My Love Teacher

My Love Teacher
Gara - Gara Nyamuk


__ADS_3

"Terima kasih tuan." ucap Cyra.


"Untuk apa?"


"Untuk mengijinkan saya pulang."


"Itu hadiah."


"Hadiah? Jadi bulan depan saya masih bisa ambil cuti."


Aroon mengangguk sambil menyeruput teh hangat di depannya.


"Yeayy!!!" teriak Cyra senang dan membuat yang lain terkejut keheranan.


"Ada apa bu bikin kita kaget saja?"


"Jadi kepulanganku kali ini adalah hadiah dari tuan Aroon, Jadi bulan depan aku masih bisa ambil cuti." Cyra dengan bersemangat menjelaskan.


"Kalau bu Cyra pulang aku ikut lagi." ucap Gio.


"Yah betul tuan muda, kita akan ikut lagi." sahut Omar dan Olif.


Wajah Cyra langsung berubah. Ini sama saja aku tidak mendapatkan cuti, sepertinya tuan Aroon sengaja agar Gio dan yang lainnya ikut kemana pun aku pergi pikir Cyra.


"Kecewa?"


"Hehehehh.. Nggak tuan." jawab Cyra. Senyumnya sangat di paksakan.


Heh jangan harap kamu bisa bertemu dengan pacar - pacar mu Aroon tersenyum smirk. Ia puas melihat wajah Cyra yang kecewa.


"Gio, Omar, Olif ayo masuk. Sebentar lagi malam."


"Bentar lagi bu."


"Eh ayo masuk. Ini candikala, jadi anak - anak harus masuk rumah tidak boleh berkeliaran atau bermain di luar rumah."


"Candikala itu apa bu Cyra?" tanya Omar.


"Sebenarnya candikala itu pergantian antara waktu sore ke waktu malam. Menurut kepercayaan orang jawa. Candikala itu waktu yang buruk. Karena waktu itulah setan dan mahluk halus mulai keluar untuk mengganggu umat manusia. Maka dari itu anak - anak harus masuk ke rumah."


"Masuk ke rumah? Memang ada apa bu?" tanya Olif.


Cyra terdiam, ia menengok ke kanan dan ke kiri. Pandangan matanya tampak serius. Dan sedikit menyipit. "Sssttt jangan keras - keras." dengan suara lirih ia memberi peringatan.


Aroon hampir tertawa melihat ekspresi yang tampak serius bercampur cemas Cyra. Ia tahu kalau itu hanya sandiwara Cyra saja.


"Bu Cyra jangan menakut - nakuti kami. Memang ada apa?" tanya Omar.


"Ada mahluk yang mungkin tidak ingin kalian lihat seumur hidup kalian." lagi - lagi ia memicingkan mata dengan wajah serius.


"Mmah Mmahluk apa itu bu?" tanya Gio ketakutan.


"Sssttt.. Jangan sebut namanya. Kka Kka Kkarena mereka akan datang."


"Mmereka bu?" tanya Omar yang wajahnya mulai pucat pasi. Ia teringat dengan hantu yang ada di perkebunan.


Cyra menunjuk sesuatu.


"Saya?" tanya Omar


Cyra menggelengkan kepalanya.


"Aatau ssa ssaya bu?" tanya Olif.


Cyra kembali menggelengkan kepala. "Bukan?"


"Tterus siapa bu?" tanya Omar lagi. Sedangkan Gio berpegangan erat pada celana Omar.


"Itu."


"Iit iit iitu siapa?"


"Itu di belakang kalian." jawab Cyra lirih.


Tiba - tiba saja ada sesuatu yang memegang pundak Omar dan Olif. Perlahan Omar, Olif dan Gio menengok ke belakang pelan - pelan.


"Huuaawwwaaa!!!" teriak mereka bersama - sama. Dan lari terbirit - birit masuk ke dalam rumah. Omar dan Olif segera memeluk Cyra karena ketakutan sedangkan Gio langsung melompat ke pangkuan Aroon.


"Hahahhahhh!!!" Cyra tertawa terbahak - bahak.

__ADS_1


"Bu Cyra, itu setan apa?" tanya Omar yang tubuhnya gemetar. Ia masih memeluk Cyra dengan erat.


"Aduh! Omar, Olif aku nggak bisa bernapas." teriak Cyra. "Itu bukan hantu tapi bagian keamanan di kampung sini."


"Wajahnya menyeramkan bu!" teriak Olif.


Aroon yang melihat itu menjadi marah apalagi Omar dan Olif dengan erat memeluk Cyra.


"Hei! Hei! Ayo lepas. Lihat itu bu Cyra tidak bisa napas." perintah Aroon. Aneh kenapa Cyra diam saja di peluk pria seperti Omar. Enak saja main peluk orang pikir Aroon jengkel.


"Nggak mau tuan! Hantunya masih ada!"


"Buka mata mu bodoh!" dengan paksa ia menarik tangan Omar dan Olif. Perlahan mereka berdua membuka matanya.


"Huff leganya." Cyra bisa bernapas dengan lega. Akan tetapi berbeda dengan Omar dan Olif, mereka masih gemetar. "Itu pak Sapto petugas keamanan kampung sini, memang tugasnya kalau petang memastikan keamanan kampung." jelas Cyra. "Biasanya ada laporan kalau beberapa ternak ada yang hilang kalau petang begini, yang sering itu Ayam. Jadi pak Sapto memastikan saja tidak ada ternak yang di luar."


"Ach bu Cyra sengaja ya menakuti kami." Olif protes, ia tampak kesal.


"Eh siapa yang menakuti kalian saja yang penakut lagian aku juga nggak ngomong kalau itu setan." Cyra tersenyum puas.


"Lantas apa maksudnya sengan cerita tadi?"


"Yah biar anak - anak masuk rumah. Lagian waktu itu saatnya kita beribadah, mengaji dan juga belajar."


"Sudah.. Sudah.." lerai Aroon. "Ayo kita masuk."


Mereka semua masuk ke dalam. Cyra membantu ibu menyiapkan makan malam. Cyra tidak menyiapkan menu khusus, ia hanya memasak sesuai dengan apa yang ia punya yang penting bersih.


Panen akan dilaksanakan besok pagi.


"Ayo kita makan malam dulu. Setelah itu tuan Aroon, Gio, Omar dan Olif bisa istirahat."


"Besok kita panen?"


"Yap betul oleh karena itu, istirahatlah lebih awal karena aku jamin besok adalah hari yang melelahkan."


"Benarkah melelahkan Phoo?"


"Benar dan juga panas."


"Baiklah aku akan istrihat lebih awal."


"Good boy." puji Cyra. "Bagaimana denganmu Omar? Olif?"


"Yakin?"


"Maksud ibu?"


"Lupa dengan yang tadi."


Omar dan Olif terdiam cukup lama. Mereka tampak berpikir dan kemudian saling berpandangan. Tak lama kemudian tergidik ngeri. "Baiklah kami akan menemani tuan muda tidur."


"Good boy, good girl." Cyra mengusap kepala Omar dan Olif.


"Eheemm."


"Ada apa tuan? Kesedak?" Cyra dengan cekatan mengambilkan minum kemudian menyerahkannya. Tak lupa dengan spontan ia pijit tengkuknya. "Biasanya kalau kesedak tengkuknya di pijit atau di tepuk - tepuk begini tuan."


"Sudah.. Sudah aku tidak apa - apa."


Cyra kembali ke tempat duduknya dan menyelesaikan makan malam. Setelah semua selesai, Cyra memasang kelambu pada tempat tidur Gio karena memang hanya punya satu. Sedangkan di kamar yang ditempati Aroon tidak, ia hanya memasang obat nyamuk.


"Ini apa?"


"Ini namanya kelambu Gio, tujuanya agar kita tidur nyenyak dan tidak ada gigitan nyamuk. Maklum dirumahku tidak ada AC jadi nyamuknya banyak."


"Iya nih bu, dari tadi nguing - mguing terus dekat telinga." sahut Olif. Tangannya sibuk mengibas - ibas agar nyamuknya menjauh.


"Nih pake."


"Apa ini bu?"


"Itu lotion buatan sendiri dari bunga lavender."


"Ampuh?"


"Tentu saja, coba kalau nggak percaya."


Omar dan Olif mengoleskan lotion lavender pada tangan dan kakinya.

__ADS_1


"Rasanya dingin."


"Nah enak kan?"


"Oya bu enak." jawab Olif.


"Ya sudah kalian semua cepatlah tidur, besok kita ke sawahnya pagi biar tidak panas."


Cyra segera keluar dari kamar. Kamar di rumah Cyra tidak memiliki pintu. Hanya kamar ayah dan ibu yang ada pintunya. Cyra pergi ke gudang untuk mempersiapkan barang - barang yang diperlukan untuk panen.


"Cyra ayo tidur, sudah malam."


"Sebentar lagi bu."


"Ya sudah ibu tinggal dulu. Ingat jangan tidur malam - malam."


"Iya iya ibuku sayang."


Ibu meninggalkan Cyra sendirian. Ia masih berkutat dengan persiapan besok. Biasanya ia tidak serepot itu tapi karena kali ini Gio ikut, jadi harus membeli beberapa sepatu boot, kaos tangan dan topi.


Setelah dirasa sempurna ia segera pergi. Ia kembali melihat kamar satu persatu. Dari kamar Gio ia mengecek kelambunya terpasang sempurna. Nyamuk juga tidak ada yang menghinggapi Omar dan Olif.


Yang terakhir Cyra pergi ke kamar dimana Aroon tidur. Dengan pelan ia menyibak tirai kamar yang sekaligus menjadi pintu.


"Ach ya aku lupa menawarkan lotion pada tuan." gumamnya pelan. "Padahal nyamuknya banyak."


Dengan berjingkat - jingkat ia mendekati dan memastikan apakah ada nyamuk yang menggigit tuannya itu. Kalau misal ada besok paginya ia pasti kena marah.


"Waduh kenapa tuan tidur tidak menggunakan baju sih. Pantas saja banyak di gigit nyamuk." Cyra berusaha menghalau nyamuk - nyamuk itu dengan tangannya. "Hush.. Hush pergi! Pergi!"


Cyra lebih mendekat pada tuannya hingga ia bisa melihat wajah Aroon ketika tidur. Hmmm tuan tampan sekali ketika tidur puji Cyra dalam hati. Belum lama ia mengagumi wajah tampan milik tuannya, seekor nyamuk hinggap di ujung hidung tuannya itu.


"Yah, kenapa malah hinggap di situ sih." dengan pelan - pelan Cyra menghalau. Akan tetapi nyamuk itu lebih memilih bertahan hinggap di hidung Aroon. Ingin ia tepuk tapi takut membangunkan tuannya. Setelah memutar otak akhirnya Cyra memutuskan untuk meniupnya.


"Hufff.. Huff.. Huff.." usahanya belum membuahkan hasil. Ia memutuskan untuk lebih dekat siapa tahu nyamuk itu akan segera pergi. Hanya berjarak beberapa centi antara wajahnya dengan Aroon.


"Huff.. Huff.. Huff." tiupnya.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Aroon tiba - tiba dengan suara seraknya khas orang bangun tidur.


"Ttu ttuan." mata bulat Cyra membelalak sempurna. Ia kaget dan tidak menyangka tuannya akan terbangun. "Aad aadda nyamuk, tuan."


"Benarkah?"


Cyra mengerjap - erjapkan matanya. "Bbenar."


Aroon menarik tangan Cyra hingga tubuhnya jatuh di atas tubuh Aroon. "Mana? Tunjukkan padaku?"


"Ttadi ada tuan, tapi sekarang sudah pergi. Saya tidak berbohong." Cyra berusaha melepas dekapan Aroon.


"Kau sudah mengganggu tidurku."


"Maaf.. Kalau begitu saya permisi dulu." Cyra memalingkan mukanya. Karena jika berhadapan maka hidungnya akan bersentuhan. "Bbisakah tuan melepaskan saya?"


"Kenapa?"


"Takutnya kalau dilihat orang. Posisi ini kurang pantas."


"Oh, jadi kau anggap Omar yang lebih pantas. Ia tadi memelukmu dengan erat, lebih erat dan dekat dari ini. Dan kau sama sekali tidak keberatan."


"Dia tadi ketakutan tuan. Jadi itu spontan?"


"Ini juga spontan bukan, tiba - tiba ada nyamuk. Jadi tidak apa - apa jika berpelukan seperti ini. Jika kau mempermasalahkan maka kau menganggapku lebih rendah dari Omar."


"Tidak tuan, itu tidak mungkin."


"Jadi___?"


"Ii.. Iiya tidak apa - apa, saya akan melakukan sesuai perintah tuan."


"Good girl." puji Aroon. Ia membelai lembut rambut Cyra.


"Ttuan___."


"Kau tadi juga melakukannya dengan Omar kan?"


"Eh iya."


"Jadi tidak masalah kan?"

__ADS_1


Cyra mengangguk pelan. Kenapa ia bisa sesial ini pikirnya dalam hati. Ah semua gara - gara nyamuk.


☘️☘️☘️☘️


__ADS_2