Menikahi Janda Dokter

Menikahi Janda Dokter
Part 77. Sakit


__ADS_3

Jo terlihat duduk dalam ruangannya. Padahal biasanya dia masih stay di pintu kedatangan.


“Pagi, Jo?” ujar Davin pagi itu.


Jo terperanjat, dia terlihat sedikit kaget karena ia sedang melamun hal yang tadi.


“Pagi juga, Dav!” jawab Jovanka sambil berdiri dan mengambil jas berwarna putih yang tergantung salah satu dinding ruangannya.


“Wajah lu kenapa, Jo?”


“Emangnya kenapa dengan wajah aku?”


Jo memegangi wajahnya, "Gak ada yang aneh, kan?"


“Enggak, cuma sepertinya sedang sedih,” ujar Davin.


Hening.


Jovanka tidak menjawab walau ia selalu terbayang wajah kekasihnya yang belum ada kata putus hingga sekarang, ia masih selalu mencintai Reynand.


“Jo?” ujar Davin kembali bertanya.


“Aku gak papa, Dav!”


Jovanka masih mengelak.


“Gue tau kalau lu lagi menyembunyikan perasaan lu terhadap Reynand!”


Mata Jovanka membulat.


Dari mana dia tau? Umpat Jovanka dalam hati.


“Rey sudah menceritakannya sama gue. Apa salahnya sih, lu balikan sama dia? Toh, sekarang status lu juga udah singgel,” ujar Davin.


Hening.


“Jo! Jawab gue! Apa salah pertanyaan gue?”


Jovanka masih membisu.


“Jovanka!” pekik Davin agak kencang.


“Aku bingung dengan perasaanku, Dav,” ujar Jovanka bersuara lirih.


“Kenapa?”


“Aku terasa masih terikat oleh Mas Alex,” ujar Jovanka tertunduk.


Davin mendekatinya, ia memegang kedua bahu Jovanka dengan tangannya dan menatap tajam wajah yang sedang tertunduk.


“Lihat gue!” ujar Davin.


Jo mendongak, kini wajah Jovanka terangkat dan mata mereka saling bertautan.


“Lu itu pantas bahagia! Kembalilah bersamanya, gue yakin lu akan bahagia hidup dengan orang yang lu cinta. Kalian saling mencinta, kenapa juga harus saling menyakiti? Terlebih status lu juga sudah melajang saat ini,” ujar Davin.


Mata Jovanka kini berkaca-kaca, dengan satu kedipan saja niscaya air mata itu luruh ke pipi putih si gadis yang mempunyai status janda.


“Rey sangat mencintai lu, Jo! Gue bisa lihat itu. Sebagai teman, gue hanya ingin melihat lu hidup bahagia, gak seperti saat ini, Jo!” ujar Davin meyakinkan.


Ddrrttt!


Ponsel Jovanka bergetar.


“Sebentar, Dav. Ada telepon,” ujar Jovanka.


Davin mengangguk, “Angkat saja, gue mau ke ruang kerja,” ujar Davin dan berlalu pergi.


Jo mengusap layar ponsel yang kini berada dalam genggaman tangannya.


[Halo, Ma?]


[Jo, perusahaan Papamu sedang kolaps. Papamu telah ditipu oleh rekan bisnisnya, hampir seluruh saham perusahaan Papa sudah berpindah tangan.]


[Apa?]


[Iya, Jo! Sekarang Papamu berada di rumah sakit. Mungkin Papamu terlalu berpikir keras dengan kejadian yang telah menimpanya.]


[Tapi, Jo tidak dapat pulang hari ini, Ma. Jo masih bekerja, tapi esok Jo libur. Sepulang kerja, Jo pasti pulang. Mama yang sabar, ya?]


[Iya, Sayang. Hati-hati kerjanya, ya? Mama mau urus Papamu.]


Tut!


Telepon terputus.

__ADS_1


Ya Tuhan, kenapa jadi seperti ini? Ujarnya dalam hati.


Jo kembali dengan aktivitasnya sebagai dokter muda. Hingga tak terasa, waktu semakin cepat berputar. Pekerjaannya pun telah usai.


“Balik, Jo!” ujar Davin yang melihat Jo masih menulis.


“Iya, bentar lagi. Balik duluan aja, Dav!” ujar Jovanka.


“Kagak, biar gue tungguin lu!” ujar Davin yang duduk di depan meja kerjanya.


Tak berselang lama, akhirnya Jovanka pun telah menyelesaikan pekerjaannya.


“Ya udah, ayo balik!” ajak Jovanka pada Davin.


Davin berdiri dari tempat duduknya. Sedangkan Jovanka menggantungkan jas praktik berwarna putih itu ke tempatnya. Davin mengekor dari belakang.


“Jo?”


Sapa seorang lelaki yang ternyata telah menunggunya.


“Rey?”


Netra Jo terbelalak ketika melihat Rey berada di tempat kerjanya.


“Ihiyy!” goda Davin, “Pepet teros, Bos kuh!” bisik Davin pada Reynand. “Gue balik duluan, ya? Bye!” Davin berlalu pergi.


Rey tersenyum.


Dasar lu, Vin! Ngerti aja kalau gue mau deketin Janda dokter ini, umpat hati Reynand.


“Aku antar pulang ya, Jo?” ujar Rey.


Tanpa banyak berpikir, Jovanka mengiyakan ajakan dari Reynand.


Rey dan Jovanka berjalan menuju parkiran. Sesekali, Rey mencuri pandang pada wanita cantik yang berada di sampingnya itu. Hatinya merasa senang saat itu. Ia tidak menyangka akan kembali dipertemukan dengan wanita yang selalu mengisi hatinya.


“Kemarin aku bertemu dengan Papamu, Jo,” ujar Rey ketika mereka berjalan ke arah parkiran.


“Hah? Kok bisa?”


Langkah kaki Jovanka terhenti dan tatapan matanya sangat tajam melihat Rey.


Rey mengangguk, “Iya, kemarin aku disuruh Mama ke kantor Papamu untuk meminta tandatangan darinya. Mama bekerja sama dengan Papamu,” ujar Rey tanpa memberitahukan perihal ia direndahkan oleh Papanya.


Jo tersenyum, “Besok aku pulang ke Bandung, Rey!”


“Papa sakit,” ujar Jovanka.


“What? Kemarin baik-baik, saja. Sakit apa?” tanya Reynand.


Malah dia mencaci maki aku, Jo! Sambungnya dalam hati.


“Entah. Mama belum jelas infonya. Yang jelas hari ini, Papa dirawat di rumah sakit,” ujar Jovanka yang menyembunyikan keadaan perusahaan Papanya.


“Mau aku antar ke Bandung?” tanya Rey.


“Enggak usah, Rey, makasih. Enggak enak sama keluarga almarhum suamiku,” bantah Jovanka.


Rey mengangguk.


“Baiklah, aku boleh minta nomor hand phone kamu, Jo?” ujar Reynand.


“Masih yang lama kok.”


Mereka akhirnya melesat ke kost Jovanka yang tidak terlalu jauh dari bandara.


“Maaf, Rey. Aku langsung masuk, ya? Aku mau packing baju untuk nanti ke Bandung,” ujar Jovanka.


“Iya, hati-hati ya, Jo?”


Jo mengangguk dan berjalan ke luar dari dalam mobil Reynand. Sementara Rey melesat pergi ke rumahnya.


Ceklek!


Jo membuka pintu kamar. Ia langsung membenahi beberapa baju untuk di bawa ke Bandung.


Ia pun langsung melesat menggunakan taksi online ke stasiun kereta api.


Ia sangat terburu-buru kala itu. Di perjalanan, ia berbalas pesan dengan Reynand.


Mulai dari hanya sekedar basa-basi menanyakan sudah sampai mana dan hal lain yang sebenarnya tidak terlalu penting. Mungkin mereka berdua canggung karena mereka baru memulai kembali berkomunikasi. Baik Rey atau pun Jo masih terkesan malu-malu.


Hingga akhirnya, kereta yang ditumpangi oleh Jovanka telah sampai di stasiun Bandung, Jo pun langsung turun dan melesat ke rumah sakit untuk menemui Papanya.


Jo baru sampai di rumah sakit sekitar pukul delapan malam. Ia telah mengetahui kamar Papanya, karena Mamanya telah mengabari Jo ketika di perjalanan.

__ADS_1


Ceklek!


Jo membuka pintu kamar rumah sakit di mana terlihat Papanya sedang tertidur lelap saat itu.


“Jo?” suara lirih dari sang Mama.


Jo langsung mendekat dan memeluk erat sang Mama, “Gimana keadaan Papa, Ma?”


“Papamu ....”


Katanya terpotong, hanya air bening yang memberikan jawaban yang menurut Jovanka sangat tidak jelas.


“Ngobrol di luar yu, Ma? Kasian Papa, takut terbangun,” ajak Jovanka.


Meli mengangguk.


Jo dan Meli berjalan ke luar dari dalam kamar dan mereka memilih untuk duduk di kursi tunggu yang dekat dengan kamar Papanya.


“Ma?” tanya Jo yang berusaha mencari informasi.


Meli masih tertunduk.


“Ceritalah. Apa sebenarnya yang terjadi sama Papa?” ujar Jovanka.


Hening.


Meli masih menangis, air mata itu masih mengalir dari mata senjanya.


Jo masih menunggu, hingga Meli bisa memberikan informasi sesungguhnya.


“Sebenarnya, Papamu mengalami stroke, Jo!” Kembali, air mata itu luruh membasahi pipi.


“Apa? Mama jangan becanda!” ujar Jovanka tidak percaya.


Meli menggeleng, “Mama gak bohong, Nak! Papamu mengalami penyumbatan di otak. Awalnya ia terlalu stres dengan pekerjaan dan perusahaan yang mulai kolaps (jatuh).”


Jo masih menyimak perkataan Mamanya.


“Sebenarnya sudah beberapa minggu yang lalu, perusahaan Papa sudah tidak stabil, Jo. Hingga saat Bu Nadin datang dan bekerja sama dengan Papamu. Perusahaan Papa mulai kembali bangkit, tapi hutang Papamu terlalu banyak hingga perusahaan Papa diambil alih oleh rekan kerja Papamu yang meminjamkan uangnya.”


“Maksudnya? Bu Nadin yang ambil perusahaan Papa?”


“Bukan, justru Bu Nadinlah yang telah menolong Papa.”


“Jadi, siapa yang mengambil perusahaan Papa?”


“Rekan bisnis yang baru ia kenal, ia telah menipu Papamu. Hingga seluruh saham milik Papa berpindah tangan padanya. Paling, saham peninggalan Papa tinggal lima belas persen saat ini.”


Ya Tuhan ....


Kata itu yang Jo ucap dalam hati. Ia tidak dapat berbuat apa-apa. Apalagi, ia juga sedang melanjutkan pendidikan sebangai KOAS/dokter muda.


“Lalu, biaya Papa gimana, Ma?”


“Mama akan jual aset yang masih Papa punya, Nak.”


“Sabar ya, Ma? Semoga Papa bisa kembali sehat. Esok Jo libur kerja, jadi bisa nungguin Papa di rumah sakit,” ujar Jo.


Meli memeluk putri kesayangannya itu.


***


Sementara Alexy telah membicarakan perihal apa yang telah ia ingat. Memori masa lalunya berangsur kembali.


“Princ, aku telah ingat. Aku sudah menikah.”


Netra Princess berkaca-kaca, bahkan di mata kirinya telah luruh membasahi pipi.


“Kok nangis?” ujar Alexy.


“Berarti, Mas akan ninggalin aku?” ujar Princess dengan tatapan sendu.


Alexy menggeleng, “Tidak! Aku akan selalu bersamamu, itu janji aku!”


“Lalu istrimu? Apakah aku akan menjadi madu istrimu, Mas?”


“Dia telah mencintai orang lain, Princ. Dari awal pertemuanku dengannya, ia sudah menjalin cinta dengan pria lain, tapi Papanya menjodohkan denganku.”


“Kenapa Mas mau?”


“Karena aku mencintainya.”


Jleb!


Hati Princess hancur mendengar pernyataan yang terlontar dari bibir calon suaminya, yang entah itu akan terjadi atau tidak. Harapannya telah sirna ketika Alexy mengungkapkan perasaan yang ia punya terhadap istrinya.

__ADS_1


Ya Tuhan, apakah aku tidak pantas untuk bahagia? Dulu, Rey menerimaku tapi ia tidak mencintaiku. Sekarang, Mas Alex mencintaiku dengan tulus tapi ketika ia amnesia. Kini, ingatannya telah kembali. Ia pun akan meninggalkanku karena ia begitu mencintai istrinya, umpat dalam hati Princess.


__ADS_2