Menikahi Janda Dokter

Menikahi Janda Dokter
106. Belahan Jiwa


__ADS_3

"Rey, bangun. Bangun, Rey." Jovanka menepuk-nepuk pelan pipi Reynand.


Belum ada reaksi apa pun, Reynand masih memejamkan mata. Bahkan, tepukan pada pipinya tidak dapat menyadarkan dia.


"Sayang, bangun. Jangan nakutin aku. Rey, Reynand!" Jovanka lebih kencang lagi menepuk pipi lalu menggoyang-goyangkan tubuh Reynand yang masih belum bergerak.


Jovanka masih berusaha tenang seperti saat dirinya menangani seorang pasien. Walaupun diakui, hal itu jauh lebih berat karena sekarang yang dihadapi suaminya sendiri. Lelaki yang sempat ditinggalkannya dulu karena perjodohan.


Jo mencari minyak angin untuk mencoba memberikan pertolongan pada suaminya. Sebisa mungkin bibirnya masih bungkam dan menanganinya sendiri.


"Ya Tuhan ... di mana minyak anginnya?" gumam Jovanka sambil terus mencari botol plastik kecil berwarna hijau.


Jo mulai membuka tas-nya, mengobrak-abrik isi dalam tas yang terakhir dipakai. Nihil, benda itu tidak ada dalam tas. Wanita cantik dengan paras panik itu kemudian berpindah pada laci nakas yang ada di samping ranjang. Mulai dari laci paling atas hingga paling bawah.


"Akhirnya ...." Bibir kemerahan Jovanka sedikit tersenyum ketika melihat benda yang dia cari. Botol kecil berwarna hijau dengan aroma khas minyak angin.


Jovanka segera membuka botol kemudian menuangkan pada telapak tangannya. Setelah dirasa cukup, Jovanka segera mendekatkan telapak tangannya pada hidung Reynand.


Terlihat sekali wajah Jovanka begitu khawatir. Dia masih berusaha dan berharap semoga Rey cepat bangkit dan tidak lagi membuatnya khawatir. Namun, hal yang dia harapkan seolah bertepuk sebelah tangan. Semuanya seperti tidak ada lagi harapan dan berujung harus dibawa ke rumah sakit untuk penanganan lebih lanjut dengan fasilitas rumah sakit yang tidak ada di kamar Reynand.


"Ya Tuhan, kamu enggak sadar-sadar, Rey." Ari mata Jovanka menetes tepat pada tangan Reynand.


"Aku harus panggil Mama. Yaa, aku harus minta bantuan," gumam Jovanka yang terdengar panik.


"Ma––" Teriakan Jovanka terhenti, kala tangan kekar dengan telapak besar membungkam bibirnya. Mata Jovanka membulat ketika menyadari bibirnya tidak dapat bicara.


"Jangan berteriak, aku baik-baik saja," bisik seorang lelaki. Siapa lagi kalau bukan Reynand? Suaminya yang ternyata cukup jahil.


Perlahan, Jo memutar pandangan yang awalnya melihat pada arah pintu, kini berpindah menatap wajah tampan dengan bibir tersungging manis. Tidak ada sama sekali raut cemas pada wajah Reynand.


"Rey?" ucap Jovanka begitu pelan saat menyebut nama suaminya.


Rey mengangguk lalu tersenyum. Dia menyelipkan rambut Jovanka pada telinganya ketika rambut tersebut berusaha menyembunyikan paras cantik istri yang bergelar dokter.


"Kamu ngerjain aku?" tanya Jovanka yang masih sempat-sempatnya memastikan. Padahal, tanpa Reynand jawab pun, Jovanka telah mengetahuinya.


Rey hanya tersenyum.


"Jahat!" ucap Jovanka sambil memukul pelan dada Reynand.


Reynand masih tersenyum ketika Jovanka semakin keras menyerang dadanya dengan pukulan kekahwatiran yang dia rasa saat itu.


Rey masih bungkam. Dia menahan tangan Jovanka agar tidak memukuli dadanya. Dua pasang mata kini beradu pandang ketika tidak ada lagi pukulan dari Jovanka. Hening. Seolah keduanya larut melalui sorot mata terdalam.


"Jangan pukulin aku terus. Sakit, Jo," ucap Reynand pelan.


"Kamu jahat udah ngerjain aku," ucap Jovanka pelan dengan nada melemah.

__ADS_1


"Kamu khawatir?"


"Apa harus aku menjawabnya?" jawab Jovanka bersama titik-titik air bening yang jatuh dari kedua sudut matanya.


Hening.


"Suhu badanku naik karena selimut yang kamu berikan padaku. Aku jarang tidur mengenakan selimut, Jo. Aku cukup kaget ketika bangun lalu melihat selimut yang seolah telah membungkus tubuh ini," jawab Reynand mencoba menerangkan.


"Kamu bo'ong. Kamu, kan, alergi dingin," ujar Jovanka.


"Iya, tapi emang kalau alergi dingin itu harus tidur berselimut tebal? Enggak, Jo. Pada suhu ruangan, alergiku tidak kumat karena mungkin masih normal, tubuhku masih bisa menyesuaikan. Kecuali air hujan dan angin yang cukup kencang saat aku beraktivitas di luar. Hal itu dapat memacu alergiku kambuh."


Jovanka menempelkan punggung tangannya, dan memang benar, suhu badan Rey telah normal dengan sedikit keringat.


"Dasar! Kamu ngerjain aku!" Lagi, Jovanka memukul dada Reynand. Dia merasa tidak terima dobohongi oleh suaminya.


"Enggak ngerjain, sumpah!" Rey mengangkat telunjuk dan jari tengah hingga membentuk huruf 'V'.


"Lalu, kalau bukan bohong apa lagi coba?"


"Yaaa ... ingin liat istriku khawatir aja. Wajar, kan, kalau aku ingin melihat kekhawatiran di wajahmu?" ucap Rey yang kemudian menarik tangan Jovanka.


Tubuh Jovanka kini berada dalam dekapan hangat Reynand. Wanita itu sesungguhnya masih kesal, tapi tidak dipungkiri rasa sayang mengalahkan kesal yang dia alami saat itu. Dia bahagia mendapatkan suami seperti Reynand. Pria cuek yang ternyata menyimpan sisi romantisme dari sudut lain. Di mana hanya Jovanka yang mengetahuinya.


"Rey," ucap Jovanka ketika masih ada dalam dekapan Reynand.


"Kenapa kamu ingin liat aku khawatir?"


"Karena, dari ekspresi khawatir di wajahmu tadi. Aku sedikit dapat menilai perasaanmu terhadapku. Dan ternyata, kamu mencintaiku." Reynand tersenyum.


"Ish! Pede kamu," ucap Jovanka.


"Tapi bener, kan?"


"Enggak!"


"Bener ...."


"Enggak! Aku jawab enggak ya enggak. Aku enggak khawatir sama kamu!" ketus Jovanka.


"Ngaku aja, Jo," desak Reynand.


"Gak!"


"Ngaku ...."


"Enggak!"

__ADS_1


"Ngaku."


"Enggak!"


"Abang, Kak Jo, kalian masih betah dalam kamar?" tanya Rhiena di depan pintu kamar yang terbuka.


"Nana?" Mata Jovanka membulat ketika menyadari ada orang lain menyaksikan perdebatan mereka.


Rhiena tersenyum jahil ketika melihat kakaknya yang sedang mendekap hangat kakak iparnya.


"Nana? Ngapain masih berdiri di situ?" tanya Reynand yang masih memeluk tubuh Jovanka.


"Lepasin," pinta Jovanka, dia terlihat malu.


"Enggak," jawab Reynand.


Bibir Rhiena masih tersungging ketika melihat Jovanka yang berusaha melepas dekap erat suaminya.


"Rey, ish!" Jovanka kesal.


"Diam, sayang. Tenang aja, Nana akan aku usir," ucap Reynand pada istrinya.


"Lepasin." Jovanka masih merengek. Namun, tangan Reynand masih kuat mendekap tubuh Jovanka.


"Bang, sadar enggak? Kalau badan Abang itu bau, makanya Kak Jovanka enggak betah dalam pelukan Abang!" ucap Rhiena sambil berlalu pergi.


"Eh, adek enggak punya akhlak emang," ketus Reynand.


"Sayang, apa yang dikatakan Nana itu benar. Badanmu bau asem, cepet lepasin," rengek Jovanka dengan sisa tenaga yang masih berusaha meloloskan diri dari dekapan Reynand.


"Masa, sih?"


"Ya Tuhan, masih tanya. Kamu cium aja sendiri," ucap Jovanka.


'Muachhh!' Rey mencium pipi istrinya lalu melepaskan dekapannya.


Mata Jovanka membulat dan tangan memegang pipi yang baru saja dicium Reynand.


"Enggak asem, tuh. Wangi malah," ucap Reynand.


"Ish! Bukan pipi aku, tapi cium sendiri badanmu!" Jovanka terlihat kesal sedangkan Reynand tertawa melihat istrinya marah karena sikap Reynand yang menyebalkan.


"Iya, iya. Aku mandi, nih," ujar Reynand yang bangkit dari tempat tidur. Lelaki itu gegas berjalan menuju kamar mandi.


Jovanka tersenyum melihat kelakuan suaminya pagi itu. Dia baru menyadari kalau ternyata memiliki suami yang bukan hanya cuek, tetapi juga jahil. Sempurna!


Sempurna?

__ADS_1


Iya, sempurna. Sempurna untuk membuat hidup Jovanka yang dulu berderai air mata, kini hidupnya penuh dengan warna bersama belahan jiwa.


__ADS_2