu habis nangis?] jawab Alexy dari seberang sana.


[Enggak kok, Mas. Jo baru bangun tidur. Ini masih di atas kasur.]


[Ya sudah, kirain ada apa. Aku mau kerja, tapi aku teringat kamu. Makanya aku video call dulu. Kamu baik-baik di sana ‘kan?]


[Iya, Jo baik-baik kok. Om, eh! Mas juga baik-baik di sana 'kan?]


Alexy tersenyum, [Iya. Ya sudah, kamu mandi, gih! Jangan lupa sarapan, ya? Bye ....]


[Mas, tunggu!]


Alexy terlihat mengernyitkan dahi.


[Aku sayang kamu!]


Tut!


Telepon pun dimatikan oleh Jovanka.


Rasa rindunya kini telah terobati ketika sudah melihat wajahnya, walau hanya dalam layar hand phone.


Jo tersenyum sendiri di atas tempat tidur dan memeluk guling yang masih tercium aroma tubuh suaminya.


“Ya Tuhan ... Apakah Engkau telah membuka hatiku untuknya?” ujar Jovanka yang lagi-lagi tersenyum.


***


Jo bersiap ke kampus. Seperti biasa, ia mengenakan kemeja dan bawahannya celana jeans. Ia mencantelkan tas di pundak kanannya dan membawa buku-buku tebal di tangan kirinya.


“Selamat pagi, Ma ....” ujar Jo dengan wajah ceria.


“Pagi, sayang. Sepertinya lagi ada yang seneng?” ujar Mama mertuanya.


“Iya, Ma. Barusan Mas Alex video call.” Terlihat semburat merah muda di pipi wanita muda yang akan menjadi calon dokter ini.


“Emm ... Mentang-mentang baru berjauhan,” goda Mama mertuanya.


Jo hanya tersenyum dan mengambil dua lembar roti tawar yang ia olesi dengan selai coklat. Jo menikmati sarapan paginya dengan roti tawar dan segelas susu full cream dalam gelas.


“Papa sama Tante Angel udah berangkat, Ma?”


“Iya. Katanya ada urusan di klinik, jadi berangkat lebih awal.”


“Ya sudah, Jo juga sudah selesai sarapan. Jo pamit ke kampus ya, Mam?”

__ADS_1


Jo mencium tangan mertuanya.


“Hati-hati, Sayang!”


.


Jo lebih memilih taksi yang menjadi tumpangannya ke kampus. Tiba-tiba di perjalanan mobil taksi yang ia tumpangi pecah ban.


“Aduh Mbak, maaf. Sepertinya roda mobilnya bocor,” ujar sopir taksi yang menghentikan laju kendaraannya.


“kira-kira, lama gak Pak perbaikannya?” tanya Jovanka.


“Sepertinya lama, Mbak. Masalahnya, saya tidak membawa ban cadangan.”


“Ya sudah, saya pindah cari tumpangan lain. Jadi, berapa yang harus saya bayar, Pak?”


“Enggak usah, Mbak. Gak papa,” elaknya.


“Ish! Bapak kan cari uang untuk nafkahi anak istrinya.”


Jo memberikan uang lima puluh ribu padanya.


“Tapi, Mbak."


“Udah, gak papa. Ya sudah, saya tinggal ya, Pak?”


“Iya, makasih ya, Mbak!”


Jo berlalu pergi. Agak jauh dari mobil taksi yang ia tumpangi barusan. Jo mengeluarkan ponselnya. Tapi sial, jaringannya bermasalah.


Berulang kali Jo memberhentikan taksi, tetapi taksi terus melaju, sepertinya taksi itu membawa penumpang lain. Begitu seterusnya.


“Sial! Mana hampir telat lagi! Ya Tuhan, kasih tumpangan padaku!”


Tiba-tiba ada ojek yang melintas di depannya.


Jo menghalangi motor yang melintas di depannya.


“Antar saya ke kampus ya, Pak?” pintanya.


“Maaf, Mbak. Saya sudah dapat orderan lain. Cari yang lain saja.”


Tanpa basa-basi, motor itu pun berlalu pergi meninggalkan Jovanka.


Jo semakin panik, ketika melihat Jam yang melingkar di tangannya. Bahwa, sebentar lagi, kelasnya akan dimulai.


“Ya Tuhan ... Telat aku hari ini masuk kampus! Mana jam dosen galak lagi. Hape juga kenapa mesti gak ada sinyal di saat seperti ini, sih?” keluhnya, tertunduk pasrah.


Sssrrreeettt!


Tiba-tiba ada motor yang berhenti di depan Jovanka. Ia mengangkat pandangannya.


“Davin?” bibir Jo berucap.


“Ngapain lu masih nangkring di sini?” tanya Davin.


“Aku ... Aku, lagi ... Emmmm ....”


Entah apa yang akan dikatakan oleh Jovanka, lidahnya kelu ketika melihat sosok Davin di depan matanya. Sosok lelaki yang ia benci tetapi ia membutuhkan bantuannya.


Kenapa mesti orang ini yang datang sih, Tuhaaannnn? pekik hati Jovanka.


“Ayo, naik!” perintah Davin.


“Gak usah. Kamu duluan aja!” elak Jovanka.

__ADS_1


“Gue bilang naik! Mau, nilai lu turun karena kesiangan hari ini? Lu ada kuis ‘kan hari ini?” ujar Davin.


“Dari mana kamu tau?”


Kening Jovanka mengernyit, heran.


“Apa sih, yang gue gak tau? Apalagi tentang, lu! Cepetan naik!”


Jo mematung.


Ia masih menimbang-nimbang. Satu sisi dirinya benci sekali dengan sosok Davin yang menyebalkan. Satu sisi lain, waktu yang sudah tidak memungkinkan untuk mencari kendaraan lain karena waktu yang semakin mepet.


Grengggg!


Davin memainkan gas motornya.


“Iya, iya. Aku ikut kamu!” ujar Jovanka.


Akhirnya, Jo naik ke sepeda motor Davin.


“Pegangan,” ujar Davin sebelum memacu kendaraannya.


“What?”


Jo membulatkan mata.


“Pegangan kata gue!”


Akhirnya, Jo memegangi pinggang Davin.


Grengggg!


Motor melesat dengan kecepatan tinggi.


“DAVIN, BERENTIIII!” pekik Jovanka.


Davin tidak mendengarkan kata-kata Jovanka, ia semakin kencang memacu motor sport miliknya. Beberapa kali, tangan Jo memukul pundaknya, tetapi tak dihiraukan oleh Davin.


Motor semakin kencang berlari, sehingga ada rasa takut dari Jovanka. Ia akhirnya memeluk Davin. Senyuman penuh kemenangan pun tersungging di bibirnya.


.


Sretttt!


Akhirnya motor itu telah terparkir di halaman kampus, dekat dengan fakultas Jovanka.


Jo masih mematung di atas jok motor Davin. Hatinya masih berdebar karena Davin memacu kendaraannya seperti setan.


“Lu gak turun dari motor gue?”


Akhirnya kata itu menyadarkan Jovanka, bahwa dirinya sudah sampai di kampus. Jovanka pun turun dari Jok motor itu.


“Cepet masuk! Kuis mau dimulai, tuh!” ujar Davin lagi.


Tanpa ada jawaban, Jo melangkahkan kaki.


“Tunggu!”


Davin menarik tangan Jovanka.


Tiba-tiba, tangan Davin membereskan rambut Jovanka yang cukup berantakan, “Udah, masuk sana!” ujar Davin.


Entah kenapa, Jo hanya diam. Mungkin karena ia terlalu syok dengan kejadian tadi. Dimana Davin memacu kendaraannya dengan begitu kencang.


Langkah kaki Jovanka terayun ke fakultasnya. Ia duduk dan masih agak canggung. Tidak berselang lama, dosen itu pun masuk dan memulai kuisnya.

__ADS_1


Ya Tuhan ... Apa yang terjadi denganku? Kenapa aku bisa grogi seperti ini? Dadaku masih berdebar, apakah karena aku terlalu syok? Hilangkan debar yang ada dalam hati, bila itu merupakan debar cinta. Aku tidak ingin mengkhianati suamiku. Walau sesungguhnya, hati ini pun masih terisi oleh Reynand Adam, cinta pertamaku. Umpat hati Jovanka.


__ADS_2