
Malam itu Gio tidur bersama Cyra dan Aroon. Sesuai janji bahwa mereka akan tidur berempat. Cyra terbangun karena tangisan Arthit. Ia menggendong anaknya. Cyra mengganti pampers dan baju Arthit agar nyaman untuk tidur kembali. Mungkin ia masih merasakan perih di kulitnya sehingga malam ini ia tidak tidur nyenyak seperti biasa.
Setelah mengganti baju, Cyra segera menyusuinya. Pikiran Cyra kembali ke Davira yang menurutnya aneh. Ia sebagai wanita memiliki insting yang tidak baik sejak wanita itu datang. Ia merasa tujuan Davira kembali adalah merebut keluarganya. Oleh sebab itu terkadang dia tidak bisa berpikir jernih jika Davira sudah mendekati Aroon.
Masalah handphone Aroon yang dia pegang dan juga menghapus panggilan nya itu merupakan indikasi yang tidak baik. Cyra sudah mengecek bahwa memang saat itu Aroon sedang menemui klien dengan Pak Uo nya.
Ditambah lagi masalah Arthit yang sepertinya mendapat siksaan fisik. Ia sangat tidak tega melihat bayinya di perlakukan seperti itu. Belum lagi sikapnya yang menghasut dan mengiring opini agar berpikiran negatif terhadap seseorang seperti Gio dan bik Tika.
Aku harus menyelidiki gerak gerik Davira. Apa tujuan sebenarnya tekad Cyra dalam hati. Setelah melihat Arthit yang kembali tertidur lelap Cyra meletakkannya kembali ke box bayi.
Ia melirik ke arah jam dinding, waktu menunjukkan pukul dua dini hari. Ia membetulkan letak selimut Aroon dan Gio. Cyra tersenyum melihat dua prianya tertidur dengan pose yang sama. Ia memberi kecupan kecil pada mereka berdua. Ia benar - benar tidak mau kehilangan mereka.
Cyra tidak bisa memejamkan matanya kembali. Ia memutuskan membuka pintu balkon dan duduk disana. Angin malam ini tidak begitu dingin seperti biasanya.
Pikirannya kembali melayang. Bagaimana seandainya jika Aroon lebih memilih hidup bersama Davira, tentu saja ia harus mengalah dan membiarkan suaminya bahagia.
Cyra meneguk susu hangat yang baru di buatnya dengan dalih agar cepat tidur. Tiba - tiba sebuah selimut di balutkan ke tubuhnya.
"Tidak bisa tidur?" tanya Aroon dengan suara serak khas orang bangun tidur. Dia berjalan dan duduk di sebelah Cyra. Dengan manja Cyra menyandarkan kepalanya di bahu suaminya itu.
"Kau juga tidak tidur?"
"Aku tidak menemukan aromamu di tempat tidur, jadi aku mencarimu." jawab Aroon.
"Kenapa? Apa ada yang mengganggu pikiranmu?"
"Tidak ada." jawab Cyra. "Aku tadi habis menyusui Arthit, eh malah tidak bisa tidur lagi." jawabnya sambil tersenyum simpul.
"Tumben dia terbangun tengah malam."
"Mungkin lukanya terasa perih."
"Besok ke dokter saja. Biar mendapatkan obat yang tepat."
"Baiklah."
"Aku antar ya?"
"Iya tuan Aroon sayangku." Cyra tersenyum agar suaminya tidak khawatir.
"Cyra."
"Hmm.."
"Yuk."
"Yuk apa?" Cyra memandang Aroon dengan penuh tanda tanya. "Jangan main tebak - tebakan ah. Ini sudah jam dua pagi."
"Aku menginginkanmu." Aroon mulai mencium Cyra. "Aku juga tidak bisa tidur." bisiknya.
"Eh ada Gio lo." Cyra memperingatkan.
"Kita pindah."
__ADS_1
"Hah pindah? Kemana?"
"Ke rumah lama kita."
"Bukankah baru di renovasi."
"Hampir selesai." jawab Aroon. "Ayolah."
Cyra tersenyum ia tahu suaminya memiliki fantasi liar dan ia harus bisa mengimbanginya. "Gendong." ucap Cyra manja.
"Siap nyonya." pekik Aroon kegirangan.
"Sssttt.. Jangan keras - keras nanti anak - anak terbangun." Cyra memperingatkan.
Tanpa menunggu lama Aroon menggendong istrinya dan berjalan menuju rumah lama. Selama perjalanan ke sana Cyra menggoda suaminya dengan ciuman dan juga jilatan lidahnya. Hal itu membuat Aroon mempercepat langkahnya.
Cyra jadi geli sendiri dengan ekpresi wajah suaminya jika sudah ingin bercinta. Itulah yang membuatnya sering menggodanya.
Tanpa sengaja sepasang mata memperhatikan mereka dengan tatapan penuh amarah dan kebencian.
🍀🍀🍀🍀
Pagi itu Cyra kedatangan tamu.
"Nyonya ada tamu." lapor bik Tika.
Saat itu Cyra yang sedang menyusui Arthit agak sedikit keheranan. Karena ia jarang sekali mendapat tamu. Di Bogor teman Cyra tidak terlalu banyak.
"Suruh tunggu sebentar ya bik."
"Tamunya nyonya tuan."
"Iya tahu. Tapi siapa namanya?"
"Wah saya kok tadi lupa nanya tuan. Tapi orangnya dulu pernah datang kemari kok."
"Siapa ya?" gumam Cyra.
"Laki - laki?" tanya Aroon lagi.
"Iya benar tuan."
"Aku tahu siapa orangnya." ucap Aroon. "Ya sudah suruh tunggu."
"Baik tuan." bik Tika pamit keluar.
Aroon segera berganti pakaiannya dengan cepat. Ia mengambilkan baju untuk Cyra ganti.
"Memang siapa sih tamunya?"
"Nanti kamu akan tahu." jawab Aroon. "Kamu nanti pakai ini." perintahnya kemudian.
"Itu bagian lehernya terlalu lebar."
__ADS_1
"Memang kenapa?"
Cyra menyibakkan rambutnya. "Nih, perbuatanmu semalam." Cyra menunjukkan banyak sekali tanda kemerahan di lehernya. "Nanti kalau aku pakai itu pasti kelihatan. Kan malu."
"Tidak apa - apa. Aku memang sengaja. Biar dia tahu kamu milik siapa." jawab Aroon dan kemudian dengan cepat pergi keluar.
"Aneh. Memang siapa sih tamunya." gumam Cyra. "Lihat itu Phoo mu. Kalau sudah punya kemauan harus dituruti. Dasar keras kepala." Cyra berbicara dengan bayinya.
Tak berapa lama Arthit tertidur. Cyra segera mengganti bajunya dengan baju yang di pilihkan oleh Aroon. Tapi setelah melihat tanda kemerahan itu banyak yang terlihat termasuk area di atas dada, Cyra memilih untuk memgganti bajunya. Ia memilih baju dengan krah agak menutupi lehernya.
Ia kemudian keluar di sana sudah ada Davira yang juga ikut mengobrol bersama tamunya. Dan ternyata Aryo. Pantas saja Aroon seperti kebakaran jenggot.
"Arthit sudah tidur sayang?" tanya Aroon sambil menarik istrinya untuk duduk di sampingnya. Ia kemudian mengecup pipi Cyra sekilas.
"Iya. Tidurnya nyenyak." jawab Cyra. Duh suaminya mau pamer di depan Aryo. Cyra melihat Aryo yang tertunduk. "Pak Aryo apa kabar?"
"Aku baik. Bagaimana kabarmu?"
"Baik sekali. Apalagi sekarang aku sibuk mengurus dua anak." jawab Cyra. "Bapak ibumu sehat."
"Iya. Tapi kemarin bapak baru saja operasi jantung."
"Ya tuhan. Lancar kan?"
"Syukurlah lancar." jawab Aryo. "Oya aku kesini karena mau menjenguk anakmu yang bayi. Ini sekedar oleh - oleh dariku." Aryo memberikan sebuah kado untuk Arthit.
"Terima kasih, kamu sebenarnya tidak perlu repot - repot." sahut Aroon. Ia menerima kado dari Aryo dan menaruhnya di samping.
"Oya Cyra, aku tadi sempat ngobrol dengan Aryo. Katanya dulu kalian sempat di jodohkan?"
Cyra tampak sangat kaget dengan pertanyaan Davira. Darimana Davira tahu soal itu tanya Cyra dalam hati. "Kamu tahu?"
"Aku yang memberi tahunya karena ia menanyakan hubunganku denganmu. Jadi aku tadi sempat cerita sedikit tentang kita. Kamu tidak keberatan kan?"
Cyra terdiam. Ia sebenarnya kesal kenapa Aryo bisa cerita hal yang tidak penting pada Davira. "Aku keberatan." jawab Cyra datar. Ia melirik ke arah Aroon yang tampak sedikit emosi.
"Maaf kalau kau keberatan."
"Lain kali tidak usah menceritakan masa lalu orang tanpa minta ijin." Cyra memperingatkan.
"Cyra kenapa kamu emosi. Aryo cerita hal - hal yang baik kok. Tidak menjelekkan kamu." sahut Davira.
"Iya tapi tetap saja aku tidak suka."
Aroon akhirnya ikut bersuara. "Aryo aku berterima kasih atas kedatanganmu tapi maaf aku ada acara ke dokter bersama istriku."
"Baiklah Cyra, aku permisi pergi."
"Terima kasih atas kedatanganmu." ucap Cyra sambil menahan rasa kesalnya.
Setelah kepergian Aryo, Cyra dan Aroon segera memeriksakan luka Arthit.
Davira tersenyum sangat puas. Sepertinya ia menemukan sebuah mangsa untuk menjatuhkan Cyra.
__ADS_1
Cyra tunggu saja. Akan aku buat dirimu di benci oleh Aroon hingga ia tidak akan kembali lagi padamu.
🍀🍀🍀🍀