
Aroon yang tanpa mengenakan baju naik ke atas tempat tidur. Ia berada di atas Cyra. "Maafkan aku Cyra."
"Tidak tuan! Jangannn!!!"
Aroon seperti orang lain di hadapan Cyra karena pengaruh obat yang diberikan padanya. Ia mulai merobek pakaian yang dikenakan Cyra hanya dengan sekali robekan. Terpampanglah segala sesuatu yang selama ini Cyra tutupi dan jaga. Tampak tatapan liar dari mata Aroon seperti orang kesetanan.
"Tuan saya mohon jangan. Sadarlah tuaannn!!!" teriak Cyra.
Tapi percuma teriakan Cyra itu sama sekali tidak berpengaruh, pengaruh obat ternyata lebih kuat dari akal sehat.Β Aroon mulai menindih Cyra, ia mulai mencium telinga dan bahkan menggigit leher Cyra.
"Accchhh!!! Jangan tuan." ia masih meronta - ronta berusaha melepaskan ikatan talinya menggunakan sisa tenaga yang ia punya. Tangan dan kakinya mulai berdarah terkena gesekan tali yang terbuat dari serat yang kasar.
Aroon sama sekali tidak memperdulikan teriakan Cyra yang pilu. Ia terus menciumi Cyra tanpa berhenti. Aroon beralih pada bibir tipis dan mungil milik Cyra.
"Hmmpphhff.. Hmmpphhff." hanya itu suara yang keluar dari mulut Cyra setelah dibungkam habis - habisan oleh Aroon. Ia bahkan kesulitan untuk bernapas. Wajahnya memerah. Cyra merasakan bibirnya mulai perih karena Aroon beberapa kali memberi gigitan di sana.
Tangan Aroon mulai menjalar kemana - mana. Bermain di 36 C milik Cyra. "Tuannn!!! Jangann tuaannn!!! Saya mohonn." Cyra menangis sejadi - jadinya. "Saya Cyra... Gurunya Gio.. Tolong jangan lakukan itu pada saya." Cyra terus berusaha menyadarkan Aroon. Ia tidak menyerah sama sekali. Tapi seakan itu Aroon anggap sebagai nyanyian merdu.
Bibir Aroon mulai bosan bermain di sana, ia kemudian beralih pada dua bukit kembar Cyra, dengan sekali tarikan rusaklah penghalang yang selama ini menutupinya. Dengan rakus Aroon mulai melahap dan juga memberikan gigitan kecil seperti permen lolipop.
Cyra merasakan ada suatu gelenyar yang aneh yang ia rasakan seperti sesuatu yang geli. Seperti ribuan semut berjalan di sekitar dadanya. Tapi itu semua ia tepis dengan terus berusaha mencegah Aroon bertindak lebih jauh. "Cyra aku membutuhkanmu." suara Aroon yang terdengar serak di sela - sela kegiatan panasnya. Ciuman Aroon mulai turun ke perut kecil Cyra hal itu membuat Cyra tambah khawatir dengan milik pribadinya yang selama ini sangat - sangat ia jaga.
Aroon memberikan tanda kemerahan di perut Cyra. "Aaacchh sakit!!! Saya mohon hentikan tuan!!!" Kaki Cyra berusaha menendang tapi apa daya kedua kakinya diikat pada dua tiang yang berbeda. Bahkan tungkai kakinya berdarah akibat bergesekan dengan tali.
"Cyra aku sudah tidak kuat." bisik Aroon. Tubuhnya berkeringat, wajahnya memerah dan juga napasnya memburu.
"Cyra menangis sejadi - jadinya. "Saya mohon jangan tuan." ia mengeleng - gelengkan kepalanya. "Jangan lakukan itu please." suara Cyra yang lirih memohon agar Aroon tidak bertindak terlalu jauh justru terdengar berbeda di telinga Aroon. Justru seperti suatu ajakan untuk terus melanjutkan aksi panasnya itu. Ini semua karena pengaruh obat itu terlalu kuat.
"Maafkan aku Cyra." ucap Aroon dengan sekali tarik ia berhasil mengoyak pelindung yang menutupinya.
"Tidaaakkkkk!!!" teriak Cyra.
Aroon seakan tidak memperdulikan teriakan Cyra ia tetap konsisten dengan kegiatannya. Ia mulai membuka celananya. Dan Cyra diperlihatkan oleh sesuatu yang baru pertama kali ini dilihatnya. Milik pribadi seorang pria yang harusnya ia lihat ketika menikah nanti. Cyra memalingkan muka dan memejamkan matanya. Ia tidak sanggup menerima takdirnya yang seperti ini.
Milik Aroon yang menjulang tinggi dan siap untuk melahap milik Cyra yang masih belum tersentuh oleh sesuatu apapun. Tubuh Cyra bergetar hebat karena isak tangisnya. Aroon mulai memasukkan miliknya.
"Tidaaakkkk!!! Jangaaannn!!!" teriak Cyra.
Aroon sangat kesulitan akan tetapi pengaruh obat itu membuatnya harus sedikit memaksa. Dengan kasar ia menerobos terus dan terus.
"Aaacchh!!!" jerit Cyra. "Sakiittt!!! teriaknya.
Aroon terus menerobos hingga robek lah penghalang milik Cyra. Darah segar keluar membasahi tempat tidur. Rasa sakit itu mebuat Cyra syok hingga ia pingsan. Aroon sama sekali tidak menyadari hal itu. Ia terus melakukan gerakan maju mundur hingga kenikmatan yang sempurna ia dapatkan setelah empat tahun lamanya menduda. Aroon tergeletak di samping Cyra yang pingsan.
ππππ
Denisha masih berusaha mencari cara agar bisa mendapatkan kontrak kerja itu yang mungkin saja Aroon simpan di brankas kamar. Tapi seakan Gio tahu, ia sama sekali tidak beranjak dari kamar Phoo nya itu.
"Omar, apa sudah ada kabar dari Phoo?"
"Belum tuan muda."
"Aku sangat khawatir."
__ADS_1
"Ia aku juga, apalagi bu Cyra seorang perempuan yang lemah."
"Eh, jangan salah bu Cyra itu wanita yang kuat. Memangnya kamu yang sedikit - sedikit nangis."
"Siapa yang nangis? Yang ada malah kamu yang nangis." Olif menjambak rambut Omar. Omar tak mau kalah ia memencet hidung Olif yang pesek.
"Aduh kalian membuatku pusing. Lebih baik aku tidur." ucap Gio. Ia menaikkan selimutnya dan memilih untuk tidur.
Sementara itu...
"bagaimana ini nona? Gio tidak mau keluar kamar ayahnya dari tadi."
"Sialan anak kecil itu!" umpat Denisha. Ia kemudian terdiam dan tampak memikirkan sesuatu. "Bagaimana kalau besuk kamu beli obat tidur."
"Untuk apa?"
"Ya tentu saja untuk diberikan pada Gio. Kita buat ia tertidur sehingga tidak menganggu kerja kita."
"Bagaimana dengan dua pengasuh bodohnya itu?"
"Itu gampang, nanti aku suruh mereka keluar perkebunan."
"Baik besuk saya akan ke apotik, nona."
"Ingat yang dosis tinggi, biar reaksinya cepat."
"Siap."
Drrrtt.. Drrtt.. sebuah pesan masuk ke dalam handphone Denisha. Ia segera membukanya. Matanya melotot dan tangannya gemetar.
"Apa ini?" gumamnya tak percaya. Ada sebuah foto masuk ke dalam handphonenya. di foto itu tampak Aroon yang sedang disuntik secara paksa.
Drrrtt.. Drrrtt lagi - lagi ada pesan masuk. Denisha membuka dan itu adalah gambar kedua dimana Aroon yang tanpa mengenakan baju sedang berada dia atas tubuh Cyra yang sedang terikat. "Tidak! Tidak! Ini tidak benar!" ia mengeleng - geleng tidak percaya.
"Ada apa nona?"
"Ini tidak benar!!!" jeritnya.
Billy segera mengambil handphone dari tangan Denisha dan melihat gambar itu dengan mata kepalanya sendiri. "Ya tuhan, ini tidak mungkin." Billy menutup mulutnya seakan tidak percaya dengan yang dilihatnya.
Drrrtt.. Drrrtt.. pesan yang ketiga masuk. Karena Denisha masih syok, maka Billy yang membuka pesannya. Tangannya juga gemetar ketika ia membaca pesan itu 'INI PERINGATAN AGAR KAU TIDAK MAIN - MAIN DENGANKU'
"Ya tuhan, nona." suara Billy bergetar seakan tak percaya.
"Itu pasti ulah Bian. Dasar kurang ajar!" Denisha menjerit histeris dan memporak porandakan seisi ruangan. Napasnya tersengal - sengal. Ia menyambar handphone yang ada di tangan Billy. Melakukan panggilan dengan Biantara. "Krang ajar! Apa yang sudah kau lakukan!"
"Hahahahhhh.. Itu sebagai peringatan dariku untukmu. Jangan main - main dengan Biantara!"
"Main - main apa?"
"Kau sudah memberiku laporan palsu."
"Sudah aku bilang aku tidak tahu akan hal itu, Bian." ucap Denisha. "Beri aku waktu, aku akan mencari kontrak kerja yang asli.'
__ADS_1
"Waktuku sangat berharga, Denis sayang. Ingatlah itu jika bekerja sama dengan Biantara."
"Bbbian.. Apa yang dilakukan Aroon terhadap Cyra."
"Hahahahhh.. Cyra telah menjadi milik Aroon seutuhnya." jawab Biantara. "Hmmm.. Aku sudah membantu Aroon melampiaskan hasrat terpendamnya. Hahahahhh.."
"Kamu gila Bian! Kamu benar - benar gila!"
"Kenapa gadis itu sama sekali tidak kau bunuh sesuai perjanjian kita?!"
"Kau yang sudah mengingkari perjanjian kita dengan memberiku kontrak palsu jadi apa salahnya aku melakukan hal yang sama." jawab Biantara. "Ingat Denis, jangan pernah sekali - sekali mempermainkanku, kau akan tahu akibatnya. Mengerti!!!" panggilan di akhiri.
Tubuh Denisha bergetar hebat, Billy langsung memeluknya. Ia tahu nonanya itu syok berat. Billy sudah lama memperingatkan untuk berhati - hati bekerja sama dengan Biantara. Dan inilah hasilnya, semuanya gagal dan tidak berjalan sesuai dengan rencana Denisha.
"Bagaimana ini Billy? Kenapa justru Cyra yang menjadi milik Aroon? Mereka memadu kasih, Billy."
"Tenang nona. Kita cari cara untuk menghancurkan Cyra." ucap Billy menenangkan. "Walaupun ia sudah menyerahkan milik berharganya untuk tuan Aroon belum tentu tuan Aroon akan menikahinya."
"Aroon seorang pria yang bertanggung jawab. Aku yakin ia pasti akan menikahi gadis sialan itu."
"Kita cari cara agar tuan AroonΒ tidak berhasil menikahi Cyra." Billy memeluk Denisha dengan erat. Ia merasa kasihan dengan nonanya. Obsesinya memiliki Aroon harus pupus gara - gara Biantara.
ππππ
Cyra membuka matanya yang terlihat sembab karena terus menangis. Tubuhnya terasa remuk redam, sakit semua apalagi di bagian intimnya yang terasa perih. Tangan dan kakinya masih terikat semua di tiang tempat tidur. Ia melihat Aroon yang tergeletak di sebelahnya. Ia menitikkan airmatanya lagi, hancur sudah masa depannya. Siapa yang mau menikah dengannya, dengan gadis yang sudah tidak suci lagi.
Aroon menggerakkan tangannya, ia mulai sadarkan diri. Dengan perlahan ia membuka matanya. Ia mengerjap - erjap, kepalanya juga masih terasa berat. Ia menggeser tubuhnya dan membuatnya tersadar bahwa ia tidak sendiri di sana. Ia merasakan ada orang di sebelahnya. Dengan hati - hati Aroon membalikkan badannya dan melihat siapa orang di sebelahnya.
"Cyra." mata Aroon terbelalak, ia tampak sangat terkejut melihat kondisi Cyra. Baju yang di kenakan robek dan sudah tidak berbentuk lagi. Tubuhnya terbuka banyak tanda merah disana, tangan dan kakinya terikat, bahkan Aroon bisa melihat ada darah di sana. "Aap.. Apa yang terjadi padamu? Siapa yang melakukan ini?" Aroon bertanya dengan menitikkan air mata melihat Cyra yang tampak mengenaskan.
Cyra masih terisak, ia tidak bisa menjawab semua pertanyaan dari Aroon. Hanya air mata saja yang terus keluar dari mata indahnya.
Aroon beranjak dari tempat tidurnya untuk mencari sesuatu yang bisa menutupi tubuh Cyra, hingga sesuatu membuatnya tersadar. Tubuhnya sama sekali tidak mengenakan sehelai benang pun. Aroon langsung berpaling dan mencari sesuatu untuk menutupi tubuhnya. Ia menyambar celanaΒ yang ada di dekatnya.
"Cy.. Cyra. Aap.. Aapakah aku yang melakukannya?"
Cyra sama sekali tidak menjawab. Isak tangisnya terdengar lebih keras dan tubuhnya gemetar. Tapi itu sudah merupakan jawaban untuk Aroon.
"Ya tuhan. Apa yang sudah aku lakukan. Aku benar - benar binatang!" Aroon mengusap wajahnya dan kemudian memukul tembok menggunakan tangannya berkali - kali. Darah segar keluar. Aroon bersimpuh sambil menitikkan air mata. Cukup lama ia menangis. Aroon segera tersadar bahwa ia harus segera menolong Cyra. Ia melihat sebuah kain yang tergeletak disana, dengan cepat ia menyambar dan menutupkannya di tubuh Cyra.
Aroon juga bergegas melepaskan ikatan pada kedua tangan dan kaki Cyra. Ia membantu Cyra untuk duduk, tapi sesuatu mengurungkan niatnya.
"Jangan sentuh saya!" teriak Cyra histeris.
"Aak.. Aaku hanya ingin menolongmu Cyra."
'Tidak tuan! Jangan sentuh saya! Jangan dekati saya!" teriak Cyra histeris. Ia sepertinya sangat syok dengan kejadian yang menimpanya.
"Oke.. Oke aku akan menjauh."
Cyra berusaha turun dari tempat tidur, tubuhnya yang lemah dan terluka membuatnya kesusahan. Aroon kembali mendekat.
"Jangan tuan! Jangan dekati saya! Saya wanita kotor!" Cyra kembali terisak. Hal itu membuat Aroon kembali menitikkan air mata. Ia sangat menyesali, kenapa ia sama sekali tidak waspada hingga ia bisa di suntik obat oleh para penculik.
__ADS_1
"Maafkan aku Cyra." ucapnya lirih
ππππ