
"Kenapa kau cemberut Gio?" tanya Cyra.
"Dari kemarin aku tidak bisa menemui kalian. Nenek Busara melarangku."
Cyra tahu apa yang terjadi tapi tidak mungkin kan ia mengatakan hal itu pada Gio.
"Memangnya apa yang Phoo dan Mae lakukan hingga aku tidak boleh mengganggu?"
Cyra tampak terkejut dengan pertanyaan Gio. Wajarlah pertanyaan itu terlontar dari mulut anak kecil itu karena ia tidak keluar dari kamar. "Hmmm.."
"Kemarin itu badan Mae sedang panas." jawab Aroon dari belakang. Ia tahu istrinya itu kebingungan menjawab pertanyaan dari Gio.
"Mae sakit?"
"Hmm.. Iiya." jawab Cyra gugup karena berbohong.
"Eh Gio, kenapa kau begitu penasaran dengan apa yang dilakukan oleh Phoo dan Mae mu?"
"Mereka tidak mengajakku nek."
"Hahahahh.." nenek Busara tertawa mendengar jawaban polos Gio. "Besok jadi kalian pulang?"
"Jadi Mae."
"Ah waktu satu minggu berjalan terlalu cepat."
Cyra menghampiri nenek Busara dan memeluknya. "Kami akan lebih sering mengunjungimu."
"Baiklah, aku tunggu kedatangan kalian di waktu yang lain dan tentunya dengan anggota baru." nenek Busara mengusap perut Cyra dengan lembut dan tersenyum penuh arti.
"Itu pasti Mae." Aroon mengerlingkan mata. "Aku berusaha sangat keras."
"Iya.. Iya aku tahu. Melihat wajah istrimu yang kurang tidur saja aku tahu betapa kerasnya usahamu."
Cyra tersipu malu mendengar perkataan mertuanya.
"Cyra."
"Ya Mae."
"Terima kasih sudah mengembalikan senyum anakku." ucap nenek Busara. "Setelah kematian Davira. Baru kali ini aku melihatnya tersenyum, di wajahnya selalu ada rona bahagia. Jaga putraku, ia sudah banyak melalui kesedihan."
"Pasti Mae." jawab Cyra. "Justru aku yang merasa beruntung telah bertemu dengan Aroon. "Hidupku menjadi lebih berwarna dan di kelilingi dengan cinta."
"Aku juga mendengar cerita tentang Denisha, syukurlah wanita itu sudah tidak ada. Semoga kebahagian selalu ada bersama kalian."
"Terima kasih Mae atas restunya."
🍀🍀🍀🍀
Siang ini mereka sudah tiba kembali di Indonesia. Kedatangan mereka di sambut Omar dan Olif.
"Tuan muda, kami kangen." teriak Omar, ia memeluk Gio.
"Kau memelukku terlalu erat Omar. Aku sesak napas."
"Oh.. Maaf.. Maaf tuan muda. Itu karena aku terlalu gembira."
Olif dan Omar membawakan koper Gio masuk ke dalam kamar. Sedangkan bik Tika dan Jono membawa koper milik Aroon dan Cyra.
"Makasih ya bik."
"Sama - sama nyonya."
"Oya aku beli oleh - oleh buat semuanya."
"Terima kasih, nyonya selalu ingat kami."
"Tentu saja. Awal aku tinggal di sini kan juga akrabnya sama bik Tika." Cyra memeluk bik Tika.
"Keluarga di Thailand sehat nona?"
__ADS_1
"Iya sehat semua, kami banyak jalan - jalan. Ternyata di Thailand hampir sama seperti di Indonesia. Banyak pantai, kuil___."
"Ehem..." Aroon yang duduk di sofa berdehem hingga memutus pembicaraan Cyra dengan bik Tika.
"Kamu sakit?" Cyra menghampiri suaminya dan memegang keningnya. "Nggak panas."
Aroon perlahan menarik tangan Cyra hingga Cyra sedikit menunduk. "Di sini yang panas." kedua mata Cyra terbelalak karena Aroon menunjuk milik pribadinya.
"Ada bik Tika." bisik Cyra.
"Hmm... Tika. Badanku pegal semua, biar istriku memijat punggungku sebentar."
"Oh maaf tuan, kalau begitu saya akan keluar. Permisi." bik Tika segera tahu maksud tuannya. Bahwa ia ingin berdua dengan istrinya.
Begitu bik Tika keluar dari kamar, Aroon menarik tubuh Cyra hingga kepangkuannya.
"Kita baru sampai tuan Aroon."
"Kita belum pernah bermain di kamar kita sendiri nyonya Aroon. Jadi bagaimana kalau kita coba untuk pertama kalinya?" belum sempat Cyra menjawab, Aroon sudah memberondongnya dengan ciuman - ciuman.
🍀🍀🍀🍀
Pagi ini Aroon di kejutkan dengan sesuatu.
"Bagaimana ini bisa terjadi Sulaiman?"
"Saya juga tidak tahu tuan. Semalam saya, Syam dan beberapa pekerja sudah memeriksa dengan pasti, buah yang akan kita kirim adalah kualitas terbaik."
"Tapi kenapa ini bisa busuk semua."
"Sepertinya ini di tukar tuan." jawab Syamsudin.
"Yakin? Jangan sampai nanti ada fitnah. Tahu dari mana ini di ganti?"
Syamsudin memperlihatkan sebuah tanda di samping tempat buah. "Setiap buah yang sudah di kemas seperti ini saya selalu memberi tanda @ sebagai simbol perkebunan kita. Tapi di tempat ini saya tidak menemukan tanda itu dengan kata lain buah yang kita panen sudah diambil dan diganti dengan buah yang busuk."
"Lihat CCTV. Aku mau tahu siapa yang sudah keluar masuk ruangan ini."
"Baik tuan."
"Stop! Stop!" perintah Aroon. "Perbesar bagian itu." tunjuk Aroon.
"Orang itu memiliki tatto di tangannya." gumam Sulaiman.
"Perhatikan lagi." perintah Aroon. "Tattonya mirip dengan yang di gambarkan oleh istriku. Kau ingat kan Syam waktu Cyra di tabrak mobil jeep. Ia mengatakan kalau ada tatto di tangan penabrak itu."
"Ya.. Ya.. Saya ingat tuan."
"Ini pasti ada hubungannya dengan sindikat yang sama yang ingin menghancurkan usahaku dan orang - orang terdekatku." ucap Aroon. "Selidiki Biantara."
"Baik tuan."
"Jika memang benar ini semua perbuatannya. Habislah dia!" ucap Aroon geram.
Ia segera kembali ke rumah utama untuk bertemu dengan Cyra. Ia mendapati istrinya sedang memasak di dapur.
"Masak apa sayang?" peluknya dari belakang.
"Kau mengagetkanku." Cyra berbalik dan mencium suaminya. "Tom Yum kesukaanmu."
"Hmmm.. Sudah belajar banyak dari Mae kau rupanya."
"Tentu saja. Apalagi aku sudah berjanji dengan Mae akan selalu membahagiakanmu."
"Membahagiakanku tidak hanya dengan memasak saja sayang. Tapi juga___." Aroon menyusupkan tangannya ke dalam baju Cyra.
"Sayang, ini di dapur." bisik Cyra.
"Masih lama masaknya?" tanya Aroon yang tangannya masih bermain di sana.
"Tttingal memasukkan seafoodnya sajaahhh." ada lenguhan di jawaban Cyra.
__ADS_1
"Serahkan saja ke Tika."
Cyra mematikan kompor takut kalau masakannya akan gosong. "Tadi kan sudah. Biarkan aku memasak, sebentar lagi aku menjemput Gio sekolah."
Aroon melihat jam dinding. "Masih ada waktu satu jam lagi." ia mulai mencium istrinya.
Praanngg!!! "Tuan, nyonya! Maaf saya tidak tahu." teriak bik Tika tiba - tiba. Ia segera memalingkan muka.
Cyra segera mendorong Aroon. "Kau sih." bisiknya.
"Aku sudah tidak tahan." mulut Aroon komat kamit karena kesal.
"Hmm.. Bik Tika tidak usah sungkan." ucap Cyra. "Tolong ya bik teruskan masaknya, aku mau jemput Gio."
"Bbbaiikk, nyonya."
Cyra segera keluar dari dapur di ikuti oleh suaminya.
"Heh.. Dasar pengantin muda. Bilang saja mau buat adiknya tuan muda." gumam bik Tika.
Sementara itu..
Setelah melalui pertarungan sengit dengan suaminya. Cyra tiduran di atas dada bidang milik Aroon.
"Kau tahu apa yang terjadi barusan?"
"Soal apa? Aku belum mendengar apa - apa."
"Pengiriman buah kita gagal."
"Kok bisa?"
"Ada yang menyabotase. Buah kita di ganti dengan buah busuk."
"Pelakunya siapa?"
"Masih dalam penyelidikan. Tapi ia memiliki tatto sama seperti dengan orang yang menabrakmu."
Cyra bangun dari tidurnya. Ia duduk menghadap suaminya. "Itu arti mereka satu sindikat yang sama?"
"Iya."
"Kau curiga dengan siapa?"
"Biantara."
"Bukankah sudah cukup lama ia tidak terdengar beritanya sejak kematian Denisha."
"Dia itu orang yang licik. Menghalalkan segala cara untuk memghancurkan lawannya."
"Kau harus hati - hati, Aroon."
"Aku justru khawatir padamu." ucap Aroon. "Bagaimana kalau Gio biar di jemput Omar?"
"Hari ini aku sudah janji padanya. Besok kita evaluasi lagi."
"Baiklah, tapi aku mohon berhati - hatilah."
"Siap sayang." Cyra mencium bibir Aroon sekilas. "Aku mandi dulu. Sebentar lagi sekolah Gio selesai." Cyra bergegas ke kamar mandi.
🍀🍀🍀🍀
Dengan mengendarai mobil yang di belikan untuknya, Cyra datang ke sekolah Gio. Cyra datang bertepatan dengan suara bel tanda sekolah usai. Ia menunggu agak jauh karena hanya itu parkir yang kosong. Setelah terparkir sempurna, Cyra mematikan mesin dan bersiap keluar, akan tetapi ia melihat sesuatu yang membuatnya mengurungkan niat untuk keluar.
"Asih?" gumamnya heran. Kok dia bisa di sini, jangan - jangan ia mau menculik Gio pikir Cyra.
Dengan cepat Cyra keluar, setengah berlari ia menuju ke gerbang sekolah. Lagi - lagi ia terhenti oleh sesuatu.
"Hasan?" gumamnya. Cyra dengan cepat bersembunyi di balik mobil yang terparkir di sana. Ia melihat bahwa Hasan teman sekolahnya dulu memeluk Asih. Tak lama kemudian Asih seperti memberikan sesuatu untuk Hasan.
"Apa hubungan mereka?"
__ADS_1
🍀🍀🍀🍀