Menikahi Janda Dokter

Menikahi Janda Dokter
103. Pulang


__ADS_3

Diam-diam, Jovanka memesan tiket pesawat untuk penerbangan kembali ke Indonesia. Yang awalnya akan berlibur dua Minggu, Jo lebih memilih untuk pulang dalam waktu lebih cepat.


Rey memang tidak menunjukkan raut sedih di depan Jovanka ketika ibu dan adik kembarnya harus lebih dulu mengakhiri liburan mereka dan harus kembali bekerja di negerinya sendiri.


Tiket pun telah berada di tangan Jovanka. Perlahan, Jo merapikan pakaiannya dan juga Rey ke koper yang cukup besar.


Rey yang sedang mandi di bawah kucuran shower merasa sedikit relax walau hati dan pikiran dia masih tertuju pada keluarganya di Indonesia.


Rey keluar dengan handuk pendek putih yang melingkar di perut sixpacknya begitu menggoda. Beserta tangan yang mengacak rambut basahnya dengan handuk, sungguh terlihat menggoda di mata Jovanka.


"Loh ... kenapa baju-baju kita dimasukkan ke koper, Sayang?" Rey bertanya dengan raut wajah heran.


"Kita pulang siang ini, Sayang."


"Loh! Memangnya ada apa? Mendadak sekali. Aku belum memesan tiket, Sayang."


"Udah. Semua udah aku persiapkan, tinggal menunggu berangkat aja nanti siang."


Rey sedikit heran dengan tingkah istrinya yang tiba-tiba saja mau meninggalkan liburan dan bulan madu mereka.


Ada apa ini? Batin Reynand mencoba menebak-nebak perasaan istrinya.


"Oh, iya. Ini bajumu, Sayang." Jovanka menyodorkan kemeja berlengan panjang dan celana jeans panjang berwarna hitam di atas tempat tidur.


"Terima kasih."


***


Pukul 21.00 WIB, pesawat yang membawa Rey dan Jovanka telah mendarat di negeri tercinta. Mereka telah kembali dengan selamat. Kala itu, gerimis membasahi kota Jakarta.


Suara rintik hujan bagaikan simfoni indah di telinga mereka di tengah banyaknya orang-orang yang berlalu di hadapan mereka ketika Jo dan Rey memilih untuk menikmati semangkok bakso panas di salah satu kafe yang ada di samping bandara.


Tempatnya cukup nyaman dengan konsep lesehan membuat Jo dan Rey bisa berselonjor kaki setelah lebih dari tujuh jam mereka berada di atas awan.


"Malam ... mau pesan apa, Mbak? Mas?" sapa seorang pelayan kafe yang membawa buku kecil.


Rey dan Jo meraih buku menu. Keduanya memilih makanan yang sama.


"Bakso," jawab keduanya.


"Oh, oke! Minumnya apa?"


"Hot lemon tea aja," jawab Jo.


"Aku ice lemon tea," jawab Rey.

__ADS_1


"O––" Baru saja si pelayan hendak mencatat, tapi Jo menyela.


"No, no, no! Gerimis seperti ini malah minum es, mana udah perjalan jauh dan perut kosong. Ganti minuman hangat!" tegas Jovanka yang mulai berani mengatur suaminya.


Rey tersenyum karena baru saat ini Jo berani menentang keinginannya dan sungguh terlihat rasa sayang dan perhatiannya walau wajahnya terlihat galak.


"Iya, Bu Dokter. Aku ikut Ibu aja." Rey menggoda istrinya dengan seulas senyum.


"Mas, esnya ganti, ya. Samain aja seperti punyaku," perintah Jovanka pada pelayan kafe.


"Baik, Mbak."


"Mas, baksonya gak pakek toge!" serentak Rey dan Jovanka bersamaan.


Pelayan itu tersenyum ketika mencatat pesanan terakhir Jo dan Rey kemudian berlalu pergi, sedangkan Jovanka membuka tas kecilnya dan mengambil benda pipih di dalamnya.


Dia mulai mengetik sesuatu.


"Ma, Pa. Jo udah sampai di Jakarta." Isi pesan singkat yang dia kirim pada ponsel ibunya. Tidak berselang lama, balasan pun masuk pada ponsel miliknya.


"Loh! Kenapa udah di Jakarta? Kalian baik-baik saja, kan?"


"Baik, Ma. Enggak ada apa-apa. Oh, iya. Ini sudah larut malam, Mama sama Papa mau istirahat pasti, ya?"


"Iya. Ini, baru saja Mama hendak mematikan lampu."


"Iya sudah. Mama tinggal tidur, ya? Hati-hati, Sayang. Salam buat Rey," balasan pesan singkat yang mengakhiri obrolan antara ibu dan anak.


Jo kembali memasukan ponselnya ke dalam tas selempang berwarna abu-abu. Jo tidak menyangka kalau dirinya sedang dipandangi oleh Rey.


"Idih, ngapain liatin aku kayak gitu?" tanya Jovanka ketika melihat sepasang mata suaminya teruji padanya dengan lekat dan bibir tersenyum manis.


"Suka aja liatin kamu. Cantik." Rey menggoda lagi Jovanka.


"Idih! Gombal terus. Ada salam dari Mama," ujar Jo berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Aku mau dari anaknya aja. Biar salam dari Mama buat Papa aja," ujar Rey dengan tangan menyanggah pipi dan sepasang mata sipit yang masih lekat-lekat memandang wajah Jovanka.


Senyuman pun tersembul di bibir merah mudanya. Pipinya bersemu merah ketika menyadari tatapan lekat yang disertai bibir tersenyum manis sekali dari suaminya.


Hening.


Jo merasa degup dalam dada semakin kencang dan hati yang berbunga-bunga, karena pujian itu datang bertubi-tubi dari sang suami. Sementara Rey begitu asyik memandangi wajah cantik istrinya.


Akhirnya dua mangkuk dan dua minuman hangat telah tersedia di depan mereka. Wangi kaldu bakso yang khas, mie dan pentol beberapa bakso telah mengisi mangkuk tersebut.

__ADS_1


"Makasih," ujar Rey.


"Sama-sama. Selamat menikmati," ujar si pelayan yang kemudian berlalu pergi.


Bibir Jo tersungging manis ketika meraih semangkuk bakso miliknya. Dia menambahkan saos sambal dan juga kedap pada bakso tersebut. Tidak lupa, dia hendak menambakan cabai yang telah dihaluskan.


"Eits." Rey menahan tangannya yang telah memegang sendok kecil berisi cabai.


"Kenapa?" Mata Jo menatap heran suaminya bersama tangan yang terhenti di atas mangkuk bakso.


"Ini udah malam, lebih dari tujuh jam perutmu kosong. Jangan dikasih sambal nanti perutmu sakit, Bu Dokter." Rey mencoba mengingatkan istrinya sekaligus membalas apa yang dilarang oleh Jo padanya tadi. Bukan benci, tapi itu tandanya Rey perhatian terhadap Jovanka. Dia menyayangi istrinya.


"Iihhh ... bakso gak pedes mana enak, Sayang."


Di luar ekspektasi Reynand, ternyata Jo tidak menuruti keinginannya.


"Tapi nanti kamu sakit perut, loh, Jo," ujar Rey dengan mata yang semakin menyipit heran. Bagaimana bisa, Jo yang terlihat begitu protektif pada Rey. Namun, dirinya sendiri malah seolah mengabaikan kesehatannya.


"Enggak, Sayang. Ya udah, makanlah baksomu. Nanti minta keburu mengembang, enggak enak." Jo mengalihkan pembicaraan sekaligus menabahkan beberapa sendok cabai pada bakso miliknya.


Dasar aneh! Dirinya sendiri yang ngingetin gue akan kesehatan. Laahhh ... yang abai dia-dia juga. Dasar wanita! Batin Rey.


"Sayang, aku mau ke toilet, bentar, ya?" pamit Jovanka.


"Mau aku antar?" tanya Rey dengan seulas senyum nakal.


"Ish!" Cepat-cepat Jo berlalu pergi menuju toilet.


Tiba-tiba saja ide menghampiri otak Reynand. Walau pun tadi sempat ditentang Jovanka, lelaki itu masih mempunyai cara agar istrinya tidak sakit perut.


"Mas!" Rey memanggil pelayan kafe.


Si pelayan pun berlari ke arah Rey. "Iya, Mas, ada yang bisa saya bantu?"


"Saya pesan baksonya satu lagi, ya? Sama persis seperti ini," pinta Rey sambil menunjuk pada mangkuk bakso milik Jovanka.


"Baik, Mas. Tapi, sepertinya agak lama karena antrean cukup banyak yang memesan bakso," ujar si pelayan.


"Gak bisa diduluin? Satu mangkuk aja, Mas," pinta Rey.


"Maaf, Mas. Enggak bisa, harus sesuai dengan antrean. Kami enggak mau pelanggan kecewa."


"Oh ... baiklah, enggak jadi aja."


Pelayan itu kembali pergi dan Rey hampir kehabisan akal.

__ADS_1


Bagaimana agar Jo tidak memakan baksonya, ya? Pikir Rey dalam hati.


"Ah, aku tukar sajalah baksoku dengan punya Jo." Rey segera menukar bakso miliknya dengan Jovanka.


__ADS_2