Menikahi Janda Dokter

Menikahi Janda Dokter
Part 80. Pulang


__ADS_3

Meli dan Rendy telah tiba di Jakarta sekitar pukul delapan malam. Mereka ikut tinggal bersama Jovanka di kost yang amat kecil bagi mereka.


“Silakan masuk, Ma, Pa!” ujar Jo pada Papa dan Mamanya.


Meli mendorong kursi roda Rendy dan memasuki kamar sepetak itu. Ia memutar bola matanya ke setiap sudut ruangan kecil. Mungkin, ruang berpetak kecil ini bagaikan ruang keluarga mereka ketika masih tinggal di rumah mewah yang kini telah disita.


Jo merasa sedih karena kedua orang tuanya harus tinggal di rumah kecil seperti ini. Jangan kan untuk bertiga, ditinggali sendiri saja sudah sangat terasa sempit, untuk ukuran orang kaya seperti keluarga Jovanka.


“Papa istirahat dulu, ya?” ujar Jovanka.


Rendy mengangguk samar, karena anggota tubuhnya sangat sulit untuk digerakkan.


Jo mendorong kursi roda itu dengan hati-hati memasuki kamar sederhana tanpa AC. Jo dan Meli bersama-sama membantu Rendy untuk berpindah ke tempat tidur. Mata Rendy berkaca-kaca.


“Papa kenapa?”


Rendy hanya menggeleng, sebagai pertanda ia tidak apa-apa. Ia berusaha menahan air yang hampir jatuh dari kedua matanya tapi tetap saja terjatuh.


“Tapi kok Papa menangis?”


Rendy hanya bisa menatap lekat wajah Jovanka.


“Papa jangan berpikir terlalu keras. Maaf ya, Pa? Jo tidak dapat memberikan tempat tinggal yang layak?” ucap Jo bersuara lirih.


Meli segera memeluk putrinya, ia juga merangkul Rendy sehingga mereka bertiga berpelukan dengan diiringi tangisan.


“Gak papa, Sayang. Kami yang minta maaf, malah menambahmu repot di sini,” ujar Meli.


Mereka berpelukan untuk saling menguatkan.


Meli dan Jovanka ke luar dari dalam kamar ketika Rendy sudah terlelap. Mereka mengobrol santai di teras luar, karena takut mengganggu tidur Rendy.


“Ma? Bagaimana ceritanya perusahaan Papa sampai kolaps?” tanya Jovanka.


Meli tertunduk. Sebenarnya, ia tidak ingin mengingat kejadian yang menurutnya memilukan. Bagaimana tidak? Kekayaan mereka semuanya raip, hanya dalam beberapa waktu saja.


“Papamu mendapat kenalan partner kerja baru. Mereka bekerja sama hingga suatu saat, ada perjanjian yang ternyata isinya telah disabotase oleh rekan kerjanya itu. Ada beberapa rekap dokumen untuk mereka tandatangani berdua. Papamu hanya membaca lembar awal, yang mencetuskan sistim bagi hasil akan diberikan pada Papa sebesar tujuh puluh lima persen. Papamu percaya dan langsung menandatangani kertas perjanjian itu karena ia sangat percaya pada rekan bisnisnya itu. Ternyata, tiap lembar isinya berbeda, hingga akhirnya ada dokumen yang menyatakan seluruh saham dari Papamu menjadi hak milik untuknya. Yang bikin Papamu berpikir keras, seluruh sahamnya telah dijual pada orang lain dan rekan kerjanya itu pindah dari Bandung, entah ke mana. Dari situ, Papamu mulai sering melamun dan sakit. Hingga akhirnya Papa di fonis stroke oleh dokter,” terang Meli menjelaskan sambil berurai air mata.


“Sabar ya, Ma? Mama doain semoga Jo bisa menabung dan membelikan rumah yang cukup nyaman untuk kalian."


“Mama selalu doakan, Sayang!”


Meli memeluk erat putrinya.


Tiba-tiba, ada mobil soprt warna hitam yang terparkir di halaman kost Jovanka. Meli dan Jo melihat ke arah mobil itu.


Ceklek!


Pintu mobil terbuka.


Terlihat sepatu kets lelaki yang turun dari dalam mobil hitam itu.


“Rey?” ucap Jovanka.


Lelaki itu tersenyum dengan membawa kantong kresek putih di tangannya yang berisi camilan.


Sementara Meli merasa pernah melihat lelaki ini. Ia berusaha keras untuk mengingatnya.


“Malam, Jo? Malam Tante?” ujar Rey ramah.


Jo tersenyum sedangkan Meli berbisik pada Jovanka, “Siapa dia?” ujar Meli berbisik.


“Ini Rey, Ma. Teman sekolah Jo, lebih tepatnya dulu adik kelas Jovanka,” ujar Jo sedikit berbisik.


“Bukannya dulu dia pacarmu?”


Ternyata Meli masih mengingat semuanya. Wajah lelaki ini terlihat semakin tampan.


“Ini.”


Rey memberikan satu kresek putih itu pada Jovanka.


Jo meraihnya, “Makasih, Rey! Ayok duduk!”


Rey ikut duduk bergabung di teras luar. Mereka bertiga mengobrol hangat kala malam semakin larut.


“Jo, Mama tidur, ya? Udah ngantuk.”


Meli beralasan.


“Iya, Ma.”


“Mari, Rey?” ujar Meli ramah.


Dari dulu, yang menantang hubungan Jo dengan Rey itu Papanya. Meli juga sebenarnya bingung dengan sikap Rendy, tapi ia mencoba berpikir positif pada suaminya itu. Hingga saat ini, tidak ada yang tahu awal kebencian Rendy terhadap Reynand itu karena apa? Hal itu masih menjadi misteri untuk Meli dan Jovanka.


“Jo? Boleh aku ngomong serius?” ujar Rey pada wanita yang sedang tertunduk.


“Apa?”


Jo mengangkat pandangannya.


“Masih adakah kesempatan untukku untuk kembali padamu?”


Jo kembali tertunduk.

__ADS_1


Hening.


“Jawab, Jo! Apakah sekarang kamu tidak mempunyai rasa yang sama terhadapku?”


Tes!


Air bening telah jatuh dari kedua mata Jovanka.


“Ya sudah. Aku tidak akan memaksa. Aku hargai, kalau kini hatimu telah berbeda. Yang perlu kamu tau, dari dulu perasaan yang kupunya selalu sama, bahkan cenderung bertambah. Aku ingin meminangmu, Jo!”


Jovanka kembali mengangkat pandangannya, matanya kini membesar menatap Reynand.


“Apa?”


“Aku mencintaimu! Aku ingin mengambil hatiku yang pernah diambil orang lain!”


“Tapi aku sudah tak sempurna, Rey! Aku kini telah menjanda!”


“Itu bukan alasan, Jo! Aku hanya ingin tau hatimu. Adakah aku di hatimu?”


Jo kembali menangis.


“Dari dulu, Rey! Walau aku sudah bersuami, pikiran dan hatiku selalu melayang bersamamu. Aku merasa bersalah pada almarhum suamiku karena selama pernikahan tidak ada rasa sayangku untuknya. Rasa itu sedikit timbul karena perhatiannya tapi kini ia telah tiada.”


Air mata itu tak berhenti mengalir.


“Sudah, Jo. Aku tidak ingin melihatmu menangis lagi.”


Rey mengusap lembut air yang membasahi pipi wanitanya.


Hening.


“Rey?” ujar Jovanka memecah keheningan.


“Hem?”


Rey memandang netra Jovanka.


“Beri aku waktu untuk memutuskan semua ini.”


“Baiklah, aku akan menunggu sampai kamu siap menjawabnya. Aku pamit, ya?”


Jo mengangguk.


***


Sudah lebih dari lima bulan, Alexy tinggal di Singapura. Lebih dari lima bulan juga, dirinya telah dikabarkan meninggal dunia.


Siang ini, sekitar pukul sebelas. Alexy dan Princess menapaki tanah air tercinta. Mereka berjalan dengan membawa satu travell bag yang cukup besar lalu menaiki taksi dari Bandara menuju rumahnya.


Suara bel rumah Alexy berbunyi.


Kebetulan, hari itu seluruh penghuni rumah tengah berkumpul.


“Bi Mun! Tolong bukain pintu!” pekik Nadia dari dapur.


“Iya, Nya!”


Mumun berlari dari kamar mandi. Kala itu ia sedang membersihkan kamar mandi di kamar Nadia.


Ceklek!


Mumun membuka pintu.


Alangkah terkejutnya Mumun, ketika melihat Alexy berdiri tepat di hadapannya. Alexy seperti mayat hidup untuknya.


“AAAAA!”


Tiba-tiba Mumun berteriak dan jatuh pingsan.


Alexy dan Princess kaget melihat asisten rumah tangga itu yang malah jatuh pingsan.


“Mas, sepertinya ia kaget melihatmu,” ujar Princess yang berusaha bangunkan Mumun.


Tak berselang lama, Nadia dan Michael pun ke ruang tamu karena mendengar teriakan dari asisten rumah tangganya itu.


“Mum ....”


Kata itu terpotong, ketika netra Nadia memandang pria dewasa yang tak lain putranya sendiri.


Ia berjalan mendekati Alexy. Tidak ada kata dari bibir perempuan senja itu. Tangannya kini mengusap pipi Alexy, terasa hangat pada telapak tangannya. Nadia memeluk dan menumpahkan air mata di dada putranya. Sementara Mumun sudah ditolong oleh scurity.


“Kamu ke mana saja, Nak?” ujar Nadia dengan tangis.


“Kenapa kamu baru datang?”


“Kamu dari mana saja, Lex?”


“Apakah kamu tidak merindukan Mama, Papa, sepupumu dan istrimu?”


Alexy terdiam mendengar pertanyaan yang bertubi tanpa jeda dari sang Mama. Ia membiarkan Mamanya menangis dalam pelukannya. Hingga akhirnya, Nadia tersadar ada gadis muda di samping Alexy.


“Ini siapa?” tanya Nadia menunjuk Princess.


“Ini Princess. Istri Alex, Ma,” ujar Alexy.

__ADS_1


“Apa?”


Mata Nadia membulat.


“Lex, Papa gak ngerti!” timpal Michael.


“Masuklah, tidak enak membahas masalah di depan rumah,” ujar Nadia.


Alexy dan Princess mengekor Nadia dan Michael yang berada di depan.


Suasana di sofa cream itu terlihat tegang. Wajah mereka menampakkan keseriusan, sehingga tidak ada senyuman walau hanya sedikit saja.


Alexy mulai menceritakan kejadian yang ia alami ketika di Singapura. Mulai dari ia koma, sadar, amnesia hingga orang tua Princess yang meninggal dunia. Alexy mengutarakannya tanpa menyembunyikan sedikit pun dari orang tuanya.


Hening.


Walau bagaimanapun, Princess telah berjasa. Tidak ada salahnya juga kalau Alexy menikahi Princess. Mereka terlihat bahagia. Tapi, Jovanka? Apakah ia akan menerima diceraikan oleh Alexy?


Nadia masih bingung untuk menjawab semua yang Alexy bilang. Nadia terlalu berat kalau Jovanka harus berpisah dengan putranya. Tapi, tidak mungkin juga Alexy mempunyai dua istri.


“Ma, Pa. Alex mau bercerai dengan istri pertama Alex. Karena Alex yakin, ia akan bahagia apabila hidup dengan lelaki yang ia cintai,” ujar Alexy.


Nadia melirik ke arah suaminya. Bermaksud meminta pendapat, mungkin.


Tapi, Michael malah mengangkat bahunya, menandakan ia menyerahkan semua keputusan pada istrinya.


“Apakah kamu sudah berpikir matang, Nak?” tanya Nadia.


Alexy mengangguk, “Sangat matang, Ma!”


“Baiklah, esok kita ke Jakarta. Jovanka kini menjadi dokter muda di sana. Ya sudah, kalian istirahat saja,” ujar Nadia.


Nadia memutuskan, ia lah yang akan pergi ke Jakarta karena ia juga yang tahu tempat tinggal Jovanka di sana.


Alex dan Princess melangkah memasuki kamar. Kamar besar dan mewah yang pernah ia tinggali dengan Jovanka, istri pertamanya.


Ceklek!


Alexy membuka pintu kamar itu.


Mata Princess langsung tertuju pada foto pernikahan suami dengan istri pertamanya. Bibir yang tersenyum mengembang, seketika menjadi murung dan membisu.


“Ayok!”


Ajak Alexy menarik lengan istrinya.


Walaupun ragu, Princess mengikuti langkah kaki suaminya. Sialnya, Alexy tidak peka hari itu. Mungkin karena badanya terlalu capek.


Alexy langsung membaringkan tubuh lelahnya itu di atas kasur super besarnya. Sementara Princess hanya duduk di tepi ranjang. Matanya menatap tajam pada wanita yang ada di dalam foto itu.


Untungnya, tidak berselang lama. Alexy kembali membuka mata. Ia melihat istrinya hanya duduk di tepi ranjang dan matanya juga masih melihat foto pernikahannya dengan Jovanka.


Alexy segera bangkit dari tempat tidur. Ia menyadari kalau istri mudanya ini tengah cemburu. Alexy berjalan mendekati foto yang cukup besar yang tertempel di dinding kamarnya. Ia langsung menurunkan foto itu.


“Mau dibawa ke mana, Mas?” ujar Princess.


“Mau taruh di gudang atau sekalian dibuang,” jawab Alexy.


“Jangan!”


Princess melarang.


“Untuk apa dipajang di sini kalau membuatmu cemburu!”


“Cemburu?”


“Iya. Kamu cemburu melihat foto ini, kan?” ujar Alexy.


Princess terdiam. Karena memang hal itulah yang ia rasa saat ini. Ia hanya terdiam dan pasrah melihat suaminya yang ke luar dari dalam kamar membawa foto pernikahan bersama istri pertamanya.


Tidak berselang lama, Alexy pun kembali. Ia mendekati istrinya yang sedang duduk di tepi ranjang.


“Mas, maafin aku, ya?” ujar Princess merasa tidak enak.


Alexy tersenyum, “Gak papa.”


“Aku jadi gak enak. Hari pertama di rumah ini sudah bikin Mas bad mood,” ujar Princess.


“Kata siapa?”


“Kataku. Barusan, Mas marah ‘kan?”


Princess menyipitkan matanya.


“Sok tau!”


Alexy mencubit manja hidung istrinya.


“Iiihhhh ... Sakit, Mas!”


Bibir Princess meruncing.


Alexy tertawa melihat Princess yang sedang cemberut.


Tiba-tiba, Alexy menjatuhkan tubuh Princess dan menyerangnya tanpa ada aba-aba.

__ADS_1


__ADS_2