My Love Teacher

My Love Teacher
Reuni Sekolah


__ADS_3

Pagi ini Cyra sedang mengemas pakaian. Ia tidak banyak membawa karena hanya tiga hari saja menginap di Surabaya. Baju untuk ke acara reuni juga sudah ia siapkan.


"Yakin tidak membeli yang baru?"


"Aku rasa tidak. Aku tidak mau terlihat berlebihan. Nanti yang ada aku malah mendapat komentar negatif. Menikah demi menggaet pria kaya."


"Tidak usah mendengarkan komentar mereka. Toh kita bekerja dan tidak meminta - minta. Boleh dong sesekali memberikan apresiasi untuk diri kita sendiri atas pencapaian selama ini."


"Tapi aku rasa baju ini masih bagus."


"Ya sudah terserah kamu saja."


"Atau jangan - jangan kamu juga menilai aku kampungan, aku jelek."


"Hei.. Hei.. Kenapa jadi menuduhku? Aku sama sekali tidak pernah menganggapmu seperti itu. Kami istimewa Cyra, kamu cerdas, sederhana dan juga cantik."


Cyra tertunduk mendengar jawaban Aroon. "Maaf, pikiranku jadi kacau akibat undangan reunian ini."


Aroon mendekat ia membelai lembut rambut istrinya yang sedang kebingingan itu. "Cyra dengarkan aku, jangan pusing dengan omongan orang. Sebab kita tidak pernah bisa menahan komentar orang lain terhadap kita. Hal yang paling bijak adalah dengan tidak terlalu memusingkan atau dimasukan ke dalam hati.


Setiap orang memiliki sudut pandang berbeda, penyebabnya adalah latar belakang dan pengetahuan mereka.


Akan rumit jika mengikuti semua pendapat orang. Maka kita harus punya pendirian kuat yang dilandasi dari alasan kuat kita." Aroon menjelaskan panjang lebar. Ia menarik napas. "Bagian yang pasti dilalui dalam perjalanan hidup adalah mendengar orang lain mengomentari hidup kita. Jadikan itu proses dan jangan di protes. Biarkan saja."


"Terima kasih audah membuatku sedikit lega."


"Bagus." puji Aroon. "Mana koper yang sudah siap biar aku taruh dalam mobil?"


"Koperku dan punyamu sudah siap semua. Untuk koper Gio belum aku cek. Aku akan ke kamarnya."


"Suruh di berkemas dengan cepat. Siang kita harus sudah sampai di bandara." ucap Aroon sambil membawa dua koper miliknya dan Cyra.


"Oke." Cyra keluar dari kamar menuju ke kamar Gio. Ternyata ia juga sudah siap. Untuk Omar dan Olif hanya membawa tas ransel saja.


"Hanya ini yang kau bawa?"


Gio mengangguk.


"Yakin tidak ada yanh ketinggalan?"


"Seribu persen yakin? Aku sudah membawa papan catur karena kakek dulu janji mau mengajariku bermain catur."


"Baiklah, yang penting jangan sampai terlalu malam."


"Kami juga sudah membawa baju renang bu." sahut Omar.


"Buat apa?"


"Berenang di sungai yang jernih itu. Airnya seger banget." Omar memejamkan mata sambil membayangkan kesegaran air sungai. Dengan spontan Olif segera menjentik jidad Omar.


"Sudah jangan terlalu berkhayal, yang ada malah hantunya Billy yang datang."


"Ih amit - amit." Omar tergidik ngeri. "Sudah jangan di sebut - sebut biarkan ia tenang di alam baka tidak usah kamu panggil - panggil.


"Eh siapa yang panggil - panggil. Aku juga ogah kalau hantunya kemari." ucap Olif.


"Sudah.. Sudah.. Kita tidak usah membicarakan orang uang sudah meninggal. Biar ia tenang. Justru yang ada kita malah mendoakannya." ucap Cyra. "Omar tolong kau bawa koper Gio ke mobil."


"Siap bu Cyra." Omar dan Olif bergegas menuju ke mobil. Disana sudah menunggu Aroon dan Fahri. Fahri hanya mengantar saja sampai bandara.


Mereka semua naik ke dalam mobil dan bersiap perjalanan menuju ke Surabaya.


🍀🍀🍀🍀


Setelah menempuh perjalanan hampir dua jam mereka akhirnya tiba di rumah Cyra yang sangat sederhana.


"Aduh bahagianya kalian bisa sampai ke sini lagi." sambut ibu sambil memeluk Gio.


"Kami juga senang karena pasti pulangnya bawa jenang." sahut Omar.


"Iya.. Iya pasti ibu buatkan. Jangan khawatir." jawab ibu. "Tapi jangan lupa nanti foto juga dengan nak Aroon yang aekarang sudah jadi menantu ibu." ekpresi ibi sangat bangga denhan Aroon.


"Bu sudah. Malu ah." Cyra memperingatkan. Ia kemudian membawa koper ke dalam kamar masing - masing. Hampir saja ia salah menaruh kopernya di kamar ibu dan ayah. Jika Aroon tidak memperingatkan.


"Hei, kita sudah suami istri. Kau tidak berniat tidur dengan ayah dan ibu kan? Atau justru kamu ingin memberitahu kalau kita belum___."


"Iya.. Iya.. Maaf aku lupa." Cyra memotong perkataan Aroon. Wajahnya memerah karena malu. Ia segera menuju ke kamar di mana biasanya Aroon tidur. Ia menata tempat tidur dan menaruh pakaian ke dalam almari.


"Bagaimana kalau rumah ini kita renovasi?"

__ADS_1


"Tanya dulu ke ayah dan ibu. Siapa tahu mereka tidak mau. Dan juga kau sudah terlalu banyak berkorban untuk keluarga ini."


"Aku tidak keberatan Cyra." jawab Aroon. "Justru itu harus aku lakukan karena perbuatan yang telah aku lakukan padamu."


Oh jadi di merasa bersalah, oleh sebab itu ia mau menikahiku. Jadi bukan karena cinta pikir Cyra dalam hati. Wajahnya langsung berubah. "Aku ke dapur dulu mau buat makan malam." pamitnya.


Kenapa wajahnya cemberut begitu. Apa aku salah bicara lagi pikir Aroon. Heh wanita memang mood nya gampang berubah. Ia lebih memilih berbaring di tempat tidur.


"Eh wajahmu kok cemberut. Ada apa?"


"Nggak apa - apa bu. Agak tegang saja ke acara reuni besok."


"Tumben hal sepele begitu membuatmu pusing."


"Banyak yang komen negatif bu. Toxic."


"Ya nggak usah di dengerin to. Lagian kamu sudah punya suami yang mapan dan tampan. Kurang apa lagi coba. Harusnya kamu bersyukur."


Cyra menghela napas. Yang dikatakan oleh ibu ada benarnya juga. Bahkan suaminya juga sudah menasehatinya berulang - ulang.


"Eh. Perutmu sudah isi belum?"


"Ya belum dong bu. Kan memang belum makan. Ini saja juga baru mau masak."


"Aduh. Bodohnya ini anak. Maksud ibu hamil."


"Oh hamil. Ya nggaklah bu wong kita saja belum___." Cyra menghentikan perkataannya.


"Belum apa?"


"Maksud ku belum ada rencana. Kan juga baru kemarin menikah."


"Iya itu betul. Tapi aku sudah pengen nimang cucu."


"Sabar bu." jawab Cyra. "Sudah ah jangan bahas itu lagi. Masakan nggak kelar - kelar ini." Cyra berusaha mengalihkan pembicaraan.


Tak lama kemudian mereka makan malam. Karena capek di perjalanan Gio langsung tidur di temani Omar dan Olif begitu juga dengan Aroon.


"Hmm.. Bisakah geser sedikit."


"Ini juga sudah geser Cyra." jawab Aroon.


"Ya sudah aku tidur di kursi depan saja." jawab Aroon. Tapi buru - buru Cyra menarik tangannya.


"Jangan. Nanti kalau bapak ibu tahu aku mereka pasti akan curiga."


"Terus gimana maumu? Aku tidur bawah? Dingin. Nggak ada tikar atau kasurnya."


"Jangan. Nanti kamu bisa sakit." tolak Cyra. "Ya sudah nanti aku tidur miring saja."


"Ya terserah kamu. Aku mau tidur, badanku capek." Aroon sudah memejamkan mata.


Dengan perlahan Cyra naik ke atas tempat tidur. Jarak mereka.sangat berdekatan, Cyra bahkan bisa.merasakan hembusan napas suaminya. Yah harus diterima toh hanya beberapa hari. Akhirnya ia juga terlelap.bersama suaminya.


🍀🍀🍀🍀


Pagi ini Cyra bangun dengan memeluk tubuh kekar milik Aroon.


"Sudah bangun?" tanya Aroon.


"Eh sudah. Aku mandi dulu." pamit Cyra yang wajahnya memerah. Ternyata ia yang begitu erat memeluk tubuh suaminya itu.


Acara reuni jam sembilan. Cyra berdandan secantik mungkin. Dengan gaun warna hitam dari bahan santili pas dengan lekuk tubuhnya. Berulang kali ia menarik napas.


"Aku jadi ragu mengijinkanmu ke acara reuni."


"Kenapa?"


"Kau terlalu cantik." rayu Aroon.


"Huh.. Gombal." cibir Cyra. Tapi dalam hatinya ia yang tidak rela jika suaminya ikut. Ia terlalu tampan. Bagaimana jika banyak temannya yang menggoda. "Ayo berangkat."


Mereka berdua berangkat ke acara reuni yang dilaksanakan di sebuah hotel bintang lima. Begitu sampai Cyra tampak gugup.


"Sudah tenang saja. Kau bisa mengandalkan aku."


"Terima kasih sudah menemaniku."


Aroon menggandeng tangan Cyra. Mereka memasuki ruangan. Banyak mata yang melihat ke arah mereka dan tidak banyak pula yang berbisik - bisik membicarakan mereka.

__ADS_1


"Cyra." panggil seseorang.


"Sekar." sapa Cyra. Ia gugup karena takut jika ada Devano. Tapi ternyata tidak.


"Oh kau datang dengan tuanmu rupanya?" ucap Sekar.


"Dia sekarang suamiku."


"Oh, pintar kau menjebaknya." sindir Sekar lirih tapi Cyra bisa mendengarnya. "Aku kasihan padamu tuan."


"Kenapa kasihan padaku? Aku tidak mengenalmu."


"Kita pernah bertemu sekali di perkebunan. Aku tunangannya Devano."


"Oh. Pria brengsek itu." jawab Aroon.


"Tuan harus berhati - hati dengan gadis ini. Ia bermuka dua. Sudah putus dari Devano masih juga mengejarnya hingga akhirnya kami tidak jadi menikah."


"Oh anda terselamatkan. Untuk apa menikahi pria brengsek seperti dia." jawab Aroon. "Dan juga perlu anda ketahui. Berulang kali Vano membuat keributan denganku."


"Itu karena perempuan gatal ini!" tiba - tiba Sekar menjawab dengan nada tinggi. Hingga semua orang teralihkan perhatiannya. Semua mata memandang ke arah mereka. "Hei hati - hati kalian dengan Cyra. Jaga suami kalian jangan sampai bernasib sepertiku!"


Perkataan Sekar membuat mereka mencibir ke arah Cyra.


Airmata Cyra berkaca - kaca. Tapi Aroon menggenggam tangannya dengan erat berusaha menguatkannya. "Tegar Cyra." bisiknya.


"Maaf nona Sekar. Saya rasa anda salah. Saya memiliki bukti kejahatan Devano terhadap istri saya. Dia telah menguntit dan mencoba menculik istri saya. Jadi di sini siapa yang justru mengejar dan membuat onar." Aroon menjelaskan. "Dan memang dulu Cyra bekerja dengan saya. Tapi karena kepintaraannya, kebaikannya, rasa kasih sayangnya membuat saya jatuh cinta dengannya. Jadi itu yang memutuskan saya menikahinya. Apa salah orang berstatus single seperti saya menikahinya?"


Tamu yang ada kembali berbisik - bisik. Mereka berganti mencibir Sekar.


Tiba - tiba saja datang beberapa pria berjas dan banyak yang tahu dia adalah pemilik hotel ini.


"Maaf tuan Aroon. Saya tidak tahu anda akan datang. Kenapa tidak memberitahu dulu?"


"Saya kesini mengantar istri saya Mr Fredric. Bukan urusan bisnis. Dia ada acara reunian."


"Oh nyonya Aroon tamu kehormatan acara ini rupanya."


"Bukan, saya hanya tamu biasa." ucap Cyra merendah.


"Oh common nyonya. Jangan merendah. Mari tuan dan nyonya Aroon ikut saya. Akan kami jamu di tempat lain yang lebih mewah. Mari." paksa Fredric. "Tempat ini kurang cocok."


"Baiklah, kalau sudah seperti ini saya tidak bisa menolak." jawab Aroon.


Akhirnya mereka meninggalkan acara reunian itu. Banyak dari mereka yang mengakui kehebatan suami Cyra yang ternyata bukan orang sembarangan. Sedangkan Sekar harus menanggung malu akibat perbuatannya sendiri.


Setelah acara yang melelahkan itu mereka berdua pulang ke rumah.


"Aroon."


"Ya." jawab Aroon yang sedang mengganti bajunya dengan baju tidur.


"Terima kasih." ucap Cyra. "Apa jadi tadi jika tidak ada kau yang membelaku." Cyra berkata dengan nada bergetar menahan haru.


"Hei aku suamimu. Tentu saja aku akan melindungimu. Kau bisa memgandalkanku Cyra." jawab Aroon dengan tatapan mendalam.


Mata Cyra berkaca - kaca mendengar ucapan suaminya. Aroon mendekat ia membelai lembut pipi istrinya. Cyra terdiam dan justru membalas tatapan Aroon.


Hal itu membuat Aroon memberanikan diri untuk berintak lebih jauh. Ia membelai bibir mungil Cyra dan lagi - lagi Cyra hanya diam dan membiarkan suaminya melamukan itu.


Tangan Aroon menyusup ke sela - sela rambut Cyra dan berada di tengkuknya.


"Cyra." panggilnya dengan suara serak. Aroon mendekatkan wajahnya, menarik tengkuk Cyra dan kemudian mengecup sekilas bibir Cyra. Lagi - lagi Cyra hanya diam. Melihat itu Aroon semakin berani lagi dengan rakus ia mencium bibir istrinya.


Dan tiba - tiba.


"Aroon hentikan."


Aroon segera berhenti. Ia mengatur napasnya yang terengah - engah karena keinginannya sudah di ubun - ubun.


"Aku belum siap." ucap Cyra lirih.


"Apa?"


"Aku belum siap." jawab Cyra lagi.


Aroon menelan kekecewaan yang amat sangat. Ia melepas tangannya dan berjalan mundur. Segera ia membalikkan badan dan pergi keluar kamar entah kemana.


🍀🍀🍀🍀

__ADS_1


__ADS_2