Menikahi Janda Dokter

Menikahi Janda Dokter
Part 89. Perdebatan


__ADS_3

“Pa? Papa kenapa?” tanya Meli yang ke luar dari kamar.


Rendy segera mengusap air yang terlanjur membasahi pipinya.


“Ti – tidak apa-apa, Ma!” ujarnya dengan sedikit terbata.


“Kok nangis?” tanya Meli yang kini sudah berdiri tepat di sampingnya.


Hening.


“Pa? Ceritalah ... Mama ‘kan istri Papa. Papa kenapa?”


Rendy menatap tajam mata Meli, istrinya.


“Menurut Mama, Papa ini jahat tidak?”


“Maksudnya?”


Meli mengernyitkan dahi, pertanda dia tidak mengerti apa yang suaminya maksud.


“Apa Papa salah telah menjodohkan Jovanka dengan Alexy?”


Rendy menatap tajam netra Meli.


Meli pun menatap tajam mata yang sedikit merah dan sebab karena menangis tadi, “Menurut Papa bagaimana?” Meli berbalik tanya.


Hening.


Pandangan Rendy kembali menatap foto Jovanka dan lagi, ia mengusap gambar pipi putrinya.


“Papa egois!” ujarnya lirih, sambil menitikkan kembali air matanya.


Meli mengusap lembut punggung suaminya. Sebenarnya ia pun tidak tega berbicara seperti itu. Makanya, ia lebih memilih untuk mengembalikan pertanyaan pada Rendy.


“Sudah, Pa. Nasi sudah menjadi bubur,” ujar Meli. “Itu bukan kesalahan Papa semuanya, Mama pun dulu ikut memaksa Jovanka untuk menerima pinangan dari Alexy.”


Rendy masih memandang foto putrinya, dan Meli masih setia menemani Rendy yang sedang berdiri di dekat foto Jovanka. Mereka berdua sama-sama menyesal telah memaksakan kehendak mereka dulu.


Mereka terlalu takut melepaskan putrinya pada orang biasa. Makanya, mereka berdua menerima pinangan dari seorang lelaki mapan tanpa memikirkan perasaan putrinya. Yang membuat mereka sesak, pernikahan putrinya harus berakhir di pengadilan dan meninggalkan status janda pada putrinya.


“Papa menyesal, Ma!”


Rendy memeluk Meli dan menangis.


“Sabar, Pa. Mungkin Jo juga tau, alasan kita dulu menikahkan dia dengan lelaki yang mapan semata untuk membahagiakan dirinya. Walau ternyata kita ini salah dalam mengambil keputusan itu. Pa, apakah Papa setuju kalau Rey menikahi putri kita?” tanya Meli mencoba mengambil hati sang suami.


Seketika, Rendy langsung melepaskan pelukan dari istrinya. Matanya kini membulat. Kebencian itu kembali terukir di wajahnya.


“Entah, Ma!”


Rendy memalingkan pandangannya.


Meli mencangkup kedua pipi Rendy agar kedua netra itu bisa menatap wajahnya, “Liat Mama, Pa!”


Rendy pun menatap mata sang istri.


“Sebenarnya, kenapa Papa sampai membenci Rey? Salah dia apa sama Papa?” ujar Meli, masih mencangkup wajah senja itu.


Lagi, Rendy memalingkan pandangan.


“Pa, bukannya Papa ingin melihat Jo bahagia? Kebahagiaan Jo terletak dalam diri Reynand. Dia akan bahagia kalau ia bisa menikah dan hidup bersama orang yang dari dulu ia sayang!” tegas Meli.


Tok ... Tok ... Tok ....


Suara pintu diketuk.


“Papa selami hati terdalam Papa, seumpama posisi Jo ada pada diri Papa!”


Meli berlalu pergi untuk membukakan pintu.


Ceklek!


Terlihat wajah cantik dari balik pintu itu.


“Sayang? Tumben siang-siang datang ke mari, ada apa?” tanya Meli lembut.


Jovanka memperhatikan mimik wajah Meli yang tampak tegang, “Mama kenapa?”

__ADS_1


Sepertinya ada yang tidak beres! umpat hati Jovanka.


“Hem? Mama gak papa. Masuk, Sayang!”


Meli membuka pintu.


“Oh ... Iya, Jo mau ambil berkas klinik, dulu lupa waktu nginep di sini, berkas itu Jo simpan dalam kamar ini,” jawabnya.


Jo melangkahkan kaki ke dalam kamarnya di apartemen itu. Ia melihat Rendy yang sedang berdiri di dekat fotonya. Langkah Jo berbelok ke arah Rendy yang sedang berdiri dan sesekali terlihat mengusap matanya.


“Papa kenapa?”


Rendy terperanjat oleh suara yang ia kenal. Ia berusaha menyembunyikan kesedihannya, tapi sia-sia. Matanya sudah sangat terlihat sembab.


“Papa gak papa kok, Nak!” elaknya dan memalingkan pandangannya.


Jo mendekat, “Jo tau, Papa sedang bohong. Ada apa, Pa? Apa Jo membuat Papa kecewa?”


Lagi, air mata itu kembali meluncur bebas di pipinya.


“Tidak, Sayang. Kamu tidak ada salah apa-apa sama Papa. Papa yang banyak salah sama kamu, Nak. Maafkan Papa!” lirih Rendy, ia memeluk erat tubuh putrinya.


Papa kenapa, ya? Umpat hati Jovanka.


“Udah, Pa. Papa gak ada salah sama Jo. Jovanka baik-baik saja, apa yang harus ditangisi?” ujar Jovanka.


Mendengar kata dari bibir putrinya. Hati Rendy semakin sakit. Ia teringat semua paksaannya untuk menjodohkan Jovanka dengan Alexy tapi berakhir dengan derai air mata di persidangan.


Rendy melepaskan pelukannya. Ia mencangkup pipi putrinya dan menatap tajam mata yang ia anggap kuat.


“Apa yang membuatmu bahagia, Nak?” tanya Rendy.


“Adanya Papa dan Mama di sisi Jo.”


“Lagi?”


Rendy kembali bertanya.


Jo mengernyitkan dahi.


“Hadirnya lelaki yang kamu cinta. Apakah itu akan membuatmu bahagia, Jo?” ujar Rendy.


“Jawab, Nak!” desak Rendy.


Jo membisu.


“Iya, Pa! Mama tau isi hati putri Mama. Ia menginginkan itu! Tapi dia terlalu takut Papa kecewa!” pekik Meli menimpali.


Mata tajam itu kini menatap Meli yang sedang berjalan ke arahnya. Lalu kembali menatap tajam putri cantik yang berada di hadapannya.


“Benar itu, Jo?”


Rendy kembali bertanya.


“Jawab saja, Sayang! Mama ada bersamamu!” ujar Meli.


Jo mengangguk, “I – Iya, Pa. Jo, ing-in me - nikah dengan dia,” jawab Jo sangat terbata. Pandangannya pun merunduk, karena terlalu takut melihat Rendy.


Tok ... Tok ... Tok ....


Meli berjalan ke arah pintu untuk membukanya.


“Rey?”


Mata Meli membulat.


Kenapa anak ini datang disaat ada ketegangan di rumah ini? Umpat Meli dalam hati.


“Saya mau ketemu dengan Om Rendy, Tan!” ujar Reynand.


“Ta – tapi, Rey ....” ucapannya terputus ketika suara Rendy bertanya dari dalam ruang keluarga.


“Siapa, Ma?” pekik Rendy.


“Na, Rey. Kamu pulang aja, ya? Keadaannya sedang tidak memungkinkan Nak Rey menemui Om Rendy saat ini,” pinta Meli.


“Tapi kenapa, Tan? Rey masih ingin memperjuangkan cinta Reynand, Tan!”

__ADS_1


“Iya, tapi tidak sekarang. Tante mohon, pergilah, Nak!”


Meli merapatkan kedua tangannya.


“Enggak! Sebelum Rey bertemu dengan Om Rendy!” Rey memaksa.


Karena Meli tidak menjawab, akhirnya Rendy masuk ke ruang tamu.


“Kamu!” pekik Rendy ketika melihat Reynand.


Meli memejamkan mata, “haduhhh!” Umpatnya kecil.


Keadaan menjadi tegang ketika Rendy mendekati Reynand. Sementara Rey tetap santai, tidak ada sedikit pun raut wajah takut pada dirinya. Berbeda dengan Jo dan Meli, yang begitu tegang melihat dua laki-laki itu saling bertatap.


“Mau apa kamu?” tanya Rendy.


“Saya masih mau bilang sama Om tentang nasib hubungan saya dengan Jo. Saya mau minta restu!” jawab Rendy.


“Percaya diri sekali kalau aku akan menerimamu menjadi menantuku?”


Rendy tersenyum sinis.


“Saya tidak akan menyerah sampai Om merestui hubungan kami!”


Rendy semakin mendekat. Dan ketegangan pada Jo dengan Meli semakin terlihat.


“Rey, Tante mohon, pergilah, Nak. Ini bukan waktu yang tepat!” ujar Meli memohon.


“Papa tahan emosi. Papa masuk ke kamar aja sama Jo, yuk? Papa harus istirahat kan?” ujar Jovanka.


Hening.


Semuanya tidak berucap apa pun saat itu. Hanya tatapan tajam dari sepasang mata lelaki yang berbeda usia.


“Ma, Jo. Papa minta, kalian masuk ke kamar. Papa ingin bicara sama dia!” ujar Rendy sambil menunjuk wajah Reynand.


Meli dan Jo saling bertatap. Tapi akhirnya mereka masuk ke kamar. Jo menangis dalam kamar, karena ia yakin Papanya tidak akan merestui hubungannya dengan Reynand. Karena terlihat sekali, kebencian Rendy pada Rey walau ia tidak mengetahui alasannya.


“Sabar, Sayang!” ujar Meli sambil meluk erat putrinya.


Air mata itu semakin mengalir dan membasahi baju Meli, “Jo takut, Ma!” lirih Jovanka dengan suara serak.


“Serahkan semua ini pada-Nya, Sayang! Mama juga tidak dapat berbuat apa-apa. Pasrah Sayang, yakinlah, Dia akan memberikan yang terbaik untuk kalian berdua.”


Jo masih menangis. Air mata itu sudah tidak bisa dibendung.


Keadaan semakin tegang, karena Jo dan Meli tidak dapat mendengar percakapan antara Rendy dengan Rey pada saat itu.


.


Tepat di depan pintu ruang utama, Rendy menginterogasi Reynand.


“Kamu yakin, ingin berumah tangga dengan putri saya?” ujar Rendy.


Rey kaget mendengar pertanyaan itu dari bibir Rendy.


Apa yang direncanakan Om Rendy? Tumben ia menanyakan hal itu? Padahal, dari awal aku sudah bilang ingin berkomitmen sama putrinya.


“Heh! Jawab!” ujar Rendy tidak sabar karena Rey malah sibuk dengan angannya.


“Dari awal, saya sudah bilang. Kalau saya ingin meminang putri Om. Bahkan, ketika saya masih sekolah pun, Saya telah meminta waktu pada Om untuk diberikan kesempatan membuktikan keseriusan saya terhadap Jovanka. Tapi, Om menolak.”


Rendy tersenyum kecut, “Orang tua mana, yang rela menikahkan putrinya dengan lelaki yang belum jelas mau menjadi apa? Sedangkan saingannya sudah bergelar. Saya yakin, apabila orang tuamu memilik anak perempuan, ia juga akan lebih memilih yang sudah bergelar. Paling tidak, ia ada jaminan untuk hidup berkecukupan!”


“Yang lalu biarlah berlalu. Yang saya ingin tegaskan. Apakah Om akan memberikan saya restu?”


“Hahaha ... Berani kamu bicara seperti itu terhadap saya?”


“Saya hanya ingin membahagiakan putri Om! Karena kebahagiaan dia merupakan kebahagiaan saya! Duka dia merupakan duka bagi saya!”


Jo mendengar sedikit keributan di luar sana yang akhirnya ia memaksa untuk ke luar dari kamarnya.


“Jo! Mau ke mana, Sayang? Kembaliiiiii!!!” pekik Meli dari dalam kamar.


Jo tidak menghiraukan panggilan Mamanya. Ia terus berjalan menuju ruang tamu. Karena Rey dan Rendy berada di sana.


“STOP! Jovanka mohon!”

__ADS_1


Air mata Jovanka berlinang.


__ADS_2