Menikahi Janda Dokter

Menikahi Janda Dokter
Part 14 ( Salah Sangka )


__ADS_3

Rey hanya mengusap lembut, rambut Nourma. Karena, papanya juga telah bercerai dengan mamanya , jadi ia juga bisa merasakan perasaan Nourma sekarang ini.


Emillia melihat Rey sedang mengusap pelan rambut putrinya. Ia merasa bahagia ketika melihat kedekatan mereka. Emillia tidak mengetahui kalau putrinya suka dengan Reynand.


Sepertinya, Rey cocok jadi Ayah untuk Nourma. Terbesit dalam hati Emillia.


Emillia melangkahkan kakinya dan mendekat ke arah Rey yang tengah menenangkan putrinya yang sedang bersedih.


Emillia menggenggam lengan kiri Reynand tanpa sepengetahuan putrinya. Rey yang sedang duduk akhirnya mendongak, melihat siapa yang telah menggenggam lengannya itu.


Tante Emi? ucap dalam hati Rey ketika melihat Emillia menggenggam jemarinya.


Rey mematung dengan keadaan itu. Di mana lengan kanannya sedang mengusap lembut, menenangkan putrinya. Dan lengan kirinya telah digenggam oleh Emillia, ibu kandung dari anak didiknya.


Emillia tersenyum ketika Rey melihat wajahnya. Desir darah Emillia semakin bergejolak, tatkala memandang netra sipit itu. Emillia segera melepaskan genggaman tangannya sebelum anak gadisnya melihat semua itu.


“Nourma, lesnya udah selesai kan?” ucap Emillia.


Nourma memandang wajah Rey. Rey pun mengangguk sebagai pengganti kata IYA, kalau les pada malam ini telah selesai.


Nourma beranjak melangkahkan kakinya menuju dalam kamar, hingga tubuh mungilnya tak terlihat lagi dalam pandangan Reynand.


Rey memandang wajah Emillia dengan tatap yang entah. Emillia yang telah berani menggenggam tangannya, menjadikan Rey menjadi agak canggung apabila menatap mata Emillia. Berbalik dengan Emillia yang menjadi agresif pada Reynand.


“Tan, Rey balik, ya?” ucap Reynand.


“Gak nanti aja?” Emillia sedikit menggoda.


“Rey lagi tunggu temen yang sedang di rawat, Tan. Kasihan, Dia sendirian.” Pungkas Reynand.


“Ya udah, deh.”


Rey membereskan buku yang ada di atas meja, ia masukan ke dalam ransel miliknya. Kakinya kini melangkah menuju pintu depan rumah Emillia.


Tak disangka, Emillia telah mengekor dari belakang. Ketika Rey hendak naik ke atas motor. Lengan Reynand kembali ditarik Emillia. Entah apa yang merasuki Emillia, sehingga ia berani memeluk Reynand.


SRETT (suara mobil yang terparkir di depan pintu gerbang).


Rey melihat mobil yang terparkir di depan pintu gerbang. Kaca mobil pun di turunkan.


Jo? Pekik dalam hati Reynand.


Rey terkunci dalam keadaan ini. Di mana ada Emillia yang sedang memeluknya. Jo melesat meninggalkan Reynand ketika melihat, kalau pacarnya tengah memeluk wanita lain di depan matanya. Yang tak lain, tantenya sendiri yang berstatus janda.


“Maaf, Tan. Rey balik, ya?” Rey melepaskan lengan Emillia yang sedang memeluknya.


***


Rey melesat menggunakan motor FU mengejar mobil Jo yang melesat kencang. Jo langsung memarkirkan mobilnya ke dalam halaman.


“Jo!” Rey berteriak memanggil namanya.


Jo tidak menghiraukan panggilan dari kekasihnya, karena Jo kesal melihat kekasihnya telah berpelukan dengan wanita lain.


Jo sudah tak terlihat lagi. Lampu kamarnya pun ia matikan. Rey menelepon Jo berkali-kali. Namun, sial! Teleponnya tidak diangkat oleh Jovanka.


‘Jo, Lu salah paham!’ Rey mengirim pesan karena berkali-kali, menelepon tidak diangkat.


“Lah ... Cuma di read.” Gerutu Reynand.


Rey menunggu hingga satu jam seperti orang ***** di depan pintu gerbang Jovanka. Ia menuliskan secarik kertas yang menerangkan hal yang sebenarnya.


Wawan, scurity di rumah itu akhirnya membukakan pintu gerbang dan bertanya pada pemuda yang sedari tadi berada di depan pintu gerbang rumah majikannya.


“Kamu lagi apa? Sedari tadi nongkrong di sini aja,” tanya Wawan.


“Sorry, Pak. Saya sedang nunggu Jo, ada urusan. Tapi orangnya tidak mau keluar. Saya boleh nitip ini gak, Pak?” Rey memberikan sepucuk surat yang ia lipat.


Wawan menerima kertas itu.


“Eitzzz ... jangan dibuka ya, Pak?” ucap Reynand.


“Iya!” jawab Wawan.


“Ya udah, Saya pamit. Makasih ya, Pak?”


Rey melesat pergi.


Wawan kembali masuk dalam rumah dan mengunci pintu gerbang karena sudah larut malam. Ia melangkah menuju kamar Jovanka.


Tok ... Tok ... Tok ....


“Non Jovanka, ada surat!” ucap Wawan.


CKELEK (Pintu kamar terbuka)


Jo meraih kertas putih yang terlipat dari tangan Wawan, “Makasih, Mang,” ucap Jovanka.


Wawan mengangguk dan berlalu pergi. Sedangkan Jo, kembali masuk dalam kamar. Ia duduk dan menyandarkan punggungnya di ranjang. Jo membuka selembar kertas putih dari kekasihnya.

__ADS_1


##


‘Jo, Gue tau Lu cemburu karena tadi Lu mengira Gue berpelukan dengan Tante Lu. Lu salah sangka, Jo! Gue sama sekali tidak memeluk Tante Emi. Tante Emi yang meluk Gue. Gue juga tidak mengerti, kenapa Tante Emi bisa seperti itu terhadap Gue? Gue ingin, Lu percaya sama Gue kalau Gue tidak ada rasa sama sekali terhadap Tante Emi. Walau hubungan Kita belum lama. Tapi, Gue harap Lu bisa percaya sama Gue. Satu hal yang mesti Lu tahu. Kalau Gue sudah menjalin hubungan dengan seseorang, pantang bagi Gue untuk berkhianat!!!’ Isi surat Rey.


##


Air mata Jovanka akhirnya larut dan jatuh juga di atas kertas surat yang ia genggam. Jo bingung dengan keadaan ini. Di satu sisi, ia ingin mempercayai Rey namun, ia ragu karena matanya telah melihat adegan pelukan antara kekasih dan tantenya sendiri.


“Gue mau percaya sama Lu, Rey! Tapi Gue masih ragu,” gumam Jovanka.


***


Sekolah again!


Rey berangkat sekolah seorang diri. Karena, Vicky masih dalam taraf pemulihan di kost. Rey melihat Jovanka sedang berjalan di koridor sekolah.


“Jo!” Rey berteriak memanggil namanya dan berlari menghampiri Jovanka.


Jo terdiam tanpa menoleh ke belakang.


“Jo, maafin Gue!” ucap Rey.


Jo terdiam membisu.


“Apa yang mesti Gue lakuin agar Lu percaya sama Gue?” lanjut Rey.


Jo masih terdiam.


Hening.


Bel sekolah berbunyi tanda jam sekolah akan dimulai.


“Jo, Gue harus gimana?” ucap Rey lagi.


“Sepulang sekolah Gue jawab pertanyaan Lu, Rey!” ucap Jovanka dan berlalu pergi.


.


Kelas telah dimulai. Konsentrasi Rey terbagi menjadi dua, antara jam pelajaran dan kekasihnya.


“Rey,” Ibu guru memanggil namanya.


Rey terdiam, masih dalam lamunannya.


“Rey!” Ibu guru menepuk pundaknya hingga Rey terperanjat.


“Iya, Bu?” Rey tersadar dari lamunannya.


“Maaf, Bu. Saya janji tidak akan mengulangi,” ucap Reynand.


Kelas pun kembali di lanjutkan dan Rey berusaha agar tidak melamun lagi.


.


Di kelas lain, ada Jovanka yang juga sedang memikirkan hal semalam. Jo beruntung, guru pengajarnya tidak hadir dalam kelas. Hanya ada tugas yang diberikan.


“Jo, Lu kenapa?” tanya Salsa.


Jo terdiam dalam lamunan.


“Jo!”


Jovanka terperanjat dan menoleh kepada Salsa.


“Lu kenapa?” ucap Salsa masih dengan pertanyaan yang sama.


“Gue bingung. Gue melihat Rey berpelukan dengan Tante Gue!” Jo tertunduk lesu ketika membicarakan kekasihnya.


“Loh ... Kok bisa? Terus, Lu udah klarifikasi sama Rey?”


Jo menganggukkan kepala, “Sudah. Kata Rey, Tante yang tiba-tiba meluk. Rey menjadi guru les anaknya tante Gue. Ini surat yang Rey buat.” Jo memberikan selembar kertas surat yang ditulis Reynand.


Salsa meraih kertas itu dan membacanya. Sementara Jo kembali sibuk dengan lamunannya.


“Gue harus ginama, Sa?” tanya Jovanka.


“Kalau memang Rey tidak memiliki hubungan apa-apa dengan Tante, Lu. Suruh aja dia gak usah ngajar les sepupu, Lu! Kalau dia mau berarti dia enggak bohong. Itu menurut Gue. Selebihnya, Lu mau izin in boleh kasih les atau enggaknya terserah, Lu!” Salsa berpendapat.


“Makasih sarannya, Sa!” Jovanka memeluk sahabatnya.


“Yaudah, ayok lanjut ngerjain tugasnya, bentar lagi mau dikumpulin.” Salsa mengakhiri.


***


Sementara, di seberang sana ada Emillia yang sedang gelisah dengan hatinya. Ia sedang memikirkan bagaimana caranya agar ia bisa mendapatkan cinta Reynand.


Emillia tidak mengetahui kalau Rey telah mempunyai pacar yang tak lain ponakannya sendiri.


Drett ... Dertt ....

__ADS_1


Gawai Emillia bergetar di atas meja kerjanya.


“Alexy?” ucap dari bibirnya.


Emillia mengangkat telepon dari dokter Alexy.


‘Halo,” jawab Emillia.


‘Emi, Lu bisa dagang ke klinik Gue, gak? Sepulang jam kerja, Lu?’ Pinta Alexy.


‘Boleh, kebetulan Gue gak punya acara sepulang praktek. Nanti Gue kabarin lagi, ya?’ ucap Emillia.


‘Oke!’ Alexy mengakhiri.


.


Rutinitas Emillia sebagai dokter pun masih dimulai, beberapa pasien pun telah mengantre. Hingga tak terasa, jam praktek kerjanya pun telah habis. Emillia bergegas berangkat ke Klinik tempat Alexy bekerja.


Ia menjalankan mobil berwarna putih itu dengan santai. Akhirnya sampailah mobilnya di klinik Alexy, si dokter muda sahabatnya.


“Hai ....” Sapa Alexy yang telah menunggu di luar klinik.


“Loh ... Lu, gak praktek, Lex?” tanya Emillia yang menghampiri.


“Udah over sif. Kita ngobrol santai di Cafe, yuk?” Ajak Alexy.


“Oke!”


Mereka berangkat bersama, tapi dengan mobil yang berbeda. Mereka membawa mobil masing-masing ke sebuah Cafe di Kota Bandung.


.


“Ada apa, Lex? Sepertinya ada hal penting,” ucap Emillia.


“Em ... Gue bingung, sebenarnya ini masalah pribadi. Lu mau bantu Gue, gak?” tanya Alexy.


“Apaan?” tanya Emillia.


“Gue suruh cepet-cepet nikah sama Bokap!” Alexy menggaruk kepalanya karena malu.


“What? Hahaha ....” Tawa Emillia pecah saat ia mendengarkan curhat sahabatnya.


“Sorry, sorry ... Ya, Lu tinggal kawin! Masa, malah konsul sama Gue?” Emillia masih terkekeh.


“Itu masalahnya, Emi. Gue belum punya calonnya!” ucap Alexy dengan wajah yang memerah.


Emillia kembali tertawa.


“Sorry, Lex. Sumpah! Gue gak maksud ngetawain. Lu, sih terlalu sibuk membangun klinik sampai lupa usia, yang harusnya Lu udah nikah,” ucap Emillia.


Alexy hanya tersenyum, dia mati kutu di hadapan temannya yang bernama Emillia.


“Nanti deh, Gue bantu cariin. Siapa tahu ada yang cocok sama, Lu!” Pungkas Emillia.


“Thank’s ya, Emi,” ucap Alexy.


Emillia tersenyum.


***


Bel sekolah berbunyi, tertanda waktunya pulang sekolah. Tiap pintu kelas penuh dengan siswa dan siswi yang berhamburan keluar dari dalam kelas.


Rey menunggu di depan kelas, matanya mengarah ke kelas Jovanka. Terlihat Salsa keluar dari dalam kelas, tapi tidak bersama Jovanka.


Rey menghampiri Salsa, “ Kak Salsa, Jovanka mana?” tanya Reynand.


“Ada di kelas, temuin gih! Lagi nungguin Lu, katanya,” ucap Salsa.


“Oke! Maksih Kak,” ucap Rey yang berlalu pergi.


Langkah kaki Rey mengarah ke kelas Jovanka. Jo terlihat sedang duduk di bangku dan kedua tangannya berada di atas meja dengan pandangan merunduk.


“Jo.” Rey menghampiri dan duduk di samping kursi Jovanka.


Jo masih terdiam.


“Gimana? Gue harus apa?” tanya Reynand.


Jo mendongak dan memandang wajah kekasihnya. Dengan penuh keraguan. Akhirnya, Jo mengatakan keputusannya.


“Lu sayang sama Gue?” tanya Jovanka.


“Iya, Gue sayang sama Lu. Terus, Gue harus ngapain, biar Lu percaya sama Gue?” tanya Reynand sambil menggenggam jemari kekasihnya.


“Lu gak usah jadi guru les Nourma, bisa?”


Rey terlihat syok dengan permintaan kekasihnya.


Bersambung..

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


JANGAN LUPA LIKE/KOMEN/VOTE Ceritannya, karena itu merupakan hadiah terindah untuk Penulis🙏😁


__ADS_2