
"Badanmu demam." Cyra segera menyibakkan selimut yang di kenakan Aroon.
"Jangan Cyra, aku kedinginan." gumamnya dengan mata terpejam. Ia memegang erat selimut itu.
"Ayo pindah ke sana."
"Kemana?"
"Ke tempat tidur. Aku akan membawamu ke sana. Di sini terlalu dingin." sofa itu letaknya dekat dengan jendela. Cyra menaruh tangan Aroon di pundaknya. Dengan susah payah ia membawa suaminya itu ke tempat tidurnya.
Cyra segera mengganti kaos yang di kenakan Aroon karena basah oleh keringat. Tak lupa ia juga mengelap tubuhnya dengan menggunakan handuk basah.
Setelah semuanya beres Cyra mengambil obat dan meminumkannya pada Aroon.
"Buka mulutmu."
"Kau mau apa?"
"Kamu harus minum obat demam."
"Tidak perlu. Nanti juga sembuh sendiri."
"Jangan begitu Aroon. Jangan membuatku khawatir." Cyra tetap memaksa agar Aroon mau membuka mulutnya. Tapi tetap saja bibir itu mengatup erat.
Cyra hampir kehabisan akal sampai sebuah ide gila muncul di pikirannya. Dengan berlahan Cyra mencium bibir Aroon dan benar saja karena kaget Aroon membuka mulutnya dan kesempatan itu tidak disia - siakan oleh Cyra. Ia segera memasukkan obat dan memberinya air putih.
"Apa yang kau lakukan?" gumamnya.
"Aku tidak melakukan apa - apa. Kau hanya mimpi." ucap Cyra. "Sekarang tidurlah." Cyra kembali membaringkan tubuh Aroon dan menyelimutinya.
Cyra berganti tidur di sofa. Dan mulai berusaha memejamkan matanya tapi sepertinya sulit karena dari tadi Aroon masih mengigau kedinginan. Cyra kembali beranjak dari sofa dan melihat kondisi Aroon. Ia menyeka keringat yang membasahi dahi suaminya.
Sepertinya aku harus bergadang semalaman. Demam Aroon tak kunjung turun pikir Cyra. Ia memutuskan untuk tidur di samping Aroon. Agar ia lebih mudah merawat suaminya itu.
"Cyra."
"Ya aku disini."
"Aku haus."
"Aku ambilkan minum." dengan cekatan Cyra mengambil air putih yang terletak di samping untuk suaminya. Setelah selesai ia kembali membaringkannya.
"Cyra."
"Ya, ada apa Aroon?"
"Aku benar - benar kedinginan." keluhnya sambil tubuhnya menggigil.
Cyra merapatkan selimut Aroon agar tidak ada celah untuk angin masuk. Tapi tetap saja tubuh kekar itu menggigil kedinginan.
Apa yang harus aku lakukan. Sepintas Cyra teringat kejadian waktu di Surabaya. Aroon juga mengalami demam tinggi. Yang ia lakukan adalah menghangatkan tubuhnya dengan pelukan. Dan sepertinya cara itu harus ia pakai kembali.
Oke sepertinya harus aku lakukan. Jangan baper Cyra ucapnya dalam hati. Cyra dengan posisi setengah duduk dan bersandar mulai memeluk Aroon.
"Apa yang kau lakukan?" gumam Aroon lagi.
"Membuatmu tetap hangat."
Dengan spontan Aroon melingkarkan tangannya di pinggang Cyra.
"Bagaimana masih dingin?" tanya Cyra hati - hati.
Aroon tidak menjawab hanya menggelengkan kepalanya. Ia semakin memeluk Cyra dengan erat. Ia menemukan kenyamanan di sana. Mereka berdua akhirnya tertidur saling berpelukan satu sama lain.
Keesokan paginya Cyra terbangun. Tangan kekar itu masih setia melingkar di pinggangnya. Cyra memegang kening suaminya.
"Syukurlah demamnya sudah turun." Cyra memindahkan tangan itu hati - hati. Ia tidak ingin suaminya itu terbangun. Ia akan membiarkan Aroon beristirahat lebih lama.
Cyra beranjak dari tempat tidur dan mulai membuat bubur di dapur.
"Masak buat siapa nyonya?" tanya bik Tika.
"Buat Aroon. Semalam ia demam."
"Mungkin karena badai semalam."
__ADS_1
"Memangnya kenapa bik?"
"Hari ini perkebunan akan mengirim sayur. Karena semalam ada badai tuan takut sayurnya akan rusak jadi memutuskan untuk memanen semalam. Dibantu dengan beberapa pekerja, Sulaiman dan Syamsudin akhirnya berhasil memenuhi pesanan pelanggan."
"Semalam ia tidak sempat cerita, tahu - tahu demam dan menggigil. Biarlah pagi ini ia sarapan bubur."
"Nyonya___." bik Tika tidak meneruskan perkataannya. Ia sebenarnya ingin menanyakan masalah penculikan di mana tuan sudah menghilangkan kesuciannya, tapi ia urungkan karena itu terlalu pribadi.
"Ada apa bik?"
"Tidak apa - apa. Nyonya jangan terlalu capek kan juga baru sembuh. Kalau perlu bantuan apa - apa nyonya bisa memanggil saya."
"Iya.. Iya.." jawab Cyra. "Oya buburnya sudah matang, aku bawa ke kamar dulu. Kalau dingin nanti tidak enak." Cyra bergegas membawa bubur itu ke kamar.
Dilihatnm suaminya itu sudah bangun.
"Kamu kemana?"
"Aku buat bubur tadi."
"Kenapa tidak menyuruh Tika saja. Kau seharusnya tidak meninggalkan aku yang lagi sakit."
"Hanya keluar sebentar. Lagian ini juga buat bubur untuk kamu kan."
Cyra membantu suaminya bersandar di tempat tidur. Ia memegang keningnya lagi.
"Hmm tidak sepanas tadi malam." gumamnya.
"Iya tapi masih sakit."
"Iya aku tahu." jawab Cyra sambil tersenyum. "Hari ini waktuku hanya untuk merawatmu tuan Aroon." ucap Cyra.
Aroon mengangguk sambil tersipu malu.
"Sekarang makan buburnya dan lalu minum obat." Cyra mulai menyuapkan bubur ke dalam mulut Aroon. "Bagaimana? Enak?"
Aroon mengangguk.
"Jelas enak dong kan buatnya pake ci___." Cyra tidak meneruskan ucapannya.
"Pake.. Pake keseriusan." jawab Cyra mantab
Aroon hanya tersenyum, ia tahu itu bukan jawabannya. Cyra menunduk karena dari tadi Aroon menatapnya dengan inten.
"Hmm, sekarang minum obatnya. Aku jamin hari ini kau pasti sudah sembuh."
Wajah Aroon tampak panik. Apa sembuh pikirnya. Ia masih mau main - main jadi pasien. Dengan begini Cyra sangat perhatian dengannya.
"Badanku masih belum fit."
"Iya, tapi nanti kalau sudah minum obat dan vitamin pasti baik."
"Aku minum sendiri saja." Aroon menagih obatnya. Dengan cepat Cyra mengambilnya. Setelah menyerahkan obat Cyra segera ke kamar mandi menyiapkan air hangat untuk membasuh tubuh Aroon. Semalam keringatnya banyak tentu saja tubuhnya terasa lengket.
"Sudah di minum obatnya?" tanya Cyra yang keluar membawa baskom berisi air hangat.
"Sudah." jawab Aroon berbohong. Padahal obat itu ia buang.
"Buka bajumu aku akan membasuh tubuhmu dengan air hangat. Semalam keringatmu banyak." Cyra mengambil baju ganti dan menyiapkannya di tepi tempat tidur. "Aaccchhh!" teriaknya tiba - tiba. "Kenapa celananya juga kamu lepas?"
"Kau bilang akan membasuh tubuhku. Bukankah kaki juga anggota tubuh."
"Iya betul tapi tidak perlu membuka celana. Aku malu."
"Kenapa malu? Bukankah kamu pernah melihatnya." goda Aroon.
"Aroon... Ayolah." Cyra merajuk.
"Oke.. Oke.. Aku pakai lagi." Aroon tersenyum karena berhasil menggoda istrinya.
"Sudah belum?" tanya Cyra.
"Sudah."
Cyra perlahan membalikkan badannya dan melihat Aroon yang sudah mengenakan celana. Ia segera membasuh tubuh Aroon. "Terlalu panas?"
__ADS_1
"Tidak, airnya sudah pas."
Cyra melanjutkan pekerjaannnya hingga selesai. Ia segera memakaikan baju, menyisir rambut Aroon dan juga memberinya parfum. "Aku akan mengajar Gio sebentar." pamitnya.
"Belajarnya disini saja. Kalau aku butuh sesuatu bagaimana?"
Cyra menghela napas. "Baiklah, aku akan memanggil Gio kemari. Aku hanya takut kalau kamu tidak bisa istirahat karena kami berisik."
"Tidak apa - apa, justru aku tidak akan bosan di kamar sendirian."
"Baiklah." ucap Cyra. "Dasar bayi tua." gerutunya pelan.
Tak lama kemudian Cyra datang bersama Gio. Ia sengaja tidak membawa Omar dan Olif karena akan tambah berisik.
"Phoo sakit?"
"Iya."
"Istirahatlah. Aku akan menemanimu di sini."
Gio mulai belajar bersama dengan Cyra. Beberapa kali ia juga mengecek kondisi Aroon. Dan anehnya suhu tubuh Aroon belum normal. Seharusnya begitu minum obat penurun panas, suhu tubuhnya sudah normal.
"Kenapa?" tanya Aroon karena wajah Cyra yang bingung.
"Suhu tubuhmu belum kembali normal. Hampir tiga puluh delapan derajat. Kau minum obatnya kan?"
"Tentu saja aku minum."
"Baiklah nanti malam sebelum tidur minum lagi. Besok kau sudah bisa beraktivitas kembali."
"Baiklah."
Malam ini rutinitas sebelum tidur, Cyra mengganti pakaian Aroon dan menyuruhnya minum obat. Kali ini Aroon tidak bisa berkutik karena ada Cyra di depannya. Terpaksa ia menelan obat itu dan di pastikan ia akan sembuh. Jadi kesempatannya hanya sampai malam ini saja jika ingin mendapat perhatian lebih dari istrinya itu.
"Cyra." panggil Aroon.
"Ya." jawab Cyra sambil menata sofa untuknya tidur.
"Kamu tidur di mana?"
"Di sofa."
"Badanku terasa menggigil." keluh Aroon.
Cyra menghampiri suaminya itu, serta membetulkan letak selimut. "Masih dingin?"
"Iya." Aroon pura - pura menggigil.
"Apa mau aku panggilkan ke dokter saja?"
"Tidak usah, ini sudah malam." tolak Aroon. "Mungkin obatnya belum beraksi."
"Iya. Tapi kalau sampai besok pagi masih demam. Kamu harus mau ke dokter."
"Iya.. Iya.. Istriku."
Cyra tampak tersipu ketika Aroon memanggilnya seperti itu.
"Maukah kau tidur disini menemaniku. Entah kenapa kalau sakit aku takut sendirian." Aroon menepuk - nepuk tempat tidur. Cyra jadi tidak tega. Mengingat selama ini Aroon sudah banyak berkorban untuk melindungi dan menjaganya.
"Iya.. Iya.. Dasar bayi tua."
Cyra segera naik ke tempat tidur dan berbaring di sebelah Aroon. Agak canggung awalnya juga tapi lama - lama Cyra sudah bisa menghilangkan kecanggungan itu.
Tiba - tiba Aroon melingkarkan tangannya di pinggang Cyra. "Kenapa kau tidak memelukku lagi seperti tadi malam. Aku kedinginan Cyra." ucapnya manja.
"Oh, ya.. Baiklah." Cyra memperbaiki letak tidurnya hingga agak bersandar. Tangannya melingkar di punggung Aroon. Dan Aroon semakin mendekatkan tubuhnya memeluk istrinya. "Sudah tidak dingin?"
"Lumayan."
"Tidurlah, aku disini menjagamu." Cyra menepuk - nepuk punggung Aroon dengan lembut. Tujuannya agar ia cepat tidur.
"Hmmm.." hanya itu yang keluar dari mulut Aroon. Entah kenapa ia begitu nyaman dalam dekapan Cyra. Nikmati ini sebaik - baiknya Aroon. Besok kau tidak akan mendapat kesempatan seperti ini lagi ucapnya dalam hati.
🍀🍀🍀🍀
__ADS_1