Menikahi Janda Dokter

Menikahi Janda Dokter
Part 93. Pengakuan Rendy


__ADS_3

Rendy begitu syok dengan apa yang diucapkan oleh Nadin. Rey masih berdiri mematung di depan pintu, sedangkan Rendy masih dengan mata yang membulat.


“Rey? Sini, masuk. Oh, iya. Temani dulu Pak Rendy, ya? Mama mau ke toilet. Perut Mama sakit,” ujar Nadin.


Tanpa menunggu jawaban Reynand, Nadin langsung pergi meninggalkan ruang kerjanya. Tinggallah Rendy dan Reynand yang berada dalam ruangan itu.


Hening.


Rendy tidak berani menatap lelaki muda di hadapannya. Ia sudah terlalu malu karena dirinya dulu terlalu kasar menolak Reynand ketika minta diberikan kesempatan untuk mendekati putrinya. Bahkan, sebelum perusahaannya bangkrut pun, Rendy mengusir Rey dari kantornya.


Tuhan ... Aku terlalu malu dengan lelaki yang aku benci selama ini, umpat hati Rendy.


“Om?” sapa Reynand.


Rendy mendongak sebentar, tapi langsung menundukkan kembali pandangannya.


“Rey akan nikahi Jovanka secepatnya,” ujar Reynand meminta izin.


Hening.


Rendy tidak dapat menjawab satu patah kata pun. Sungguh, ia terlalu malu dengan Reynand, tapi kebencian itu belum sirna dalam hatinya.


“Sepulang Jo dari rumah sakit. Rey mengundang Om, Tante dan Jovanka untuk makan malam di rumah kami. Semoga Om berkenan hadir,” ujar Reynand.


Rendy masih tertunduk.


“Om, Rey tidak pernah membenci Om Rendy, sekali pun Om tidak suka terhadapku.”


Ceklek!


Pintu kantor terbuka.


“Loh ... Kok pada diam?” ujar Nadin yang baru masuk ke ruang kerjanya.


“Ma, Om Rendy ini Papanya Jovanka,” ujar Reynand.


“Apa? Wah ... Nanti Pak Rendy jadi besannya Mama, Rey?” jawab Nadin dengan wajah bahagia.


Rey tersenyum sedangkan Rendy hanya tertunduk. Ia teramat malu dengan Reynand.


“Pak Rendy? Kok diam saja? Kenapa, Pak?” tanya Nadin.


“Se – sungguhnya ... Saya, dulu ... Dulu, itu. Saya ....”


Entah apa yang akan dikatakan Rendy pada Nadin, hingga bibirnya begitu sulit untuk mengungkapkan kata.


“Om Rendy senang, Ma. Tapi, tenggorokannya sedikit sakit jadi agak sulit untuk bicara,” ujar Reynand.


Rendy mendongak dan menatap wajah Reynand.


“Emm ... Pantas, dari tadi Pak Rendy diam saja,” ujar Nadin sambil tersenyum.


Rendy tidak habis pikir. Reynand masih melindungi aibnya dari Nadin. Padahal, bisa saja ia mengutarakan semuanya di depan Nadin.


Mungkin Rey terlalu takut tidak diberi izin oleh Nadin? Entahlah.


“Oh, iya. Katanya berkas ini sangat penting? Ini berkasnya, Ma!”


Rey menyerahkan berkas yang tergeletak di atas meja.


“Oh ... Iya, Mama lupa. Pak Rendy, silakan baca dulu.”


Nadin menyerahkan kertas itu pada Rendy.


Rendy meraih dan membacanya dengan cepat. Entah ia membaca atau hanya sekedar melihat. Ia terlalu malu, yang ada dalam pikirannya hanya ingin buru-buru ke luar dari ruang kerja Nadin.


“Saya tandatangan di sini, Bu?” ujar Rendy menunjukkan letak untuk tandatangan.


“Iya, Bapak sudah membaca semuanya?” tanya Nadin.


“Sudah, Bu!” Rendy menandatangani lalu menyerahkan dokumen itu pada Nadin, “Saya permisi ya, Bu. Masih banyak pekerjaan di kantor sana,” ujar Rendy yang langsung beranjak dari tempat duduknya.

__ADS_1


“Baiklah, hati-hati ya, Pak?” ujar Nadin.


“Baik, Bu!”


Rendy ke luar dari dalam ruang kerja Nadin yang sesak. Bukan karena ruang kerjanya, tapi karena rasa malu yang telah sampai ke ubun-ubun. Rendy berjalan cepat dan melesat menggunakan taksi. Seketika tubuhnya telah menghilang dari kantor Nadin.


“Ma, Rey ke rumah sakit, ya?” ujar Reynand.


“Baiklah, makasih ya, Rey. Tadi Mama juga udah jenguk Jovanka. Salam saja untuk Jovanka dan Bu Meli, ya?”


Rey tersenyum, “Em ... Sekarang udah kenal sama Bu Meli, Ma?” goda Reynand.


“Iya, lah! Tadi kan udah kenalan. Ya sudah, cepat ke sana. Obrolin pernikahan kalian.” Nadin kembali menggoda putranya.


“Ashiap, Mayang!” ujar Rey.


“Mayang? Siapa Mayang?”


Nadin mengernyitkan kening.


“Mamasayang!” ujar Rey yang berlalu pergi.


Nadin menggeleng, “Ada-ada aja 'tuh anak!” umpatnya sambil kembali mengerjakan pekerjaan kantor.


***


Rey melesat menuju rumah sakit. Ia membeli satu buket mawar putih dan satu parsel buah untuk Jovanka.


Melangkah melewati koridor rumah sakit dan berjalan melewati kamar-kamar yang tersusun rapi, menembus keramaian yang ada di dalamnya. Satu tangan kiri membawa parsel dan satu tangan kanan lagi membawa buket mawar putih.


Rey mendorong pintu kamar inap Jovanka. Di sana terlihat Jo yang sedang membaca sebuah novel. Ia memang suka dengan novel, cukup banyak novel yang ia punya di kostnya.


“Hai ... Sayang?” sapa Rey mendekati Jovanka.


“Rey?”


Jovanka langsung menutup novel dan meletakannya.


“Mama lagi ke rumah sebentar. Makasih bunganya, Sayang,” ujar Jovanka sambil mencium mawar putih itu.


“Gimana keadaanmu?”


“Semakin membaik. Oh ... Iya, kata dokter esok siang aku udah boleh pulang,” ujar Jovanka.


“Oh, ya?”


Rey terlihat senang.


Jo mengangguk dan Rey langsung memeluk tubuh kekasihnya itu.


“Aku udah bilang sama Mama tentang rencanaku untuk menikahimu.”


“Lalu?”


“Mama menyerahkan semuanya padaku. Aku juga udah mempersiapkan makan malam untuk keluarga kita, agar lebih dekat. Tapi nanti, setelah kamu pulang dari rumah sakit.”


Jo tersenyum, “Aku bahagia, Rey.” Lengkungan itu sungguh terlihat pada bibir merah jambu itu.


Mereka mengobrol tentang perencanaan untuk persiapan menikah. Mulai dari pemilihan gaun, cincin nikah sampai acara pernikahan yang unik telah mereka rencanakan di dalam kamar rumah sakit.


Keduanya tampak bahagia, walau ada satu orang yang masih mengganjal kebahagiaan mereka. Siapa lagi kalau bukan Rendy? Papanya Jovanka. Karena, hingga saat ini Rendy belum bicara alasan dirinya membenci Reynand. Tetapi, itu tidak menyurutkan niat kedua insan ini untuk menjalin rumah tangga. Membina hidup baru dan merajut asa yang dulu hilang.


***


Tok ... Tok ... Tok ....


Pintu apartemen Meli diketuk.


Meli yang sedang merapikan baju ganti untuk Jovanka pun akhirnya beranjak ke luar kamar untuk membukakan pintu.


“Papa?” ujar Meli ketika ia sudah membuka pintu.

__ADS_1


Tanpa ada kata, Rendy ngeloyor masuk ke apartemen. Ia duduk di sofa ruang tamu dengan wajah yang kusut.


“Papa kenapa?” tanya Meli lembut dan duduk di sisi suaminya.


“Gak papa, Ma.”


“Hem ... Kok mukanya kusut gitu?”


Meli menyipitkan mata.


Hening.


Rendy tidak mau bicara, ia masih menyenderkan punggungnya di sofa ruang tamu itu.


“Oh ... iya, tadi Mama ketemu sama Mamanya Reynand, Pa. Kok namanya sama dengan bosnya Papa, ya?”


Mata Rendy membulat.


“Mama ketemu sama Mamanya Reynand?”


“Iya, Pa. Dia itu wanita yang baik. Mama harap, Jovanka bisa hidup bahagia dengan Reynand.”


Rendy tersenyum sinis apabila mendengar kata Reynand.


“Papa kenapa? Kok senyumnya sinis gitu?” ujar Meli penasaran.


“Bu Nadin itu memang bos Papa, Ma. Rey itu anak dari bos Papa.”


“Apa?”


“Iya! Makanya, Papa enggak tau nanti nasib Jovanka nanti. Apakah ia diterima dengan baik oleh keluarga mereka atau sebaliknya,” ujar Rendy.


“Ini semua gara-gara Papa! Coba dulu Papa enggak bersikap menyakitkan terhadap Rey. Mama yakin Jovanka sekarang bisa hidup bahagia. Satu hal yang Mama ingin tanya dari Papa. Kenapa Papa sangat membenci Rey?”


Hening.


“Jawab, Pa!”


“Papa punya mulut ‘kan? Jawab!” desak Meli.


Rendy belum mau bicara, ia masih saja terdiam hingga akhirnya Meli mengungkapkan satu hal.


“Rey itu lelaki yang tulus! Ia menerima putri kita apa adanya walau Papa masih bersikap tidak mengenakkan. Papa rubah dong sikapnya! Kalau aku menjadi Rey, aku tidak akan kuat menghadapi Papa, terlalu menyakiti hati!” ujar Meli.


Hening.


“Jawab, Pa! Yang perlu Papa tau, apartemen ini Reynand yang membelikan untuk Jovanka!”


Akhirnya kata itu terlontar dari bibir Meli.


“Apa?”


Rendy membulatkan mata.


“Semua ini milik Rey. Kita sudah tidak punya apa-apa, Pa! Tapi ego Papa masih seperti ini, sebenarnya kenapa sama Papa? Apa alasan Papa membenci pria sebaik Reynand?” pekik Meli yang sudah emosi.


Netra Meli dan Rendy saling bertautan. Meli yang penuh dengan rasa penasaran sedangkan sorot mata Rendy penuh dengan kebencian.


“Ada satu yang Papa tidak suka dari lelaki itu,” ujar Rendy yang akhirnya bersuara.


Meli menatap tajam dan menunggu jawaban dari bibir suaminya.


“Karena wajah Rey mirip sekali dengan musuh Papa dan Papa yakin, dia anak dari musuh Papa itu.”


Meli tersenyum masam, “Hanya karena itu? Pa, bisa saja hanya wajahnya yang mirip. Apa karena wajahnya mirip dengan musuh Papa, lalu Papa dengan seenaknya menyamakan Rey dengan musuh Papa? Gak adil! Papa egois!”


“Terserah Mama. Tapi itu memang menyakitkan bagi Papa!”


Rendy berlalu pergi.


Sebenarnya Meli penasaran pada pengakuan dari bibir suaminya. Tapi untuk saat ini, Meli lebih memilih pergi ke rumah sakit karena sudah cukup lama ia meninggalkan Jovanka sendiri di sana.

__ADS_1


__ADS_2