
Sementara di cafe. Rey sibuk dengan pekerjaannya sebagai barista. Sedangkan Vicky dan Rhiena asyik berbincang. Ternyata, tanpa sepengetahuan Rey, Nana sering chat dengan Vicky. Kedekatan mereka pun terjalin. Hingga di malam itu, Vicky berani mengungkapkan rasa sayangnya terhadap Nana, yang tak lain adik kembar dari Rey sahabatnya.
“Na ....” ucap Vicky.
“Ya.” Wajah Nana mendongak, netra Nana memandang lekat laki-laki yang berada di hadapannya.
Mata sipitnya telah meluluhkan Vicky yang biasanya bersikap konyol menjadi seorang yang romantis.
“Baru kali ini. Kakak menyukai seseorang. Apa bila dia jauh, kakak merindu. Tapi, jikalau ia dekat, kakak merasa malu.” Vicky berucap seperti sedang berteka-teki.
“Malu kenapa, kak?” Rhiena mengernyitkan dahi.
“Malu untuk bilang kalau kakak sayang dia.”
Jleb! Ada rasa sedih dalam diri Rhiena ketika mendengar laki-laki yang ia suka telah mencintai wanita lain. Ia merasa tidak mempunyai kesempatan untuk mendapatkan pria yang ia sukai. Namun, Rhiena masih bisa menerimanya. Dia berlapang dada.
“Ya tinggal dibilang aja, Kak. Utarain perasaan kakak, gimana dia tau isi hati kakak padanya?” ucap Rhiena walau ada rada sakit dalam dada.
Hening.
“Emang siapa, Kak?” Akhirnya Nana terpancing untuk bertanya karena Vicky diam membisu tidak melanjutkan pembicaraannya.
“Kamu.”
Nana menunjuk wajahnya sendiri, “Aku?”
Vicky menganggukkan kepalanya, “Iya, kakak suka sama kamu. Bukan cuma suka, kakak sayang sama kamu, Na.” Ucap Vicky.
Dalam sekejap, perasaan sakit itu berubah menjadi bahagia untuknya. Ini seperti keajaiban! Apa aku tidak salah dengar? ucap dalam hati Rhiena.
“Maukah, kamu jadi pacar kakak?” Vicky mengutarakan perasaannya.
Perasaan Rhiena sangat bahagia ketika kata itu meluncur dari bibir Vicky. Ia ingin berguling-guling seumpama saja tidak punya rasa malu. Namun, Rhiena tetap mengendalikan dirinya. Ia tidak mau ketahuan kalau sebenarnya dirinya telah lama memendam rasa cinta untuk Vicky.
Hening.
Jarum jam terasa lama berputar ketika menunggu sang pujaan hati untuk memberikan jawaban atas cinta yang telah ia utarakan.
Waktu terasa berhenti tatkala menatap sepasang netra sipit dan wajah yang tegang ketika ia hendak menjawab tentang perasaannya. Akankah rasa itu sama? Ataukah hanya bertepuk sebelah tangan saja?
“Aku ....” Kata itu terpotong.
Vicky menunggu dengan rona wajah yang pucat ketika mendengar suara yang lirih mulai terdengar berucap.
“Iya, Aku mau jadi pacar kakak,” ucap Nana malu-malu.
Mata Vicky membulat tak percaya dengan apa yang ia dengar. Hati Vicky seakan terbang melayang bersama hati yang terbalaskan cinta.
“Bener, Na?” Vicky menggenggam jemari Nana.
“Ehm ... Ehm ....” Rey tiba-tiba berada di depan Vicky dan Rhiena sembari berdehem pura-bura batuk di depan mereka.
“Rey!/kak Rey!” Ucap Vicky dan Nana berbarengan.
Rey tersenyum dan ngeloyor pergi setelah menyaksikan rona wajah kesal pada keduanya.
Resmi sudah mereka berpacaran pada malam itu. Walau sempat ada gangguan kecil dari Rey yang tak lain kakak kembarnya Nana.
***
Emillia akhirnya menemui Rendy, kakak kandungnya yang tak lain papa dari Jovanka. Kebetulan, Emi masuk sif malam. Jadi, pagi-pagi ia bisa menemui Rendy di kantor.
Tok ... Tok ... Tok ....
Emillia mengetuk pintu kantor Rendy.
“Masuk!” Terdengar suara Rendy nyaring di dalam ruangan kantornya.
Cklek. Emillia membuka pintu, memasuki ruangan yang cukup besar untuk sebuah ruang kerja. Emillia duduk di depan Rendy.
“Ada apa, Emi? Tumben, kamu mau datang ke kantor Mas?” tanya Rendy. Matanya masih sibuk ke arah laptop.
“Emi mau ada perlu, Mas.”
“Masalah apa?”
“Bukan masalah sih, Mas. Tapi soal Jovanka.”
“Kenapa dengan Jovanka?”
“Aku bermaksud menjodohkan Jo dengan temen aku, Mas.”
“Ini sudah jaman modern Emi. Masa masih dijodohkan, sih?” Rendy menatap Emillia.
“Dia calon menantu idaman, Mas. Dia seorang dokter. Sudah mempunyai klinik sendiri lagi. Ternyata, temanku itu jatuh cinta sama Jovanka.”
“Masa, sih?”
“Iya. Nanti, Jo bisa jadi dokter juga. Karena dia beserta orang tuanya berprofesi sebagai dokter.”
__ADS_1
Hening.
Rendy berpikir mengenai tawaran Emillia untuk menjodohkan putrinya dengan salah satu temannya yang seorang dokter.
Hatinya kini bergulat dengan pendapat dari dua sisi hatinya. Yang meng-iyakan dan yang membantahkan.
##
Udah, terima aja! Anakmu nanti gak bakal menderita, secara mereka dari anak orang kaya. Ia juga sudah mapan, sudah menjadi dokter dan juga mempunyai klinik sendiri.
Jangan! Kamu akan menyiksa hati putrimu sendiri, karena belum tentu Puterimu akan mau dijodohkan dengannya.
##
Kedua bisikan itu, telah membuatnya pusing sejenak. Akhirnya, Rendy memutuskan untuk bermusyawarah dengan istrinya.
***
Drett ... Drett ....
Gawai Jovanka bergetar di atas nakas. Ia meraih dan membacanya.
“Nomor tak dikenal?” Jo menggeser layar pada gawainya.
Naura, bisa enggak kita ketemuan? Maaf sebelumnya, saya tau nomor hand phone kamu dari Emillia. Isi pesan dari Alexy.
“What? Om dokter kirim pesan ke aku?” Netra Jovanka membulat.
Iya gak papa. Ketemu di mana, om? Balas Jovanka.
Di cafe yang dulu kita bertemu. Alexy mengirim lagi pesan.
Ok! Balas Jovanka mengakhiri.
.
Akhirnya, niat Jovanka membuat Rey cemburu mendapatkan peluang. Ia memanfaatkan moment ini untuk memanas-manasi kekasihnya.
Jo segera bangkit dari tempat tidurnya. Jam menunjukkan pukul tujuh malam. Belum terlalu larut kalau hanya untuk pergi ke cafe.
Ia membuka lemari dan memilih dres berwarna merah jambu diserati sedikit sentuhan make up untuk menyempurnakan penampilannya malam ini.
Ia membawa tas selempang kecil yang di dalamnya terdapat dompet beserta hand phone. Ia melesat dengan mobilnya.
.
Benar saja. Alexy sudah menunggunya di salah satu meja. Ia melambaikan tangannya.
Jo melangkah dan mendekati meja dimana Alexy telah menunggunya.
“Malam, Om?” Jo menyapa.
“Malam, Naura. Silakan duduk.”
Jo duduk dan menyimpan tas kecilnya di atas meja.
Alexy dan Jovanka berbincang manis. Jo juga merasa nyaman karena Alexy benar-benar dewasa untuknya. Dengan keadaan Alexy yang sudah mapan. Wajar saja ia bisa meluangkan banyak waktu untuk Jovanka.
Saatnya aku kirim pesan ke Rey biar dia liat kedekatan kami. Terbesit dari hati Jovanka untuk memanfaatkan keadaan ini.
***
Jo mengirim pesan kepada Rey. Namun, lagi-lagi Rey mengatakan tidak bisa menemuinya karena ia sedang bekerja.
“Rey, tolong beresin meja nomor 15, ya? Aku masih sibuk di belakang,” ucap salah satu waitress.
“Oke, Mbak!”
Rey pergi membawa alat pembersih meja. Menuju meja 15. Di sana matanya terbelalak ketika di sebelah meja 15 ada kekasihnya bersama dokter Alexy yang tadi sore ada di sini bersama Emillia.
“Jo?”
“Rey?”
Mereka berdua tidak mengetahui kalau cafe yang dimaksud adalah tempat yang sama.
Ada rasa kesal di hati Rey ketika kekasihnya telah duduk dengan laki-laki lain yang berusia jauh di atasnya.
Apa lagi, Jovanka terlihat berdandan untuk laki-laki lain. Rey tahu persis kalau Alexy tidak ada hubungan keluarga dengan Jovanka. Rey memilih kembali fokus bekerja. Ia tidak terlalu menghiraukan keadaannya sekarang yang merasakan sakit hati.
“Kalian udah saling kenal?” tanya Alexy.
“Iya. Dia adik kelasku, Om!” ucap Jovanka.
“Ohh ....”
Rey merasakan bertambah sakit ketika kekasihnya hanya mengatakan kalau dirinya adalah adik kelasnya tidak disertakan sebagai kekasihnya.
“Permisi, Om. Rey mau lanjut kerja.” Rey ngeloyor pergi ke meja kerjanya.
__ADS_1
.
Yes! Akhirnya Rey jealous juga. Pekik hati Jovanka.
Ada kepuasan di hatinya ketika melihat mata Rey terbelalak karena melihatnya dengan Alexy, pria yang jauh lebih dewasa dan lebih mapan dibanding dirinya.
Alexy memang pandai memikat hati, terlebih Jovanka dalam keadaan kesal pada kekasihnya hingga sangat gampang untuk Alexy masuki hatinya yang telah di selimuti rasa kesal itu.
Akhirnya. Setelah panjang lebar bercerita. Mereka memutuskan pulang, karena waktu telah menunjukkan pukul sembilan malam.
Alexy dan Jo pulang dengan mobil masing-masing.
“Kapan-kapan, kita jalan lagi ya, Naura?” ucap Alexy ketika Jo berada di depan pintu mobilnya.
“Iya, Om. Maksih atas malam ini.” Jovanka tersenyum sembari membuka handle pintu mobil.
Alexy tersenyum.
***
Rey pulang berjalan kaki untuk menaiki angkot. Sialnya, malam ini hujan lebat. Rey duduk di halte untuk menunggu kendaraan apa saja yang dapat ia tumpangi.
Rey melamun di tengah malam yang gelap dan disertai sambaran petir, semakin menyayat hati ketika ia mengingat kekasihnya bersama laki-laki lain.
Apa Gue gak pantas untuk Jovanka? Terbesit dalam hati Reynand.
Hujan semakin deras. Angkot pun tidak ada yang lewat di hadapannya. Rey semakin merasa sendirian kala itu. Di tengah malam yang disertai dengan hujan.
Drett ... Drett ... Gawainya bergetar. Rey mengusap layar gawai yang berada dalam genggamannya.
Nana Calling ..
Tulisan yang muncul pada layar gawainya.
‘Hallo, Na. Ada apa?’
‘Abang di mana? Kok belum pulang? Nana jemput, ya?’
‘Gak usah, Na. Bentar lagi Abang pulang. Ini masih di cafe kok.’
‘Ya udah, abang tunggu di situ, biar Nana jemput.’
‘Jangan, Na. Bahaya, apa lagi sekarang sedang hujan. Abang takut kamu terjebak banjir.’
‘Tapi Nana khawatir!’
‘Gak usah khawatir, abang kan cowok. Gak ada yang mau nyulik abang juga.’ Rey terkekeh.
‘Idihhh ... Abang! masih sempet-sempetnya bercanda ketika Nana khawatir!’
‘Hahaha ... Ya udah, abang tutup dulu telponnya, ya? Jangan ke mana-mana! Diam dalam kost. Sebentar lagi abang balik.’
Rey menutup teleponnya.
Tidak berselang lama. Angkot pun melintas di hadapannya.
“Bang!” Rey memberhentikan angkot.
Rey naik angkot yang tidak terlalu banyak penumpang. Tapi sial! Ongkosnya digetok 2 kali lipat dari biasanya. Biasalah, kadang memang ada sopir angkot yang memanfaatkan moment seperti itu.
.
Di tempat lain. Ada Jovanka yang tengah bahagia bisa membuat kekasihnya cemburu di malam tadi. Ia merebahkan tubuhnya sembari tersenyum puas melihat kekasihnya cemburu di depan matanya.
Tok ... Tok ... Tok ....
Suara pintu di ketuk.
“Non?” suara bi Mun memanggil.
“Masuk aja, Bi!” ucap Jo yang berada dalam kamarnya.
Cklek. Pintu dibuka oleh bi Mumun. Ia melangkahkan kaki mendekati tepi ranjang.
“Non di panggil Tuan," ucap Mumun.
“Ada apa?” tanya Jo mengernyitkan dahi.
“Enggak tau. Bibi cuma disuruh panggilin Non. Tuan menunggu di ruang keluarga.” Pungkas bi Mumun.
Papa manggil aku? Ada apa, ya?
..
Bersambung..
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
JANGAN LUPA LIKE/KOMEN/VOTE Ceritannya, karena itu merupakan hadiah terindah untuk Penulis🙏😁
__ADS_1