Menikahi Janda Dokter

Menikahi Janda Dokter
122. Salah Paham


__ADS_3

Panggilan ponsel telah berakhir. Suasana pagi yang diiringi oleh tangis bahagia dari ketiga wanita telah mengisi pagi itu.


Reynand meraih ponsel yang sedang digenggam oleh Jovanka. Dia meletakkan ponsel tersebut di atas nakas, lalu memegang kedua pundak sang istri.


Mata Reynand dan Jovanka kini saling menatap. Sekilas, masih terlihat genangan air mata yang sepertinya belum usai. Rey mengusap pelan air yang menguntit dari sudut mata istrinya dengan lembut.


Jovanka menarik lengan suaminya lalu menciumnya bertubi-tubi. Dia begitu bersyukur atas kehamilannya dari seorang lelaki yang dia cintai. Tuhan begitu menyayangi mereka berdua sehingga mereka kini telah bersatu.


"Makasih, Sayang," ucap Jovanka yang masih mencium dan menggenggam erat jemari suaminya.


Reynand tersenyum dan memberikan istrinya waktu untuk menumpahkan kebahagiaannya. Setelah Jovanka terdiam, Reynand mulai mengusap lembut pucuk kepala Jovanka hingga sepasang mata bulat itu kini memandang mata sipit Reynand.


"Jo?" Reynand menyebut nama istrinya. "Aku tidak dapat mencurahkan perasaan gembiraku saat ini. Entah, aku harus berekspresi seperti apa? Menangis? Tertawa? Atau bahkan melompat-lompat seperti anak kecil ketika menemukan kebahagiaan?"


"Maksudmu?" Jovanka bertanya maksud dari suaminya dengan tatapan polos dan wajah yang masih mendongak melihat Reynand.


"Hari ini hari yang membahagiakanku. Rasanya persis seperti aku mendapatkan cintamu, berpisah lalu kembali dipersatukan dalam ikatan pernikahan. Aku begitu bahagia, tapi kebahagiaanku sulit untuk diekspresikan. Jaga baik-baik Reynand **, ya?" pinta Reynand dengan tangan mengelus perut Jovanka yang masih rata.


Tangan Jovanka kembali melingkar di perut Reynand. Dia mendekap erat tubuh yang kini beraroma maskulin. Entah kenapa, wangi maskulin yang ada pada tubuh Reynand saat itu tidak disukai oleh Jovanka.


Jovanka melepaskan dekapannya, dia sedikit menjauhkan hidungnya dari dada Reynand. "Kamu bau!" ucap Jovanka yang membuat mata sipit Reynand membulat kaget.


"Bau? Aku mandi, loh, Sayang."


"Tapi tubuhmu bau minyak wangi membuat perutku mual. Jauh-jauh, gih!" pinta Jovanka dengan kaki yang mundur beberapa langkah.


Helleh, tadi meluk. Sekarang bilang suruh jauh-jauh. Mau dia apa coba? Batin Reynand ketika melihat sikap istrinya.


"Berangkat, gih. Tapi jangan lama-lama. Aku nunggu parfum yang ada di tubuhmu hilang," pinta Jovanka yang terkesan aneh.


Suruh cepat berangkat tapi jangan lama-lama. Dia hanya menunggu aroma parfum yang ada di tubuh ini hilang? Ya Tuhan, kenapa aku pusing melihat Jovanka saat ini? Batin Reynand yang masih terpaku di hadapan istrinya.


"Sana, berangkat ...." ucap Jovanka sambil sedikit mendorong tubuh suaminya menuju pintu.


"Iya, Sayang, iya."


***


Reynand berangkat menggunakan mobil warna hitam menuju bandara. Sepanjang jalan bibirnya mengerucut mengingat kelakuan Jovanka yang menurutnya berubah.


Hingga tidak terasa mobil Reynand telah terparkir di lobby bandara.


Reynand membuka malas handle pintu mobilnya lalu keluar dengan langkah pelan menuju ruang kerja. Dia melewati banyak orang tetapi seolah tidak memperhatikan sehingga dia menabrak seseorang.


'Brukk!'

__ADS_1


Reynand menabrak seorang wanita.


"Aduh!" keluh wanita tersebut dan terlihat beberapa berkas berserakan di lantai.


"Maaf, maaf ... saya tidak sengaja," ujar Reynand sambil membantu memunguti kertas-kertas yang terjatuh.


"Enggak apa-apa," ucap si wanita yang sedang mengambil kertas-kertas miliknya hingga semuanya selesai.


"Ini––" Reynand memberikan lembar kertas yang telah rapi pada wanita yang tidak sengaja ditabrak olehnya.


"Makasih," ujar si wanita ketika menerima berkas dari Reynand. "Kamu?" sambung si wanita dengan telunjuk yang menunjuk ke arah Reynand.


Rey menyipitkan mata ketika melihat seorang wanita yang mungkin seusia istrinya ketika ada di hadapannya.


"Maaf. Saya terburu-buru. Tidak ada yang terluka, kan, ketika saya tabrak barusan?" ucap Reynand yang terkesan ingin menghindar.


Wanita itu menggeleng lalu Reynand beranjak pergi. Baru saja Reynand berjalan berapa langkah, wanita itu kemudian memutar tubuhnya lalu memanggil Reynand.


"Tunggu!" panggil si wanita yaang membuat langkah Reynand terhenti.


Wanita itu berjalan menuju Reynand yang terlihat punggungnya. Wanita itu kini berdiri tepat di hadapan Reynand yang membuat mata sipit pria itu semakin menyipit ketika melihat wanita yang tidak dia kenal berada tepat di hadapannya.


"Kamu pria yang berada di hotel nomor 25 di Jepang, kan?" terka si wanita.


"Tau, dong. Aku adalah orang yang salah kamar waktu itu malah mengetuk pintu kamarmu. Ternyata, kita kembali dipertemukan di Jakarta. Bay the way, ternyata kamu seorang pilot, Reynand?" ujar si wanita.


Hah? Dari mana dia tahu namaku? Reynand berbicara dalam hatinya sambil mengernyitkan dahi.


"Tidak usah heran. Aku membaca namamu dari namtek yang ada di dada kamu," ujar si wanita.


Reynand hanya sedikit tersenyum lalu dia berpamitan untuk masuk ke ruang kerjanya dengan alasan telat. Padahal, jam kerjanya masih satu jam lagi.


Langkahnya begitu cepat dengan mood yang benar-benar anjlok di pagi itu. Istrinya yang tiba-tiba tidak menyukai wangi parfum dan beberapa aroma masakan. Ditambah dengan seorang wanita yang malah mengetahui nama dan tempat kerjanya.


"Aaahhh ... siaalll!" pekik Reynand cukup kesal. Tangannya refleks menggebrak meja.


Elang yang baru masuk kerja pun kaget mendengar Reynand yang tiba-tiba menggebrak meja. Kaki elang pun sedikit melompat saat itu.


"Setdah! Lu kenapa, Rey?" ucap Elang sambil melangkah ke meja kerja Reynand.


Rey mendongak. Memandang wajah Elang sebentar, kemudian kembali tertunduk lesu.


Elang hanya memperhatikan Reynand yang seolah memendam kekesalan pada pagi itu. Elang hanya memperhatikan wajah Rey yang masih tertunduk lemas.


Akhirnya Elang pun duduk ketika Reynand tidak menggubris pertanyaannya.

__ADS_1


"Ada apa, sih, Rey?" tanya Elang yang sedikit melunak.


"Gak ada apa-apa," jawab Reynand dengan nada dingin.


"Gak usah seperti perempuan."


"Maksud lu apa, Bang?" jawab Reynand yang sepertinya tersulut emosi.


"Eitss! Sabar, sabar. Bukan maksud gimana-gimana. Gue hanya ingin lu cerita."


"Lalu, apa maksud lu yang bilang gak usah seperti perempuan? Lu anggap gue kek mereka yang gak jelas lalu marah-marah?" tanya Reynand dengan nada kesal.


"Nah, itu. Kenapa lu marah-marah gak jelas coba? Lu itu kenapa? Ceritalah, siapa tau, gue bisa bantu. Ingat, lu itu pilot yang akan membawa penumpang untuk terbang di pesawat. Kalau keadaan lu semrawut seperti ini, gue takut malah akan mengancam nyawa penumpang."


Reynand terdiam. Dia mendengarkan ucapan Elang dan menelaah setiap perkataan yang seolah wejangan.


"Ayok, ceritalah. Jam kerja kita masih cukup lama kalau hanya membahas perkara sepele. Gue yakin, lu hanya badmood, bukan karena masalah besar," ucap Elang.


Sejenak Reynand terdiam. Namun, akhirnya dia mau menceritakan perkara rumah tangganya yang memang bukan masalah besar. Hanya saja cukup membuat mood Reynand anjlok di pagi itu.


"Gue lagi kesel sama istri gue." Reynand mulai bercerita.


"Kenapa?"


"Entahlah, ketika kemarin divonis hamil, dia seolah gak suka wangi badan gue yang pakek parfum. Padahal, parfum ini dia yang beli. Tadi pagi aja gue seolah diusir dari kamar suruh buru-buru berangkat ke tempat kerja. Badan gue bau, katanya," keluh Reynand.


Elang tersenyum mendengar curhatan Reynand.


"Ellahhh ... kok malah senyum? Emang badan gue bau, Bang?" tanya Reynand seolah berbisik ketika dia mendekat pada Elang.


"Bukan."


"Lalu, kenapa lu senyum-senyum?" tanya Reynand yang kembali menyenderkan punggungnya di kursi.


"Istri lu lagi hamil, kan?"


"Iya."


"Itu namanya ngidam. Dia enggak suka wangi parfum yang lu pakek itu wajar. Banyak, kok, perempuan seperti itu. Yang awalnya suka menjadi tidak suka."


"Masa, sih, Bang?" tanya Reynand sambil memicingkan mata.


"Iya. Sangat wajar mereka bersikap seperti itu. Coba sabar dan ngertiin dia. Toh, dia mengandung anak lu juga. Jadi, turutin aja apa yang dia mau demi anak lu."


Reynand mengangguk-angguk mendengar semua percakapannya dengan Elang.

__ADS_1


__ADS_2