
"Aku.. Aku.. Tidak berbuat apa - apa Phoo!" jawab Gio.
"Kenapa lengannya bisa berdarah seperti ini?!"
"Aku bersumpah, aku tidak melakukan apa - apa!" jawab Gio.
Aroon melihat di atas meja ada semacam cutter. Ia lantas mengambilnya. "Ini apa?"
"Itu peralatan menggambarku." jawab Gio.
"Sudah.. Sudah.." ucap Cyra berusaha menenangkan dua orang yang keras kepala ini. "Tidak apa - apa Gio. Aku akan membawa Arthit ke dalam."
"Aku tidak melakukan apa - apa Mae."
"Iya.. Iya.. Aku percaya." Cyra berusaha menenangkan Gio yang terlihat begitu marah.
Tapi perkataan Cyra sepertinya tidak ia gubris. "Kalian tidak ada yang percaya denganku!" teriaknya sambil berlari masuk ke dalam. Aroon mengejarnya.
Saat ini Arthit tenang dalam gendongan Cyra. Ia berjalan menuju ke kamarnya.
"Cyra tolong maafkan Gio." sahut Davira tiba - tiba.
"Untuk apa?" tanya Cyra sambil berjalan.
"Yah, kamu kan tahu kalau sebenarnya ia cemburu karena perhatian kalian fokus ke Arthit. Jadi ia sedikit menyakiti adiknya sebagai wujud protes karena semua perhatian terarah pada Arthit."
Cyra menghentikan jalannya. "Gio tidak akan melakukan hal bodoh seperti itu. Ia tidak akan menyakiti adiknya." jawab Cyra tegas.
"Kamu kan tidak tahu anak yang cemburu itu nekatnya seperti apa. Jadi kamu harus maklum."
"Davira, aku mohon jangan memperkeruh suasana. Gio itu juga anakmu seharusnya kamu menenangkan dia, bukan malah menjadi kompor di sini." jawab Cyra dengan ketus.
"Jangan berkata seperti itu Cyra. Aku ini hanya memberikan pandangan saja. Kau jangan salah paham!"
"Aku tidak salah paham. Tapi kata - katamu dari kemarin seperti menggiring suatu opini. Kau menghasut dengan cara halus."
"Cyra, aku tidak menyangka kau akan menuduhku seperti ini!" suara Davira meninggi. "Aku hanya berusaha baik denganmu."
"Kamu___."
"Ada apa ini? Kenapa kalian malah bersitegang di sini!" bentak Aroon yang masih emosi.
"Maaf Aroon, Cyra salah paham denganku."
"Kamu ini kenapa malah berdebat di sini. Kamu harusnya obati dulu Arthit!" ucap Aroon.
Cyra memandang Aroon seakan tidak percaya bahwa Aroon suaminya akan tega berkata dengan nada tinggi di depan orang lain. Tapi Cyra segera menahan emosinya. Ia tidak mau ikut dalam permainan yang di ciptakan Davira. Ia lebih memilih untuk berpikir tenang tanpa emosi.
"Maaf, aku permisi dulu." Cyra segera masuk ke dalam kamar. Aroon mengacak - acak rambut sebagai tanda mengeluarkan kekesalannya.
"Aroon aku minta maaf."
"Kau tidak perlu minta maaf."
"Aku yang menciptakan keributan ini." Davira menyentuh lengan Aroon. Ia berusaha menenangkan mantan suaminya itu. "Maafkan juga Cyra, tadi dia tidak bermaksud membentakku. Aku tahu dia sangat cemas dengan Arthit saat ini."
"Please jangan banyak bicara Davira. Kau lebih baik istirahat di kamar."
"Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu." Davira tersenyum dengan lembut ke arah Aroon. Setelah kepergian Davira Aroon segera menuju ke kamar untuk melihat keadaan Arthit.
Dia melihat Cyra dengan telaten sedang merawat luka Arthit. Tangis bayi itu memilukan hati. Cyra bahkan menitikkan air matanya. Setelah selesai ia segera menyusui Arthit dan berusaha membuat bayi itu tenang.
"Tidak perlu ke dokter?"
__ADS_1
"Tidak, aku lihat hanya luka gores saja."
Aroon duduk di sebelah Cyra yang baru menyusui. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Cyra.
"Aku minta maaf." ucapnya lirih. Aroon menitikkan air mata.
"Ssstt.. Tunggu hingga Arthit tenang. Setelah itu baru kita bicara."
Setelah hampir tiga puluh menit Arthit akhirnya tertidur. Cyra meletakkan bayi itu di box dengan lembut. Menyelimutinya dan kembali lagi ke sofa.
"Kau marah padaku?"
"Tidak sayang, bagaimana aku bisa marah pada pria yang aku cintai." jawab Cyra. "Aku hanya tidak setuju saja dengan luapan emosimu saat kau marah. Terkadang itu tidak bisa membuatmu berpikir jernih."
"Maaf, aku tadi juga membentakmu."
"Aku tahu kamu tidak sengaja melakukan itu. Tapi di sini yang harus kita perhatikan adalah Gio. Kamu menuduhnya tanpa bukti Aroon."
"Aku panik melihat darah di lengan Arthit."
"Iya.. Tapi itu tidak bisa di jadikan alasan buatmu menuduh Gio."
"Aku.. Aku.. Tidak bisa berpikir dengan jernih. Menurutmu apakah aku ayah yang buruk."
"Tidak sayang. Kau bukan ayah yang buruk, kau sangat mencintai dan melindungi kami. Hanya saja terkadang kau tidak bisa mengontrol emosimu."
"Terus aku harus bagaimana? Aku menyesal berkata seperti itu pada Gio."
Cyra memeluk suaminya dengan lembut. "Biarkan aku bicara pada Gio. Setelah itu kau harus minta maaf padanya dan ingat jangan mengulangi kesalahan yang sama. Gio itu sangat sayang pada Arthit tidak mungkin dia akan menyakitinya.'
Aroon memeluk Cyra dengan erat. "Terima kasih sayang. Apa jadinya jika tidak ada kau di sisiku."
Cyra melepas pelukannya. "Aku akan menemui Gio dulu. Kasihan anak itu memerlukan pelukan sepertimu."
"Dimana Gio?"
"Di dalam bu Cyra." jawab Omar.
"Tuan muda mengusir kami keluar."
"Baiklah, biar aku coba membujuknya." ucap Cyra. Ia mengetuk pintu kamar Gio. "Gio, ini Mae Cyra. Bolehkah aku masuk?"
Tidak ada jawaban dari dalam.
"Kau tidak mengijinkan aku masuk sayang?"
Lagi - lagi tidak ada jawaban dari dalam.
"Baiklah, tidak apa - apa. Tapi seorang pria yang lari dari masalah adalah seorang pengecut." ucap Cyra tanpa menyerah. Dan benar saja bujukannya membuahkan hasil. Gio membuka pintu.
Cyra segera memeluk Gio. Dan itu membuat Gio menangis. "Hei! Kenapa anak Mae yang sudah besar ini menangis." goda Cyra.
"Aku tidak menyakiti Arthit, Mae."
"Iya aku tahu. Mae percaya padamu." jawab Cyra. "Sudah jangan menangis. Ayo kita duduk di sana dan bicara. Mae akan mendengarkanmu."
Mereka berdua duduk di sofa kecil di kamar Gio.
"Ceritakan kenapa tiba - tiba Arthit menangis?"
"Saat itu aku sedang menggambar, tiba - tiba Mae Davira datang. Dia ngobrol denganku sebentar. Aku meneruskan mengerjakan tugasku dan Mae Davira melihat Arthit. Tiba - tiba saja Arthit menangis histeris. Tentu saja aku bingung. Mae Davira menyuruhku di sana menjaga Arthit dan dia memanggil Mae di dapur."
"Jadi Mae Davira sempat melihat Arthit?"
__ADS_1
"Iya." Gio bercerita sambil menangis. Ia mengusap air matanya. Cyra memberikan pelukan lagi.
"Sudah jangan menangis. Aku akan menyelidiki siapa yang sudah membuat permainan ini."
"Mae Davira bukan Mae ku."
"Eh kamu jangan berkata seperti itu. Aku dan Phoo tidak pernah mengajarimu untuk tidak menghargai orang apalagi dia ibu kandungmu."
Gio mengangguk. "Bagaimana Arthit?"
"Dia sudah tertidur dan lukanya tidak terlalu dalam, hanya luka gores saja." jawab Cyra.
"Syukurlah." ucap Gio lega.
"Oya kau tahu tadi Phoo menangis."
"Kenapa?"
"Dia menyesal sudah membentakmu."
"Aku tahu, Phoo tidak sengaja melakukan itu padaku. Tapi aku tidak suka di tuduh."
"Iya Mae mengerti. Tapi sebagai seorang pria yang bertanggung jawab pasti akan memaafkan. Mae tahu hatimu seluas samudra. Jika Phoo minta maaf, maukah kau memaafkannya?"
Gio terdiam. "Phoo adalah orang yang aku cintai dan panutanku tentu saja aku akan memaafkannya."
"Good boy, Mae bangga padamu." Cyra memeluk dan mengecup kepala Gio. "Phoo ada di luar. Bolehkah dia masuk?"
Gio mengangguk. Cyra segera beranjak dari duduknya dan keluar. Ia memanggil Aroon masuk. Mata Aroon berkaca - kaca.
"Hei! Pria kekarku, kenapa kau jadi cengeng seperti ini?" goda Cyra.
"Aku bangga dengan Gio."
"Masuk dan minta maaflah. Dia menunggumu."
Aroon masuk dengan langkah perlahan ia menatap ke Arah Gio. Dengan segera ia memeluk putranya itu. "Maafkan Phoo." ucap Aroon. "Phoo berjanji tidak akan membentak atau menuduhmu lagi."
"Aku juga minta maaf tadi sudah berbicara dengan nada tinggi."
Mereka saling berpelukan dan itu membuat Cyra menjadi terharu.
"Aduh kalian berdua lupa padaku. Kenapa aku juga tidak di peluk." Cyra merentangkan tangannya untuk menyambut pelukan dari dua pria kesayangammya. Mereka berpelukan bertiga.
"Kamu mau kita tidur berempat?" Cyra menawarkan.
"Iya aku mau."
🍀🍀🍀🍀
Aku gagal lagi untuk memisahkan Cyra dari keluargaku. Aku harus mendapatkan Gio dan Aroon. Mereka adalah milikku tidak boleh ada seorangpun yang menggantikan posisiku. Aku akan membuat rencana yang matang. Aroon harus kembali jatuh cinta padaku. Melihat Cyra dan suamiku terus bercinta membuatku muak dan mau muntah pikir Davira.
Setelah melihat dari kejauhan mereka bersatu lagi ia segera pergi dan tanpa sengaja ia menabrak seseorang.
"Oh Shiitt!!!" umpat Davira. Umpatan itu membuat seseorang kaget.
"Nyonya mengumpat?" tanya bik Tika yang masih terheran - heran. Karena dulu Davira adalah seorang wanita yang lembut.
"Oh maaf bik. Aku tidak mengumpat, hanya saja tadi tubuhku tiba - tiba terasa sakit. Jadi aku berteriak, itu tadi teriakanku jika sakit." jawab Davira mencari alasan.
Ya tuhan ternyata lima tahun tidak bertemu nyonya, membuat nyonya banyak berubah. Banyak hal yang berbeda dari nyonya Davira yang dulu.
🍀🍀🍀🍀
__ADS_1