
Ach dia pasti mau menemui kekasihnya itu. Pantas ia tidak sabar untuk pulang kampung. Dasar mata duitan umpat Aroon. Ia terus mengendarai sepeda motornya. Kira - kira hampir sepuluh menit Aroon meninggalkan Cyra sendiri. Tiba - tiba saja dia menghentikan laju motornya. "Sial!" umpatnya. Kenapa ia aku tinggal sendiri. Aroon segera berbalik arah dan kembali ke rumah sakit.
Dia mencari keliling tempat parkir, ternyata hasilnya nihil. Ia sama sekali tidak menemukan Cyra. Apa dia sudah pulang sendiri. Tapi naik apa pikir Aroon. Ia akhirnya memutuskan bertanya pada satpam.
"Maaf apa anda melihat gadis rambutnya di cepol ke atas, pakai tas coklat, celana jeans dan baju warna biru."
"Waduh, saya tidak hapal pak. Yang lewat jalan ini banyak."
"Baiklah, permisi."
Aroon melajukan motornya. Ia bertanya pada tukang parkir di depan.
"Permisi."
"Ya pak."
"Apa anda melihat seorang gadis jalan sendirian, rambutnya di cepol ke atas, celana jeans dan pake baju biru?"
"Hmmm.. Ya.. Ya.. Tadi memang ada. Sempat tanya ke saya apa ada ojek atau angkot yang lewat."
"Kemana dia pergi?"
"Ke arah sana pak."
"Terima kasih informasinya."
"Iya sama - sama pak."
Dengan segera Aroon melajukan motornya ke arah yang ditunjukkan tukang parkir tersebut.
Sementara itu...
"Tuan ini gimana sih, aku kok malah ditinggal. Salahku apa coba? Cuma minta cuti tiga hari saja tidak boleh! Apalagi ayah kan juga lagi sakit." gerutu Cyra sepanjang perjalanan. "Dasar arogan, tidak memiliki perasaan."
Cyra dengan kesal keluar dari rumah sakit. ia mencari siapa tahu ada ojek atau kendaraan umum yang bisa membawanya pulang. Tapi kalau sudah menjelang petang begini angkot sudah tidak beroperasi lagi. Cyra berusaha melihat aplikasi ojek online tapi belum bisa terhubung.
Ia memutuskan jalan pelan - pelan, padahal jarak antara rumah sakit dan perkebunan hampir lima belas kilo. Wah bisa sampai malam aku baru sampai pikir Cyra. Matanya berkaca - kaca karena ia sangat kecewa dengan sikap Aroon.
Jalan menuju perkebunan memang sepi karena agak jauh dari pemukiman penduduk. Mungkin hanya beberapa rumah selebihnya pepohonan dan hamparan tanah yang luas.
Tiiinnn..! Tiiinn..! Tiiinn..! Suara klakson mobil dari belakang. Cyra berusaha minggir, ia pikir menghalangi jalannya mobil itu. Akan tetapi walaupun sudah jalan kepinggir mobil itu masih tetap membunyikan klakson. Hal itu membuat Cyra membalikkan badannya. Sorot lampu itu membuat silau matanya. Siapa sih itu tanyanya dalam hati.
Tampak seorang laki - laki keluar dari dalam mobil.
"Cyra." panggilnya.
"Vano?"
"Sedang apa kau di sini?"
"Aaku.. Aaku dari rumah sakit."
"Kau sakit?"
Cyra menggelengkan kepala. "Tidak. Kamu sendiri sedang apa?"
"Aku mau ke rumah untuk menjengukmu."
"Aku sekarang tinggal di perkebunan. Jadi maaf jika kamu tidak bisa leluasa berada di sana." tolak Cyra dengan halus. Tujuannya adalah agar Vano tidak mengejarnya.
"Terus terang aku selalu memikirkanmu Cyra."
"Sudahlah Vano, jangan diungkit lagi. Kamu sudah bertunangan dengan Sekar." Cyra berusaha tegas dengan sikapnya.
"Aku tidak bisa Cyra. Jangan paksa aku untuk melupakanmu." ucap Vano sambil berusaha memegang tangan Cyra. Tapi dengan cepat Cyra menangkisnya. "Aku bisa memutuskan pertunangan itu jika kamu memintanya."
"Tidak! Aku tidak akan melakukan itu!"
"Kenapa!" tiba - tiba saja raut wajah Vano berubah menjadi dingin. Dengan cepat ia menarik tangan Cyra. Sikapnya sangat kasar.
"Lepaskan Vano!" Cyra meronta - ronta. Tapi cengkeraman itu bertambah kuat. "Aku bilang lepaskan! Kau menyakitiku!"
"Tidak! Tidak akan aku lepaskan! Mengerti!"
"Kamu ini kenapa sih!" Cyra mulai panik. Ia melihat sekelilingnya tidak ada siapa - siapa. Rumah yang terakhir ia lewati cukup jauh.
"Kita harus bersama Cyra! Kau harus ikut denganku!" Vano mencoba membawa Cyra dalam dekapannya.
Cyra berusaha melepaskan diri. Tapi Vano lebih kuat. Hal itu membuat Cyra terasa sesak. Satu - satunya cara adalah ia berteriak meminta tolong. "Tolong! Tolong! Tolong!" teriaknya.
Dengan segera Vano membekapnya. "Jangan berteriak atau aku tidak segan untuk berbuat lebih nekat. Kau tidak mau kan?" ancam Vano. Matanya melotot, dan senyumnya yang bengis.
Bukan Cyra namanya jika ia pantang menyerah. Ia tidak bisa begitu saja melihat dirinya diperlakukan dengan tidak baik. Posisi mereka yang sangat dekat memudahkan Cyra menggunakan kakinya untuk menendang milik pribadi Vano.
"Bugh."
"Aauuwww." teriak Vano. Ia meringis kesakitan sambil memegangi milik pribadinya.
"Rasakan!" umpat Cyra sambil meluapkan emosinya. Ia menggunakan kesempatan itu untuk melarikan diri.
Vano berusaha untuk menahan sakit setelah tahu Cyra melarikan diri. "Sial!" Vano mengejar Cyra. "Hei jangan lari kau Cyra! Aku pasti akan menangkapmu!"
Cyra yang mendengar itu berusaha mempercepat langkah kakinya. Ya tuhan aku butuh pertolonganmu doa Cyra dalam hati. "Tolong! Tolong! Tolong!"
__ADS_1
"Hahahahhh... Berteriaklah terus sayang! Tidak akan ada orang yang menolongmu."
Tenagaku habis pikir Cyra dalam hati. Kenapa tidak ada orang sama sekali. Langkah kaki Cyra melemah. Itu yang membuat Vano menambah kecepatan larinya. Dan___
"Aauuw." teriak Cyra. Yah Vano berhasil menangkapnya kembali.
"Mau lari kemana sayang? Percuma, aku pasti menangkapmu." Vano mendekap Cyra sekuat - kuatnya. Dengan sisa tenaga Cyra tetap berusaha melepaskan diri. Hingga___
"Hei! Lepaskan dia!" teriak seseorang.
Oh suara itu. Yah itu suara tuan Aroon. "Tuan! Tolong tuan!" teriak Cyra yang seperti mendapatkan kekuatan lagi setelah mendengar suara Aroon.
Dengan segera Aroon berlari menghampiri dan memberikan tandangannya hingga Vano jatuh tersungkur. Aroon menarik kerah baju Vano memaksanya untuk berdiri.
"Bangun pengecut!" Aroon melepaskan pukulannya hingga mengenai hidung Vano. Yang membuat darah segar keluar dari hidungnya.
"Beraninya sama perempuan! Dasar banci!" Aroon kembali melancarkan tendangannya hingga membuat Vano tidak berdaya.
"Sudah tuan sudah. Ia sudah tidak berdaya." Cyra menarik lengan Aroon. "Ayo kita pergi, saya mau pulang."
Aroon dan Cyra meninggalkan Vano yang tergeletak tidak berdaya. Dengan mengendarai motor mereka segera pulang menuju ke perkebunan.
Beberapa kali Cyra mengusap airmatanya yang hampir jatuh. Ia berusaha tegar di hadapan Aroon.
"Kamu tidak apa - apa?"
"Tidak tuan, saya baik - baik saja."
"Benarkah?"
"Benar tuan. Tuan tidak usah khawatir."
"Aku sama sekali tidak khawatir. Hanya saja aku takut temanmu itu akan membawa pengaruh buruk ke Gio."
"Tenang saja, saya jamin itu tidak akan berpengaruh."
Aroon kembali terdiam. Ia kembali melirik ke arah spion dan dilihatnya Cyra sudah tidak menangis, hanya saja wajahnya tidak ceria seperti biasanya.
Mereka sudah sampai. Cyra segera turun dari motor.
"Terima kasih." ucap Cyra. "Motornya biar saya kembalikan pada Fahri."
"Tidak usah, biar aku saja."
"Baiklah kalau begitu. Saya permisi." Cyra meninggalkan Aroon sendirian yang sebenarnya masih banyak hal yang ingin dia obrolkan. Tapi apa boleh buat. Sore ini Cyra hanya diam seribu bahasa.
☘️☘️☘️☘️
Pagi itu Cyra bangun seperti biasanya. Ia berusaha melupakan kejadian kemarin sore. Ia berjalan ke dapur.
"Sudah kering bik. Tinggal menghilangkan bekas lukanya saja."
"Oh syukurlah." ucap bik Tika. "Ayo sarapan dulu. Kamu terlihat agak pucat pagi ini. Makan yang banyak ya."
"Iya terima kasih bik."
"Oya tumben hari ini tidak memasak buat tuan muda."
"Nggak bik, takut kalau bosen. Makan telur terus setiap hari." jawab Cyra. Padahal ia sengaja melakukan itu untuk menghindari Aroon.
Syamsudin datang dan bergabung bersama Cyra. "Bagaimana lukamu?"
"Sudah baik Pak Uo."
"Syukurlah." ucap Syamsudin sambil menyuapkan nasi ke dalam mulutnya.
"Ayah sakit Pak Uo." ucap Cyra lirih.
Syamsudin menghentikan kegiatannya.
"Uda? Sakit?"
Cyra mengangguk. "Iya patah tulang. Padahal minggu depan mau panen."
"Ya tuhan, kenapa bisa begini. Terus apa langkahmu?"
"Aku sudah mengajukan cuti pada tuan Aroon. Tapi tidak diijinkan. Kan Pak Uo tahu kalau ijin cutiku baru bisa dipergunakan bulan depannya lagi."
"Kamu sudah bilang alasannya. Siapa tahu tuan jadi kasihan dan kamu bisa ambil cuti sekarang."
"Belum. Karena tuan sudah bilang tidak, jadi aku mengurungkan niatku."
"Ya sudah begini saja. Aku akan coba berbicara pada tuan, untuk mengajukan cuti lagi. Nanti urusan panen biar aku saja."
"Terima kasih Pak Uo."
"Iya sama - sama."
"Kalau begitu aku pergi mengajar dulu." Cyra segera meninggalkan dapur. Ia menuju ke ruang belajar. Alangkah terkejutnya ia ketika sampai di depan ruangan. Ternyata Aroon mengantarkan Gio belajar. Huh niat mau menghindar malah ketemu pikir Cyra dongkol.
"Bu Cyra." Gio menghambur ke pelukan Cyra.
"Pagi Gio."
__ADS_1
"Pagi." Gio tersenyum manis.
"Hmm pagi ini kau terlihat tampan."
Gio tersenyum. "Tuh kan Phoo. Bu Cyra mengatakan aku tampan. Phoo kalah dan harus membelikan ku coklat."
"Oke.. Oke.. Aku mengaku kalah." Aroon melirik ke arah Cyra. Tapi justru Cyra mengalihkan pandangannya.
"Oya, kita belajar dulu Gio. Katanya kau mau belajar bahasa."
"Oh iya. Ayo bu Cyra."
Cyra menggandeng tangan mungil milik Gio masuk ke dalam kelas. Ia melewati Aroon begitu saja seolah - olah ia tidak ada.
Sial! Dia mengabaikanku. Berani juga nyalinya umpat Aroon dalam hati.
Cyra cuek saja dan sama sekali tidak memperdulikan keberadaannya. Ia tetap mengajar Gio, Omar dan Olif.
Aroon dengan kesal meninggalkan mereka menuju ke perkebunan.
Ia melampiaskan kekesalannya dengan mencangkul. Para pekerja keheranan karena Aroon mencangkul penuh dengan emosi.
"Tuan kenapa?"
"Tidak tahu pak Syam."
"Marah sama siapa dia?"
'Kami tidak tahu. Setelah dari rumah tuan sudah seperti itu."
"Lanjutkan kerja kalian. Aku akan mendekati tuan."
Para pekerja kembali melanjutkan pekerjaan masing - masing.
"Tuan."
"Heh... Heh.. Ada apa Syam?" tanya Aroon yang napasnya terengah - engah.
"Saya mau bicara sebentar tuan."
Aroon menghentikan kegiatannya. Ia mengusap keringat yang membasahi dahinya. "Kita kesana."
Syamsudin mengikuti langkah Aroon mereka duduk di gazebo.
"Ada apa?"
Syamsudin menuangkan minuman untuk Aroon dan memberikannya. Aroon segera menegak minuman itu.
"Jadi begini tuan. Ayahnya Cyra mengalami kecelakaan."
"Kecelakaan?"
"Betul tuan. Ia jatuh dari pohon dan patah tulang. Padahal minggu depan mereka harus panen. Dan tuan kan tahu kalau Cyra belum bisa mendapat ijin untuk cuti. Jadi dia meminta bantuan saya untuk membantu ayahnya panen. Bisakah saya mengajukan cuti lagi?" pinta Syamsudin dengan suara lirih. "Hanya tiga hari saja tuan."
"Kenapa dia tidak memintaku secara langsung?"
"Sudah, tapi tuan menolak." jawab Syamsudin.
Ah ya, aku lupa. Kemarin dia sudah meminta untuk memajukan cuti tapi aku sudah marah tanpa mau mendengarkan alasannya. Pantas hari ini ia marah dan tidak peduli padaku pikir Aroon.
"Aku akan menemuinya." Aroon beranjak dari duduknya.
"Tuan.. Tunggu sebentar tuan. Saya mohon jangan marah kepadanya."
"Tidak, aku hanya bicara saja dengannya."
Syamsudin membiarkan Aroon menemui Cyra. Ia tidak bisa mencegah Aroon karena posisinya hanya sebagai pekerja disana.
Aroon berjalan menuju ruang belajar. Dari luar sayup - sayup terdengar suara Cyra sedang mengajar bahasa inggris.
"Bisa aku bicara?"
Cyra menoleh ke arah pintu dimana Aroon berdiri. Ia melihat ke jam tangannya.
"Masih satu jam lagi tuan. Setelah selesai mengajar, saya akan menemui tuan."
"Sebentar." Aroon yang memandang tajam membuat sifat keras kepala Cyra menjadi luluh.
"Gio, Omar dan Olif tolong kalian kerjakan soal di halaman lima belas. Aku keluar dulu."
"Baik bu Cyra." jawab mereka.
Cyra mengikuti langkah Aroon.
"Kenapa tidak cerita padaku kalau ayahmu kecelakaan?"
"Apa tuan memberi saya kesempatan?"
"Oke sekarang aku beri kesempatan."
Cyra menghela napas kesal jika ingat kejadian waktu itu. "Saya ijin mengajukan cuti karena mau membantu ayah saya panen. Saya hanya membutuhkan waktu tiga hari saja tuan." Cyra menjelaskan dengan cepat dan singkat karena terus terang ia masih malas dengan Aroon.
"Oke, aku ijinkan."
__ADS_1
Mata Cyra terbelalak, mulutnya sedikit menganga seolah tidak percaya dengan apa yang di dengarnya.
☘️☘️☘️