My Love Teacher

My Love Teacher
Sulaiman tertembak


__ADS_3

"Ayo kita pergi dari sini sebelum ketahuan."


"Sebentar lagi Syam. Kita harus mendapatkan banyak bukti kejahatan Biantara agar dia membusuk di penjara selama - lamanya."


Sulaiman mengambil beberapa gambar lagi. "Nah ini sudah cukup. Ayo kita pergi."


Mereka berlahan pergi dari tempat itu menuju ke motor yang mereka sembunyikan tadi.


"Untunglah kita bisa mendapatkan bukti - bukti yang akurat."


"Ayo kita pulang." mereka berdua naik ke atas sepeda motor.


Tiba - tiba..


"Hei! Siapa itu!"


"Sial kita ketahuan."


"Cepat kita pergi dari sini."


Syamsudin menyalakan motor dan melaju dengan cepat di atas medan yang cukup ekstrim.


"Hei! Jangan lari!" beberapa orang pria bersenjata mengejar mereka.


"Cepat Syam! Mereka membawa senjata."


"Ini juga sudah cepat. Kau lihat sendiri medannya terjal seperti ini."


"Doooorr!!" pria itu melepaskan senjata api.


"Menunduk!" teriak Sulaiman.


Syamsudin mengendarai motornya secara zig zag agar mereka kesulitan untuk menembak.


"Hati - hati Syam." Sulaiman memperingatkan.


"Dooorrr!!" lagi - lagi pria itu menembakkan senjata api ke arah mereka. Syamsudin segera menunduk sambil terus mengendarai motor mereka.


"Hei Sulaiman berapa lama lagi kita bisa sampai di pemukiman penduduk?" tanya Syamsudin. Tapi tidak ada jawaban dari sahabatnya itu.


"Hei! Kau baik - baik saja kan? Kenapa tidak menjawabku?" teriak Syamsudin.


"Syam." panggil Sulaiman dengan suara lirih.


"Ya ada apa?"


"Aku tertembak."


"Apa!" teriak Syamsudin. "Ya tuhan. Tahan sebentar. Pegangan yang erat."


Syamsudin melajukan motornya dengan kecepatan tinggi dan tak lama kemudian mereka sampai juga di pemukiman penduduk. Para pria itu menghentikan pengejaran.


"Kita aman. Tunggu aku akan membawamu ke rumah sakit."


Sulaiman sudah tidak merespon jawaban dari Syamsudin dan itu membuat Syamsudin menjadi khawatir. Apalagi tubuh dan kepala Sulaiman sekarang posisinya sudah menyender lemah di punggung Syamsudin. Sulaiman adalah sahabatnya di perkebunan. Mereka banyak melalui suka dan duka bersama - sama.


Tak berapa lama mereka sampai di rumah sakit. Pihak rumah sakit memberikan pertolongan pertama dan membawanya masuk IGD. Setelah mengurus semuanya Syamsudin segera menghubungi Aroon.


"Kenapa bisa seperti ini?" tanya Aroon begitu tiba di rumah sakit.


"Kami mendapat informasi mengenai sindikat tatto kalajengking dari informan. Tanpa menunggu lama kami langsung menuju tempat yang di maksud."


"Kenapa kau tidak mengatakan padaku?"

__ADS_1


"Kami belum berani mengatakan pada tuan sebelum mengecek kebenaran informan itu. Dan ternyata memang benar di balik bukit itu ada sebuah pondok."


"Pondok?"


"Ya tuan. Ada sebuah pondok yang di kelilingi oleh tanaman ganja. Dan ada beberapa mesin di sana."


"Ganja."


"Yah, dan perlu tuan ketahui pondok itu milik Biantara."


"Kamu yakin dengan kamu lihat. Ini informasi penting."


"kami berdua yakin tuan. Dan kami juga memiliki bukti." Syamsudin memberikan kamera berisi gambar - gambar yang sudah mereka ambil. Aroon memperhatikan gambar itu satu persatu.


"Kerja yang bagus Syam." ucap Aroon bangga. "Bagaimana keadaan Sulaiman?"


"Masih di ruang operasi tuan. Ia kehilangan banyak darah."


"Aku sangat berterima kasih atas semua ini Syam. Dan kau tahu bahwa yang mencelakai Cyra adalah orang suruhan Biantara."


Tak lama kemudian keluarlah seorang perawat. "Keluarga bapak Sulaiman."


Aroon dan Syamsudin segera datang.


"Bagaimana keadaan Sulaiman?"


"Pasien kritis karena kehilangan banyak darah. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Kita hanya menunggu pasien hingga sadar dan masa kritisnya sudah berlalu."


Sulaiman kemudian di pindahkan ke ruang rawat inap.


🍀🍀🍀🍀


"Bodoh kalian semua!" Biantara marah dengan dua orang pria yang gagal mengejar Sulaiman dan Syamsudin.


"Aku tidak mau tahu! Harusnya tetap kalian kejar!"


"Kami sudah menembak salah satu dari mereka tuan."


"Itu tidak cukup bodoh! Aku mau mereka mati!"


"Maaf tuan."


"Kalian tahu siapa mereka?"


"Maaf, kami tidak tahu tuan." jawab dua orang itu dengan tangan gemetar.


Biantara mengambil senjata api dan langsung menembak kepala mereka berdua.


Dooorr!! Dooorr!!


"Dasar orang tidak berguna!" teriak Biantara. "Singkirkan mayatnya!" perintah Biantara pada anak buahnya yang lain


"Baik tuan."


Biantara lagi - lagi menembakkan senjata api ke atas sebanyak tiga kali sebagai pelampiasan atas kekesalannya pada anak buah yang tidak becus bekerja.


"Leo."


"Ya tuan."


"Kau selidiki semua CCTV yang ada di sekitar pondok."


"Sebelum tuan meminta sudah saya selidiki tapi hasilnya nihil. Gerak gerik mereka tidak tertangkap oleh CCTV."

__ADS_1


"Kau jangan ikut - ikutan bodoh ya!"


"Maaf tuan."


"Kau bisa periksa semua rumah sakit disini yang menerima pasien luka tembak."


"Baik tuan akan kami lakukan."


"Aku minta siang ini data itu sudah harus ada di mejaku. Mengerti!"


"Baik tuan."


Leo segera meninggalkan sendiri Biantara yang saat ini menegang. Kalau sampai bukti itu jatuh pada pihak berwajib. Ia akan membusuk di penjara. Hukuman untuk pengedar bisa sampai hukuman mati atau hukuman seumur hidup.


🍀🍀🍀🍀


Aroon pulang dati rumah sakit dan segera menemui istrinya.


"Bagaimana keadaan pak Sulaiman?"


"Masih kritis."


Cyra memeluk suaminya dari belakang. "Pak Sulaiman orang yang baik, aku yakin dia akan sembuh."


"Yah semoga saja." ucao Aroon. "Terima kasih sudah menguatkanku."


"Bukankah aku istrimu." Cyra tersenyum dan mengerlingkan mata.


"Cyra untuk sementara ini. Biar aku atau fahri yang antar jemput Gio. Situasi saat ini membuatku khawatir akan keselamatanmu dan Gio."


"Baiklah kalau itu keputusan terbaikmu. Terima kasih sudah menjagaku dan Gio."


"Ini sudah jam Gio pulang biar aku yang menjemputnya. Setelah itu aku akan menemui pihak yang berwajib untuk menyerahlan bukti -bukti kejahatan Biantara."


"Hati - hati." Cyra memeluk suaminya dengan erat. Ia tahu banyak sekali masalah yang harus di hadapi oleh Aroon. Sebagai istri ia hanya bisa menguatkan saja.


Setelah melepas kepergian Aroon Cyra menyibukkan diri dengan memasak kue di dapur bersama bik Tika. Tak lama kemudian Gio masuk.


"Hmmm wanginya."


"Eh kamu sudah pulang." Cyra melepas celemeknya dan datang memeluk Gio.


"Mae masak apa?"


"Kue kering buat camilanmu belajar. Kau suka?"


"Tentu saja." Gio mengambil beberapa kue yang sudah di keluarkan dari oven. "Kenapa tadi Mae tidak menjemputku?"


"Kau kan tahu kalau paman Sulaiman baru saja terkena tembak. Phoo mu tidak mau terjadi apa - apa dengan Mae. Jadi dia yang menjemputmu."


"Besok lagi jangan." tolak Gio.


"Loh kenapa?"


"Banyak ibu - ibu, mbak - mbak yang menggoda Phoo. Bahkan sampai meminta foto dan meminta nomor handphone. Apa Mae tidak cemburu?"


"Hah! Tapi Phoo mu kasih nomornya?"


"Tidak, Phoo menolak." jawab Gio. "Tapi kalau besok Phoo mengantar atau menjemputku lagi pasti mereka akan memaksa."


Wah tidak bisa di biarkan itu para emak - emak. Aku pastikan kalian tidak akan bisa menggoda suamiku lagi. Ia hanya milikku.


🍀🍀🍀🍀

__ADS_1


__ADS_2