Menikahi Janda Dokter

Menikahi Janda Dokter
124. Masih Kaku


__ADS_3

Aktivitas yang padat membuat tubuh Reynand didera letih. Dia berpapasan dengan banyak orang. Langkahnya terayun menuju ruangannya yang cukup luas. Sejenak, pria itu duduk di kursi kerja. Punggungnya menempel ke kursi bersama kepala yang mendongak pada langit-langit ruangan.


Reynand menghirup udara sore itu. Rasa letihnya sedikit mereda setelah beberapa menit dia duduk tanpa kata. Tidak berselang lama, Reynand melangkah untuk pulang. Terlebih, dia mengingat perintah sang istri agar tidak meninggalkannya terlalu lama.


Langit cerah telah berubah. Terlihat warna jingga dari atas sana. Senja sore itu begitu terlihat indah, di mana kawanan burung pipit yang kembali ke sarang di ranting-ranting pohon. Begitu pun dengan pria bertubuh jangkung itu yang melangkah menuju lobby parkir. Sebentar, mata Reynand melirik ke arah klinik tempat Jovanka bekerja dan kembali melangkah menghampiri mobilnya.


Reynand membuka handle pintu mobil dan tubuh jangkung itu kini telah duduk nyaman di kursi kemudi. Tidak berselang lama, deru mesin menyala dan mobil warna hitam itu pun melesat pergi meninggalkan bandara.


Jalanan yang lengang membuat mobil Reynand dapat melesat dengan kecepatan tinggi. Hingga akhirnya terparkir di halaman rumah. Rey membuka pintu mobil lalu ke luar dan melangkah menuju istananya.


"Hai ...?" Rey menyapa Jovanka yang sedang duduk di ruang televisi sambil memegangi remote.


Jovanka pun menoleh, "Hai." katanya. Tidak seperti biasa, saat itu sapaan Jovanka terdengar dingin. Jangankan berjalan ke arah Reynand, menatap saja hanya sekejap.


Reynand berjalan ke arah Jovanka yang masih duduk dengan tatapan lurus pada layar televisi. Jemarinya mulai memiji-mijit tombol remote tidak beraturan.


"Kamu kenapa, Sayang?" Reynand bertanya dengan nada lembut.


"Gak papa," jawab Jovanka ketus.


Pria itu menarik napas berat. Dia sesungguhnya ingin marah. Namun, sebisa mungkin ditahan karena mendengar pesan-pesan Elang. Mencoba mengerti pada istrinya yang sedang hamil. Apalagi di awal kehamilan yang katanya tingkat sensitivitasnya berlebih. Entah, itu benar atau tidak. Namun, apa yang Reynand rasakan seperti itu.


"Ayok, katanya mau ke rumah Papa sama Mama?" ajak Reynand sambil mengelus rambut Jovanka yang terurai dari pucuk kepala hingga ke punggung.


"Malas!"


"Apa mau aku gendong biar enggak malas? Gak usah ganti baju, begini saja," ujar Reynand sedikit menggoda.


"Dih ... malu, lah! Masa ke rumah Papa Mama pakek baju tidur?"


"Ya gak papa. Yang ngeliat, kan, cuma Papa sama Mama bukan orang lain."


Rey masih berusaha menggoda istrinya. Hingga akhirnya bibir Jovanka pun sedikit tersenyum lalu memeluk Reynand. Wangi parfum yang mulai menghilang dan berubah dengan aroma keringat, hal itu malah disukai oleh Jovanka. Padahal, sebelum dia hamil paling benci kalau Reynand memeluknya di saat belum mandi.


"Eh, aku bau keringet, loh, Sayang."


"Biarin!" jawab Jovanka yang seolah tidak ingin lepas memeluk suaminya.


"Kamu aneh sekarang, Jo."


"Aneh kenapa?" Jo memandang wajah Reynand tapi tangannya masih melingkar di pinggang Reynand.


"Dulu itu kamu paling tidak suka aku peluk ketika bau asem. Kenapa sekarang malah suka?"


"Entah, bawaan bayi, kalik," ujar Jovanka sambil tertawa.


"Terus aja terus, beralasan bawaan orok. Pasti nanti kalau ada apa-apa juga alasannya bawaan orok," ujar Rey sambil memutar bola mata yang membuat Jovanka tertawa.

__ADS_1


Setelah puas memeluk, Jovanka pun melepaskan tangan yang memeluk suaminya lalu pamit meminta ijin untuk berganti pakaian.


"Sayang, mau ke mana?" tanya Jovanka ketika melihat suaminya meraih handuk.


"Mandi lah. Apa lagi?"


"Gak usah mandi," rengek Jovanka yang lagi-lagi menguji kesabaran Reynand.


"Gerah, Sayang."


"Aku gak suka, nanti kamu bau sabun."


"Wangi sabun, Sayang. Sejak kapan wangi sabun jadi bau?"


"Bau! Titik!" seru Jovanka.


"Tapi aku––"


"Gak usah mandi!"


Astagaaaaaa Tuhan ... sampai kapan aku seperti ini? Batin Reynand.


***


Mobil melesat dengan kecepatan sedang menuju apartemen yang dulu dibelikan oleh Reynand untuk Jovanka. Mata mereka kini menangkap gedung-gedung yang menjulang tinggi. Di gedung itu lah mobil Reynand terparkir di lobby dasar.


"Makasih," ucap Jovanka dengan seulas senyum ketika dia meraih tangan suaminya.


Keduanya kini berjalan menuju apartemen yang dulu ditinggali oleh Jovanka.


Jemari lentik Jovanka memijit bel apartemen. Tidak menunggu lama, pintu itu pun terbuka dan terlihat ekspresi wajah kaget di balik pintu yang terbuka.


"Jo?" ucap wanita yang dulu melahirkan Jovanka.


"Mama." Jovanka memeluk wanita yang mulai menua.


"Astaga, mari masuk," ucap ibu dari Jovanka yang tidak lain ibu mertua Reynand.


Mereka bertiga masuk ke apartemen. Di sana ada Rendy yang sedang menonton televisi.


"Papa?" panggil Jovanka lalu berlari untuk memeluk ayahnya.


"Jo?" ucap Rendy ketika Jovanka memeluk erat tubuh pria yang mulai menua. Sungguh terlihat sekali kerinduan Jovanka pada kedua orang tuanya.


Mereka memang satu kota, tapi karena kesibukkan Jovanka dan Reynand sehingga mereka tidak memiliki waktu yang panjang untuk bertemu seperti saat itu.


"Gimana kabarmu, Jo?" tanya Rendy.

__ADS_1


"Baik, Pa. Papa apa kabar?"


Mereka berdua mengobrol yang ditimpali oleh ibunya juga Reynand. Tidak berselang lama, Jovanka pergi ke dapur bersama ibunya meninggalkan Reynand dan Rendy dalam ruangan yang sama.


"Pa?" Rey memecah keheningan ketika dua wanita itu pergi ke dapur.


Rendy tidak menjawab, hanya melirik saja. Maklum, keduanya masih terlihat kaku. Terlebih Rendy yang sepertinya belum sepenuhnya menerima.


"Papa apa kabar?"


"Baik."


Reynand masih berusaha untuk meluluhkan hati ayah mertuanya, karena bagi Reynand restu dari orang tua merupakan ridho dari Tuhannya yang akan membawa kebaikan dalam rumah tangganya. Terlebih, akan adanya anggota baru dalam hidup mereka.


Sementara di sudut dapur, ada Jovanka dan ibunya yang sedang membuat camilan untuk menemani teh hangat yang akan mempererat keluarga mereka ketika mengobrol.


Ibunya melihat Jo yang sepertinya kesal. Bibirnya kembali mengerucut ketika sedang mengaduk teh dalam cangkir.


"Kamu kenapa, Jo?" tanya ibunya.


"Sebenernya aku masih kesel sama Rey."


"Kenapa? Mama liat, Rey orangnya baik."


"Emang baik, Ma. Tapi ngeselin," ketus Jovanka.


"Iya ngeselinnya kenapa, Sayang?"


"Sebenernya Jo sekarang lagi hamil, Ma," ucap Jovanka pelan.


"Apa? Kamu ham––" ucap ibunya Jovanka terhenti karena tangan Jovanka membekap mulut ibunya.


"Ssttt ... jangan kenceng-kenceng. Nanti Papa denger."


Ibunya mengangguk paham.


"Udah berapa Minggu?" tanya ibunya dengan suara pelan serta ekspresi wajah bahagia.


"Jalan 7 Minggu."


"Oh, iya malah lupa. Rey emangnya kenapa? Hingga kamu kesal."


"Rey itu ngeselin, Ma. Dari pagi Jo ingin ke sini kasih kabar ke kalian. Tapi Rey ngelarang, dia mau Jo ke sini dan ke mana pun harus dengannya setelah mengetahui kabar kehamilan Jo." Jovanka menumpahkan kekesalannya.


Ibunya tersenyum.


"Apa Jo salah, Ma? Hanya ijin ke rumah orang tuanya saja harus bersama dia. Padahal, Jo bisa sendiri. Nyetir mobil, naik taksi atau minta diantar security yang ada di rumah. Tapi Rey ngelarang Jo, ma. Jo kesel!" Jovanka terus menumpahkan kekesalannya pada ibunya sore itu.

__ADS_1


__ADS_2