
Tok.. Tok.. Tok. Cyra mengetuk kamar Aroon. Tak berapa lama kemudian pintu terbuka.
"Ada apa?"
"Mau menyerahkan koper yang saya pinjam."
"Sudah bersih?"
"Sudah tuan." Cyra menyerahkan koper itu. "Kalau begitu saya permisi dulu."
"Tunggu."
Cyra membalikkan badan lagi. "Ya tuan."
"Apakah mantanmu itu tidak menghubungimu lagi."
"Tidak tuan, karena menurut undangan harusnya kemarin dia bertunangan dengan Sekar."
"Kau tidak datang?"
"Tidak tuan, bukankah kemarin kita baru pulang dari Surabaya."
"Bagaimana dengan luka akibat pukulanku?"
"Saya kurang tahu tuan. Dan terus terang saya tidak memperdulikannya setelah perbuatannya pada saya."
"Aku mendengar informasi kalau dia masih ada di sekitar perkebunan ini."
"Tuan tahu dari mana?"
"Dari para pekerja yang tahu bahwa dia temanmu, mereka melihatnya di sekitar sini. Tapi aku belum memastikan kebenarannya."
"Aneh, setahu saya dia tidak ada sanak keluarga disini."
"Itulah yang membuatku khawatir."
"Jangan - jangan dia mengintai gerak gerik saya tuan."
"Hati - hati kalau keluar rumah."
"Terima kasih tuan sudah mengkhawatirkan saya."
"Aku tidak mengkhawatirkanmu, aku hanya tidak ingin mencari guru baru untuk Gio."
Heh aku kira dia mengkhawatirkanku, ternyata tidak ucap Cyra dalam hati entah kenapa dia sedikit kecewa.
"Baiklah kalau begitu saya permisi tuan. Hari ini saya menemani Omar untuk mengecek pupuk kandang yang kami buat."
Cyra segera pergi dari hadapan Aroon. Ia menuju ke kandang Sapi. Disana Omar sudah menunggunya.
"Bu Cyra." Omar melambaikan tangannya.
"Maaf Omar, menunggu lama ya?"
"Nggak bu."
"Ayo kita lihat pupuknya, apakah bisa terurai atau tidak." Cyra membuka tempat pembuatan pupuk. Terlihat kotoran sapinya mulai terurai. "Hmmm, sepertinya kita berhasil." ucap Cyra.
"Wah jadi berair bu."
"Air ini nanti yang akan kita gunakan." jawab Cyra. "Oya tolong kamu aduk sebentar."
"Baik bu." Omar mencari sebatang kayu sebagai pengaduk. Ia memulai mengaduknya.
"Hugghh... Hiiaat.. Hiiaat.." dengan sekuat tenaga ia mengaduk pupuk itu. Memang terlihat berat mengaduknya.
"Hahahhahah.. Wajahmu merah padam Omar. Kau seperti orang yang membuat jenang." Cyra tertawa geli. Wajah Omar tampak menegang, urat - urat di wajahnya terlihat keluar.
"Hugghh.. Eegghh.. Bu Cyra jangan hanya tertawa saja, bantu dong bu."
"Ah kau ini seperti tenaga wanita saja, pantas kau sulit mendapatkan hati Olif."
Omar tampak terkejut mendengar perkataan Cyra. Ia menghentikan kegiatannya dan menoleh ke Cyra. "Ibu tahu?"
"Tahu. Gelagatmu itu bisa terbaca jelas di mataku."
"Menurut ibu, Olif akan menerima cinta saya?"
"Kalau kau tulus mencintainya, bekerja keras dan bertanggung jawab Olif pasti akan menerimamu."
"Saya ragu bu."
"Kenapa?"
__ADS_1
"Saya takut di tolak."
"Hahahhah.. Ternyata keberanianmu hanya seujung kuku. Kau menyerah sebelum perang. Dimana nyalimu?"
"Itu dia bu."
"Dalam percintaan kita harus siap di tolak dan di terima." jelas Cyra. "Sakit hati itu biasa, nanti lambat laun juga akan lupa."
"Tapi tuan Aroon sudah empat tahun tidak melupakan nyonya."
"Itu kasusnya berbeda denganmu, Omar. Tuan Aroon dan nyonya Davira saling mencintai. Tuan hanya butuh waktu saja untuk kembali jatuh cinta."
"Baiklah saya akan berusaha mengungkapkan perasaan saya untuk Olif."
"Bagus, jadi pria harus berani."
"Hmm, kalau saya latihan dulu dengan bu Cyra bagaimana?"
"Boleh, silahkan saja. Aku tidak keberatan."
"Baiklah tunggu sebentar." Omar berlari ke suatu tempat. Tak berapa lama kemudian ia kembali dengan membawa setangkai bunga.
"Untuk apa ini Omar?"
"Nanti ketika menyatakan cinta saya akan memberikan Olif bunga."
"Bagus. Mulailah."
Cyra dan Omar saling berhadapan. Kemudian Omar bersimpuh di hadapan Cyra sambil menyodorkan bunga ditangannya.
"Olif, kau tahu aku bukanlah pria yang sempurna tapi aku berjanji akan selalu memberikan seluruh cinta dan kebahagianku padamu." ucap Omar sambil memandang Cyra seolah - olah itu adalah Olif. "Jika kau mencintaiku ambilah bunga ini sebagai jawaban kau juga mencintaiku."
Cyra tersenyum karena ia kagum dengan keberanian Omar. Walaupun Omar bukanlah pria yang tampan tapi ia seorang pekerja keras.
Dengan perlahan tangan cyra bergerak untuk mengambil bunga dari tangan Omar. Tapi___
"Apa - apaan ini!" teriak Aroon. Ia segera mengambil bunga dari tangan Omar dan membuangnya.
"Apa yang tuan lakukan?"
"Justru aku yang bertanya apa yang kalian lakukan? Sungguh memalukan? Disaat yang lainnya bekerja kalian malah asyik bermesraan disini!" teriak Aroon penuh emosi. "Omar!" Aroon menarik kerah bajunya dan memaksa Omar berdiri.
"Ampun tuan." mohon Omar, tangan gemetar, tubuhnya lemah seakan tak bertulang.
"Tuan Aroon dengarkan penjelasan saya dulu. Tolong lepaskan Omar."
"Kami tidak bermesraan." jawab Cyra.
"Iya tuan, kami tidak bermesraan." sahut Omar.
"Kau kira aku buta! Bunga, bersimpuh, pernyataan cinta apa itu tidak dikatakan bermesraan."
Cyra tampak kesal dengan sikap Aroon yang langsung saja marah tanpa mau mendengar penjelasan.
"Tuan Aroon yang terhormat! Kami tidak bermesraan. Omar hanya latihan untuk menyatakan cintanya pada Olif!"
"Acchh bo____. Apa? Olif?"
"Ya pernyataan cinta pada Olif!" jawab Cyra kesal.
Perlahan Aroon melepaskan kerah baju Omar. Omar langsung duduk bersimpuh ditanah. Tangannya masih gemetar, jantungnya berdegub tak karuan.
"Tidak ada pernyataan cinta yang sesungguhnya. Tidak ada bermesraan apalagi pacaran. Omar hanya latihan karena ingin menyatakan perasaannya pada Olif. Saya hanya sekedar membantunya. Salah?"
"Ya.. Ya.. Tidak."
"Kenapa tuan marah?!"
"Ya.. Ya.. Karena kalian melanggar aturan."
"Aturan? Aturan yang mana?!" Cyra masih sangat kesal dengan Aroon.
"Ada."
"Yang mana? Tunjukkan pada saya!"
"Ada di dalam ruang kerjaku."
"Ayo kita lihat bersama." tantang Cyra, karena ia yakin aturan itu tidak ada. Aroon hanya ingin menindasnya.
"Hei! Kau tidak percaya padaku?"
"Percaya. Tapi saya perlu bukti."
__ADS_1
Aroon tampak sedikit bingung. Baru kali ini perkataannya menjadi terbata - bata. "Ach sudah tidak perlu memperpanjang masalah ini. Pokoknya aturan itu ada!" teriak Aroon dengan arogan untuk menutupi kesalahannya.
"Baiklah, saya tidak akan memperpanjang. Tapi tuan berhutang maaf pada saya dan Omar."
Aroon mendengus kesal. Ia membalikkan badan pergi dari hadapan Cyra sambil berteriak. "Maaf!"
Cyra menarik napas panjang, ia masih kesal dengan aikap Aroon yang kadang - kadang tidak berpikir panjang.
"Kamu tidak apa - apa Omar?" Cyra membantu Omar berdiri.
"Saya tidak apa - apa bu."
"Kau lanjutkan saja mengaduk pupuknya. Aku akan menemui tuan Aroon."
"Baik bu."
Cyra setengah berlari menyusul Aroon ke perkebunan. Ia mencari sosok itu kesana kemari. Dan seorang pekerja mengatakan bahwa tuan Aroon ada di kebun Jeruk. Dengan segera Cyra ke sana.
Dan ternyata benar. Cyra menemukan sosok kekar itu sedang memeriksa Jeruk yang akan dikirim.
"Tuan."
"Apalagi?"
"Bisa saya bicara."
Aroon dengan muka malas berjalan menjauh menuju sebuah gazebo kecil. Cyra mengikutinya dari belakang.
"Apa maumu?"
"Mau saya mudah. Tolong jangan bertindak gegabah seperti tadi. Tuan bisa menanyakan hal itu pelan - pelan tanpa menggunakan emosi."
"Oke."
"Dan saya ingin tuan mengijinkan Omar menyatakan perasaannya pada Olif."
"Kalau mereka pacaran bagaimana bisa menjaga anakku dengan maksimal."
"Saya jamin mereka akan tetap bekerja seperti biasa dengan sangat profesional. Karena mereka menjaga Gio dengan tulus seperti keluarganya sendiri. Tidakkah tuan melihat ketulusan mereka."
Aroon tampak terdiam mendengar penjelasan Cyra. "Baiklah aku beri mereka kesempatan. Tapi jika itu mengganggu dan memperngaruhi perkembangan anakku maka aku tidak segan memecat mereka."
Cyra tersenyum bahagia. "Terima kasih tuan." ucapnya. "Kalau begitu saya permisi."
Aroon mengangguk.
Cyra segera pergi dari hadapan Aroon. Tapi baru beberapa langkah tiba - tiba ia terdiam terpaku.
Ya tuhan ada Anjing, bagaimana ini ucap Cyra dalam hati. Keringat dingin mengalir dari dahinya. Tubuhnya lemas dan dadanya sesak. Kakinya kaku hingga tak bisa bergerak sama sekali.
Anjing di hadapannya menatapnya dengan tajam bahkan menyalak berulang kali. "Guk.. Guk.. Guk..!" Cyra memejamkan matanya. Ia tidak sanggup melihat Anjing berwarna coklat itu.
"Hei! Pergi!" teriak Aroon sambil melempar sebuah batu. Lagi - lagi tuannya menolongnya. "Kamu tidak apa - apa Cyra? Aneh kenapa ada Anjing berkeliaran disini."
Cyra masih memejamkan matanya, ia tidak menjawab pertanyaan Aroon.
"Cyra. Kau kenapa?" Aroon mengguncang bahunya berulang kali hingga akhirnya ia bisa membuka mata. Cyra langsung terduduk lemas. Dengan sigap Aroon menangkapnya. "Hei Cyra, apa yang terjadi?"
Wajah Cyra yang pucat dan napasnya yang tersengal - sengal membuat Aroon harus menggendongnya ke rumah utama. Beberapa pekerja tampak keheranan. "Tolong panggilkan Syamsudin dan dokter."
Setelah membaringkan Cyra di atas tempat tidur dokter datang dan memeriksanya. Ia mengatakan kalau Cyra hanya mengalami syok karena trauma.
Syamsudin yang datang tergopoh - gopoh karena khawatir dengan keadaan keponakannya menghampiri Aroon.
"Apa yang terjadi tuan?"
"Entahlah, tadi dia baik - baik saja. Tapi begitu melihat Anjing dia langsung seperti itu.
"Anjing? Di perkebunan kita?"
"Iya. Itu juga aku mau tanyakan pada bagian keamanan. Bagaimana ada anjing liar bisa masuk perkebunan. Aku tidak mau membahayakan keselamatan anakku dengan binatang liar seperti itu."
"Maaf tuan keponakan saya memang sangat takut dengan anjing. Ia pernah mengalami kejadian mengerikan dengan Anjing."
"Trauma?"
"Yah benar. Waktu kecil Cyra dan temannya sedang bermain di halaman sekolah. Waktu itu mereka berumur delapan tahun. Entah darimana datangnya tiba - tiba saja ada Anjing gila yang mengejar mereka. Mereka berdua lari ketakutan hingga temannya itu jatuh. Anjing gila itu dengan cepat menggigit bahkan berhasil menyeretnya. Cyra hanya berteriak minta tolong dan menangis ketakutan hingga ada beberapa warga yang datang. Gigitan Anjing itu sangat kuat hingga tidak bisa lepas dari anak itu. Warga terpaksa harus membunuh Anjing itu. Karena kehilangan banyak darah, teman Cyra akhirnya meninggal dunia. Cyra bahkan dirawat di rumah sakit selama satu minggu karena trauma itu. Hingga sekarang jika melihat Anjing ia akan bereaksi seperti itu."
"Kasihan."
"Iya tuan."
"Kau selidiki, kenapa ada Anjing berkeliaran di perkebunanku."
__ADS_1
"Siap tuan."
☘️☘️☘️☘️