Menikahi Janda Dokter

Menikahi Janda Dokter
Part 22 ( Dilema )


__ADS_3

Rey menyenderkan punggungnya pada pintu kost. Ia bingung harus berekspresi apa? Ada senang dalam hatinya karena memang dari dulu ia menginginkan untuk bersekolah di sana. Ia ingin menggapai cita-citanya menjadi seorang pilot. Tapi, rasa sedih pun menghinggapi dirinya. Dimana ia harus berpisah jarak dengan kekasihnya. Rey terdiam tanpa ekspresi.


Dilema.


Mungkin kata itu yang sedang Reynand rasakan. Ia harus memilih cita-cita atau seseorang yang telah mengisi hatinya.


Bisa saja ia mendapatkan keduanya. Namun, apakah orang tua Jo akan mengijinkan dirinya untuk menikahi putrinya? sementara, pesaingnya sudah mempunyai segalanya. Seorang dokter yang sudah mempunyai klinik sendiri, mapan. Berat.


“Lu kenapa, Rey?” tanya Vicky.


“Entah, Vic. Gue harus senang atau sedih dengan kabar ini?”


“Maksudnya?” Vicky menyipitkan matanya.


“Hati Gue dari semalam udah gak karuan. Entah, seperti ada sesuatu hal buruk yang akan menimpa pada gue.” Jawab Rey lesu.


“Jangan gitu. Semuanya udah Tuhan tuliskan. Kita sebagai manusia hanya bisa menjalankan. Karena gue yakin, Tuhan akan memberikan yang terbaik untuk hambanya.” Vicky menepuk lengan atas Reynand.


Rey membisu.


Hening.


“Tapi, bagaimana caranya gue bisa keterima sekolah di sana? Sedangkan persyaratan aja baru kita persiapkan beberapa hari yang lalu. Gue belum kirim juga persyaratannya?” Rey menggaruk kepalanya. Merasa heran.


Vicky tersenyum, “Sebenarnya, gue yang udah daftarin Lu. Gue masukan persyaratan waktu lalu tanpa sepengetahuan lu. Gue harap ini jadi surprise buat lu. Tapi, nyatanya gue malah bikin lu jadi galau. Maaf ya, bro?”


“Gak papa, Vic. Makasih udah daftarin gue untuk bersekolah di sana. Memang, mungkin ini yang terbaik buat gue.”


Rey dan Vicky bersiap untuk berangkat sekolah. Dalam hati Rey berkecamuk dengan banyak pertanyaan.


Kenapa gue harus sedih? Padahal, ini cita-cita gue dari dulu, sebenarnya apa yang akan terjadi pada diri ini Tuhan?


Rey memutuskan untuk membicarakan hal ini dengan Jovanka. Bahwa ia harus pindah sekolah dalam waktu beberapa minggu ke depan. Mungkin ia bersekolah di Bandung sekitar dua bulan lagi.


***


Langkah kaki Rey gontai ketika memasuki koridor sekolah. Namun, ia menyembunyikan perasaan resah itu dari Vicky, sahabatnya yang memang sudah baik bahkan sering membantu dirinya.


“Rey!”


Langkah kakinya terhenti ketika ia mendengar suara seorang wanita memanggil namanya.


Rey menolehkan kepalanya.


“Jo?”


Hati Rey mulai gelisah ketika Jo menghampirinya.


“Aku mau ngomong sama kamu,” ungkap Jovanka.


“Boleh. Sekarang?” tanya Rey.


“Nanti aja. Sepulang sekolah. Kamu tunggu aku di parkiran, ya?” Pinta Jovanka.


“Oke!”


Jo dan Rey masuk dalam kelas masing-masing.


Rey duduk di bangku kelasnya. Sesekali ketika pelajaran dimulai, Rey teringat Jovanka yang ingin menceritakan sesuatu hal padanya.


Kira-kira, Jo mau membahas apa, ya? Perasaan gue semakin enggak enak? Terlintas dalam hati Reynand.


.


Jam sekolah pun akhirnya selesai. Vicky pulang ke kost lebih dulu, sedangkan Rey berjalan menuju mobil Jo yang terparkir.


Dia berdiri dengan hati gelisah menunggu Jovanka keluar dari dalam kelasnya. Ia mengeluarkan gawai dan memutar beberapa lagu dengan menggunakan earphone.


Jo terlihat berjalan bersama Salsa, sahabatnya. Berjalan agak cepat menuju ke arahnya. Jo berpisah dengan Salsa ketika di parkiran, karena mobil mereka terparkir dengan jarak yang cukup jauh.


Tin ...


Suara klakson mobil.


“Duluan ya, Jo, Rey!” ucap Salsa yang berada dalam mobilnya.


“Iya!” ucap Jovanka, sedangkan Rey hanya tersenyum.


Rey melepas earphone yang ada di telinganya dan memasukkan ke dalam tas ransel.


“Ada apa?” tanya Rey.


“Ayok, ikut aku.” Jo membukakan pintu mobil.


Jo dan Rey masuk ke dalam mobil. Hening yang terjadi dalam mobil. Jo memacu mobilnya dengan kecepatan yang cukup kencang. Tanpa ada ucapan, akhirnya air bening itu keluar dari sudut mata Jovanka.


“Jo? Kamu kenapa?” tanya Rey heran.

__ADS_1


Jo tidak menjawab. Ia tetap menyetir mobilnya.


“Jo!” Rey agak membentak.


Sret!


Jo memarkirkan mobilnya di tepi jalan, di bawah pohon pinus. Di situlah air mata Jo semakin mengalir deras. Ia memandang Rey dengan lekat.


“Kamu kenapa, Jo?”


Kata itu terulang lagi dari bibir Reynand. Namun, Jo masih membisu tak bicara, masih konsisten dengan tangisnya.


Hening.


Rey memberikan waktu untuk Jo menumpahkan emosinya melalui tangisan. Mungkin, hal itu bisa memberikan sedikit rasa tenang pada dirinya.


.


“Rey, aku dijodohkan sama orang tuaku,” ucap Jo yang terdengar parau.


Mata Rey membulat. Ia tak percaya dengan apa yang diutarakan kekasihnya. “Jangan bercanda, Jo!” Rey memegang pundak Jovanka dan memandang matanya lekat.


Jo menggelengkan kepalanya. Menggantikan kata tidak. Dirinya sama sekali tidak bercanda.


Rey mematung ketika berhadapan dengan Jovanka dalam mobil. Bagaimana dirinya mau mengutarakan tentang kepindahan sekolahnya apabila keadaan Jo seperti ini. Hati Rey semakin berkecamuk. Apakah gelas pecah itu pertanda hal buruk ini Tuhan? Pekik dalam hati Reynand.


“Apakah kamu menerima perjodohan itu?” Rey bertanya pada Jovanka.


Lagi-lagi Jo menggelengkan kepalanya.


“Aku maunya sama kamu Rey. Aku gak mau dijodohin!” Air mata Jo kembali meluncur di pipinya. Ia memeluk Reynand erat.


Ya Tuhan ... Aku harus gimana? Ucap Reynand dalam hati.


“Rey, kita kabur aja, yuk?” Ajak Jovanka.


Pemikiran itu sempat terpikir juga oleh Rey. Tapi, Rey bukan seorang yang pengecut membawa kabur anak orang.


“Enggak, Jo! Bukan seperti itu cara penyelesaiannya,” jawab Reynand.


“Lalu?” Matanya semakin sembab karena terlalu banyak menumpahkan air mata.


“Aku akan minta waktu pada papamu untuk menyelesaikan sekolahku dan mencari pekerjaan, setelah aku bekerja. Aku janji akan meminangmu.”


Sama seperti Jo. Rey juga sedikit demi sedikit telah merubah bahasanya di depan Jovanka.


“Aku akan meneruskan sekolah di Jakarta.” Akhirnya terucap juga hal yang harusnya ia bicarakan sedari tadi.


“Apa? Kamu akan ninggalin aku?” Mata Jo terbelalak, ia kaget dengan apa yang disampaikan kekasihnya.


“Hanya sementara. Aku ke terima sekolah penerbangan.” Rey menjelaskan.


Jo menyenderkan punggungnya di kursi mobil. Ia terlalu pusing dengan keadaan yang sekarang menimpanya. Terlalu berat baginya mengambil keputusan ini.


“Ayo, ke rumah kamu. Aku ingin bicara dengan papamu.” Ajak Reynand.


Jo menggelengkan kepala.


“Kenapa?” Rey memandang lekat wajah cantik Jovanka.


“Terlalu berat untuk meyakinkan papa,” ucap Jo lemas dan tertunduk.


“Kita kan belum coba.” Rey memegang pundak Jo, ia berusaha meyakinkan kekasihnya.


“Gak usah Rey. Kita jalani aja dulu keadaan seperti ini. Kalau kita berjodoh, mungkin kita akan dipersatukan. Entah bagaimana caranya.”


***


Jo merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Ia memejamkan mata, agar bisa tidur dan ia berharap ini hanya mimpi ketika ia terbangun nanti.


Tok ... Tok ... Tok ....


Suara pintu kamar yang diketuk.


“Jo, boleh mama masuk?” suara mama Jovanka memanggil.


“Masuk aja, ma.”


Cklek. Pintu kamar Jo terdorong masuk.


“Ada apa?” Jo bertanya di atas tempat tidurnya.


“Mama mau ketemu calon menantu mama.”


“Ya udah. Ngapain malah masuk kamar Jo?”


tanya Jo sinis.

__ADS_1


“Mama mau ajak kamu.”


“Gak mau!”


“Jo ....” ucap mamanya pelan.


Jo tidak menggubris apa yang mamanya katakan. Ia lebih memilih diam tanpa ada kata.


Tanpa banyak bicara. Akhirnya Jo mengikuti kata mamanya, sebenarnya ia juga penasaran terhadap sosok yang dijodohkan dengannya. Ia berangkat bersama mamanya ke sebuah cafe, dimana mereka berjanjian untuk bertemu dengan orang yang telah dijodohkan dengannya.


.


Ting tong! Suara bel berbunyi.


“Iya, ngari siapa, Den?” tanya bi Mun setelah pintu terbuka.


“Saya mau bertemu dengan papanya Jovanka, ada?” ucap Reynand.


“Oh ... Tuan lagi di kantor, ada pekerjaan yang dilembur katanya,” ucap bi Mun pembantu di rumah Jovanka.


“Boleh minta alamat kantornya, bi?” tanya Reynand lagi.


“Oh ... Iya, sebentar, Den. Bibi ambil kartu nama tuan.” Bi Mumun masuk ke dalam rumah.


Tak berselang lama. Bi Mumun kembali dengan membawa secarik kertas yang berisikan data atas nama Rendy, yang tak lain papanya Jovanka.


“Ini, Den.” Bi Mumun memberikan kartu nama itu.


Rey meraih. “Makasih, bi.”


.


Rey menuju ke kantor pak Rendy. Ia ke sana menggunakan angkot seperti biasanya tanpa sepengetahuan Jovanka.


Rey melangkahkan kakinya menuju kantor pak Rendi. Dalam hatinya tak ada rasa takut untuk menemui seorang pengusaha, walau dirinya belum jadi apa-apa. Jiwa muda yang selalu berani tanpa memikirkan imbas atau risikonya.


“Siang, Mbak,” ucap Rey pada resepsionis.


“Iya. Ada yang bisa kami bantu?”


“Saya mau ketemu pak Rendy, mbak.”


“Sudah ada janji sebelumnya?”


“Belum.”


“Ya udah, tunggu sebentar, ya? Oh iya namanya siapa? Biar saya sambungkan dengan Pak Rendy.”


“Saya Rey," jawab Reynand.


Si resepsionis menelepon ke ruangan pak Rendy. Ia mencoba memberitahukan bahwa ada orang yang mau menemuinya. Rey di suruh masuk ketika telepon ia tutup.


Rey diantar oleh scurity menuju ke ruangan pak Rendy. Rey mengetuk pintu ruangan pak Rendy.


“Masuk!” suara seorang laki-laki dari balik ruangan itu.


Ceklek. Rey membuka pintu ruangan itu, “Selamat siang, pak.”


“Siang.” Sorot mata Rendy terlihat heran melihat bocah ingusan yang mau bertemu dengannya.


“Kamu siapa?” Timpal Rendy lagi.


“Saya Rey, Pak.”


Sejenak, Rendy seperti sedang mengingat nama pemuda itu. Namanya seperti sudah pernah ia dengar sebelumnya.


“Saya laki-laki yang sedang dekat dengan Jovanka, pak” Rey memperkenalkan diri.


Mata Rendy membulat, “Mau apa, kamu datang ke mari?”


“Saya ingin minta ijin mendekati anak bapak. Saya akan menikahinya ketika saya sudah bekerja.” Pinta Reynand tanpa memikirkan perlakuan yang akan didapatnya.


“Maaf, saya telah menjodohkan Jovanka dengan orang lain. Saya harap, kamu bisa menjauhi anak saya.” Rendy menolak tegas.


“Saya mohon, pak. Berikan saya kesempatan untuk menikahi putri bapak. Saya berjanji akan membuatnya bahagia.” Rey memohon.


“Enggak bisa.” Sambil berdiri dan menggelengkan kepala.


“Saya mohon, pak. Saya mohon!” Rey terus memohon.


Tapi, Rendy tetap pada pendiriannya. Ia sama sekali tidak memberikan kesempatan pada Rey tanpa alasan yang jelas. Ia malah memanggil scurity untuk mengusir Rey dari hadapannya.


..


Bersambung..


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


JANGAN LUPA LIKE/KOMEN/VOTE Ceritannya, karena itu merupakan hadiah terindah untuk Penulis🙏😁


__ADS_2