
Aroon mendekati Cyra dan memegang tangannya. Dia tidak menolakku.
"Hmmm.. Loh tuan dimana yang lainnya? Oh pasti sedang bermain dengan kelinci ya. Hehehehh.."
"Ayo aku antar ke kamarmu."
"Eits.. Tidak.. Tidak.. Saya masih belum mengantuk.." Cyra berjalan mencari - cari Kelincinya. "Kok hilang."
"Cyra ayo ke kamar, jangan membuat keributan. Ini sudah malam."
Cyra masih kesana kemari mencari - cari kelincinya. Sedangkan Aroon terus berada di belakangnya takut kalau ia akan terjatuh. Tiba - tiba Cyra menghentikan langkahnya. Ia membalikkan tubuhnya. Karena tubuh Cyra seperti ukuran orang Indonesia pada umumnya sedangkan tubuh Aroon yang tinggi dan besar ia hanya sedada tuannya itu. "Kok tembok?" Ia memegang dada Aroon yang dalam bayangannya adalah tembok. Ia mendongakkan kepalanya. "Hehehehhh.. Tuan."
"Kamu mau kemana lagi?"
"Mau kesana." tunjuk Cyra.
"Ayo." Aroon memegang tangan Cyra dan membimbingnya untuk masuk ke kamarnya. Tapi tiba - tiba saja Cyra berhenti.
"Aku tidak mau tidur."
'Terus mau apa?"
"Duduk di sana."
"Baiklah ayo."
Aroon membawa Cyra duduk di teras.
"Cyra kau sudah tidak jijik padaku?"
"Jijik? Siapa yang jijik dengan tuan?"
"Kau. Yah kau tidak mau berdekatan denganku apalagi bersentuhan."
"Hahahahhh.." tiba - tiba Cyra tertawa sambil menutupi mulutnya. "Aku.. Aku bukannya jijik."
"Terus."
"Aku takut dengan tuan."
"Takut?"
"Hmmmm.. Takut tangan ini akan merobek bajuku." Cyra memegang tangan Aroon. "Takut bibir ini menggigit tubuhku.. Sakit tuan." Cyra memegang bibir Aroon.
"Maaf.."
"Maaf? Buat apa minta maaf toh tuan akan mengusirku?"
"Aku tidak mengusirmu."
"Hihihiiii..." lagi - lagi Cyra terkikik sambil menutup mulutnya. Ia kemudian menangkupkan kedua tangannya pada pipi Aroon. "Jangan bohong. Tuan sendiri yang bilang mau mengembalikan aku ke Surabaya bukan?"
"Cyra dengarkan dulu."
Cyra mengeleng - gelengkan kepalanya berulang kali. Ia yang seperti itu sangat menggemaskan. "Tuan yang harus mendengarkan aku." Cyra mendekatkan wajahnya pada Aroon. "Aku mau bekerja di sini demi Gio dan juga demi tanggung jawabku terhadap tuan."
"Aku lakukan itu demi keselamatanmu Cyra. Aku mengkhawatirkanmu."
"Hmm.. Tidak.. Tidak.. Aku tidak mau pergi dari sini." Cyra bersandar pada sofa dan mulai memejamkan matanya.
"Baiklah kalau kau tidak mau pergi." ucap Aroon. Melihat Cyra yang mulai tertidur. Ia segera membawanya ke kamar.
Tiba - tiba saja tangan Cyra melingkar di leher Aroon. "Tuan, aku sangat ketakutan. Aku menunggumu untuk datang menyelamatkanku. Aku benar - benar takut." gumamnya dalam tidur. Walaupun lirih tapi Aroon bisa mendengarnya dengan jelas.
Ia meletakkan tubuh Cyra di atas tempat tidur. "Maafkan aku Cyra." ia mencium sekilas bibir Cyra dan kemudian menyelimuti tubuh gadis itu.
Aroon keluar dari kamar dan segera membereskan kekacauan akibat pesta barbeque. Mencuci semua peralatan yang kotor dan mengembalikan seperti semula. Setelah semua bersih ia segera kembali ke kamarnya.
ππππ
Denisha sedang menikmati masa liburannya di Lombok setelah apa yang terjadi. Ia banyak berhubungan dengan pria - pria bule, menggelar pesta dan mabuk setiap hari. Billy yang melihatnya menjadi sangat prihatin melihat nonanya yang sedang patah hati.
"Oahamm." Denisha menguap, ia berusaha membuka matanya. "Aaauuww!" teriaknya. "Billy.. Billy.."
"Ada apa nona?"
__ADS_1
"Kepalaku pusing."
"Bagaimana tidak pusing, hampir setiap hari anda mabuk."
"Sudah tidak usah cerewet. Ambilkan aku aspirin."
Billy segera mengambil aspirin dalam laci. Mengambil air putih dan memberikannya pada Denisha. Karena masih sakit kepala Billy membantunya untuk bangun dan bersandar di tempat tidur.
"Mana bajuku?" tanya Cyra setelah mengetahui tubuhnya yang tanpa sehelai benang pun. "Ambilkan cepat."
Billy tanpa banyak bicara patuh dengan perintah Denisha. "Nona mau kita apakan dua pria ini?"
"Pria? Pria apa?"
"Itu dua pria bule yang tergeletak di sana." tunjuk Billy pada dua orang pria yang tergelatak di sofa tanpa sehelai benang pun. Denisha melihat dan memegangi kepalanya seakan sudah mengingat hal gila apa yang dia lakukan bersama dengan mereka.
"Bangunkan dan usir mereka keluar. Aku sudah tidak butuh."
Billy yang pada dasarnya seorang pria dengan kuat menyeret keluar dua pria itu dari kamar Denisha. Setelah membereskannya ia segera masuk dan membersihkan kamar yang seperti kapal pecah, penuh dengan botol minuman.
"Mau sampai kapan nona akan seperti ini?'
"Diam kau Billy, jangan ikut campur."
"Baiklah aku akan diam. Aku melakukan ini karena merasa kasihan pada nona." ucap Billy. "Nona disini penuh kesedihan sedangkan gadis itu merasa bahagia mendapatkan tuan Aroon. Harusnya nona berjuang."
"Berjuang bagaimana? Aku sudah lelah berjuang Billy. Kau lihat saja Gio tidak menginginkan ibu baru. Jadi percuma."
Billy tampak terdiam. "Nona aku memiliki opini."
"Jangan ngaco! Opini apa?"
"Tadi nona berkata jika Gio sama sekali tidak menginginkan ibu baru?"
"Ya, lantas ada yang aneh dengan perkataanku. Bukankah itu kenyataannya."
"Itu pasti berlaku untuk semua orang bukan?"
"Ya, tentu saja. Sudah berapa banyak wanita yang berusaha mendekati Aroon dan hasilnya sama seperti diriku."
"Hei, Cyra akbrab dengan Gio."
"Tapi akbrab sebagai guru dan murid bukan sebagai ibu dan anak."
Denisha tampak terdiam. "Ah ya aku ingat beberapa waktu yang lalu Cyra juga mengatakan sudah berjanji tidak akan merebut cinta dan kasih sayang Aroon. Oleh sebab itu ia bisa mendekati Gio karena Gio tidak waspada."
"Nah kita jebak saja Cyra sehingga Gio tahu kalau dia akan merebut ayahnya. Bukankah keberadaan Cyra karena Gio setuju diajar olehnya. Jika Gio yang tidak menginginkannya dan mengusirnya pasti Cyra akan pergi dari perkebunan."
"Tapi jika Aroon tetap mempertahankannya?"
"Tidak mungkin nona. Bukankah nona tahu tuan Aroon sangat menyayangi Gio. Semua keinginannya pasti akan ia turuti. Begitu juga dengan pengusiran Cyra."
"Billy."
"Ya nona."
"Bereskan pakaianku. Kita pulang sekarang."
"Siap nona." Billy tersenyum bahagia melihat Denisha kembali bersemangat.
ππππ
Pagi itu sebelum memulai pelajaran Gio meminta untuk menaruh Kelincinya di kandang yang baru. Kandang itu sudah tidak bau cat dan bisa untuk dipergunakan.
"Apa makanan Kelinci ini?" tanya Gio.
"Sayuran. Bisa seperti Wortel, Kangkung." jawab Cyra. "Setiap hari kandang harus dibersihkan. Kelinci ini memiliki kotoran yang banyak. Jika tidak diersihkan akan bau."
"Aku dengar kotorannya bisa dibuat pupuk?" tanya Omar.
"Bukan kotorannya Omar tapi air kencingnya yang bisa dibuat pupuk."
"Kok bisa?" Olif masih penasaran.
"Bisa dong, kan air kencing Kelinci kaya akan unsur hara terutama unsur hara N atau yang biasa kita kenak dengan urea."
__ADS_1
"Caranya?"
"Bisa di gunakan langsung atau bisa di fermentasi dulu."
"Wah hebat ya kelinci, banyak manfaatnya. Dagingnya bisa di makan, aor kencingnya bisa untyk pupuk."
'Tapi jangan sekali - sekali kau makan Kelinciku." Gio langsung memberi peringatan.
"Hahahahhh.. Mana berani saya tuan muda." jawab Omar.
"Mendingan Kelinci banyak manfaatnya, dari pada kamu." cibir Olif.
"Olif, pagi ini aku sudah tenang ya. Jangan kau usik macan yang sedang tidur." jawab Omar.
"Apa macan? Tikus tidur kali. Hahahahhh.."
"Oliifffff!!!! Awas kamu ya kalau ketangkap!" Omar mulai mengejar Olif. Cyra dan Gio tertawa melihat tingkah mereka. Hingga tidak menyadari siapa yang datang.
Plok.. Plok.. Plok.. "Wah.. Wah.. Berasa rumah sendiri ya."
Semua yang ada langsung menoleh ke sumber suara. Omar dan Olif menghentikan kejer - kejarannya, mereka tampak terkejut dengan siapa yang datang.
"Nona Denisha." gumam mereka.
"Kaget melihatku? Atau mungkin kalian rindu." Denisha tersenyum sinis.
"Rindu? Cuiihh." Omar membuang mukanya.
"Eh pembokat bodoh, mulai kurang ajar kau ya dengan nonaku." Billy tersulut emosi dengan perkataan Omar. Tapi Denisha memberi tanda agar ia bersabar dan tidak perlu mencari masalah.
"Hai Gio keponakanku sayang. Kau tidak mau memeluk aunty." denisha melebarkan tangannya siap memeluk Gio. Dengan enggan Gio mendekat dan kemudian mereka berpelukan.
"Oh, kau punya peliharaan baru rupanya. Siapa yang memberikannya? Phoo mu?"
"Bukan." Gio menjawab sambil mengelengkan kepala. "Ini dari bu Cyra."
"Ohh.. Dari bu Cyra." Denisha manggut - manggut. "Apakah dia mau menjadi ibumu karena membelikan hadiah?" pancing Denisha.
"Tidak bu Cyra tidak menjadi ibuku, dia guruku." jawab Gio.
"Nona jangan berkata seperti itu. Ini hanya hadiah kecil karena Gio berhasil membuat kandang yang bagus, bukan hadiah karena saya mau menjadi ibunya."
Omar dan Olif juga membela Cyra. "Bu Cyra tidak seperti anda, ia menyayangi tuan muda dengan tulus, tidak ada maksud merebut tuan."
'Hei! Lama - lama kau ngelunjak ya jika di biarkan!" teriak Billy.
"Kalau iya kamu mau apa?" ucap Olif geram. Ia mendorongΒ Billy.
"Berani kamu ya!"
Olif menjulurkan lidahnya, sedangkan Omar juga ikut - ikutan mendorong Billy.
"Kalian main keroyokan!" perkelahian pun tidak terelakkan. Cyra berusaha melerai tapi karena mereka terlalu brutal ia menjadi kewalahan. Denisha hanya tenang melihatnya.
"Hentikan semua!!!" suara teriakan Aroon membuat mereka terpaksa menghentikan perkelahian. "Apa yang terjadi?!"
"Saya dikeroyok tuan." lapor Billy.
"Bohong tuan, dia yang mulai duluan!" teriak Olif tidak mau kalah.
"Cukup! Cukup!" teriak Aroon. "Aku melihat kalian yang mulai duluan." Aroon melirik pada Omar dan Olif. "Aku melihat kalian berdua mendorong Billy."
"Itu.. Itu.. Karena dia mulai menyulut emosi kami." Omar membela diri.
"Cukup! Harusnya tidak kalian ladeni." ucap Aroon. "kalian berdua aku beri tanggung jawab menjaga anakku, tapi justru kalian tidak memberikan contoh yang baik untuknya."
"Maafkan kami tuan." Olif dan Omar menunduk.
"Selama satu minggu jangan dekati Gio sampai kalian benar - benar introspeksi dan menyadari bahwa tindakan kalian itu salah." ucap Aroon. "Kalian berdua bisa bekerja di perkebunan bersama Sulaiman."
Aroon segera meninggalkan mereka. Olif tampak menangis karena ia belum pernah bekerja kasar di perkebunan. Cyra berusaha menenangkannya. "Nanti aku akan bicara dengan tuan, agar meringankan hukuman kalian."
"Ini semua gara - gara kedatangan mereka. Kita tidak tenang lagi." ucap Omar geram.
ππππ
__ADS_1