
Haiii ... Zank balik bawa Rey & Jovanka. Ada yang rindu?
Kuy! Kita intip ceritanya, setelah di season sebelumnya sempat tertunda. Insya Allah, Zank akan melanjutkan cerita setelah Rey & Jo menikah.
Jan lupa like, komen, gift, vote juga boleh untuk mendukung karya Zank.
Hallaahhhh, langsung aja simak ceritanya.
__________________________________________
Tepat malam hari disalah satu taman yang disewa untuk merayakan pernikahan Jo dan Reynand sudah terlihat sepi. Hanya menyisakan Rey dan Jo saja karena yang lainnya telah berpamitan untuk beristirahat di hotel yang telah dipesan jauh-jauh hari termasuk orang tua mereka yang sudah lebih dulu meluncur ke hotel. Bahkan, mungkin saja mereka tengah terlelap di kasur empuk dan nyaman setelah melewati perjalanan dan juga resepsi sederhana dari kedua mempelai.
Di taman yang dihiasi oleh temaram lampu jalan berwarna jingga dan disaksikan bulan menggantung di atas sana yang disertai cahaya perak menenangkan.
Rey meraih jemari Jovanka yang telah terikat oleh cincin bertahtakan berlian begitu cantik melingkar di jari manisnya. Dua pasang mata kini bertemu di satu titik yang menjadikan jantung keduanya berdetak lebih kencang. Padahal, hanya sekadar menggenggam tangan harusnya tidak asing dirasakan oleh keduanya. Namun, tidak dengan malam itu.
"Sayang." Reynand menyapa lembut ketika mereka saling berpandangan.
"Iya," jawab Jovanka lembut.
Pipi Jovanka memerah ketika Reynand menyapanya. Degup yang terus mengencang seolah tidak dapat terkontrol dari keduanya.
"Malam ini kamu telah resmi menjadi milikku. Aku sungguh bahagia, Jo. Apakah kamu merasakan hal yang sama?"
Pertanyaan yang bod*h. Harusnya Reynand tidak usah mempertanyakan hal tersebut. Karena perasaan yang dimiliki Jovanka pasti akan sama dengannya.
"Apakah aku harus menjawabnya?"
Reynand tersenyum. Dia merasa terlalu tol*ol menyadari pertanyaan yang bahkan dia sendiri tahu jawabannya. Lelaki bertubuh jangkung itu akhirnya menggeleng.
"Kita pulang, yuk?" ajak Reynand yang bangkit dari kursi. Namun, tangannya masih menggenggam erat jemari lentik Jovanka.
Mata Jovanka membulat ketika menyadari bahwa hari ini sudah larut malam dan kini tiba saatnya malam pertama.
"Tapi, Rey. Aku masih mau di sini, menikmati indahnya rembulan," tolak Jovanka yang berharap malam semakin larut.
Rey menaikkan satu alisnya sebentar. Namun, tidak lama pemuda itu kembali duduk di samping sang istri tanpa banyak bertanya.
__ADS_1
"Indah, ya?" ucap Jovanka tanpa menoleh ke arah Reynand. Gadis yang bergelar dokter itu terlihat gerogi, jemarinya mulai direkatkan bahkan seolah dimain-mainkan hanya untuk meredakan rasa gerogi yang telah menjalar.
Reynand masih setia duduk mendampingi Jovanka. Lelaki itu membuka kancing tuxedo lalu melepaskannya.
Mata Jo membulat kala tuxedo berwarna hitam itu kini telah membalut hangat tubuhnya.
"Udara makin dingin, kamu pakai aja," ujar Reynand. Dia terlihat mengusap lengannya yang terhalang oleh kemeja panjang berwarna putih.
Astaga, Rey. Kamu relain berikan tuxedonya untukku? Padahal, kamu itu alergi dingin. Batin Jovanka ketika menatap sepasang mata sipit yang kini melihat ke atas langit.
Tidak ada perbincangan dari keduanya. Hanya sekadar melihat rembulan saja. Jo dan Rey sibuk dengan khayalannya masing-masing. Jo yang takut menghadapi malam pertama, sedangkan Rey lebih ingin merasakan seperti apa malam pertama itu? Namun, dia masih bisa bersabar dan menahan hasratnya karena Jo masih menginginkan untuk menghabiskan waktu melihat bulan.
'Hatchim!'
Terdengar Reynand mulai diserang bersin karena dingin yang berlebih. Jo, melirik sejenak lalu melihat wajah Rey. Hidung mancungnya terlihat memerah karena sedari tadi Reynand terus mengusapnya.
Jo tidak tega melihat keadaan suaminya. Dia pun bangkit dari duduknya lalu meraih tangan Reynand. "Pulang, yuk?" Akhirnya Jovanka menyerah untuk memperlambat waktu ketika melihat keadaan suaminya yang mulai terserang bersin.
***
Jo dan Rey keluar dari mobil taksi yang mereka tumpangi. Kini, keduanya telah sampai di hotel. Barang bawaannya telah lebih dulu meluncur ke sana dibawakan oleh Nadin dan Rhiena.
Masih beberapa meter menuju kamar, mata Jo telah melihat angka tersebut. Kakinya mematung dan langkah Rey pun terhenti.
"Kenapa, Sayang?" tanya Reynand ketika menyadari istrinya hanya diam di tempat bagaikan patung.
"Em ... Aku. Aku––" Jovanka tidak dapat berkata. Lidahnya kelu.
"Mau aku gendong?" tawar Rey yang membuat Jovanka menggeleng. "Lalu?" Pemuda itu semakin bingung tatkala Jovanka masih terdiam tidak menjawab.
Hening.
Tidak mungkin juga aku terus menghindar dari Rey. Dia sekarang suamiku dan harusnya aku telah melakukan hal itu bersamanya dari tadi. Tapi, kenapa aku takut? Batin Jovanka.
Rey meraih jemari lentik Jovanka. Wajah wanita itu mendongak, menatap wajah suaminya yang terlihat begitu tenang. Sedangkan Jovanka diselimuti oleh kabut ketakutan malam pertama.
"Kamu jalan lebih dulu, deh," pinta Jovanka yang masih mengulur waktu.
__ADS_1
Tanpa ada kata, Reynand melepaskan tangan Jovanka lalu berjalan mendahului istrinya. Langkah Rey mematung sejenak ketika ada di depan pintu kamar hotel. Lelaki itu mengeluarkan card yang menjadi kunci pintu kamar mereka.
Rey masuk lebih dulu yang disertai Jovanka. Di dalam kamar terlihat suasana kamar yang begitu romantis. Sinar lampu berwana oranye yang redup hanya menyoroti kasur dengan spray putih yang ditutupi oleh kelopak bunga merah bertabur di atasnya.
Rey melihat Jovanka yang masih mematung di depan pintu yang masih terbuka. Lelaki itu berjalan mendekat pintu. Namun, siapa sangka ketika Rey hendak menutup pintu, tangan Jovanka berbarengan hendak menutupnya. Sontak, tangan Rey kini berada di atas tangan Jovanka yang hendak menutup pintu.
Sepasang mata Rey dan Jo saling bertatap. Degup yang tadi mulai mereda kini terulang kembali seolah genderang perang.
Ya Tuhan ... aku harus gimana? Batin Jovanka ketika sepasang sorot mata memandangi wajah cantiknya.
Astaga, Jo. Kamu semakin cantik saja. Aku ingin segera memilikimu seutuhnya. Batin Rey ketika matanya memandang wajah Jovanka. Lebih tergoda lagi ketika Rey melihat bibir bawah Jo yang sedang digigit karena menahan gerogi. Gemas.
"Ayok," ajak Rey ketika pintu kamar hotel telah dikunci.
Jovanka mengikut langkah suaminya menuju kasur. Mereka berdua duduk di tepi ranjang dan beberapa saat sempat saling menatap intens.
Tangan Rey mulai melepaskan jepitan-jepitan kecil yang tersemat di sela rambut Jovanka. Pemuda itu menyimpannya di nakas samping tempat tidur.
"Rey, aku––" Kata Jovanka tertahan dan Rey mulai mengerti keadaan istrinya yang saat ini sedang diselimuti ketakutan. "Aku ke toilet dulu, ya?" Jovanka bangkit dari kasur lalu berjalan ke toilet.
Tidak ada yang dia lakukan dari dalam sana. Hanya menetralkan rasa gerogi untuk melepas malam pertama dengan Reynand. Padahal, harusnya Jovanka tidak segerogi itu.
"Jo? Sayang?" Reynand memanggil dengan lembut, tapi berhasil membuat Jovanka terkejut.
Tanpa ada jawaban, Jovanka keluar dari toilet karena menyadari akan kewajibannya malam itu. Dia berjalan lalu duduk di tepi kasur.
Reynand tersenyum ketika Jovanka duduk tepat di sampingnya, lelaki itu mulai mengusap pipi Jovanka dengan lembut. Walaupun tidak terlalu nampak, pipi Jovanka masih cukup terlihat bersemu merah. Terlebih ketika Reynand melanjutkan kecupan pada kening Jovanka.
Mata Jovanka membulat, kecupan itu mengingatkannya pada waktu Rey akan menikahinya dan rasa itu tetap sama. Sama-sama membuat jantung Jovanka berdetak lebih cepat. Walau tidak dipungkiri, dulu pernah melakukan kissing bersama Alexi––mantan suaminya.
Desir darah semakin deras dan debar dalam dada semakin kencang, seolah jantung hampir melompat dari tempatnya.
Bibir Rey mulai turun pada pipi yang sedari tadi telah memerah menahan malu dan gerogi. Napas Rey mulai terasa hangat dan Jovanka menjauhkan wajahnya dari Reynand. Namun, Rey memegang tengkuk Jovanka sehingga wanita itu tidak dapat berkutik. Rey mulai mengulum bibir Jovanka dengan mata terpejam. Sebaliknya, Jovanka membulatkan mata ketika merasakan lembutnya bibir Reynand.
Perlahan, Reynand membuka risleting gaun pengantin Jovanka. Bibirnya mulai mengecup punggung yang terlihat putih. Jovanka menggeliat antara ragu dan takut.
'Tok ... tok ... tok.' Suara pintu terketuk.
__ADS_1
Rey menghentikan aksinya dengan raut wajah kesal. Sedangkan Jovanka bisa menghirup udara segar ketika napasnya terasa sesak karena menahan gerogi saat Rey mencumbu dirinya.