Menikahi Janda Dokter

Menikahi Janda Dokter
Part 84. Jembatan Kayu


__ADS_3

Rey dan Jo menikmati pagi dengan rintik hujan yang terlihat di jendela kantin. Sarapan bersama dan mengobrol hangat.


“Jo?” sapa Rey dengan lembut.


“Iya?”


Jo mengangkat pandangannya.


“Aku mau ....”


Tiba-tiba Rey dikejutkan oleh pemberitahuan bahwa pesawat akan diberangkatkan setengah jam lagi. Sontak, Rey kaget, ia terlalu asyik mengobrol dengan kekasihnya.


“Ya Tuhan, Aku harus segera berangkat Sayang!” Rey membawa serta jas dan tasnya yang ia simpan di samping meja. “Maaf, aku gak bisa antar kamu sampai klinik, muachh ....” Rey mencium pucuk kepala Jovanka, “Bye!”


Mata Jovanka membulat, ia kaget dengan kecupan Rey yang sangat tiba-tiba. Kecupan spontanitas itu malah membikin jantung Jo berdebar kencang di pagi ini.


Jo berjalan menuju klinik dengan hati yang ceria. Sepanjang jalan terukir senyum indah dari bibir merah muda itu. Hingga tak terasa, dirinya telah sampai di klinik tempat ia bekerja.


Memasuki klinik dan duduk di kursi kerjanya. Jo mengusap lembut kepalanya dengan mata tertutup ia pun membayangkan. Senyuman itu masih mengembang karena teringat kecupan yang Rey sematkan pada ujung kepalanya.


“Rey, aku makin sayang sama kamu,” ujarnya dengan senyum mengembang dan mata yang masih terpejam.


“Aku juga sayang kamu, Jo!” terdengar suara lelaki.


Hah? Rey ke sini? Tapi suaranya bukan dia! Jo mengumpat dalam hati.


Jo membuka matanya, “Davin?” Mata Jo membulat ketika melihat orang di depannya itu bukanlah Reynand.


“Hahahaha ....”


Seketika tawa itu pecah memenuhi atmosfer klinik yang masih sepi pagi itu.


“Kamu? Ich, dasar!” Jovanka memukul lengan Davin dengan kencang. “Jahil banget sih!” bibirnya mengerucut, tapi wajahnya memerah karena menahan rasa malu.


“Yaelah ... Tadi pan, lu bilang kalau lu sayang sama Rey. Berhubung Rey gak ada di sini. Gue mewakilinya,” ujar Davin yang masih sedikit tersenyum melihat kekonyolan orang yang sedang jatuh cinta.


“Dih ... Emang kamu siapanya?”


Jo menyipitkan mata.


“Anggap saja gue Kakaknya,” ujar Davin.


“Dih ... Mana ada dia punya Kakak nyebelin kayak kamu?”


“Ya udah, anggap aja gue adiknya,” elak Davin.


“Dih ... Usiamu lebih tua dari Rey. Masa adeknya?” jawab Jo tidak mau kalah.


“Yaelah ... Kagak mungkin juga kalau gue bilang suruh anggap jadi Bapaknya, ‘kan?"


“Hahaha ....”


Giliran Jovanka yang tertawa mendengar celoteh dokter pintar, tampan tapi mempunyai sikap yang menurutnya jahil dan absurd.


Pagi itu mereka mengemban tugas sebagai seorang dokter di klinik itu. Kedudukan Jo masih di bawah Davin. Karena dia yang bertanggung jawab penuh di klinik itu. Lambat laun, Jovanka pun bangkit dari keterpurukan yang kemarin pernah singgah di hatinya. Ia bangkit karena Reynand. Dari dulu, Reynand lah yang selalu bisa membuat Jovanka bahagia.


Bukan hanya hati, kehidupannya sudah mulai membaik. Ekonomi keluarganya berangsur membaik dan kesehatan Rendy pun mulai membaik karena ia sering ikut terapi.


Semua itu tidak lepas dari ikut campur tangan Reynand. Ia lah yang membantu perekonomian keluarga Jovanka. Andaikan saja Rendy tahu, mungkin ia orang yang paling malu sejagat raya. Rey membiayai seluruh pengobatan dan terapi Rendy hingga dirinya berangsur membaik. Bicaranya sudah jauh lebih jelas, tangannya sudah dapat digerakkan dengan lancar, walau kakinya belum sembuh, ia masih duduk di kursi roda.


Waktu di klinik pun telah usai. Davin memutuskan pulang lebih dulu. Ia beralasan ada keperluan. Sedangkan Jo masih menghitung stok obat yang hampir habis untuk segera dipesan.


Jo menggantung jas praktik warna putih itu di gantungan yang terpasang di dinding ruang kerjanya. Ia mengayunkan kaki ke luar dari klinik.


Ceklek!


Jo mendorong pintu klinik.


Di luar sudah ada seorang lelaki dengan senyuman yang menghiasi bibirnya.


“Rey?”


Jo mengernyitkan dahi.


“Hai ... Sayang?” sapanya masih dengan senyuman. “Aku ada perlu bentar. Ikut aku, yuk?” ajak Reynand.


“Ke mana?”


“Ikut aja, yuk?” jawab Rey masih belum menjawab.


“Em ... Mulai rahasia-rahasiaan ‘nih?”


Jo membulatkan matanya.


Rey tersenyum lalu mencubit hidung Jovanka.


Jo tidak bertanya lagi kalau kekasihnya sudah mencubit hidungnya, menandakan ia tidak akan bicara sampai di tempat tujuan.


Mereka berdua berjalan berdampingan menuju parkiran melewati pintu kedatangan di terminal tiga. Sekarang, sudah tidak ada lagi wanita yang selalu berdiri menunggu kepulangan suaminya di pintu itu.


Jo dan Rey masuk dalam mobil sport warna hitam, melesat menembus sore hari di jalanan ibu kota.

__ADS_1


.


Rey dan Jo berjalan ke sebuah tempat, di mana mereka akan disuguhkan dengan pemandangan suset penuh kemilau.


Jo tampak terpana. Takjub dengan ciptaan Sang Kuasa yang indah tanpa cela.



“Kamu suka?” ujar Rey ketika mereka berjalan di jembatan kayu dengan view laut dan sunset yang sangat indah.


Jo mengangguk, “Sangat suka,” jawab Jovanka tanpa memandang kekasihnya, matanya masih lekat menikmati indahnya ciptaan Sang Khalik.


“Jo?”


Kedua tangan Rey menggenggam tangan Jovanka. Mereka kini saling berhadapan.


Jembatan kayu di tepi pantai dengan disuguhkan sunset berwarna jingga, telah menyaksikan Reynand yang akan melamar Jovanka. Rey berlutut, ia mengeluarkan cincin yang tersimpan dalam kotak berwarna merah.


“Maukah kamu menjadi pendamping hidupku?”


Rey membuka kotak merah yang berisi cincin mas putih yang bertatahkan berlian putih yang tersemat pada cincin indah itu.


Mata Jo berkaca. Ia menahan haru, tangis bahagia dan rasa tidak percaya. Ia benar-benar tidak menyangka hari ini bakal dilamar oleh kekasihnya.


Rey masih berlutut sambil memegang kotak yang berisi cincin putih bertatahkan berlian.


Akhirnya, Jo mengangguk.


“Kamu bersedia?”


Rey memastikan.


Jo kembali mengangguk.


Rey berdiri dan langsung memeluk erat tubuh kekasihnya. Ia bahagia.


“Makasih, Sayang!” bisik Rey yang masih memeluk tubuh wanita cantik itu. Jovanka hanya mengangguk dalam dekapan hangat Reynand.


Akhirnya, cincin itu disematkan di jari manis Jovanka, terlihat cantik ketika cincin itu telah menemukan pemilik hati Reynand.


Sesungguhnya, jauh-jauh hari Rey sudah membeli cincin putih ini. Kala itu, cita-cita Rey akan memberikan cincin putih ini untuk wanita yang menjadi separuh dari hatinya. Dan hari ini, ia sudah menemukan separuh hati yang dulu hilang.


Mereka kembali menikmati sunset sore itu. Warna jingga telah memenuhi langit sore itu. Hingga akhirnya Rey mengantarkan Jo kembali pulang ke kostnya karena hari mulai gelap.


*


“Rey, gimana kalau Papa gak merestui hubungan kita?” tanya Jovanka ketika sudah berada di kostnya.


“Apakah kita bisa yakinin Papa? Sementara aku tau, sikap keras Papa,” ujar Jo merasa pesimis.


“Aku akan terus berusaha sampai mendapatkan restu dari Papamu, Sayang!” Rey mengacak sedikit rambut Jovanka.


“Janji?”


Jo mengangkat jari kelingkingnya.


Rey melirik.


“Janji kalau kamu mau memperjuangkan aku?”


Kelingkingnya masih terangkat.


“Kamu lucu!”


Rey menarik hidung Jovanka.


“REYNAND! JAWAB!”


“Iya, aku janji, Sayang!”


Rey mengaitkan telunjuknya dengan kelingking Jovanka.


“Dih ... Kok malah telunjuknya yang mengait, sih?”


Jo mengernyitkan dahinya, heran.


“Kalau aku kaitkan kelingking yang kecil ini saja, sudah disebut mau berjanji. Jadi aku mengaitkan telunjukku sebagai simbol bukan hanya berjanji, tapi akan memberi bukti!” ujar Reynand.


“Realy?”


Tatap Jovanka syahdu, mendengar ucapan dari kekasihnya.


Rey mengangguk.


Tes!


Jovanka tak kuasa menahan air mata kebahagiaan.


“Jangan nangis.”


Rey mengusap halus air bening yang meluncur di pipi sang Kekasih.

__ADS_1


***


Sudah lebih dari tiga bulan, Jovanka menyandang status Janda muda. Kini, Rey dan Jovanka akan ke apartemen untuk meminta izin pada Rendy.


Rey memakai kemeja slim fit polos berwarna navvy serta bawahan celana jeans warna hitam dengan sepatu kets agar terkesan santai, tapi tetap rapi. Tak lupa, ia menyemprotkan parfum andalannya. Tubuhnya sudah sangat harum, tercium aroma maskulin di badannya.


Rey menuruni anak tangga dan berpamitan pada Mama dan adiknya pada Sabtu malam itu.


“Wangi banget, Bang?” ledek Rhiena.


“Iya, dong!”


“Mau ke mana, sih?”


“Kepo banget deh!”


“Hilih ... Dasar!”


“Ya udah. Rey pamit dulu ya Ma, Na?” pamit Reynand.


“Mau ke mana sih, Rey?” tanya Nadin yang akhirnya kepo juga.


“Mau menjemput hati Rey, Ma!”


“Serius, Rey?” ujar Nadin.


“Bye!”


Rey tidak menjawab, ia hanya berlalu begitu saja. Memberikan rasa penasaran pada Rhiena dan Nadin.


“Hem ....”


Nadin membuang napas.


“Itu kelakuan anak laki-laki Mama tersayang!” Rhiena terkekeh.


*


Sementara di tempat lain, ada Jovanka yang sudah menyiapkan hidangan makan malam di atas meja makan. Ia dibantu oleh sang Mama.


Meli sudah mengetahui rencana Rey datang untuk melamar putrinya. Tapi, masih dirahasiakan dari Papanya.


Apakah Rendy akan memberikannya restu?


Entah.


“Masaknya banyak banget, Jo? Akan ada yang mau datang ke mari?” ujar Papanya yang sudah lancar bicara.


Jo tersenyum.


“Iya, akan ada yang melamar anak kita, Pa!” ujar Meli yang mewakili menjawab.


“Oh, ya? Siapa?” ujar Rendy yang terpancing untuk bertanya.


Jo dan Meli saling bertatap. Tidak ada satu pun yang berani untuk memberitahu, siapa lelaki yang akan datang untuk melamar putrinya itu.


“Loh ... Kok malah pada diem?” tanya Rendy yang merasa heran.


“Nanti Papa juga tau,” ujar Meli yang masih merahasiakan.


“Oke ... Oke! Papa tunggu siapa sih, laki-laki yang berani melamar anak Papa yang cantik ini?” goda Rendy pada putrinya.


Deg!


Hati Jovanka berdebar kencang. Ia ragu, kalau Papanya akan memberikan restu untuknya. Jo hanya tersenyum simpul pada Papanya.


Jovanka menarik lengan Meli ke dapur, “Ma, 'kok Jo ragu, ya?” ucap Jovanka.


Meli tersenyum, “Tidak usah ragu, Sayang! Yang ada juga, Mama yang mau tanya sama kamu. Apakah kamu sudah berpikir matang untuk menerima pinangan Reynand nanti?” tanya Meli sambil memegang pipi Jovanka.


Jo mengangguk, “Sangat siap, Ma. Ma, doain Jo, ya?”


“Pasti, Sayang. Mama akan doakan dan juga akan berusaha membantumu sekuat Mama.”


“Makasih, Ma.”


Jo memeluk tubuh Meli.


Ting tong!


Suara bel berbunyi.


Jo langsung bergegas ke depan untuk membukakan pintu. Tapi ternyata, Rendy telah lebih dulu berada di depan pintu.


Ceklek!


Pintu telah dibuka Rendy.


“Malam, Om ....” ujar Reynand.


“Kamu?”

__ADS_1


Sorot mata penuh kebencian yang tersirat, dari mata Rendy pada Reynand.


__ADS_2