
Malam di Kota Jakarta dengan langit cerah penuh dengan bintang. Temaram lampu taman kota berwarna oranye menyoroti mobil di sepanjang jalan.
Mobil hitam melaju cukup kencang ketika dia melewati jalanan sepi dekat kontrakannya. Davin memacu roda empatnya menuju apartemen elit di tengah kota.
Sorot lampu oranye telah berganti dengan terangnya lampu-lampu dari gedung pencakar langit dan bangunan-bangunan lain yang tidak kalah tinggi. Seperti apartemen yang akan disinggahi oleh Davin.
Gedung berpuluh lantai telah terlihat berdiri tegak di hadapannya. Davin meraih ponsel yang dia simpan di dasboard mobil. Benda pipih berwarna hitam itu sudah ada dalam genggamannya. Dia menggeser kunci screen ponsel lalu mengetik sesuatu.
"Aku udah ada di depan apartemenmu, Mala." Isi pesan Davin.
"Tunggu sebentar," balas Mala.
Davin memilih untuk menunggu di dalam mobil. Dia menaruh kembali ponselnya di dasboard. Mata Davin melirik pada gedung-gedung tinggi yang berdiri di dekat apartemen Mala.
Kini mata Davin menangkap seseorang yang berjalan mendekat ke mobilnya. Seorang wanita berparas cantik memakai dress berwana merah muda selutut dan high heels yang membalut kakinya.
Wanita berkulit putih dan bermata bulat itu semakin mendekat lalu tersenyum tepat ketika dia sudah berada di depan pintu mobil Davin.
"Mala?" Davin segera membuka pintu mobilnya.
Mala tersenyum lalu masuk ke mobil. Dia duduk tepat di sisi Davin.
"Gimana kabarmu, Dav?" tanya Mala dengan seulas senyum.
"Baik. Oh, iya. Kita mau makan di mana?" tanya Davin.
"Tempat biasa aja. Di mana dulu kita sering makan di situ," pinta Mala.
"Lah ... kamu belum bisa move on?" Davin bertanya sambil mengangkat alisnya yang disertai mata membulat.
"Bukan. Aku hanya menyukai menu makanannya saja. Kalaupun aku baper, bukannya kamu sudah mempunyai pacar?" tanya Mala dengan seulas senyuman.
"Oh ... syukurlah. Aku tidak mau hubungan bisnis kita nantinya hanya karena baper saja bukan karena profesional menjalankan bisnis."
Karena aku tahu, mempunyai rasa terhadap orang lain tidaklah enak. Melainkan hanya menyiksa diri dan secara tidak langsung sudah melukai Adara umpama dia tahu. Batin Davin sebelum memacu kendaraannya.
__ADS_1
Mobil berjenis city car telah melesat ke restoran yang berada di pusat kota. Lampu-lampu gedung yang menyala tampak menerangi bangunan dan jalanan malam itu.
"Oh, iya, Dav. Apa pacarmu tau, kalau kita akan membuat bisnis ini?" tanya Mala memecah keheningan.
"Tau. Dia tau segalanya," jawab Davin.
Dia hanya tidak tahu perasaanku terhadap Jovanka. Wanita yang dulu pernah singgah di hatiku ketika hubunganku merenggang bersamanya. Ya Tuhan ... aku makin merasa bersalah pada Adara. Apakah aku seegois ini? Batin Davin.
Tidak ada yang salah dengan perasaan Davin. Perasaan suka yang datangnya dari hati memang begitu sulit untuk dihindari. Seberapa besarnya untuk menghindar, hati itu lebih berkuasa atas diri dan tidak akan ada yang bisa mencegahnya.
Cinta buta. Mungkin itulah yang sedang Davin alami. Ketika hati kecilnya masih tersimpan satu nama : Adara. Namun, hati lainnya telah terisi penuh oleh wanita lain dan sialnya dia istri dari orang lain.
Keegoisan akan membinasakan semuanya. Ketika hatinya telah bersikukuh kalau rasa yang dia miliki itu tidak salah. Dia melupakan bahwa hati kecilnya yang selalu ada untuknya. Bahkan, ketika dia terpuruk sekali pun.
Hingga akhirnya Davin dan Mala telah sampai di restoran tempat di mana dulu mereka menghabiskan waktu. Mala memang anak orang kaya, tidak heran lagi kalau dirinya terbiasa makan di tempat mewah. Sedangkan Davin, dia terbiasa hidup susah dan prestasinya sebagai dokter merupakan sebuah impian dari masa kecilnya.
Davin turun dari mobil pun dengan Mala yang turun dari pintu sebelahnya. Mereka berjalan berdampingan lalu segera memesan makanan dan minuman untuk menemani obrolan panjang malam itu.
"Saya hot mocchachino aja, Mbak," ujar Davin.
"Makannya apa?" Davin bertanya.
"Enggak usah, di sini kita untuk membahas pekerjaan. Cukup memesan minuman untuk menemani di sela penatnya diskusi," ujar si wanita yang bergaya elegan.
"Baik, ditunggu sebentar, ya, Mas, Mbak," ucap si pelayan setelah mencatat pesanan mereka dan berlalu pergi.
Diskusi pun dimulai. Davin membuka percakapannya untuk membangun bisnis di bidang property. Mala pun menanggapinya denga serius dan mereka berdua merinci bayangan dana yang akan dikeluarkan untuk sat itu.
"Satu? Dua? Atau lima milyar? Apa cukup?" tanya Mala yang membuat mata Davin terbelalak.
"Hah? Jangan terlalu besar, La. Aku tidak mempunyai uang sebanyak itu," ujar Davin yang begitu kaget mendengar penawaran besar dari wanita yang dulu sempat menyukainya.
"Pakai-pakai saja, aku ikhlas, kok," ucap Mala."
"Tapi, La––" ucap Davin terhenti.
__ADS_1
"Untuk usaha kamu, tenang aja. Tidak usah memikirkan uang, aku ada dan aku ikhlas, kok." Mala meyakinkan.
Hati kecil Davin menolak. Namun, hati yang lain menerima.
Terima saja, itu rezeki, lo, Dav! Batin Davin yang menguasai dirinya.
Jangan, Dav, nanti kamu akan sengsara bila mana suatu saat Mala akan mengungkit kebaikannya. Berjalan sendiri saja. Ingat, manusia itu bisa baik hari ini dan mungkin saja akan mengungkit kebaikannya di hari yang lain. Hati kecil Davin berkata.
Davin begitu bingung dengan hatinya saat itu. Di mana hati yang berkuasa mengiyakan untuk menerima, tetapi hati kecilnya mengatakan 'jangan'.
"Dav?" Mala memanggil Davin yang terlihat melamun.
"Iya?"
"Mau, ya? Demi impian kamu berbisnis. Aku akan siap membantumu sebisa dan sekuat aku. Jangan khawatir, aku tidak akan mengungkit semua yang pernah aku berikan padamu. Aku ikhlas."
Davin melihat sorot mata wanita cantik yang berada di depan matanya. Dia melihat ketulusan dari sana.
Hening. Namun, tidak begitu lama, keheningan itu terpecahkan kala suara seorang wanita yang datang membawa dua gelas moccha chino untuk mereka.
"Terima kasih," ujar Davin yang hampir berbarengan dengan Mala.
"Sama-sama." Pelayan itu pun pergi setelah melempar senyuman ramah di bibirnya.
Davin meraih cangkir yang berisi moccha chino lalu menyesapnya perlahan untuk menetralkan perasaannya yang tidak keruan. Di mana hati yang menguasai dan hati kecilnya yang saling bersinggungan.
Perasaan Davin yang sedang tidak menentu akhirnya buyar kala mendengar dering ponsel yang cukup membuatnya sadar dalam lamunan. Ternyata ponsel Mala. Dia meraih ponsel lalu meminta ijin pada Davin untuk mengangkatnya.
Mala pergi sedikit menjauh setelah suara seorang laki-laki terdengar dalam ponselnya.
"Ya Tuhan ... aku harus gimana? Aku menerima bantuan Mala atau harus menolaknya?" Davin masih meragu.
Ketika Davin meragu, sepasang matanya tertuju pada meja yang berada di paling ujung. Sosok wanita cantik yang telah duduk dengan seorang pria dan begitu terlihat romantis kala pria tersebut menggenggam tangan wanitanya.
"Jovanka?" gumam Davin.
__ADS_1