
“Jo, bangun ....” ucap Alexy bernada pelan.
Emh ....
Jo hanya membalikkan badannya.
“Makan dulu, yuk?” ajak Alexy.
Jo membukakan mata dan mulai tersadar dari tidurnya.
“Enggak, Om. Jo gak laper,” elak Jovanka.
“Nanti kamu sakit,” ujar Alexy.
“Tapi Jo malas jalan kaki, Om!”
“Ya udah, aku gendong, ya?” ujar Alexy.
“Malu, lah! Banyak orang!” sanggah Jovanka.
“Enggak, Mama, Papa, Tante Angel sama Olsend lagi ke luar rumah. Hanya ada kita dan asisten rumah tangga saja,” ujar Alexy.
“Beneran?”
Alexy mengangguk.
Entah apa yang ada dalam pikiran Jovanka. Hingga akhirnya ia mau diajak turun untuk makan malam.
Alexy berjongkok di depan Jovanka dan akhirnya tubuh Jovanka ada di atas punggung suaminya.
Ya Tuhan, semoga hubungan rumah tangga kami semakin membaik, ucap hati Alexy.
Ya Tuhan, Om Alex itu baik. Apakah aku salah, kalau memberikan kesempatan untuk Om Alex, menjadi suamiku seutuhnya? Tapi, apakah aku bisa melupakan Rey yang sudah mengisi seluruh relung hatiku? Umpat hati Jovanka, kalut.
Akhirnya, Jo dan Alexy makan malam di rumah megah itu. Semua menu makanan terlihat menggoda. Bahkan, Jo merasa bingung memilih yang mana.
“Udah makannya?” tanya Alexy.
“Udah, Om! Jo masuk kamar, ya?” ujar Jovanka.
Alexy mengangguk sambil tersenyum.
Jo melangkah kembali menaiki anak tangga. Tetapi, netranya tidak dapat terpejam. Mungkin, karena suasana kamar baru, sehingga ia belum terbiasa.
Ceklek!
Pintu kamar terbuka.
Langkah kaki semakin mendekat, hati Jo semakin berdebar. Rasa takut apabila telah dihadapkan dengan malam hari.
“Kamu belum tidur, Jo?” tanya Alexy.
“Belum, Om.”
“Kasurnya gak nyaman?”
“Bukan. Tapi ....” katanya terpotong.
“Tapi kenapa?”
“Jo belum ngantuk sepertinya.”
Jo tersenyum, hingga semburat merah terlihat di pipinya.
“Bentar, ya?”
Alexy bangkit dari tepi ranjang.
“Mau ke mana, Om?” tanya Jo.
Alexy tidak menjawab, kakinya terus berjalan ke luar dari kamar mereka.
Jo hanya mematung di atas tempat tidur. Ia merasa bingung ingin melakukan apa di malam ini. Tidak berselang lama, Alexy pun kembali membawa dua cangir hot chocolate di tangannya. Ia berjalan ke arah balkon kamar.
“Sini!”
ujar Alexy ketika telah meletakan dua cangkir hot chocolate di atas meja kecil, yang ada di balkon kamar mereka.
Jo pun turun dari ranjang dan melangkahkan kaki ke balkon kamar.
Jo melihat Alexy yang sedang mendongak, menatap langit malam yang bertabur bintang.
“Indah, ya?” ujar Alexy tanpa menatap Jovanka.
Jo tersenyum.
Jo ikut menikmati indahnya malam ini bersama Alexy. Silir angin telah membelai tubuh mereka.
“Begitu banyak bintang malan ini, menurut Om Alex, bintang mana yang paling terang?” ujar Jovanka.
__ADS_1
Alexy memandang langit. Ia seperti sedang memperhatikan bintang yang akan ia pilih. Akhirnya, netra Alexy menatap Jovanka.
“Ada satu.”
“Yang mana?”
“Ini!”
Alexy menunjuk dada Jovanka.
“Maksudnya?”
Jo mengernyitkan dahi.
“Bintang hidupku kamu, Jo! Kamu yang paling bersinar di antara bintang di atas sana.”
Jo mematung. Entah, apakah ia harus terharu? Senang? Atau kah sedih? Hatinya kini tidak menentu. Ia belum siap menerima Alexy sepenuhnya, walau hatinya terus mencoba.
“Maaf, Om. Jo mau tidur,” ujar Jovanka lalu melangkahkan kaki.
Dengan cepat, Alexy meraih tangan Jovanka dan menariknya. Hingga Jovanka berada dalam dekapannya.
Jo mendengar jelas degup jantung Alexy. Ingin sekali ia membalas pelukan suaminya. Tapi, tangannya terasa mati rasa, hingga untuk melingkar di punggung Alexy saja, ia tidak bisa.
Jo masih terdiam dalam dekapan Alexy. Mendengar degup jantung dan merasakan belaian lembut tangan Alexy di rambutnya.
“Jo, beri aku kesempatan!” ujar Alexy lirih.
Hening.
Jovanka masih bingung mau menjawab apa. Karena hatinya, benar-benar belum terbuka untuk lelaki lain. Termasuk Alexy, suaminya sendiri.
“Jo coba ya, Om!”
Akhirnya, kata itu ke luar dari bibir indah Jovanka. Alexy melepaskan pelukannya dan menggenggam kedua tangan Jovanka.
“Beneran, kamu kasih kesempatan buat aku?” ujar Alexy dengan tatapan penuh kebahagiaan.
Jo mengangguk dan tersenyum.
***
Sementara di sisi lain ada Rey, dengan berbagai kesibukan sekolah dan kehidupannya di Jakarta.
“Bang, jalan, yuk?” ajak Rhiena.
“Malas!”
“Kata siapa Abang belum move on? Abang udah move on kok!” seru Rey dengan kebohongan.
“Ya sudah, kalau memang Abang udah move on, ayok ikut Nana!” pinta Rhiena.
“Ya udah, tunggu! Abang mau ganti baju!” seru Rey.
Rhiena menunggu di sofa ruang keluarga. Sedangkan Rey masuk dalam kamar untuk mengganti pakaian.
“Sial! Mau gak mau, gue harus ikut Nana. Kenapa juga gue harus bohong sih, tadi!” pekik Rey menyesali.
Rey membuka pintu lemari. Ia mengambil celana jeans panjang dan kemeja berlengan panjang, polos warna navy yang ia lipat di bawah sikut. Tidak lupa, ia menyemprotkan parfum dan memakai sepatu kets warna hitam.
Rey kembali menuruni anak tangga dan menghampiri Rhiena yang sedang menunggunya di ruang televisi.
Netra Rhiena membulat, “Abang ganteng banget, wangi lagi! Kalau gini, Nana percaya Abang udah move on!” seru Rhiena girang.
“Udah percaya kan?”
Rhiena mengangguk.
“Ya udah, Abang gak usah ikut, ya?” ujar Reynand.
“Ish! ABANG!!!” pekik Rhiena kesal.
Rey terkekeh.
.
Rhiena memegang kendali mobil. Karena ia yang mempunyai acara, mau ke tempat mana. Sedangkan Rey hanya duduk di samping Rhiena dan memainkan gadgetnya.
Mobil melaju cukup kencang, hingga tak terasa, mobil terparkir di rumah yang cukup mewah.
Inikan rumahnya Princess. Nana mau ngapain, sih? ucap hati Rey.
“Ayok, masuk!” ujar Rhiena.
“Enggak, ah! Abang di sini aja,” elak Reynand.
“Bang, jangan kek gitu. Gak sopan, ah!”
“Memang mau apa sih, Na?”
__ADS_1
“Udah, ayok ikut!”
“Gak!”
“Abang!” Netra Rhiena membulat.
“Hmm ... Ya udah deh!”
Dengan sedikit terpaksa. Akhirnya Rey mengekor Rhiena dari belakang.
Ting ... Tong ....
Rhiena memijit bel.
Pintu pun terbuka. Terlihat raut wajah tua dari balik pintu.
“Malam, Bi. Princessnya ada?” ujar Rhiena.
“Ada, Non. Mari masuk,” ujar asisten rumah tangganya Princess.
“Siapa, Bi?” terdengar suara wanita lalu menghampiri Rhiena dan Rey. “Nana?” sambungnya ketika melihat Rhiena.
“Iya, Tante. Ini Nana. Princessnya ada, Tan?” tanya Rhiena.
“Ada, mari masuk. Tapi, ini siapa, ya? Kok Tante baru lihat. Pacarnya Nana, ya?” ujar Mamanya Princess.
“Haha ... Bukan, Tan. Ini Abangnya Nana.”
“Masa, sih? Kok seperti seumuran.” Kening Mamanya Princess mengernyit.
“Iyalah seumuran, lahirnya aja cuma selisih lima menit doang.” Rhiena kembali terkekeh.
“Oh ... Kalian kembar, rupanya? Maaf, Tante kira pacarnya Nana.”
Akhirnya mereka pun masuk dalam rumah mewah itu. Princess pun keluar dari dalam kamar. Netranya membulat ketika melihat Rey, orang yang ia suka ada di dalam rumahnya.
Semburat kemerahan, telah terlihat di pipi Princess. Ia melenggangkan kaki ke ruang tamu, dimana ada Reynand yang telah duduk di sofa berwarna cream. Rey terlihat tampan malam ini, dengan celana jeans yang dipadukan dengan kemeja menjadikannya terlihat kasual.
“Bang Rey?” sapa Princess.
Rey tersenyum, “Hai, Princess.”
Senyum itu pun terukir indah di bibir Princess.
“Ya udah, Tante tinggal, ya?” ujar Mamanya Princess.
“Oh, iya Tan. Sekalian aja, Nana pamit izin ajak Princess main bentar, ya?” ujar Rhiena.
“Oh ... Ya udah, tapi jangan malam-malam ya, Na?” ujar Mamanya.
“Iya, Tan!”
Mamanya Princess berlalu pergi. Sedangkan Princess menarik Rhiena ikut ke kamarnya.
Kedua gadis remaja yang beranjak dewasa ini berjalan memasuki kamar.
“Na, aku pakai baju yang mana? Kok aku jadi salting gini, ya?” ujar Princess yang tiba-tiba salah tingkah karena ada Reynand.
“Pakai baju yang mana aja lah, terserah kamu!”
“Bang Reynand menyukai wanita seperti apa, sih?” ujar Princess semangat.
“Setahu aku, ia suka gadis sederhana. Coba pakai mini dress tapi yang di bawah lutut, jangan yang seksi. Yang kalem aja,” ujar Rhiena.
“Bantuin pilih, dong!” ujar Princess.
Pintu lemari yang besar pun terbuka lebar. Rhiena membantu menentukan dress yang akan dipakai.
“Ini sepertinya kalem, Princ!”
Rhiena menunjukkan dress warna peach pada Princess.
Akhirnya, Princess mengenakan dress pilihan Nana. Ia percaya, karena Nana merupakan adik kembarnya Rey.
“Gimana?”
Princess meminta pendapat untuk dress yang telah ia kenakan.
“Wahhh ... cantik, Princ. Sempurna!” ujar Rhiena.
“Masa, sih?” ujar Princess seperti tidak pede karena menurutnya dress yang ia kenakan terlalu simpel dan sederhana.
“Iya, percaya, deh!” jawab Rhiena meyakinkan.
.
Rey masih duduk santai di sofa. Sesekali ia menyentuh layar gadgetnya dan membuka galeri ponsel yang cukup banyak menyimpan foto kebersamaannya dengan Jovanka.
Cklek!
__ADS_1
Pintu kamar Princess terbuka.
Netra sipit Rey membulat tatkala melihat penampilan Princess.