Menikahi Janda Dokter

Menikahi Janda Dokter
Part 72. Pertemuan


__ADS_3

“Rey!”


Sahut Elang pagi itu.


Rey menoleh. Ia melihat Elang sedang berlari mengejarnya.


“Apa, Bang?” Rey mengernyitkan dahinya.


Elang masih terengah. Ia mencoba mengatur napas sebelum mengutarakan sesuatu pada Reynand.


“Apaan?” tanya Rey lagi, yang bersiap untuk ke kantin.


“Tunggu dulu, capek gue,” jawab Elang masih terengah.


Rey memutar bola matanya, “Gini kalau udah tua, berlari dikit aja udah teler!”


“Sialan, lu!”


Rey terkekeh.


Selang beberapa menit. Elang mengajak Rey duduk di salah satu bangku untuk menunggu kedatangan penumpang pesawat. Saat itu, masih pukul setengah enam pagi.


“Rey?”


“Paan?”


“Ternyata dokter muda itu cantik,” ujar Elang, masih mengatur napasnya.


“Terus?”


“Gue kemarin gak sengaja nubruk dia. Ternyata, bener-bener cantik, Rey.”


“Terus, apa hubungannya sama gue, Bang?”


“Kali aja lu mau mendekatinya,” ujar Elang sambil tersenyum.


Rey tersenyum, “Bang Elang gak terbang? Telat loh!” ujar Reynand, mengalihkan pembicaraan.


“Mati! Lupa kalau jadwal gue pagi, bye!”


Elang berlari dengan terburu-buru.


Sementara Rey melangkahkan kakinya menuju kantin karena penerbangannya masih dua jam ke depan.


Lagi, Rey melihat wanita itu kembali berdiri di tempat yang sama. Tidak banyak yang ia lakukan di sana. Hanya berdiri, menatap ke arah pintu kedatangan penumpang.


Siapa sih, dia? Umpatnya dalam hati.


“Pesan apa, Mas?” ujar pelayan kantin.


“Teh manis anget sama lontong sayur,” jawab Rey.


“Baik, tunggu sebentar ya, Mas?”


Pelayan itu berlalu pergi.


Rey masih menunggu pesanannya sambil memperhatikan wanita itu.


Ia mulai memperhatikan penampilannya, rambut yang panjang yang diikat, penampilan yang menurutnya bergaya kasual.


Jo, kenapa gue ingat lu, ya? Umpat hati Rey, masih dengan mata yang memperhatikan wanita itu.


“Ini pesanannya, Mas!”


Pelayan itu menghidangkan pesanan Reynand. Teh manis dan lontong sayur.


Rey mulai makan, tapi matanya masih tetap ke arah wanita itu. Hingga akhirnya, wanita itu pergi dari tempat ia berdiri. Sedangkan Rey, masih melanjutkan sarapan paginya.


“Mbak! Lontong sayur sama teh manis satu, sama gado-gadonya satu, dibungkus, ya!”


“Baik, ditunggu sebentar!”


Rey melihat pada lelaki yang barusan memesan menu yang sama dengannya. Kecuali gado-gado.


Davin?


“Dav!” pekik Rey dari tempat duduknya.


“Rey?”


Davin menuju ke meja Reynand dan ikut duduk di sana sambil menunggu pesanannya.


“Gimana kabar, Bos?” ujar Davin sambil bersalaman layaknya seorang lelaki.


“Baik, gimana dengan lu, Dok?” ujar Reynand.


“Haha ... Cukup baik.”


Ia menggaruk kepala.


“Kenapa? Lu sakit, Dav?”


“Enggak.”


“Lalu?”


“Agak meriang.”


“Lah ... Kenapa lu kerja?”

__ADS_1


“Karena tanggung jawab, Rey!”


“Iya juga, sih! Ya sudah, banyakin makan dan minum. Lu kan dokter, pasti tau lah obat yang lu butuhin. Gue duluan, ya? Semoga cepat sembuh!” ujar Reynand yang berlalu pergi.


“Woke! Thank’s, Bos!”


Rey tersenyum, berdiri dari tempat duduk lalu menepuk pelan pundak Davin.


Rey dan Davin mempunyai tubuh yang sama-sama jangkung, walau usia mereka selisih sekitar empat tahun, Davin lebih tua dari Reynand, tapi tubuh ereka hampir sama paling berbeda dua atau tiga centi saja.


Davin kembali ke ruang kerjanya setelah pesanannya selesai.


Terlihat, Jovanka sedang duduk di kursi kerjanya. Ia tampak sedang menulis.


“Ini sarapan pagi lu!”


Davin memberikan lontong sayur dan teh manis untuk Jovanka.


“Thank’s ya, Dav? Berapa aku harus bayar?” ujar Jovanka.


“Kagak usah bayar, gratis! Gue baru gajian,” bisik Davin.


“Wah ... Makasih, ya?” ujar Jovanka.


Davin mengangguk.


Mereka sarapan pagi sebelum memulai aktivitas klinik.


Jovanka dan Davin tengah disibukkan dengan pasien-pasien yang datang ke klinik mereka. Di sisi lain juga Rey sedang menjalankan kewajibannya sebagai seorang pilot.


Kesibukan mereka yang membawa pada waktu-waktu akhir bekerja. Hingga tak terasa waktu mereka bekerja telah usai. Semuanya tengah bersiap untuk bergegas pulang.


Ddrrrttt!


Ponsel Reynand bergetar. Ia merogoh ponsel itu dari dalam saku celananya.


“Adara SMS?”


Rey menyentuh layar ponsel itu dan membaca pesan dari Adara.


[Kak Rey, tolong kasih tau ke Kak Davin, Adara minta dijemput di toko buku selepas ia bertugas. Maaf Dara menghubungi nomor Kakak, hand phone Kak Davinnya mati.]


[Oke!]


Send!


Rey berjalan cepat untuk menyampaikan pesan dari Adara untuk Davin.


“Yah ... Yang jaga udah beda orang,” keluh Reynand setelah melihat ke klinik bandara.


Rey berjalan cepat, setengah berlari ke arah parkiran. Ternyata, Davin masih terlihat berjalan dengan seorang wanita.


“Davin!” pekik Rey sambil berlari.


Rey sudah sangat berbeda. Ia semakin tampan dan berkarisma dengan seragam pilotnya.


“Dav?” sapa Rey yang masih mengatur napasnya, “Kata Adara ....” Kalimat Rey terhenti, ketika wanita itu menyapanya.


“Rey? Kamu?” ujar si wanita yang bersama Davin.


Rey mengernyitkan dahi, ia bingung dengan wanita yang memanggil namanya. Wanita itu sedang memakai masker kala itu.


Wanita itu pun membuka maskernya. Terlihat sudah wajah cantik di balik masker yang ia rindukan selama ini.


“Jo?”


Mata Rey membulat.


Keadaan menjadi hening. Tatkala sepasang kekasih yang dulu terpisah, kini kembali dipertemukan. Riuh orang yang ada di bandara pun, seakan tak terdengar. Mata mereka begitu intens saling tatap.


“Haloooo?” ujar Davin melambaikan tangannya pada Rey dan Jovanka, saling bergantian.


“Kalian kenapa? Ada gue loh di sini, jangan jadikan gue seperti obat nyamuk di antara kalian berdua!”


“Eh!”


Reynand tersadar. Begitu pun Jovanka yang langsung memalingkan pandangannya.


“Sorry, sorry! Gue malah lupa. Lu disuruh Adara buat jemput dia di toko buku langganannya,” ujar Rey pada Davin.


“Yaahh ... Jo, sorry, gue gak jadi anter lu balik. Oh iya, Rey! Lu aja yang anter Jo ke kostnya, ya? Cuma deket kok!” ujar Davin.


“Baiklah,” ujar Reynand


“Gak usah,” ujar Jovanka berbarengan.


Davin merasakan ada yang aneh di antara keduanya. Apakah Rey yang dimaksud Jovanka itu laki-laki ini? Umpat hati Davin.


“Ya sudah, terserah kalian baiknya gimana. Kan kalian udah gede. Gue balik duluan, yaa? Bye!”


Davin berlalu pergi meninggalkan Rey dan Jovanka.


Waktu seakan terhenti ketika pertemuan itu kembali terjadi. Rey mengira, dirinya tidak akan kembali dipertemukan dengan wanita cantiknya. Pacar pertama yang sulit dilupakan, mereka terpisah karena orang tua sang wanita tidak merestui hubungannya.


Jo sangat kagum dengan lelaki berseragam pilot yang ada di hadapannya. Laki-laki ini lah, yang dulu tidak dikasih restu oleh Papanya. Hingga jalinan kasih mereka kandas begitu saja, tanpa ada kata putus dari kedua belah pihak. Karena tidak ada sedikit pun niat mereka untuk berpisah. Itu semua terjadi karena Jovanka yang dipaksa menikah dengan Alexy, seorang dokter kaya dan mempunyai paras indo.


“Jo, aku antar balik, ya?” ujar Reynand pada Jovanka.


“Gak usah, Rey. Aku gak mau merepotkanmu,” tolak Jovanka dengan suara yang lembut. Suara yang sangat dirindukan oleh Reynand selama lebih dari tiga tahun ini.

__ADS_1


“Eng – enggak, aku sama sekali gak ngerasa direpotin kok,” jawab Reynand.


Jo tersenyum, “Ya udah, iya. Makasih sebelumnya,” ujar Jovanka.


Rey tidak menjawab, hanya tersenyum simpul ketika melihat wajah Jovanka yang dulu berurai air mata, kini kembali tersenyum ceria.


Tuhan ... Semoga senyuman ini yang akan selalu aku lihat, setelah lebih dari tiga tahun, aku merindukannya. Umpat hati Reynand.


Jo dan Rey berjalan berdampingan menuju parkiran.


“Silakan ....” Rey membuka pintu mobil sport warna hitam miliknya.


“Makasih,” jawab Jovanka yang kemudian masuk dalam mobil.


Hanya keheningan yang terjadi dalam mobil. Untungnya hanya beberapa menit saja, perjalanan mereka berakhir karena sudah sampai di kost Jovanka.


“Jo, boleh aku mampir ke kost mu?” tanya Rey.


Jo mengangguk, “Boleh. Mari?”


Jo membuka handle pintu dan keluar dari dalam mobil Reynand.


Jo berjalan di depan dan Rey mengekor dari belakang.


“Silakan,” ujar Jovanka ketika pintu kostnya sudah dibuka. “Tunggu bentar, ya?” Jo berlalu ke belakang.


Rey duduk di kursi ruang tamu. Tidak berselang lama, Jo pun kembali dengan membawa minuman kaleng dan beberapa camilan untuk Rey.


Hening.


Mereka seperti dua orang yang belum saling mengenal. Atau mungkin karena malu? Entahlah, hanya hati mereka yang tahu.


Rey menatap wajah Jovanka yang sedang tertunduk, tanpa berani menatap wajah lelaki yang ia sayangi. Ada debar yang kembali mengencang ketika lelaki yang ia sayangi berada di dekatnya. Rey juga merasakan hal yang sama. Tak ayal, dua-duanya hanya membisu karena malu.


“Rey?” . “Jo?”


Mereka memanggil secara berbarengan.


“Ya udah, kamu duluan,” ujar Rey pada Jovanka.


Jo tersenyum, “Kabar kamu gimana?” tanya Jovanka yang mati gaya untuk bertanya.


“Baik, bagaimana denganmu?” tanya Rey balik.


Ya ampun. Sepertinya bukan hal itu yang mereka tanyakan. Tapi, karena terlalu grogi dan malu, akhirnya mereka menanyakan hal yang sesungguhnya tidak perlu ditanyakan.


Kurang lebih lima belas menit berada dalam ruangan sempit dan obrolan yang tidak penting, akhirnya Rey memutuskan untuk pulang.


“Jo, lain kali aku boleh main ke sini, gak?”


“Bo – boleh.”


“Ya sudah, aku pamit. Permisi!”


Rey bangkit dari kursi tamu menuju pintu kost Jovanka dan ia pun mengekor Rey dari belakang sampai ke halaman kostnya.


Ada perasaan baru yang dulu pernah mereka rasa, kini mulai bersemi. Akankah mereka bersatu?


Jo masuk ke dalam kamar. Ia menenggelamkan tubuh mungilnya ke atas ranjang yang tidak terlalu besar. Ia menarik napas dalam, dan mengeluarkannya perlahan.


Tuhan ... Akhirnya Engkau mempertemukan kami. Terima kasih, Tuhan!


Jo benar-benar sangat bahagia sore itu. Cintanya telah kembali. Ia terus terbayang wajah pilot tampan yang tak lain pacarnya di masa lalu. Lalu sekarang? Entah.


Tok ... Tok ... Tok ....


Terdengar pintu kost Jovanka diketuk.


Jo bangkit dari ranjangnya dan bergegas untuk membuka pintu kamar itu.


“Mama Nadia?”


Ternyata mertuanya yang datang pada sore itu.


“Mari, masuk, Ma!” ajak Jovanka.


Nadia pun masuk ke dalam kost berukuran kecil itu.


“Gimana kabarmu, Sayang?” tanya Nadia.


“Baik, Ma. Mama dan keluarga di Bandung gimana?” Jo kembali bertanya.


“Baik-baik, Jo.”


Mereka pun mengobrol ke sama-kemari. Karena cukup lama juga mereka tidak pernah bertemu.


“Jo?” ujar Nadia.


“Iya, Ma?”


Jo menatap netra mertuanya.


“Apa kamu gak nyari lagi pasangan untuk hidup, Nak?” ujar Nadia walau terkesan ragu.


“Entah, Ma.”


“Kenapa?”


“Jo belum siap.”

__ADS_1


“Sayang. Mama dan Papamu mendukung, seumpama kamu mencari pengganti Alexy. Kami sudah mengikhlaskan dirinya pergi. Tapi, Mama minta jangan sampai hubungan kita terputus, seandainya kamu sudah punya pasangan baru,” ujar Nadia.


Lagi, Jo hanya tersenyum.


__ADS_2