
Rey masih teringat akan syal berwarna maron. Kata itu yang selalu Jovanka ucapkan.
REYNAND ADAM ....
Rintihan rindu merasuk kalbu
Entah mengapa, ia selalu membayangiku
Yang selalu ada dalam hati
Namamu selalu melekat dalam jiwa
Andai malamku bisa terus bersamamu
Nantikan saat itu datang
Dan terjadi.
Abadi, selalu mengisi relung jiwa yang sunyi
Di mana pun engkau berada
Aku akan selalu setia
Menunggumu, hingga akhir masa.
~Akrostik By : Zank Lee~
Rey menuliskan kembali puisi akrostik yang Jovanka pernah tulis untuknya. Ia mengenang lagi dengan puisi itu, hingga tak terasa netranya mulai berkaca-kaca.
“Woy! Lu kenapa?” ujar Vicky yang sekarang tidak satu kelas lagi.
“Eh, Vick. Ngapain lu di sini? Nanti dicariin guru pembimbing, lu!” jawab Rey memalingkan wajah lalu menyeka air yang tergenang dalam netranya.
“Yaelah, Bro! Ini jam istirahat kalik! Makanya gue ke mari. Bay the way, kok lu sampai gak tau waktu istirahat, Rey?” ujar Vicky heran.
“Tadi kosong. Gak ada jam pelajaran,” jawab Reynand.
“Oh ... Pantas, gue tunggu di luar kelas, lu kagak nongol-nongol. Lu ngelamunin apa, sih?”
Vicky mengernyitkan dahinya.
“Ck! Kepo, lu!”
Rey beranjak dari tempat duduknya.
“Tunggu!”
Vicky mengejar Rey.
Rey berjalan ke kantin dan Vicky mengekor dari belakang. Rey dan Vicky memesan mi ayam dan es teh. Di kantin sudah riuh tentang kabar Captain Wahyu yang tidak masuk karena anaknya sakit.
"Oh ... Jadi ini sebab Cap Wahyu tidak masuk hari ini?” umpat Rey.
“Kenapa, lu? Oh iya, bukannya Cap Wahyu itu pelatih lu ya, Rey?” tanya Vicky.
Rey mengangguk.
Apa yang terjadi dengan Adara, ya? Umpat hati Reynand.
Vicky melihat Rey seperti sedang memikirkan sesuatu. Tapi, apa?
Akhirnya, jam istirahat telah habis. Seluruh siswa dan siswi di sana membubarkan diri untuk kembali masuk kelas masing-masing.
“Rey, gue masuk kelas, ya?” ujar Vicky.
“Oke!”
.
Hingga tak terasa, waktu belajar pun telah habis. Rey langsung memacu mobilnya melesat ke rumah Adara.
Sesampainya di depan rumah Adara, gembok pintu gerbangnya terlihat dikunci dari luar.
“ DAMN IT!”
Rey memukul setir mobilnya.
“Kenapa gue bisa lupa? Ya, iya lah, rumah Cap Wahyu kosong. Mungkin Adara sedang di rumah sakit.”
Keadaan di sekitar rumah Adara pun tampak sepi. Tidak ada satu orang pun yang dapat ditanyai. Tidak ada aktivitas di luar rumah.
“Ya sudahlah, balik! Gue juga gak tau Adara dirawat di rumah sakit mana?”
Rey kembali melesat ke rumah. Sepanjang jalan ia terlintas tentang Adara.
Apakah, Adara sakit gara-gara kemarin hujan-hujanan, ya? Umpat hati Reynand.
Sesampainya di rumah, Rey menaiki anak tangga. Ia membaringkan tubuhnya di atas kasur dan memejamkan mata sejenak.
Tok ... Tok ... Tok ....
Tiba-tiba, ia dikejutkan oleh ketukan pintu yang bertubi-tubi dari luar.
“Arrgghhhh! Pasti Nana!” pekik Reynand, kesal.
Rey berjalan meraih handle pintu. Seketika ia membuka kunci dan menarik handle itu.
“Paan?” ujar Reynand ketus.
“Bang, Princess. Princes, Bang!”
Entah apa yang ingin Rhiena katakan pada Rey.
Rey memejamkan mata sambil menunggu ucapan adik kembarnya menjadi jelas.
“Ish! Malah tidur! ABANG!” pekik Rhiena.
__ADS_1
“Apa sih, Na? Ngomong ‘tuh yang jelas, biar Abang ngerti. Gak ngantuk kek gini!” jawab Reynand santai.
“Princess gak jadi ke Prancis, Papanya hanya dipindah tugaskan ke Singapur!” ujar Rhiena girang.
“Terus?”
Rey memasang wajah datar.
“Abang bisa balikan lagi sama Princess dong!” ujar Rhiena.
“Ogah!”
“Yaelah, Abang!”
Bibir Rhiena meruncing.
“Na, cinta itu gak bisa dipaksain!”
“Tapi ‘kan, Abang belum me ....”
“Mencoba? Udah, Na! Lebih dari satu tahun Abang menjalin hubungan dengan Princess. Yang ada bukannya hati Abang terbuka, malah Princess menjadi terluka karena cintanya bertepuk sebelah tangan!” papar Reynand.
Rhiena terdiam.
“Iya, juga, ya? Tapi, Nana seneng. Kalau liburan sekolah, Nana bisa ke Singapur, kan masih terjangkau kalau ke Singapur,” papar Rhiena.
“Terserah. Udah, cuma mau ngomong itu aja?” tanya Reynand.
Rhiena mengangguk.
Jeduk!
Rey menutup pintu.
“ABANGGGGG!” pekik Rhiena kesal.
***
Drrttt!
Gawai Jovanka bergetar di atas nakas. Ia bangun dari tidurnya dan membukakan mata.
Klik!
Jo memijit sakelar lampu dan meraih gawai itu. Matanya membulat ketika ia melihat nama Alexy yang tertulis dalam video callnya.
[Pagi, Mas?]
Ujar Jovanka dengan suara serak khas baru bangun tidur.
Alexy tersenyum melihat istrinya yang masih mengantuk.
[Pagi, juga Sayang.]
Hening.
[Gimana kabarmu?]
[Baik, Mas. Mas sendiri apa kabar?]
[Baik. Maaf ya, Jo. Aku belum bisa pulang.]
[Yaa ... Harus gimana lagi Mas? Mungkin ini sudah jalan hidup kita. Yang jelas, Mas baik-baik di sana, ya?]
[Pasti, Sayang. Oh iya, kabar keluarga baik-baik semua ‘kan?]
[Semua baik-baik kok, Mas. Mau ngomong sama Mama atau Papa mungkin?]
[Gak usah. Kadang, aku juga telepon mereka kok. Oh, iya. Kalau kamu kangen sama Mama, Papa. Kamu nginap aja di rumah mereka, dari pada kamu merasa kesepian.]
[Boleh, Mas?]
[Ya bolehlah! Kapan juga aku larang kamu menginap di rumah orang tuamu?]
[Tapi, kalau Mama dan Papa Mas Alex ngelarang, gimana?]
[Nanti aku yang bilang, tenang aja!]
[Asyikkk!]
[Ya sudah, mandi gih! Baru bangun tidur ‘kan?]
[Iya. Ya udah, makasih, Mas.]
Tut!
Telepon mati.
Alexy memang sosok yang dewasa. Tak ayal, Jovanka pun mulai bisa nyaman dengannya. Ia bisa menjadi sosok yang dewasa, perhatian dan romantis di depan Jovanka.
Walaupun, di awal pernikahan mereka terasa tidak diinginkan. Tapi, sedikit demi sedikit, perasaan Jovanka bisa melunak dan menerima kehadiran Alexy dalam hidupnya.
Terkadang, Jovanka merasa kasihan terhadap Alexy yang belum mendapatkan hak nya sebagai seorang suami dari dirinya.
Jovanka sebenarnya ingin memberikan hak Alexy. Tapi, waktu hendak memberi, Jovanka malah terhalang oleh tamu yang tak diundang. Sehingga terpaksa hal itu ia urungkan.
Tapi, apakah Jovanka yakin, bisa memberikan semua itu untuk Alexy? Secara, dalam lubuk hatinya masih menyimpan satu nama, Reynand Adam. ReyAbadi dalam hati Jovanka.
.
Jo pergi ke kampus membawa mobil, serta membawa beberapa pakaiannya karena ia sudah berpamitan kepada mertuanya, kalau dirinya akan menginap di rumah orang tua dengan alasan rindu pada mereka.
Ya ... Memang itu bukan bualan, karena rasa rindu itu memang apa adanya. Naluri anak yang merindukan kasih sayang orang tuanya.
Jo meluncur ke kampus. Tapi sial! Di tengah perjalanannya, mobil Jovanka mogok.
“Ya Tuhaaannn! Mobil ini kenapa lagi?”
__ADS_1
Jo memukul setir mobilnya, kesal.
Jo ke luar dari dalam mobil. Mencoba mengecek sendiri mesin mobilnya.
“Aduh! Ini apanya sih? Mana aku gak ngerti masalah mesin, jalanan sepi lagi!” keluh Jovanka sambil membuka kap mobilnya.
Keringat sudah mengucur, tetapi Jo masih belum menemukan di mana letak kerusakannya. Ia semakin panik ketika melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
“Ya Tuhan, hampir telat lagi!” keluh Jovanka sambil mengusap keringat yang ada di keningnya.
“Mobilnya kenapa?” seorang lelaki bertanya.
Jeduk!
Kepala Jo ke jedot kap mobil.
“Awww!”
Jo mengusap kepalanya sambil menutup mata dan meringis kesakitan.
“Duuhhh ... Pasti sakit!”
Lelaki itu mengusap kepala Jovanka.
Tunggu, sepertinya aku kenal suara ini! Umpat hati Jovanka.
Ia membuka matanya, “Davin?” Netra Jo semakin membulat.
“Lah ... Iya, gue! Siapa lagi malaikat penolong lu?” jawab Davin sambil mengecek mesin mobil Jovanka.
Hemm ... Kalau saja, aku gak butuh bantuannya, udah kumaki dia! Gerutu dalam hati Jovanka.
Davin mengecek mesin mobil itu dengan teliti, ia mengusap pipinya yang terkena keringat dari kening yang menyebabkan pipinya terlihat hitam oleh oli yang ada di tangan.
“Udah! Lu cobain sono!” ujar Davin yang masih ada di depan kap mobil Jovanka.
Grenggg!
Akhirnya mesin mobil kembali menyala dan Davin menutup kap mobil itu.
“Udah selesai, gue cabut!” ujar Davin yang menaiki motor sportnya.
“Davin, tunggu!”
Jo mendekat dan mengusap pelan, oli yang ada di pipi Davin menggunakan tisu.
Davin melihat jelas wajah cantik Jovanka di depan wajahnya.
“Udah,” ujar Jovanka.
Jo menjauhkan tangannya dari wajah Davin, tapi dengan sigap, Davin menahan lengan Jovanka yang masih menggenggam tisu.
“Davin? Lepasin!” ujar Jovanka.
“Ups! Sorry!”
Davin melepaskan tangan Jovanka.
Ternyata Davin baik, ya? Umpat dalam hati Jovanka.
“Ini gak gratis, Nona!” ujar Davin.
“Maksudnya?”
Kening Jovanka mengernyit.
“Lu harus bayar!”
Davin tersenyum penuh muslihat.
“Oke! Sebentar, gue ambil dulu uang!”
Jovanka melangkah, hendak masuk ke dalam mobil untuk mengambil uang, tapi tangannya ditahan oleh Davin. Mata Jo membulat ketika melihat tangannya digenggam oleh Davin.
Tuhan, kenapa selalu orang ini yang menolongku? Dan kenapa orang ini yang selalu membuatku bergetar ketika ia menatap mata ini. Dia seperti Rey, tapi sikap dia sangat mengesalkan! Umpat hati Jovanka.
“Lepasin! Aku mau ambil uang!” ujar Jovanka.
“Bukan pakai uang!” bantah Davin.
“Lalu?” tanya Jo sambil menyipitkan mata.
“Hadiri wisuda gue nanti!” pinta Davin.
“What?”
Mata Jo membulat, kaget dengan permintaan Davin.
Davin mengangguk.
“Tapi aku bukan siapa-siapa kamu! Aku juga bukan keluarga kamu, aku juga baru mengenal kamu dan aku ba ....”
Kalimatnya terhenti ketika jari Davin menutup bibirnya.
“Gue hanya mau itu dan hanya bisa dibayar dengan itu, paham?”
Wajah Davin sangat dekat ketika berbicara seperti itu. Tatap mata tajamnya membuat Jovanka tidak bisa menolak. Lagi, Jovanka hanya bisa menelan saliva.
“Ngerti?” tekan Davin.
Jovanka mengangguk.
“Bagus! Ya sudah, lu hampir telatkan masuk kampus. Berangkatlah!”
Davin melepaskan pegangan tangannya. Jovanka pun bergegas pergi dari hadapan Davin. Meluncur menggunakan mobil ke kampus.
Dav, kenapa kamu seperti itu? Sorot tajam matamu mengingatkanku akan Reynand. Nama kekasih, yang masih selalu bersemayam dalam kalbu hingga kini. Genggaman tanganmu mengingatkan akan kehangatanku bersamanya. Kenapa orang yang menyebalkan sepertimu bisa membuat hati ini bergetar? Bukan karenamu, tapi karena satu nama yang selalu ada dalam kalbu. Reynand Adam. Kekasih yang selalu menaungi hati ini. Entah sampai kapan? Mungkin sampai azal merenggut nyawa! Umpat dalam hati Jovanka ketika ia sedang berkendara.
__ADS_1